Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Malam Pertama


__ADS_3

Status baru sebangai Nona Arkana Surya Atmadja, resmi disandang Azzara Biantika kini. Bukan hanya status, akan tetapi kehidupan yang dijalaninya pun otomatis ikut berubah. Sejejak kebebasan hidupnya dulu, kini samar mulai menghilang. Beruntung Arka tak terlalu mengatur kehidupannya untuk saat ini. Akan tetapi tanggung jawab yang ia emban sebagai seorang istri, akan berusaha sebaik mungkin untuk tak mengecewakan sang suami.


Selepas acara ijab kabul, semua orang yang berada di dalam kediaman Arka, menyantap hidangan yang sudah disajikan oleh koki di meja prasmanan. Tak ada ruang pemisah antara pelayan atau pun majikan. Semua tumpah ruah, berbaur menjadi satu layaknya gelaran pesta rakyat.


Zara yang masih berdiri di sisi Arka, menyisir pandangan kesegala penjuru ruangan guna mencari sosok Anastasya. Akan tetapi selepas mengucapkan selamat, istri pertama Arka itu menghilang bak ditelan bumi.


Apa mungkin Nona tengah menangis dan bersembunyi di dalam kamar.


Zara menghela nafas dalam. Inilah yang sejujurnya ia takutkan. Hati Anastasya pastilah sangat terluka. Tapi apalah daya, nasi sudah menjadi bubur. Semua yang sudah terjadi, tak mungkin dirubah lagi.


"Zara," panggil Arka dengan lembut saat menemukan kilat kesedihan di wajah istrinya. "Ayo kita makan," ajaknya kemudian.


Zara terkesiap dan mengeserkan pandangan kearah suaminya.


"Bagaimana jika Tuan saja. Saya tidak merasa lapar."


Arka menautkan kedua alisnya, "Tapi pelayan bilang, jika kau bahkan tak memakan apa pun sejak bangun tidur." Arka menatap lekat netra istrinya, mencari kejujuran.


Zara tersenyum kikuk dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Haha saya lupa Tuan." Zara tak mampu membalas tatapan sang suami yang serasa menghunjam jantungnya.


"Ayo, tunggu apa lagi."


Tanpa diduga, Arka meraih dan menggengam erat tangan Zara. Membimbing langkas gadis itu menuju meja prasmanan yang menyajikan beraneka makanan dan buah-buahan.


Arka meraih sebuah piring beserta sendok dengan tangannya.


"Zara, kau ingin makan yang mana?" Dengan piring yang dibawanya, pria berbadan tegap itu memilih makanan untuk diberikan kepada sang istri.


"Ja-jangan Tuan! Biar saya saja." Zara lekas merebut piring beserta sendok dari tangan Arka. "Bukankah seorang istrilah yang seharusnya menyediakan makanan untuk su-suaminya." Malu-malu Zara menyebut kata suami yang ditujukan untuk pria di depannya. Hingga pria itu pun sekuat tenaga menahan senyum di bibirnya sebagai luapan rasa bahagia.


Suami, aku punya suami? Aku bahkan masih belum bisa percaya jika diriku sudah menjadi seorang istri.


Gemetar Zara menopang piring di tangannya.


"Tuan, anda menginginkan makanan yang mana?"


Tanpa ragu Arka mulai menunjuk beberapa menu yang memang sudah menjadi hidangan kesukaannya.


"Tambahkan juga sedikit nasi merah," titahnya setelah dirasa makanannya sudah cukup.


Begitu telaten Zara memindahkan satu persatu hidangan yang dikehendaki suaminya. Sembari mengingat-ingat macam makanan yang pria itu sukai. Dari sekian banyak makanan yang disajikan, rupanya Arka begitu menyukai olahan daging dan juga salad sayuran atau pun buah.


Tanpa rasa ragu Zara pun meraih sebuah piring dan mengisinya dengan hidangan sama persis yang berada didalam piring Arka untuk disantap dirinya. Hingga dua piring berisi makanan yang serupa pun mendarat cantik di sebuah meja yang kini diduduki oleh sepasang pengantin baru itu.


Mungkin terlihat begitu romatis jika satu pasangan memiliki selera masakan yang sama, namun kali ini Zara lakukan untuk tidak mengundang pertanyaan banyak orang tentang pernikahannya.


Zara tetap saja tak fokus dan tetap mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Anastasya.


"Apa yang kau fikirkan?"


