
"Bagaimana ini?" Tubuh Rumi seakan lunglai tak bertenaga pada saat Farhan selaku Dokter spesialis yang bertanggung jawab atas pengobatan yang tengah dijalani Jamil saat ini.
Benturan cukup keras yang dialami pria paruh baya itu, rupanya menyebabkan pendaraan di dalam kepala dan bahkan sudah sampai otak. Pendarahan itu menyebabkan penekanan otak oleh pembuluh darah yang pecah. Sehingga kondisi itu dapat mengganggu fungsi otak dan menyebabkan penurunan kesadaran.
Penanganan yang bisa dilakukan adalah mengurangi pendarahan yang timbul, namun Dokter pun tidak bisa memberikan banyak harapan, mengingat kondisi Jamil yang kian memburuk dan belum melewati fase kritis.
"Kami akan tetap berusaha untuk bisa menyelematkan Tuan Jamil. Tetapi kami juga tak mampu memberikan banyak harapan. Kita serahkan semua pada sang pencipta, biarkan kami bekerja atas ridhonya."
Rumi tak mampu lagi berkata-kata, begitu pun dengan Zara. Keduanya hanya saling memeluk selepas Farhan memberikan penjelasan panjang lebar.
Kondisi jamil tak berubah. Itulah yang membuat istri beserta putrinya dirundung duka mendalam. Andai waktu bisa diputar, tentunya Zara tak akan membiarkan orang tuanya kembali ke kampung pada saat itu dan menahannya agar tetap hidup di kota bersama dirinya.
Tetapi, apalah daya. Semua memang sudah menjadi suratan sang pencipta. Di mana rezeki, jodoh, dan maut, semua sudah tertulis dalam lembaran takdir bahkan sebelum si pemilik nyawa lahir ke dunia.
"Nak, beristirahatlah. Kau terlihat pucat dan lemah. Kasihan anak-anakmu, mereka juga pasti kelelahan sepertimu." Rumi coba membujuk Zara yang sama sekali tak beristirahat setelah sang ayah dirawat di rumasakit milik keluarga Atmadja. Lingkar gelap dikedua netranya bahkan sudah terlihat, namun gadis itu tetap kekeh untuk selalu berada dekat dari orang tuanya dan menolak untuk beristirahat di ruangan yang sudah disediakan.
"Aku ingin tetap di sini ibu," tolaknya dengan suara pelan. Zara bahkan menolak untuk makan. Terlebih saat ini Arka tengah sibuk dengan pekerjaan dan tak berada di sisinya.
"Kau jangan seperti ini nak. Jika Ayahmu melihat, beliau pasti sedih sebab kau berusaha mengabaikan kesehatanmu sendiri dan juga dua bayi yang sedang kau kandung. Janin itu masih kecil dan memerlukan asupan nutrisi yang cukup untuk pertumbuhannya. Ibu tau jika kau sedih, dan tak berselera untuk makan. Tetapi setidaknya fikirkan kandunganmu. Kau bisa membersihkan diri, makan dan beristirahat. Jika sudah segar, kau bisa menemui ibu dan ayahmu kembali. Jangan khawatir, Ibu akan selalu menjaga ayahmu di sini." Rumi menyelipkan sulur anak rambut yang menutupi sebagian wajah putrinya kebelakang telinga. Wajah putrinya itu terlihat sembab dan pucat, serta bola matanya yang memerah akibat menahan kantuk.
Zara spontan mengusap perut buncitnya dengan lembut. Seolah meminta maaf pada kedua calon buah hati yang tanpa sadar sudah sempat ia abaikan.
Maafkan ibu nak.
"Tetapi, ibu juga harus istirahat. Biarkan para suster yang akan menjaga ayah dengan baik di tempat ini." Zara juga menemukan gurat kelelahan dan letih dari wajah ibunya, jika dirinya beristirahat, maka juga harus melakukan hal yang sama. Sebab bukan hanya dirinya yang merasa lelah, tetapi ibunya pun juga merasakannya, bahkan lebih.
Rumi lekas menggeleng sebagai isyarat penolakan.
"Tidak nak. Biarkan ibu tetap berada di sini. Beristirahatlah lebih dulu, jika ibu merasa lelah, maka ibu akan lekas menyusulmu." Setidaknya dengan berucap demikian, bisa membuat Zara bernafas lega dan bersedia untuk istirahat. Begitulah kiranya yang ada di benak Rumi.
Meski ragu, namun Zara akhirnya menyetujui. Dirinya terlebih dulu menatap wajah sang ayah dari kaca pemisah ruangan, kemudian memanjatkan doa dalam diam teruntuk kesembuhan ayahnya.
Surti yang berdiri di luar ruangan tampak tersenyum lembut saat melihat sang Nona keluar dari ruang perawatan ayahnya. Perempuan paruh baya itu pun lekas memapah Zara dan membawanya kesebuah ruang tunggu yang sudah dipersiapkan.
__ADS_1
"Nona, saya sudah mempersiapkan air hangat untuk anda membersihkan diri," ucap Surti seraya mempersiapkan pakaian ganti beserta keperluan lain untuk digunakan Zara.
"Baiklah bi. Tubuhku memang terasa lengket dan berkeringat." Tanpa menolak, Zara pun lekas memasuki kamar mandi dan membersihkan diri. Peristiwa yang terjadi benar-benar menguras tenaga dan emosinya.
Sejenak berusaha melupakan yang terjadi, dan membiarkan guyuran air hangat yang jatuh membasahi tubuh, sebagai sebuah terapi dan obat penenang. Hingga tubuhnya terasa ringan dan kembali segar.
