Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Indah...


__ADS_3

Di sebuah kamar sederhana namun nyaman, Anastasya masih menggengam ponsel di tangannya dengan pandangan sendu. Hari masih terbilang cukup pagi, namun ia tak mampu lagi menyambung mimpi selepas mendapatkan kabar perihal meninggalnya ayah dari Zara. Ya, kabar tersebut sampai jua ketelinganya.


Masih enggan untuk beranjak dari ranjang, gadis cantik itu menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang dan meluruskan kakinya. Satu bulan lebih mencoba berlari dari kehidupannya, tak terasa membuat Anastasya mulai jarang berkomunikasi dengan orang-orang terdekatnya dulu, seperti Zara atau pun Arka.


Tak ingin terus menjadi bayang-bayang di antara pernikahan mantan suaminya, Anastasya benar-benar melepas kontak dan enggan memberikan alamat di mana saat ini dirinya tinggal, kecuali pada Surti. Hanya Surtilah yang tau akan keberadaanya kini.


Bukan hanya Arka dan Zara, Rangga pun juga tak tau di mana dirinya saat ini berada. Mungkin itu lebih baik, dari pada keduanya terluka lebih dalam. Begitu kiranya isi fikiran Anastasya.


"Zara pasti sedih dengan kepergian ayahhandanya." Anastasya menatap sebuah foto proses pemakaman Jamil yang diam-diam diabadikan oleh Surti. Bukan bermaksud untuk lancang, namun Surti hanya ingin membagi kedukaan sang nona pada mantan majikannya. Sebab, perempuan paruh baya itu tau jika hubungan keduanya cukuplah dekat.


Gadis itu pun menatap jam yang tertempel di dinding.


"Sudah waktunya aku bersiap-siap untuk bekerja." Meski tubuhnya sangat lelah dengan mata masih mengantuk, namun Anastasya tetap membawa langkahnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sungguh lelah untuk menjadi dirinya yang seperti ini. Berusaha tak mengantungkan hidup pada siapa pun dan menghidupi diri dengan hasil keringatnya sendiri.


Menghirup udara pagi yang menyegarkan, mengiring perjalanan Anastasya yang tengah mengendarai motornya itu untuk menuju tempat kerjanya. Jalan sekitar masih cukup lenggang. Juga letak tempat tinggalnya yang berada di pinggiran kota, membuat kendaraan yang melintas pun tak banyak.


Motor metik berwarna biru itu berbelok di area parkir restoran tempatnya bekerja. Melepaskan helm yang menutupi kepala, Anastasya mengurai senyum simpul menatap bangunan dua lantai itu dari depan dengan bahagia. Baginya, seperti inilah kehidupan yang sudah lama dirinya impikan. Berbaur dengan orang-orang baru, namun selalu memperlakukannya dengan baik tanpa pernah membeda-bedakan. Tak ada istilah cari muka, bagi mereka bekerja adalah untuk mencari nafkah dan bukan karna maksud terselebung.


*****


"Mungkin pria itu akan datang kemari malam ini," gumam Anaatasya disela pekerjaannya mengelap meja. Sesekali tatapannya tertuju pada kaca depan restoran yang masih ia buka sedikit. Namun tak nampak siapa pun di luar.


"Aneh. Lagi pula untuk apa aku mengharapkan kedatang pria misterius itu datang kemari." Gadis itu masih bergumam tak jelas dengan tangan yang terus bekerja namun padangannya tertunduk.


"Maaf, apakah restoran masih buka?"


Hah, suara itu.


Spontan gadis cantik itu mendongak, Kemudian mundur beberapa langkah saat sesosok pria berbadan tegap berdiri tepat di hadapannya.


"Maaf sudah mengejutkanmu. Aku hanya ingin makan dan buatkan aku menu seperti biasanya." Selepas berucap pria itu pun memilih meja yang berada di sudut ruangan dan duduk di kursinya.


"Baik, Tuan." Anastasya berlalu pergi, untuk menemui koki di dapur. Tapi anehnya, tanpa gadis itu mengucap nama menu yang diinginkan, koki pria itu sudah lebih dulu tau dan mengolahnya dalam tiga porsi.


"Paman, aku bahkan belum mengatakannya tetapi kau sudah tau lebih dulu apa makanan yang tuan itu pesan," protes Anastasya pada kepala koki itu.


Pria paruh baya itu hanya tersenyum tipis dan mulai memindahkan makanannya pada piring saji.


"Bukankah pelanggan kita adalah Tuan Ken?"

__ADS_1


Gadis itu pun mengangguk.


"Sepertinya. Aku pernah mendengar bos memanggil tuan itu dengan nama Ken."


"Sebelum menghilang beberapa tahun, dia menjadi pelanggan tetap di restoran ini. Lagi pula Tuan Ken juga berteman dekat dengan bos kita." Koki itu menaburkan bawang goreng sebagai sentuhan terakhir. "Dan sekarang bawalah ini pada Tuan Ken. Aku yakin jika dia sudah sangat lapar," sambung koki itu lagi.


