
Makan siang berjalan dengan khidmat. Tak ada yang berbicara selama makan barang sepatah kata pun. Zara menelan nasi beserta lauk dalam piring makannya dengan susah payah. Dalam kondisi seperti ini, dirinya dirasa sungguh tak pantas untuk menjadi istri dari seorang CEO ternama. Dari segi apa pun, keduanya sangat jauh berbeda. Hal inilah yang membuat gadis itu merasa rendah hati.
Arka menyeka sudut bibirnya dengan tisu. Makanan di piringgnya sudah tandas tanpa sisa. Pria itu pun menatap Zara yang juga telah menyelesaikan makannya.
"Zara, istirahatlah di kamar, kau pasti lelah." Arka mendapati ketidaknyaman dari diri istrinya. Sikap ibunya pun dia nilai berlebihan memperlakukan Zara, mengingat ini kali pertama keduanya bertemu.
Zara hanya diam, namun sempat menatap wajah suaminya sekejap.
"Arka, Ibu masih belum selesai bertanya pada istrimu, apa itu terlihat sopan? Menghindar pertanyaan mertua saat sudah separuh jalan," geram Mirah merasa tak terima.
"Sudah Ibu, lain kali saja. Zara benar-benar terlihat lelah, dia butuh istirahat." Arka tetap tak mau kalah.
Mirah mendengus, namun tak berani membantah ucapan putranya. Sebenarnya ia masih sangat penasaran dengan asal usul gadis yang dinikahi putra sulungnya.
Zara bangkit dari kursinya, menundukan kepala pada Ibu mertuanya dan memutar tumit berlalu pergi. Arka menatap punggung mungil Zara yang menaiki tangga menjauhinya. Meningalkan ketiga orang yang hanya diam di meja makan, tengah sibuk dengan fikiran masing-masing.
********
Ada yang sakit, namun tidak berdarah. Zara terduduk di sudut walk in closet, bersembunyi di antara tempat pakaian yang tertata. Buliran kristal menitik dari ujung netranya. Sulit untuk menahan tangis dalam situasi seperti ini. Menantu yang tak diinginkan, mungkin itulah stempel yang tepat ditujukan padanya.
Mungkin aku salah sudah memasuki keluarga ini, namun ini semua juga bukan sepenuhnya salahku.
Anastasyalah yang menyeret gadis lugu dan polos itu untuk memasuki keluarga kaya yang sangat tak sepadan dengannya.
Derap langkah terdengar semakin mendekat. Terdengar isak tangis lirih dari sudut ruangan yang masih gelap dengan lampu sengaja dipadamkan. Arka meraih remot dan menekan satu tombol hingga seluruh lampu ruangan menyala.
Zara masih tertunduk dengan mata terpejam. Kedua tangannya erat memeluk lutut dan menenggelamkan wajahnya di sana. Masih tak menyadari jika sesosok tubuh tinggi menjulang menatapnya terenyuh. Pria itu pun bersimpuh, mensejajarkan posisinya tepat di hadapan sang istri. Diusapnya surai hitam selembut sutra, hingga sang pemilik surai itu terkejut, lantas mendongak.
"Maaf atas semua ucapan Ibuku. Anggap saja, Ibu tak pernah mengucapkan itu semua kepadamu. Sejujurnya Ibu bukanlah orang yang jahat. Aku harap kau bisa memaafkannya." Arka mengusap lembut kesua pipi Zara yang basah, Kemudian menciuminya.
__ADS_1
Zara mengangguk, meski masih sesegukan. Tanpa aba-aba, Arka meraup tubuh mungil sang istri, lantas mengendongnya. Gadis itu pun tampak tak terkejut mengingat beberapa kali Arka memperlakukannya layaknya bayi.
Arka menghela nafas dalam dan merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang dengan hati-hati. Mungkin lelah batin lebih dirasakan Zara, hingga membuatnya lemah tanpa daya.
"Beristirahatlah, aku akan menunggumu di sini," ucap Arka sementara bibirnya berlabuh di kening Istrinya. Usapan di kepala mungkin mampu membuat Zara tidur dengan nyenyak, namun saat Arka mulai mengusap kepala sang istri, ketukan berkali-kali di pintu mengurungkan niatnya.
Pria itu pun bergegas membuka pintu kamarnya, namun ia pun tak mampu menyembunyikan ketidak sukaannya kala mengetahui siapa yang berdiri di balik pintu.
