
"Selamat datang." Riuh suara terdengar dari pintu rumah utama yang baru saja terbuka. Zara dan Arka yang berdiri pun terkesiap, tak menyangka akan mendapatkan kejutan seperti ini begitu sampai di rumah.
"Masuklah Nak," ucap Mirah yang mengiring putra dan juga menantunya untuk masuk kedalam ruang tamu yang sudah di dekorasi dengan balon dan segala pernak pernik berwarna biru. Sementara Rumi, terlihat membimbing langkah kedua perawat yang yang mengendong si kembar.
Senyum terulas di bibir mungil Zara, begitu pun dengan Arka. Sejujurnya tak ada orang luar dirumah tersebut. Hanya ada Rumi dan Mirah, juga seluruh pelayan dan pengawal yang bekerja pada Arka. Akan tetapi, rumahnya kini tampak begitu ramai, dengan berbagai menu makanan yang sengaja sudah dipersiapkan.
"Kami dan para pelayan yang mempersiapkannya. Maaf jika tidak meminta persetujuan dari kalian dulu. Ya, hitung-hitung selamatan untuk kedatangan si kembar," ucap Mirah yang sudah mengandeng tangan Rumi. Kedua perempuan paruh baya itu kini semakin akrab.
"Tidak apa, Bu. Kami justru senang dan merasa terharu. Tak menyangka jika akan mendapat kejutan seperti ini." Zara terlihat berkaca-kaca. Ia tersenyum haru dan mendekap sang suami yang ada di sampingnya.
"Tunggu apa lagi, ayo kita santap hidangannya," ucap Mirah mengomando.
Semuanya pun berbaur menjadi satu, baik majikan atau pun para pelayan dan juga pengawal. Si kembar yang kebetulan tengah terlelap, sengaja ditidurkan di box bayi yang ditarik hingga kearah ruang tamu agar kedua perawat yang menjaganya pun bisa menikmati makan bersama.
Zara tersenyum simpul menatap kedua bayinya yang tertidur dengan pulasnya, bahkan suara-suara bising disekitar tak membuat bocah mungil itu terganggu.
Arka yang membawa piring berisi makanan itu mendekat, kemudian menyuapkan nasi beserta lauk ke mulut istrinya.
"Terimakasih," ucap Zara lembut. "Seharusnya, akulah yang melakukan ini." Zara meraih piring tersebut, dan menyapkan makanan kedalam mulut suaminya.
"Terimakasih, sayang." Pandangan kedua insan itu saling berpaut. Kebahagian benar-benar tengah melingkupi keluarga kecilnya. Setelah cobaan bertubi-tubi yang mereka hadapi, rupanya bisa membuat keduanya semakin dewasa dalam bersikap dan menentukan tujuan hidup kedepan.
Tak ayal, keluarga bahagia yang mereka idamkan, kini benar-benar menjadi kenyataan.
Ada kebahagiaan tersendiri di mata Arka, saat orang-orang disekeliling yang sudah sangat dekat dengannya bisa merasakan kebahagiaan, seperti yang ia rasakan saat ini. Semoga saja, kebahagiaan ini akan tetap langgeng, sampai kapan pun.
*****
Kenan tak menunggu lama untuk menentukan keputusan. Setelah sempat meyakinkan, kini pria itu kembali pulang kekota dengan membawa serta keluarga Anastasya. Tentunya untuk merajut hubungan yang lebih serius dengan gadis tersebut.
Paman dan bibi Anastasya terlihat tersenyum lega disepanjang perjalanan. Setelah memilih menikah secara diam-diam, pada pernikahan kali ini pasangan paruh baya itu diikut sertakan dalam rencana sakral pernikahan sang keponakan.
Tentunya menjadi kebahagiaan tersendiri, mengingat keduanya sudah seperti orang tua bagi Anastasya yang yatim piatu.
"Nak, Ken. Apa tidak akan merepotkan jika kami tinggal bersama Nak Ken di kota," ucap Bibi Anastasya seraya menatap kearah sang suami dan keempat putra putrinya.
Sembari mengatur kemudi, pria tampan itu tersenyum tipis. Mungkin sudah bisa menebak akan kekhawatiran yang keluarga Anastasya fikirkan.
