
Mobil hitam itu mulai memasuki gerbang utama, semakin mendekat menuju halaman kediaman Arkana Surya Atmadja. Zara merasakan sekujur tubuhnya gemetar, melebihi saat pertama kali ia datang kerumah mewah ini. Detak jantungnya pun berpacu lebih cepat dari sebelumnya hingga gadis mungil itu terlihat kian gelisah.
Mesin mobil terhenti, Sam pun sudah membukakan pintu untuknya.
"Terimakasih banyak Tuan sam," ucap Zara selepas menuruni kuda besi tersebut.
Pria muda itu menundukan kepala. "Mohon maaf lebih dulu, Nona. Akan lebih baik jika memangil saya tanpa menambahkan Tuan. Mengingat Nona adalah atasan saya dan saya bawahan Nona." Sam coba menjelaskan posisinya dirinya pada Zara, yang mana bagi pria tersebut tak merasa nyaman dengan sebutan tersebut.
"Jadi saya harus memangil anda siapa," tanya Zara setengah tak mengerti.
"Cukup Sam saja. Seperti Tuan memangil saya." Dengan isyarat tangan Sam meminta pada Nonanya itu untuk lekas memasuki rumah.
Seperti biasa, deretan pelayan perempuan menyambutnya dengan senang. Surti menghampiri Nonanya itu dan menundukan kepala.
"Selamat siang Nona," sapa perempuan paruh baya tersebut.
"Siang Bi Surti dan pelayan lain." Zara menatap satu persatu pelayan dan memberinya senyuman hangat, sehangat mentari pagi.
"Mari Nona. Tuan dan Nona Anastasya sudah menunggu di ruang tengah." Surti menatap bungkusan di tangan Zara. "Nona, biar saya yang membawanya," pinta Surti.
Gadis itu pun menunduk, menatap bungkusan makanan tersebut. "Tidak usah Bi, biar saya saja. Lagi pula, ini bukan apa-apa," tolak Zara lembut.
Surti pun membimbing langkah Nonanya menuju ruang tengah. Entah mengapa gemuruh di dada gadis mungil itu kian tak beraturan. Bahkan keringat dingin pun perlahan menitik di pelipisnya.
Langkah keduanya terhenti begitu memasuki ruangan. Beberapa pasang mata yang tengah berbicara serius, seketika menatap Surti beserta Zara bersamaan. Gadis itu pun menelan salivanya berat dan meremas kantong bawaannya.
Apa ini. Sefatal inikah kesalahanku sampai semua orang ingin menghakimiku.
Gadis itu pun menundukan kepala sopan dan menyapa pemilik rumah satu persatu.
"Selamat pagi Tuan, Nona, dan Nyo..nya." Zara menangkap sosok perempuan paruh baya yang terlihat masih cantik, duduk bersama Arka dan Anastasya.
__ADS_1
"Kemari, dan duduklah," ucap Mirah tanpa menebar senyuman dan menunjuk sofa kosong di sisi kirinya yang masih kosong.
Zara pun mendekat, meraih tangan perempuan paruh baya itu dan mencium punggung tangannya sebelum mendaratkan tubuhnya di sofa.
Mirah tertegun sejenak, kemudia menatap gadis yang masih tampak bingung itu lekat.
"Perkenalkan, saya Mirah ibu dari Arkana Surya Atmadja, suamimu," ucap perempuan paruh baya itu dengan menekan kata diakhir kalimat.
Apa? Jadi ini ibunya Tuan. Bodohnya aku, andai saja aku tahu jika mengunakan kartu itu akan berbuntut panjang hingga sampai di meja tuhan. Demi tuhan, aku akan memilih membuangnya dari pada menyimpanya.
Zara tersenyum getir, dan menatap nanar sang suami beserta Anastasya yang hanya diam dan tak berbicara apa pun.
"Lalu siapa namamu gadis kecil?" tanya Mirah dengan tatapan tajamnya.
Gadis mungil itu terlihat gemetar, wajahnya yang sempat menunduk kini ia beranikan untuk tegap menatap ibu dari suaminya.
"Saya, Zara Nyonya."
"Lalu sebutkan nama kedua orang tuamu, tempat tingal, dan tak lupa pekerjaan orang tuamu."
Semua orang yang berada dalam ruangan terkejut. Bahkan Mirah pun terbelalak.