Suara bariton dari bibir Arka, seketika mengejutkan gadis yang makan dengan setengah melamun itu hingga nyaris tersedak.


"Ti-tidak Tuan!" jawabnya cepat setengah terkejut. "Hanya saja, saya tak melihat keberadaan Nona Anastasya di mana pun," sambungnya lirih dan menundukan pandangannya.


"Ternyata itu yang membuatmu celingukan kesana kemari sedari tadi?"


Zara menganguk samar.


"Apa kau benar-benar ingin mengetahui keberadaan Anastasya saat ini?"


Lagi-lagi Zara mengangguk.


"Kenapa kau terlihat begitu penasaran? Apa kau berfikir jika dia tengah bersembunyi di kamar dan menangis sehari semalam tanpa makan," goda Arka.


Zara mengangguk kuat, namun di detik yang bersamaan gadis itu terlihat terkejut dan meralat anggukan dengan menggelengkan kepala.

__ADS_1


Arka tergelak. Sementara telunjuknya mengarah kesudut ruangan, dimana nampak seorang gadis cantik yang tengah duduk dan memainkan ponselnya bahkan sesekali tertawa riang.


Zara mengikuti kemana terlunjuk itu terarah dan tetap berhenti kearah sudut ruangan. Netranya membulat sempurna seketika. Saat mengetahui sosok gadis yang ia cari berada di tempat itu dan mungkin saja sedari tadi.


Nona Anastasya. Iya benar, itu Nona


Anastasya. Tapi kenapa dia sama sekali tak bersedih, dan apa itu dia bahkan sempat- sempatnya berselfi ria.


"Nona Anastasya? Itu benar-benar No---


"Iya. Itu Anastasya. Jadi buang jauh-jauh fikiran burukmu itu." Masih tersisa senyum tipis di bibir Arka yang masih sulit difahami Zara akan arti senyuman itu.


*****


Menjelang senja, Zara yang sudah merasa kelelahan lekas menuju kamarnya untuk melepas lelah. Membuka perlahan pintu kamarnya, seketika disambut semerbaknya aroma mawar berwarna putih yang menghiasi kamar berukuran luas tersebut.


Menatap ribuan kelopak mawar yang sengaja ditata rapi diranjangnya, membuat gadis muda itu bergidik ketakutan.


Apa seperti ini cara orang kaya menyambut ritual malam pertama mereka. Malam pertama? Hanya dengan mendengarnya saja membuatku merinding ketakutan.


Meskipun minim pengetahuan jika menyangkut hubungan intim antar suami istri mengingat usianya yang masih sangatlah muda dan tak pernah berpacaran sebelumnya, namun lumrahnya seorang gadis yang sudah menikah, wajib baginya untuk bisa melayani dan menyenangkan suami. Karna dimana kebahagian suami, disitulah pahala seorang istri mengalir deras.


Lelah dan kantuk yang teramat sangat membuat gadis bertubuh mungil itu tak kuasa ingin lekas berbaring, namun sangat sayang rasanya jika menjatuhkan diri dan terlelap diantara ribuan kelopak bunga mawar yang tertata rapi itu. Hingga Zara bergerak menuju sofa dan menjatuhkan diri disofa berukuran panjang itu dan terlelap.


*******


Guncangan lembut dibahu perlahan membangunkan gadis yang tengah terlelap dengan gaun pengantin yang masih melekat ditubuhnya. Netra lebar milik gadis itu pun mengerjap perlahan, menyesuaikan dengan cahaya terang ruangan.


"Zara, bangunlah. Ini sudah malam. Apa kau tak berniat untuk mengganti pakaianmu supaya bisa tidur dengan lebih nyaman?" Arka memposisikan tubuhnya setengah menunduk untuk lebih mudah membangunkan istrinya yang masih terlelap.


Gadis itu terkesiap dan lekas bangun dari posisinya.


"Maaf, saya ketiduran Tuan," ucap gadis itu lirih.


"Tidak masalah. Aku tau jika kau lelah. Mandilah, supaya tubuhmu terasa segar." Lembutnya tutur kata arka, lagi-lagi melunturkan sikap dingin yang selama ini ia tujukan kepada siapa pun di luar.


"Baik Tuan." Zara sudah hendak melangkah kekamar mandi, namun ia urungkan oleh karna gaun pengantin yang ia rasakan kesulitan jika melepaskannya seorang diri,mengingat terdapat beberapa kacing yang berada di pungung.