"Tentu tidak Bi. Aku hanya hidup bersama satu pelayanku. Sementara rumahku cukup besar dengan memiliki banyak kamar."
Perempuan paruh baya itu menghela nafas dalam.
"Kami hanya takut jika merepotkan."
Anastasya yang duduk di samping Ken pun hanya bisa terdiam. Sebenarnya, pernikahan ini pun terkesan mendadak dan keduanya belum saling mengenal satu sama lain. Gadis itu takut, jika suatu saat mereka sudah menikah dan Ken merasa Anastasya bukanlah kriterianya dari segala sisi. Apakah pria itu akan meninggalkannya? Entahlah.
Tak terasa gadis itu pun melamun. Menatap nanar pemandangan di luar jendela. Begitu banyak fikiran yang berkecamuk di benaknya. Apakah ia mampu, apakah ia bisa, menjadi sosok istri yang benar-benar diinginkan Kenan.
"Anastasya."
Gadis itu terkesiap, saat tangan kokoh meraih jemari lentiknya yang bertumpu di atas paha.
"Kenapa diam saja, apa yang sedang kau fikirkan?" tanya Ken pada gadis disampingnya yang sedari tadi hanya berdiam diri.
Anastasya pun tersenyum tipis.
"Tidak mas, aku hanya sedikit lelah saja." Gadis itu memutar kepala, memandang sejenak paman, bibi, beserta keponakannya yang berada di kursi penumpang. Ada rasa bahagia yang tak terkira. Di mana untuk kali pertama, impiannya untuk bisa membawa keluarga paman melihat kota, baru akan terlaksana.
__ADS_1
*****
"Ana, apa ini benar rumahnya?" Perempuan paruh baya itu berdiri terpaku. Menatap rumah besar nan mewah yang menurut Anastasya adalah rumah milik Kenan.
"Iya, bi. Ini rumah Mas Kenan."
Anastasya melihat Bi Sumi yang sudah menyambut. Sementara Ken terlihat membantu paman menurunkan barang-barang yang dibawa dari kampung.
"Mari, silahkan masuk," ucap Sumi mempersilahkan.
Anastasya lekas membawa sang bibi dan juga keponakannya untuk memasuki rumah dan beristirahat. Disusul Ken dan juga pamannya yang mengekor di belakangnya.
Rupanya Ken sudah memberi kabar pada Sumi akan kepulangannya dengan membawa serta keluarga Anastasya. Terbukti dengan hidangan beraneka ragam yang memenuhi meja makan.
Anastasya tak mampu berkata-kata, dan hanya menurut saat Ken menarik satu kursi untuk gadis itu tempati. Terlebih seluruh keliarganya memutari meja makan dan bersiap untuk mengisi perut mereka.
"Ayo paman, bibi, dan keponakan uang cantik dan tampan. Ayo kita makan," titah Ken dengan senyum terkembang di bibirnya.
Pada saat itu juga, Anastasya nyaris menumpahkan semua bulir bening jika saja ia tak sekuat tenaga menahannya.
Terimakasih
Hanya kalimat itulah yang selalu terucap dari hati untuk segala kebaikan yang Kenan berikan.
*****
Setelah seluruh keluarganya memasuki kamar untuk beristirahat. Kini Anastasya melebarkan langkah untuk mencari keberadaan Kenan.
"Di mana dia?"
Gadis itu terus mencari, saat pria tampan itu masih tak jua di temui.
"Bagaimana ini, lebih baik aku ketuk saja."
Anastasya memberanikan diri untuk mengetuk pintu itu pelan. Hingga sebuah suara terdengar.
"Masuklah."
Haduh, aku benar-benar grogi sekarang.
Takut-takut, gadis itu memasuki ruangan dan menutup pintu itu kembali sepelan mungkin. Ia sempat mendongak, memberi senyum pada ken, kemudian berjalan kearah ken dengan setengah tertunduk.
Pria itu pun melepas kacamatanya, bersandar pada kepala kursi putar, kemudian tersenyum tipis kearah Anastasya.
"Duduklah," titah pria itu.
Anastasya pun patuh dan duduk di hadapan Ken dengan meja kerja sebagai pembatas.
"Angkat kepalamu, dan lihatlah aku. Bukankah aku ini kekasihmu? Jadi tidak perlu takut, apalagi malu," goda Kenan.