"Kenapa? Bukankah dia menantuku? Aku hanya ingin tahu asal muasal gadis yang sudah dinikahi putraku tanpa meminta izin dahulu kepadaku," celoteh Mirah merasa dirinya paling benar.
"Tapi Ibu seakan sedang memojokkan istriku. Jika Ibu ingin menyalahkan seseorang, maka akulah yang paling bersalah atas permasalahan ini." Arka tak terima jika Ibunya terkesan membenci istri yang disayanginya.
Anastasya memilih diam. Posisinya kini benar-benar tak menguntungkan baginya. Ingin mengakui kesalahan, namun sama saja dengan dirinya menenggelamkan tubuh di lumpur hisap. Hingga diamlah menurutnya cara yang paling aman.
Pandangan Mirah tertuju pada sesuatu yang berada dalam pangkuan Zara.
"Bungkusan apa yang sedang kau pegang?"
__ADS_1
Zara gelagapan, "I-ini bukan apa-apa Nyonya. Hanya saja saya lupa untuk meninggalkannya di mobil tadi." Gadis itu pun tertunduk dalam. Inilah yang paling ia takutkan selama ini. Memasuki kehidupan orang berada bagaikan siksaan batin baginya. Akan begitu banyak derita, dari pada bahagia. Begitulah fikirnya.
"Bi Surti."
"Iya Nyonya," jawab Surti sembari mendekat kearah Mirah.
"Persiapkan makan siang, kami sudah lapar," titah Mirah.
"Baik Nyonya." Surti bergegas menuju dapur. Menginstruksikan para koki untuk lekas mempersiapkan makan siang dengan menu yang sudah ditentukan.
Beberapa Koki pun bergerak cepat, mengolah bahan makanan segar pilihan dengan sebaik mungkin. Meski kerap merasakan lelah, namun para juru masak tersebut tetap melakukan pekerjaan dengan hati senang dan berbangga sebab dari tangan mahir merekalah tersajinya hidangan luar biasa untuk orang-orang yang mereka hormati.
*******
Tak ada yang luput dari pandangan semua pelayan. Seluruh hidangan dan meja makan tertata rapi seperti biasa. Arka duduk di kursi makan yang biasa ia gunakan, namun ada yang berbeda. Kursi yang biasa di duduki Zara, kini digeser oleh mirah. Hingga Zara mengalah dan duduk di sebelah mertuanya itu.
"Zara, taruh makanan cepat saji itu di meja. Makanan seperti itu tidak sehat untuk tubuh," ucap Mirah kala mendapati Zara masih menggengam bungkus makanan cepat saji itu di tangannya.
Zara seketika meletakkan bungkusan itu di meja. Wajahnya sudah memerah, menahan tangis. Arka hanya mampu menahan nafas dalam. Ingin rasanya memeluk dan menjauhkan Zara dari jangkauan ibunya, tetapi itu bukanlah cara yang tepat. Mengingat Zara belumlah mendapat pengakuan dari seorang perempuan yang sudah melahirkannya.
"Ayo kita makan. Tidak baik berdebat di depan rezeki," titah Arka dengan menatap tajam Ibu beserta kedua istrinya.
Zara bergerak cepat. Tanpa diminta, gadis mungil itu berdiri dan mulai mengisi piring sang suami dengan makanan kesukaan pria tersebut. Arka tersenyum senang dan mengusap lembut bahu sang istri sebagai hadiah.
"Terimakasih istriku," ucap Arka dengan senyum merekah di bibir sedikit tebalnya.
Gadis itu hanya menganguk dan tersenyum tipis.
"Nyonya ingin makanan yang mana," tawar pada Mirah, meski Zara sedikit ragu mengucapnya.
Tanpa diduga. Perempuan paruh baya itu menunjuk beberapa macam lauk dan sayuran pada Zara untuk gadis itu ambil dan berlabuh di piring miliknya.
__ADS_1
"Terimakasih, Zara." Sungguh kalimat yang membuat Zara terkejut setengah mati. Nyaris gadis mungil itu tak mempercayai apa yang sudah ditangkap oleh indra pendengarannya itu.
Sementara Zara hanya duduk terdiam dengan menatap piringnya yang di isi oleh pelayan. Menatap nanar pemandangan di depannya. Entah ia harus senang atau malah sedih, namun satu yang pasti. Mirah tak pernah sekali pun berucap terimakasih padanya selama dirinya menjadi menantu di rumah ini.