Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Rencana Part 2


__ADS_3

Selepas makan malam dan membersihkan tubuh, Arka masih berkutat dengan beberapa berkas di ruang kerjanya. Seolah tak kenal lelah, sebagian waktu yang pria itu miliki tercurah kepada pekerjaan yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Tak harus mengantungkan semua hal pada Sam, Arka termasuk sosok atasan yang mandiri dan berdedikasi tinggi pada setiap pekerjaanya yang dirinya emban.


Zara yang sudah faham akan agenda rutin sang suami, senatiasa menyiapkan minuman beserta kudapan juga potongan buah segar untuk dihidangkan pada suaminya itu di ruang kerja.


Seperti saat ini, Gadis cantik itu tengah meracik coklat panas dalam panci kecil dan menuangkannya di dalam cangkir porselen. Meletakkanya di atas nampan, Zara pun tak lupa menambahkan potongan buah dan kue kering dalam piring berbeda.


"Nona, biarkan saya yang membawanya untuk tuan," ucap salah seorang pelayan yang melihat Zara hendak membawa nampan cukup berat itu.


"Tidak usah, biar aku saja. Lagi pula, aku juga ingin melihat suamiku di ruang kerjanya," jawab Zara dengan senyum ceria sebagai ciri khasnya. Ia pun bergegas membawa nampan tersebut dan membawanya menuju ruang kerja suaminya.


Pintu ruangan itu tertutup rapat, seperti biasa Zara selalu mengetuk dan mengucap salam. Setelah terdengar jawaban salam, gadis itu pun membuka pintu perlan dan mengembangkan senyum di bibir kala sesosok pria tampan itu tengah memandangnya dengan tatapan hangat.


"Apa yang kau bawa, sayang." Arka tersenyum tipis. Sejenak tak mengalihkan pandang pada gadis yang tengah mendekat kearahnya dengan membawa nampan.


"Seperti biasa." Zara membalas senyum sang suami dengan tak kalah hangatnya kemudian mendaratkan baki yang di bawa keatas meja kerja sang suami, namun sedikit menjauhkannya dari tumpukan kertas yang berarti bagi suaminya itu agar tidak mengotorinya.


"Coklat panas, kue kering dan buah segar. Selamat menikmati, tuan kesayangan," goda Zara diiringi seulas senyum di bibir mungilnya.


Arka tergelak lirih. Ucapan sang istri seketika membuat hatinya berbunga-bunga juga bercampur malu.


"Terimakasih, sayang."


"Sama-sama." Berbalik arah, kini Zara memilih untuk duduk di sofa yang berada di ruangan tersebut. Memberi jarak agar tak menggangu pekerjaan suaminya.


Pria itu masih tetap menatap pergerakan sang istri yang duduk dan kini tengah memilah buku bacaan yang tersedia di rak. Bukan lagi melulu hanya tumpukan buku bisnis, Arka sengaja menambahkan novel atau pun majalah yang diperuntukan sang istri saat menunggunya seperti saat ini.


Meraih cangkir porselen dan mulai menyesap coklat panas yang tersa lumer di mulut dan sangat cocok di nikmati saat malam yang dingin seperti ini. Meletakan cangkir tersebut kembali ketempatnya, Arka pun menyuapkan beberapa potong buah kemulut sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


Ruangan kembali hening saat kedua cucu adam itu tengah sibuk dengan dunianya masing-masing. Arka pada tumpukan berkas, sedangkan Zara pada novel romantisnya.


Selepas beberapa saat terus membaca hingga berlembar-lembar, kini tatapan Zara tertuju pada sang suami yang duduk di belakang meja kerjanya.


Lengkung tipis merah muda itu mengembangkan senyuman, menatap sosok rupawan yang diam dengan seluruh hati dan fikiran tertuju hanya pada pekerjaan di depannya. Sedari dulu, Arka tak pernah berubah. Tetap dingin, namun berhati lembut. Tak banyak bicara, namun menunjukan rasa cintanya dari perbuatan.


Gadis itu pun kembali pada novel di tangannya. Membacanya lagi dan lagi. Hingga ucapan sang suami, seketika mengejutkannya.


"Sayang, apa kau tak berniat untuk menggodaku?" Di iringi senyum tipis, ucapan tersebut begitu saja terlontar dari bibir Arka.


Gadis itu spontan mendongak, kemudian menautkan kedua alisnya pertanda tak mengerti akan maksud dari pertanyaan suaminya.


"Apa?"


"Kemarilah, dan goda aku." Arka bahkan sudah menyandarkan tubuhnya di punggung kursi dengan melemparkan tatapan nakal kearah istrinya yang mulai gelagapan.