Menghela nafas dalam, Anastasya meraih nampan berisikan makanan yang sudah dipersiapkan koki untuk pelanggannya dengan tak bersemangat.


"Silahkan dinikmati tuan," ucap Anastasya selepas mendaratkan beberapa pesanan di meja.


"Terimakasih." Tanpa menatap pria itu langsung menyantap makanan di hadapannya dengan lahap. Meskipun tersaji dalam tiga porsi makanan, namun Ken hanya menyatap makanan yang menjadi bagiannya tanpa menyentuh dua piring lainnya.


Anastasya menatap pria itu lekat dari kejauhan.


Pria ini terlihat normal seperti para pria pada umumnya. Bahkan dia terlihat lebih tampan dan muda. Tetapi kenapa sikapnya sungguh dingin dan misterius.


Sedetik kemudian gadis itu mengingat ucapan sang bos tempo hari. "Jika perlu, ajaklah dia berbicara."


Sontak Anastasya pun mengerjap. Menghela nafas panjang beberapa kali untuk menghilangkan rasa gugup sebelum mendekat kearah Ken.


Semangat.


Pria itu pun cukup terkejut. Mengingat jika dirinya tak memangil atau menginginkan apa pun.


"Ada apa?"


"Tuan, bolehkan saya duduk di sini?" Gadis itu menunjuk satu buah kursi yang tepat berhadapan dengan Ken.


"Untuk apa?" Menautkan kedua alis, Ken tampaknya masih sulit mencerna ucapan Anastasya.


"Bagaimana jika saya menemani anda mengobrol," tawar Anastasya diiringi senyum manis yang mengulas bibirnya.


"Tidak perlu. Aku datang kemari hanya untuk makan dan tidak berniat untuk mencari teman bicara." Kata-kata telak yang seketika membuat nyali Anastasya menciut.


"Ma-maafkan saya tuan. Bukan maksud saya untuk merusak makan malam anda." Menundukan kepala, Anastasya lekas berbalik badan dan memilih segera menjauh dari jangkauan Ken.


Ken sendiri tak perduli. Dia masih asyik dengan makanannya tanpa melihat sepias apa wajah Anastasya.


Bodoh, bodoh. Kenapa aku harus repot-repot mengikuti ucapan pak Bos jika berakhir seperti ini. Andai waktu bisa kuputar, tentunya aku tak kan sudi untuk mendekat dan menyapamu lebih dulu.

__ADS_1


Anastasya terus mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Menggangap jika dirinya wanita paling bodoh, yang ada dimuka bumi ini. Dia pun terduduk di kursi. Sepasang netranya pun sudah terlihat mengantuk, terlihat dengan beberapa kali ia menguap.


Sampai pada pria itu menyelesaikan makannya, Anastasya memilih untuk mengarahkan pandanganya pada objek lain dan enggan untuk menatap Ken.


"Hei, kemarilah," ucap Ken.


Merasa jika dirinyalah yang dipanggil menggingat tak ada orang lain lagi yang berada di sana, mau tak mau membuat gadis itu pun mendekat.


"Ada apa Tuan."


"Sebelumnya aku memintaa maaf karna beberapa malam ini sudah merepotkanmu, beserta teman-temanmu yang lain."


Eh dia minta maaf. Apa aku tidak salah dengar.


"Aku memang sengaja menunggu tempat ini hampir tutup. Pasti bukan tanpa alasan aku melakukannya." Ken menghentikan kalimatnya dan merogoh dompet di saku jasnya.


"Ini uangnya." Seperti biasa Ken menyodorkan beberapa lembar uang pada Anastasya.


"Tapi tuan. Uang ini terlalu banyak. Anda tunggulah sebentar dan saya akan mencari kembalian." Gadis itu sudah hendak berlari kemeja kasir, tetapi dengan cepat Ken mencegahnya.


"Tidak usah. Ambil sisanya untukmu." Ken berbalik badan dan mulai berjalan. Tangganya menyentuh hendel pintu namun gerakan pria itu spontan terhenti dan memutar kepalanya kearah belakang.


"Siapa namamu?"


Pandangan itu tertuju kepada Anastasya, yang mana bisa dipastikan jika pria itu sedang melempar tanya padanya.


"Saya?" gadis itu menunjuk dirinya sendiri.


Ken pun mengangguk samar.


"Anastasya."


"Anastasya?" Ken terlihat berfikir sejenak kemudian berucap, "Nama yang indah," sambungnya lagi. Mengulas senyum tipis di bibir, Ken menarik hendle pintu dan berjalan cepat meninggalkan Restoran, mengabaikan Anastasya yang masih terngangga tak percaya di tempatnya semula.


Apa dia bilang. Indah? Apa aku tidak salah dengar?


Bersambung..


Maaf untuk semuanya karna lambat updateπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2