
Senja mulai menyapa di peraduannya. Kendaraan tampak penuh sesak memenuhi jalan raya hingga menimbulkan kemacetan di beberapa titik. Arka menyadarkan tubuh dan kepalanya di kursi penumpang. Wajahnya terlihat kusam setelah seharian beraktivitas.
Menatap keatas dan sesekali memejamkan netra. Hingga bayangan gadis yang seharian ini ia rindukan, datang menyapa. Akhir-akhir ini, hubunganya dengan Zara terbilang sangat membaik. Bahkan kini tak ada jarak yang selama ini menjadi penghalang seperti diawal pernikahan.
Keduanya kerap menghabiskan malam penuh cinta layaknya sepasang suami istri pada umumnya. Bibir seksi pria tampan itu mengulas senyuman saat mengingat kembali bagaimana tubuh mungil itu berada di bawah kendalinya. Ia pun berharap lekas dianugerahi seorang buah hati yang tentunya kian mempererat hubungan mereka hingga tiada kata perpisahan.
Lalu bagaimana denan Anastasya?
Tidak mungkin aku menceraikannya begitu saja. Sedangkan dulu aku pernah berjanji, jika tidak ada kata perpisahan meski seberat apa pun hubungan pernikahan kita.
Arka hanya menghela nafas dalam dan mengusap wajahnya kasar.
Tanpa terasa kendaraan yang dikemudika Sam mulai memasuki gerbang utama, melewati taman luas hingga berhenti di halaman rumah megah milik Arka.
Pria muda itu tampak tak bersemangat begitu keluar mobil dan memasuki rumah. Akan tetapi wajah kusut masai bak koran lusuh di pinggir jalan itu mendadak cerah, secerah mentari pagi kala mendapati wajah cantik sang istri berada pada jajaran pelayan yang menyambut kedatanganya.
Arka berjalan mendekat, menyerahkan tas kerjanya pada surti dan memeluk pinggang ramping istrinya. Para pelayan seketika menunduk, tanpa terkecuali Sam dan Surti. Kecupan di kening, kedua pipi, hingga berakhir di bibir yang membuat Zara seketika merona dan menahan malu yang tak terhingga.
"Sayang, kau menyambutku," ucap Arka dengan netra berbinar seolah baru saja mendapatkan hadiah terindah.
"Iya, sayang. Saya, sengaja menunggu anda pulang."
Arka tersenyum tipis kemudian mulai melangkah memasuki rumah dengan tangan tetap melingkah di pinggang istrinya.
Begitu melewati meja makan dengsn hidangan beraneka ragam yang sudah dipersiapkan pelayan dan Zara, pria itu berhenti sejenak. Menikmati aroma nikmat masakan yang menyeruak membuatnya tak tahan dan mendekat.
"Sayang, rasanya aku sudah tak sabar ingin menghabiskan masakanmu." Arka berucap sementara tangganya meraih kursi dan mulai mendaratkan tubuhnya.
"Tapi, sayang. Anda tidak ingin mandi terlebih dahulu sebelum makan malam?" Zara sedikit kebingunganan, tampaknya ini bukanlah kebiasan sang suami. Ia akan lebih dulu menuju kamar mandi selepas dari kantor, kemudian menyantap hidangan selepas membersihkan tubuh.
"Tidak untuk kali ini, sayang. Perutku sudah sangat lapar," rengek Arka layaknya bocah berusia lima tahun yang tengah memohon pada Ibunya untuk lekas mengabulkan keinginannya.
Zara tak kuasa menolak. Ia pun ikut duduk bergabung kemudian mulai mempersiapkan makanan kedalam piring suaminya. Arka dengan bersemangat memilih menu yang ia kehendaki dengan wajah berbinar. Ia pun tampak begitu menikmati.
__ADS_1
"Bi Surti, di mana Nona Anastasya. Kenapa tidak makan malam bersama kami?" Zara masih sempat mencari keberadaan Anastasya yang tak terlihat ikut bergabung.
"Nona Anastasya keluar sekitar tiga puluh menit yang lalu, Nona. Beliau bilang jika ingin mencari udara segar di luar." Surti yang berdiri di ujung ruangan berbicara.
Zara merasa kesulitan menelan makanan di dalam mulutnya selepas mendengar ucapan Surti. Akan tetapi, tidak dengan Arka. Suaminya itu justru kian lahap menyantap makanannya.
Sam yang berdiri di sudut ruangan pun hanya tergelak dalam hati.
Puaskan balas dendam anda Tuan. Bukankah tadi anda hanya sedikit memakan sajian dikantor. Anda pasti luar biasa lapar saat ini.
Sam menggeleng samar. Tak percaya dengan apa yang ditangkap indra penglihatannya saat ini. Jika bersama Anastasya, dulu Tuannya tak seperti ini. Akan tetapi setelah bersama Zara, Tuanya seperti ingin mendapatkan perhatian lebih, layaknya anak kecil.
Sementara itu di suatu tempat.