"Kau kenapa?" Arka yang duduk di sofa seketika bertanya saat pintu belum sempat terbuka.


"Saya ingin memangil pelayan Tuan," jawab gadis itu dengan nada ragu.


"Untuk apa?" tanyanya sekali lagi.


"Untuk membantu membuka pakaian saya." Tertunduk dalam, Zara sejujurnya sangatlah malu mengucapkan itu semua.


Arka bangkit dari duduknya dan mendekat kearah istrinya, yang mana membuat gadis itu pun mundur beberapa langkah.


"Biar aku yang membantumu," ucap Arka tanpa merasa ragu.


"Ta-tapi Tuan."


Arka menghela nafas dalam, "Bukankah kita sudah resmi menjadi sepasang suami istri? Jadi tidak ada salahnya jika aku membantu membuka pakaian istriku sendiri bukan?"


Zara menyerah pasrah dan maju beberapa langkah mendekati sang suami.


"Baiklah. Tolong, bisakah Tuan membantu membuka kancing pakaian saya?"


Arka tersenyum tipis, "Tentu saja."


Zara membalikkan badan, memposisikan punggungnya tepat di hadapan sang suami. Tangan kekar Arka perlahan terangkat dan mulai menyentuh kancing lalu membuka pengait berwarna putih itu hingga sedikit demi sedikit punggung putih mulus itu mulai terbuka.


Arka menelan salivanya kasar. Coba menahan gejolak yang mengusik jiwa lelakinya dengan segera memalingkan pandangan.


"Sudah. Kau bisa membukanya sendiri atau masih membutuhkan bantuanku," goda Arka dengan tak tahu malunya.


Zara meraba bagian punggungnya, "Ini sudah cukup Tuan. Saya bisa melanjutkannya sendiri." Zara lekas berlari menuju kamar mandi dan menutup pintu itu rapat.

__ADS_1


Arka yang merasa gemas dengan tingkah malu-malu istrinya, hanya mampu memandang punggung mungil sedikit terbuka itu perlahan menghilang di balik pintu.


Cukup lama Zara mengunci diri di kamar mandi. Sempat merutuki diri yang tak sempat membawa baju ganti atau pun piyama mandi. Beruntunglah sebuah handuk tergantung disalah satu sudut ruang kamar mandi.


Ragu untuk meraih gagang pintu dan membukanya. Mengingat jika suaminya mungkin masih berada di dalam kamar. Tubuhnya yang hanya tertutupi handuk saja, tak memungkinkannya untuk bergerak kesana kemari sesuka hati. Rasa malu perlahan mulai menjalar. Hanya dengan mengintip terlebih dululah menjadi solusinya kali ini.


Pintu kamar mandi sedikit terbuka. Zara menyelinapkan kepala keluar untuk memaatika keberadaan Arka saat ini. Menyisir pandangan dengan netra lebarnya. Zara tak menemukan sang suami di ruangan cukup luas itu.


Gadis mungil itu pun menghela nafas lega dan dalam lekas bergerak keluar dan sesegera mungkin mengganti pakaian di walk in closet.


Tangan mungilnya dengan cepat meraih piyama motif hello kitty berwarna merah muda dan memakainya cepat.


Syukurlah.


Entah untuk yang keberapa kali dirinya menghela nafas lega. Momen malam pertama yang akan ia jalani, sungguh teramat mengaduk-aduk perasaanya. Takut, dan khawatir menjadi bagian yang paling dominan ia rasakan.


Surainya yang masih setengah basah, sementara ia biarkan. Menuju meja rias untuk sedikit mengaplikasan penyegar dan pelembab di kulit wajahnya. Bibir mungil merah muda itu ia biarkan tanpa lipstik dan menyisir surai panjang sepinggang itu agar terlihat rapi.


Pintu kamar terbuka tanpa suara. Dari pantulan cermin Zara menangkap sesosok pria tampan dengan T-shirt putih dipadukan dengan celana panjang rumahan yang tak lain ialah Arka, suaminya. Pria itu sempat menatap punggung Zara sebelum kembali menutup pintu.


Naluri sebagai seorang istri bangkin seketika. Zara bangkit dari posisinya dan bergerak kaku mendekati Arka yang duduk kembali di sofa. Meskipun ragu, namun Zara tak memiliki pilihan lain. Akan sangat berdosa jika mengabaikan seorang pria yang sudah menjadi suaminya, walau pun menikah tanpa adanya rasa cinta.


