
Sandy yang berpura-pura tak berdaya itu menyipitkan netra saat mobil yang membawa Zara berjalan meninggalkannya. Rahangnya mengetat, tangannya bergerak menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.
Sialan kau.
Sedikit tertatih pria itu membangkitkan tubuhnya. Bibirnya menyunging senyum licik. Dirinya sakit hati, namun disatu sisi pria itu seperti mendapatkan anhin segar dari berminggu-minggu pencariannya.
Bukan hanya menikah, tetapi Zara kini bahkan sedang mengandung.
Jika kau mengira telah menang, maka fikiranmu itu salah besar Zara.
Sandy menegakkan badan dan mulai berjalan keluar gank. Otaknya bekerja dengan keras sementara kakinya melangkah. Ia menatap mobil miliknya yang terparkir di depan ruko tak terpakai dan mulai menjalankan mesinnya.
"Sial," maki Sandy saat merasakan tulang bagian dadanya seperti remuk, saat Sam mendaratkan kepalan tangannya dengan sangat kuat.
"Sebenarnya siapa pria itu. Aku sempat mengira jika Zara menjadi simpanan pria tua. Tapi apa, pria itu bahkan masih muda dan lebih tampan dariku. Cih, menyebalkan." Sandy terus mengoceh ini dan itu. Menyalurkan emosi yang tersimpan di dada, meski tak ada orang lain yang mendengar selain dirinya.
__ADS_1
Tibalah disebuah rumah mungil miliknya. Sebelum keluar dari kendaraan, Sandy lebih dulu mrmastikan keadaan dari celah pintu mobil yang sedikit terbuka.
Syukurlah
Sandy berlari sekencang mungkin untuk memasuki rumahnya sebelum preman-preman itu mendapatinya lalu menghajarnya lagi. Waktu terasa cepat berlalu, ini bahkan sudah mendekati waktu yang mereka janjikan untuk membawa Zara dan menyerahkannya sebagai penebus hutang.
"Lagi-lagi aku gagal," maki Sandy pada dirinya sendiri. Ia begitu frustrasi dan mulai mengacak surainya sendiri. Dirasa belum cukup, ia membenturkan kepalanya sendiri kedinding hingga beberapa kali.
Cairan berwarna merah mulai merembas di pelipisnya. Pria itu seperti kehilangan arah. Ia pasrah jika harus mati dari pada menyerahkan nyawanya sendiri pada preman dan rentenir biadab itu.
"Tunggu sebentar," gumamnya sembari berfikir sejenak. "Bukankah aku menyimpan kartu As Zara, yang membuat gadis itu tak berkutik lagi. Tapi apa kartu As itu?"
Sandy terdiam dan berfikir dalam. Bahkan sempat mengutuki kerja otaknya yang lamban dan tak berfungsi dengan benar.
Hingga wajah kusut itu, mulai terlihat berbinar diselingi serigai licik yang membuat siapa pun yang melihat akan bergidik ngeri.
__ADS_1
"Kau bisa mengabaikanku, Zara. Bahkan aku juga tak mempermasalahkan jika kau sudah melupakanku. Tapi bagaimana jika aku menjemput kedua orang tuamu kekota, kemudian melihatmu menikah tanpa sepengetahuannya. Apa kau masih bisa menegakkan kepalamu itu, Zara."
Gelak mengelegar. Senyuman miring tersungging. Kini Sandy memuja kerja otak yang seketika berubah jenius. Benar-benar ide brilian yang membuat Zara tak berkutik, bahkan bergerak pun akan kesulitan.
"Bibi pasti belum tau jika Zara sudah menikah, terlebih sekarang gadis itu tengah mengandung. Aku jadi tak sabar melihat reaksi keterkejutan bibi yang tak mampu aku bayangkan."
Serigai iblis itu tak luntur dari wajah Sandy.
"Aku hanya perlu memolesnya sedikit. Membumbuinya dengan fitnah dan hasutan ringan, yang akan membuat bibi dan paman tua renta itu meradang kemudian menyumpahi putri kesayangan mereka sendiri itu."
Terdengar ironis, Sandy bahkan mulai mengatur strategi liciknya sebelum menemui kedua orang tua Zara di kampung.
"Kau lihat saja Zara. Sekarang, aku atau kau yang lebih pintar. Tunggu saja, permainan akan segera dimulai."
Sandy bertepuk tangan menyemangati dirinya sendiri. Menepuk dadanya beberapa kali, meyakinkan jika dirinya baik-baik saja.
__ADS_1