Apa, menggodanya? Tidak menggodanya saja sudah membuatku kelelahan setiap malam. Apalagi dengan menggodanya. Mungkin dia tidak akan melepaskanku selama satu minggu penuh.


Gadis itu mulai melangkahkan kaki kedepan secara perlahan. Seriga di bibir Arka sudah mulai melebar seiring Zara yang terus mendekat. Begitu jarak hanya tersisa satu meter, dengan sigap Arka menarik tangan sang istri hingga tubuh mungil itu terjatuh tepat di pangkuannya.


Zara tersentak kaget, sementara Arka justru terbahak, menikmati wajah terkejut dan bercampur cemas dari istrinya. Posisi seperti ini membuat Arka leluasa untuk menviumi dan juga memeluk tubuh istrinya. Hingga Zara hanya bisa menikmati senyar rasa berbeda yang ia dapat hanya dari suaminya seorang.


Akan tetapi, Arka tak lagi melanjutkan ulah nakalnya dan justru membuka majalah Fashion kemudian menunjukannya pada sang istri.


"Lihatlah, cantik bukan?" tunjuk Arka dan gambar majalah dimana seorang model tengah mengenakan gaun pengantin rancangan desainer kenamaan mancanegara.


Gadis itu pun mengangguk, sebab gaun itu terlihat menyatu dengan tubuh sang model hingga penampilannya begitu tampak mempesona.

__ADS_1


"Tetapi, akan lebih cantik lagi jika kau yang memakai gaun pengantin ini." Arka mengarahkan bibirnya untuk nisa mencium kening sang istri dalam.


Gadis itu tergelak lirih sebagai jawaban.


"Kita sudah menikah, sayang. Mana mungkin aku akan menggunakan gaun pengantin untuk yang kedua kalinya," jawab Zara sembari mengelengkan kepala.


"Sayang, kita bahkan belum mengelar resepsi pernikahan. Kau bisa memakai gaun seperti ini, atau yang manapun, sesuai dengan keinginanmu."


Terdiam. Zara bahkan menundukan kepalanya dan memainkan jemari suaminya.


"Tapi aku malu." Gadis itu terlihat ragu dan tak percaya diri.


"Malu? Apa yang membuatmu malu sayang?"


Gadis itu masih tetap menunduk, namun terlihat jelas jika dirinya memendam rasa sedih.


"Kau kaya, sedangkan aku miskin. Pendidikanmu tinggi, sementara aku hanya lulusan SMA, itu pun karna beasiswa. Kau memiliki banyak perusahaan, dan aku hanyalah gadis yang terlahir dari sepasang suami istri yang mengantungkan hidup dengan bertani. Begitu tinggi dinding pembatas, yang aku rasa bisa membuatmu malu jika media mengetahui asal usulku yang memiliki kasta sangat berbeda darimu," lirih Zara mengucapnya. Mungkin akan lebih baik jika identitasnya terus ditutupi dari khalayak ramai, yang sewaktu-waktu bisa digunakan para pesaing bisnis untuk menjatuhkan nama baik suaminya.


lKau adalah Zara Surya Atmadja, istri sah dari Arka Surya Atmadja. Semua orang harus mengetahui siapa dirimu sebenarnya. Tak perlu ragu atau pun malu pada dirimu. Nikmati kasta baru sebagai pewaris Atmadja group dan menemaniku sampai maut memisahkan. Aku tidak pernah mempermasalahkan asal usulmu dan siapa dirimu, begitu pun ibuku. Bagiku, kau adalah gadis yang terpilih untuk menjadi pelabuhan terakhirku dan sudah memenuhi seisi hatiku, hingga aku yakin jika dirimu memang seorang bidadari yang sudah sang maha kuasa ciptakan untuk mengisi kekosongan yang ada pada diriku."


Zara menatap sendu pria yang selalu membuatnya damai dan terlindungi itu. Arka tetap menjadi malaikat penolong untuknya.


"Terimakasih sayang. Kau memang pria yang sangat mulia." Tangan gadis itu terangkat dan menyentuh rahang kokoh sang suami dengan lembut. Menyusuri setiap jengkal wajah dengan jemari lentiknya.


"Itu sudah menjadi kewajibanku, sayang. Selama aku masih ada di dunia ini, maka aku pastikan tak ada siapa pun yang berani untuk menyakitimu." Arka menikmati setuhan tangan sang istri dan sesekali memejamkan kedua netranya.


Mulai tak tahan, ia pun menghentikan pergerakan tangan itu kemudian berucap, "Ayo sayang, kita lanjutkan di kamar saja."

__ADS_1


Gadis itu pun tersenyum simpul, kemudian membiarkan sang suami mengendongnya seperti bayi besar, dan membawanya hingga kekamar.


__ADS_2