"Tuan."


"Ya."


"Apa Tuan menginginkan sesuatu," gumam gadis itu dengan suara lembutnya yang membuat Arka terbuai akan tutur katanya itu.


Aku mohon jangan katakan jika Tuan ingin tidur bersamaku saat ini. Demi tuhan aku belum siap.


Arka bangkit, membuat Zara terkesiap dan mundur beberapa langkah. Pria itu berjalan menuju walk in closet dan tak berapa lama keluar dengan membawa lipatan selimut di tangannya.


"Zara, beristirahatlah di ranjang. Waktu sudah menuju larut malam, kau pasti lelah." Arka menarik lembut tangan gadis itu dan mendudukannya di sudut ranjang. "Tidurlah, aku akan tidur di sofa." sambungnya lagi dan meraih satu bantal yang berada di ranjang.


"Tapi Tuan, bukanka kita ---


"Aku tau jika kau masih belum siap untuk melakukannya." Sengaja Arka mengusap pipi kemerahan istrinya lembut, dan menenangkan sang gadis untuk tidak merasa bersalah.


Zara mengangguk. Gadis itu pun lantas membaringkan tubuh lelahnya di atas ranjang berhiaskan ribuan kelopak mawar putih. Arka dengan sigap menutup tubuh istrinya itu dengan selimut lembut bulu angsa dan menariknya hingga keleher.


"Tidurlah yang nyenyak." Satu usapan lembut di puncak kepala menjadi pengantar tidur dari Arka untuk istrinya.


"Trimakasih Tuan." Zara masih menatap punggung lebar itu menjauh, berjalan menuju sofa. Kemudian mendaratkan tubuh tinggi sempurnanya dan berbaring diatas sofa panjang berwarna putih gading tersebut.


Posisi keduanya yang searah, mempermudah sepasang suami istri itu untuk saling memandang dari kejauhan. Arka dan Zara membiarkan mereka untuk saling berhadapan dan sesekali melempar senyum. Zara yang malu-malu, dan Arka berusaha menunjukan perhatiannya. Begitulah cara sepasang pengantin baru itu menjalani malam pertama mereka. Meskipun tak ada ritual layaknya pengantin baru pada umumnya, namun Arka merasakan tak kalah bahagianya. Tidur di tempat berbeda, dengan berhadapan dan sesekali mencuri pandang, sudah menjadi kebahagiaan yang tak mampu ia ungkapkan. Untuk kali pertamanya pria berusia tiga puluh tahun itu merasakan benar-benar jatuh cinta. Perasaan ingin memiliki dan mencintai sepenuh hati menjadi keinginan terbesar di hatinya kini dan pada Zara seoranglah perasaan ini mampu ia rasakan.


Sementara di kamar berbeda.


"Kira-kira, apa ya yang sedang dilakukan mereka?" gumam-gumam Anastasya di balik selimut.


"Mungkinkah mereka sedang berciuman dan aa.... " Anastasya berguling-guling dan terkikik di balik selimutnya. Membayangkan adegan romantis yang tengah dilalui Arka dan Zara.


"Bagaimana jika aku menguping saja?" Ide gila yang muncul tiba-tiba. "Ah tidak-tidak. Kamar itu kedap suara. Akan sia-sia jika aku benar-benar menguping mereka." Ragu sendiri dengan ide gilanya.


"Tapi, kenapa aku sebegitu penasaran ya?" Lagi-lagi Anastasya tergelak, namun sekuat tenaga ia bekap mulutnya sendiri agar tak menimbulkan suara.


Perempuan berstatus istri pertama Arka itu tak merasakan kesedihan sedikit pun. Justru berguling ria diatas ranjang dan tak hentinya tergelak, membayangkan bagaimana Arka dan Zara menghabiskan malam pertama mereka.


Happy New years..


Selamat tahun baru para pembaca setia Terjerat Dua Cincin Sang CEO


Semoga memasuki awal tahun ini kita senantiasa diberikan kesehatan dan selalu dalam lindungan sang pencipta. 🙏🙏🙏


Jangan pernah bosan ya sama TDCSC, karna akan banyak kejadian masalalu yang segera terkuak.


Salam manis dari Autor Terjerat Dua Cincin Sang CEO😍😍😍

__ADS_1


Jangan Sungkan untuk membagi kritik dan sarannya.


Terimakasih...


__ADS_2