Gadis itu pun perlahan mendongakkan kepala. Hingga pandangan keduanya saling berpaut.
"Terimakasih, aku ingin mengucapkan banyak-banyak terimakasih padamu, Mas." Mungkin hanya satu kalimat itu yang bisa mewakili segalanya.
Ken menghela nafas dalam.
"Untuk apa kau berterimakasih, bukankah itu memang sudah menjadi kewajibanku. Kau adalah calon istriku, keluargamu sama juga dengan keluargaku. Jadi mereka juga menjadi tanggung jawabku, setelah dirimu."
__ADS_1
Gadis itu terdiam, namun berfikir dalam.
"Tapi aku takut jika kami hanya akan merepotkan Mas Kenan."
Ken menyipitkan pandangan, terdengar tak suka dengan kalimat yang baru saja terucap dari bibir kekasihnya.
"Apa maksudmu dengan merepotkan? Sedangkan aku sendiri sama sekali tak merasa direpotkan."
Anastasya tak mampu menjawab ucapan Kenan.
"Anastasya, kemarilah."
Kemari. Maksudnya?
Gadis itu bangkit. Tetapi masih ragu hendak kemari.
"Kemari." Ken menjetikkan jari telunjuknya, meminta agar gadis itu mendekat kearahnya.
Anastasya menelan salivanya susah payah, dan melangkah mendekati Kenan.
"Aw..." Gadis itu memekik terkejut saat Ken mengangkat tubuhnya untuk duduk di meja kerja berukuran cukup besar itu. Sementara Kenan tetap pada posisinya, duduk di kursi putar.
Ken sengaja membuat Anastasya duduk di meja, sementara ia sendiri di kursinya. Keduanya benar-benar berjarak cukup dekat, sementara Anastasya terlihat tak nyaman, mengingat dirinya kini memakai gaun selutut dan Ken tengah duduk di hadapannya.
"Mas." Anastasya menyilangkan kedua tangan di atas pangkuan, takut jika gaunnya akan tersingkap.
Tetapi Ken justru berulah. Ia membuka kedua paha tertutup gaun itu agar lebih mudah untuk merengkuh pinggang ramping Anastasya.
"Aw.." Lagi-lagi Anastasya setengah berteriak karna terkejut. Sementara Ken hanya tergelak penuh kepuasan. Bahkan wajah mereka kini berjarak sangat dekat.
"Biarkan seperti ini. Aku ingin memelukmu," ucap Ken penuh harap sementara tangan kokohnya sudah berada di pinggang sang kekasih sedari tadi.
Anastasya tertunduk malu. Seperti ribuan bunga mawar yang bermekaran memenuhi hatinya. Terlebih wajah keduanya yang hanya berjarak beberapa senti saja.
Tangan kanan Ken yang semula mendekap pinggang sang gadis, kini mulai menyentuh dagu yang tertunduk itu.
"Lihat aku, dan jangan menunduk seperti itu."
Gadis itu pun melakukannya meski malu.
"Maaf, kemarin aku lupa membawa cincin saat melamarmu di depan paman dan bibi. Tetapi aku janji, besok kita akan mencarinya dan menyematkannya di jari manismu."
Anastasya hanya tersenyum tipis disela anggukan.
"Bagaimana jika kita menikah minggu depan?"
Seketika Anastasya gelagapan.
"A-apa? Minggu depan?"
"Kenapa? Bukankah lebih cepat itu lebih baik." Ken terus saja mengungkapkan keinginannya. Tak perduli akan keterkejutan yang dialami Anastasya.
"Tapi," jawaban Anastasya terdengar mengambang.
"Karna aku sudah tak sabar untuk cepat-cepat menikahimu, sayang." Tanpa ragu, Ken meraih dagu Anastasya kemudian membenamkan bibirnya pada bibir ranum gadis yang ada di hadapannya.
Satu kecupan singkat mendarat.
__ADS_1
"I love you Anastasya. Aku benar-benar mencintaimu." Ken mengusap bibir Anastasya dengan ibu jarinya. Sementara gadis itu sendiri, kini masih tak bergerak akibat keterkejutan dari sebuah kecupan singkat yang baru beberapa detik lalu ia rasakan.