"Ibu, kenapa kemari? Zara lelah, dia ingin beristirahat." Arka meninggikan nada bicaranya, baginya sang Ibu sudah cukup kelewatan.
Zara yang mendengar adanya keributan dari arah pintu pun terbangun, dan punggungnya bersandar pada kepala ranjang.
"Ibu hanya ingin melihat menantu Ibu saja." Mirah menggeser tubuh putranya dan menemukan Zara bersandar dengan netra terbuka. "Kau bilang istrimu tidur? Lihatlah, kedua matanya bahkan masih terbuka lebar." sambung Mirah sembari menunjuk kearah Zara.
Arka spontan memutar tubuhnya dan benar saja, istri mungilnya itu justru terbangun.
Ya tuhan istriku, aku berniat menyelamatkanmu tapi kau justru menenggelamkan dirimu sendiri.
Mirah tersenyum cerah menatap Zara yang bersandar di ranjang dengan wajah pias. Perempuan paruh baya itu berjalan mendekat dan melabuhkan tubuhnya di tepi ranjang.
"Setelah makan siang beberapa waktu lalu, Ibu rasa energimu sudah terkumpul kembali. Bagaimana, kalau kau iku dengan Ibu, menantuku." Kata-kata yang mampu membuat bulu kuduk Zara seketika berdiri. Gadis itu beringsut, hingga tersudut di ujung ranjang.
"Ibu akan membawa Zara kemana?" Arka membuka mulutnya mewakili sang istri yang ketakutan.
Mirah tersenyum tipis menatap putranya. "Ibu hanya ingin mengajak Zara keruang kerjamu saja."
"Untuk apa lagi ibu?" geram Arka.
"Arka, tidak usah berlebihan. Ibu tidak akan menyakiti istrimu. Ibu hanya ingin bicara lebih dekat dengan menantu Ibu sendiri." elak Mirah. "Ibu janji padamu," sambungnya kemudian.
__ADS_1
Mirah mengulurkan tangan dan meraih jemari Zara lantas menariknya lembut.
"Ikutlah dengan Ibu," titah perempuan paruh baya itu dan mau tak mau harus gadis itu iyakan.
Arka tak mampu mencegah dan membiarka Ibunya membawa Zara menghilang dari pandangannya meskipun berat.
*********
Ruang kerja milik Arka tak sembarang orang bisa memasukinya. Ini pun untuk pertama kali Zara memasuki ruangan yang didominasi warna abu-abu itu. Gadis itu sudah seperti terdakwa yang duduk di kursi pesakitan.
Mirah duduk dengan anggun di kursi putranya sementara Zara berada diseberang dengan meja kerja sebagai pembatas.
Pintu ruangan terbuka pelan, Surti muncul dengan nampan di tangan. Sepiring buah segar, camilan dan dua gelas minuman berbeda tersaji di meja.
"Silahkan Nyonya, Nona," ucap Surti sebelum meninggalkan ruangan.
"Terimakasih Bi Surti," jawab Mirah. "Tolong tunggu kami di luar Bi, cegah siapa pun yang ingin memasuki ruangan ini termasuk Arka." Mirah tersenyum tipis selepas merampungkan kalimatnya.
Mirah menatap lekat wajah Zara yang pucat pasi. Tatapannya melembut seketika sementara bibirnya mengurai senyum tulus.
"Apa kau sebegitu takutnya kepadaku, Zara?" Mirah membuka suara kala di ruangan tersebut hanya ada mereka berdua.
"Bu-bukan maksud saya seperti itu Nyonya, hanya saja....
"Hust..." Mirah menempelkan telunjuk di bibir, memberi kode agar menantunya itu berhenti bicara. "Jangan pangil aku Nyonya. Panggil aku Ibu, bukankah kau istri dari putraku?"
Zara menganguk samar, "Iya, Nyonya. Tapi---
"Aku tidak ingin mendengar penolakan. Panggil aku Ibu seperti Arka dan Anastasya memanggilku."
__ADS_1
"Baik Ibu."
Ibu. Kenapa kata ibu mengingatkanku pada ibu yang sudah kutinggalkan tanpa kabar hingga berbulan bulan lamanya. Ibu, Ibu Mirah memang bukan ibuku, namun aku berharap hati anda selembut dan sehangat seorang ibu yang sudah melahirkanku.