Semilir angin malam menerbangkan helaian surai lembut gadis yang baru saja turun dari kuda besinya. Jaket tipis dan masker sebagai penutup tubuh, tak serta merta mampu memusnahkan rasa dingin yang menusuk hingga kekulit.
Anastasya duduk di kursi taman dengan menatap kedepan. Bangunan kokoh bertingkat dengan gemerlap lampu disegala sudut. Membuat tempat yang dulunya menjadi ladang rezeki untuknya terlihat hidup.
Agensi model milik keluarga Rangga. Di sinilah malam yang dingin ini ia berada. Masker dan jaket yang ia gunakan untuk menutup diri, berharap tak ada satu orang pun yang menyadari keberadaannya.
Dirinya sengaja menghidar dari Zara dan Arka. Bukan karna cemburu atau pun sakit hati, ia hanya ingin memberikan waktu pada keduanya untuk lebih sering menghabiskan waktu bersama.
Anastasya menatap nanar bangunan yang masih terlihat ramai itu. Netranya mulai berkaca-kaca.
Dua tahun sudah aku meningalkan tempat dan semua kenangan di tempat ini. Karir, kehidupan, bahkan asmara yang kujalini disini, semua menguap tanpa sisa.
Gadis itu menunduk, meremas ujung gaunnya dengan geram. Mengapa hatinya terasa begitu sakit seperti teriris. Semua sudah berlalu, bahkan tak ada lagi yang harus ia perjuangkan. Baik itu karir atau pun asmara.
Apa kau masih mengingatku. Dua tahun berlalu, aku bahkan tak pernah mendengar kabarmu.
"Siomai, neng. Eneng_nya mau beli siomai." Suara seseorang berasal dari balik punggungnya, sontak membuat Anastasya berjingkat. Ia pun lekas menyeka buliran bening di sudut netranya. Beruntung ia memakai masker hingga samar terlihat.
Penjual siomai itu pun merasa bersalah, tak menyangka jika suaranya membuat orang lain terkejut.
__ADS_1
"Maafkan Bapak, Neng. Sudah mengejutkan." Pria paruh baya dengan gerobak yang di dorong itu menghentikan langkahnya.
"Ti-tidak apa-apa, pak. Saya hanya tidak melihat Bapak saja, jadinya saya terkejut." Anastasya menatap lekat seraut wajah dan suara yang dulunya tak asing baginya.
Pria itu pun terdiam. Suara seorang gadis yang beberapa tahun kerap menyapanya. Akan tetapi, rasanya tidak mungkin. Mengingat sudah lama gadis itu menghilang dari pandangannya.
"Mau beli siomai, Neng," tawar penjual itu.
Anastasya mengangguk. "Boleh, Pak."
Pria paruh baya itu tersenyum lebar dan mulai memasukan beberapa siomai kedalam kantong plastik berukuran sedang. Memotongnya menjadi lebih kecil kemudian menambahkan saus kacang dan juga kecap kedalamnya. Pria yang tetap tersenyum itu mengikat plastik berisikan seporsi siomai dan membungkusnya lagi dengan kantong plastik yang lebih besar kemudian memberikannya pada Anastasya.
Gadis dengan separuh wajah tertutup menerimanya. Lantas menyodorkan dua lembar uang pada penjual tersebut.
Pria paruh baya itu pun tercengang. Jika satu lembar saja lebih dari cukup untuk membayar dangannya, lantas kenapa gadis itu memberinya dua lembar.
Anastasya sudah memutar tubuhnya, dan hendak meninggalkan penjual itu. Akan tetapi, teriakan pria paruh baya itu seketika membuat langkahnya terhenti.
"Neng! Kembaliannya." ucap penjual itu setengah berteriak.
Anastasya menoleh, dan berhenti sejenak.
"Untuk bapak saja. Semoga bermanfaat." Ia pun melanjutkan langkah, menuju kuda besinya yang terparkir di bawah pohon.
"Terimakasih banyak, Neng. Semoga kebaikan Eneng dibalas sama yang maha kuasa."
Disela kebahagiaannya, pria itu kembali teringat.
Kenapa suaranya begitu mirip, tapi sepertinya tidak mungkin. Andai saja wajahnya tidak memakai masker, mungkin aku bisa lebih mudah untuk memastikannya.
Sementara itu, Anastasya bergegas memasuki mobil dan menutupnya secepat kilat. Bungkusan makanan yang tertutup rapat itu dengan tergesa ia buka, kemudian memakannya. Bulir bening tak kuasa untuk menetes. Begitu lama ia merindukan makanan ini. Bahkan sewaktu mengandung, Anastasya memimpikan untuk bisa menyantapnya meski tak pernah kesampaian.
Rasanya masih tetap sama
__ADS_1
Ia tak menyangka jika bisa bertemu kembali pada penjual siomai yang dulu pernah ia sambangi hampir setiap hari. Namun, jangankan untuk mengobrol hangat, menyapa pun ia seakan tak punya keberanian. Rasanya begitu memalukan. Terlebih, penjual siomai itu kemungkinan besar mengetahui sekandal hidupnya yang sudah hamil di luar nikah.