Zara menatap pantulan wajahnya di cermin. Wajahnya benar-benar pucat dengan lingkar hitam di area sisi netranya. Menarik nafas dan membuangnya perlahan, gadis itu pun meraih pakaian ganti yang sudah bi Surti persiapkan. Untuk menutupi kesan pucat di wajah, Zara mengaplikasikan pelembab wajah, kemudian menambahkannya dengan bedak tipis dan lipstik berwarna peach agar terlihat lebih segar.
Begitu pintu kamar mandi terbuka, Zara bisa menghirup aroma sedap masakan yang memenuhi ruangan.
"Silahkan nikmati makan siang anda, Nona." Surti menarik sebuah kursi di mana mejanya sudah terisi oleh banyak makanan.
Gadis itu tak menolak, terlebih kondisi perutnya yang sudah melilit karna kelaparan. Ia tak ingin egois dan melupakan kedua calon buah hatinya yang menahan lapar di dalam perutnya.
"Bibi, apakah ibu tidak ingin makan bersamaku di sini?"
Surti tersenyum lembut, melihat sebegitu dekatnya hubungan ibu dan anak tersebut.
"Nyonya mengatakan jika beliau akan makan setelah lapar nanti, nona. Untuk sekarang, nikmatilah makanan nona terlebih dulu, setidaknya demi janin yang sedang nona kandung," pinta Surti dengan mengiba.
"Tuan juga berpesan jika akan kembali satu jam lagi selepas melakukan pertemuan dengan para penanam saham."
Zara hanya menganguk Samar mendengar informasi suaminya dari Surti. Ia sendiri terbilang sangat faham akan pekerjaan Arka yang menuntut sebagian besar waktunya untuk bekerja.
Jika beberapa waktu lalu dirinya benar-benar tak menginginkan makanan, namun setelah menatap makanan lezat yang tersaji di hapan mata, entah mengapa rasa lapar itu kembali meronta dan meminta untuk dipuaskan.
Ia benar-benar lapar, begitu pun dengan kedua calon bayinya. Ketiganya seolah berlomba untuk menuntaskan rasa laparnya dengan melahap semua makanan di meja. Dan begitulah adanya, sajian yang cukup banyak itu kini sudah berpindah tempat kedalam perut Zara. Surti yang secara langsung menyaksikan pun tersenyum senang saat nafsu makan nonanya sudah kembali.
"Bibi, aku lelah dan ingin beristirahat."
"Tentu, nona." Surti memapah tubuh nonannya untuk menuju ranjang. Meski tak terlalu luas, ranjang tersebut cukuplah nyaman. Tubuh mungil itu pun terbaring terlentang dengan selimut menutupi hingga kelehernya.
"Bibi, tolong temani ibu. Aku ingin sendiri," pinta Zara pada Surti.
__ADS_1
"Baiklah Nona. Saya permisi." Selepas menundukan kepala, perempuan paruh baya itu bergerak membuka pintu ruangan, kemudian menutupnya tanpa suara.
Selepas kepergian Surti, Zara kembali berkubang pada kesedihan. Dimana sosok sang ayah, kembali membayang dipelupuk netranya. Berbaring miring menghadap vas bunga berwarna putih gading, fikiran gadis itu melanglang jauh. Kembali teringat akan masa kecilnya saat dirinya bergelanyut manja di tubuh sang ayah.
Setumpuk kenangan masa kecil di mana yang ada hanyalah rasa bahagia. Dimana dirinya yang hanya bocah perempuan bertubuh mungil yang tanpa ragu mengikuti kemana langkah sang ayah seolah tanpa rasa lelah.
Akan tetapi, Jamil yang penyabar tak pernah mempermasalahkan itu semua. Saat membajak sawah, dia membiarkan sang putri bermain lumpur atau pun berlarian kesana kemari meski kulit tipisnya harus terbakar sinar mentari. Bagi Jamil, tawa sang putri adalah segalanya.
Meski saat mencari kayu bakar di hutan pun, Jamil membiarkan putrinya mengangkut beberapa ranting kering dengan tangan munggilnya, sementara mulutnya tak henti berceloteh serta bernyanyi dengan nada riang. Sungguh, Zara kecil merupakan pelipur rasa lelah bagi siapapun yang melihatnya.
"Ayah, aku mohon bangunlah." Gadis itu meremas selimut yang menutup tubuhnya dengan air mata mulai berlinang.
Kenapa disaat penderitaan itu berubah menjadi bahagia, sang ayah justru mendapatkan rasa sakit yang terkira.
"Tuhan, setidaknya izinkan aku untuk membahagiakan kedua orang tuaku lebih dulu."
Meski sudah cukup lama sang Ayah terjebak dalam penyakit yang mengerogoti tubuhnya, namun kali ini menjadi titik terlemah darinya. Saat sepasang netra sayu penuh kehangatan itu terasa enggan untuk terbuka dan memilih terkatup rapat. Di situlah perasaan Zara dan Rumi, hancur seketika. Rasanya ingin berteriak. Namun apa daya, semua memang sudah terjadi.
******
Arka membuka pintu ruangan dengan pelan dan nyaris tanpa menimbulkan suara. Dari kejauhan dirinya sudah bisa menemukan tubuh mungil sang istri yang terbaring miring di atas ranjang.
Pria itu pun mendekat, kemudian berlutut untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah istrinya. Helaan nafas itu terdengar saat sepasang netra elang itu menemukan setitik air mata dari sudut netra sang istri. Ibu jarinya bergerak pelan untuk mengusapnya.
"Harus dengan cara apa, agar aku bisa menghapus kesedihanmu, sayang." Sepelan mungkin pria itu berucap, agar tak mengusik tidur lelap istrinya.
Dengan lembut Arka mengarahkan telapak tangan besarnya untuk mengusap surai lembut Zara. Berharap mampu mengiring tidur sang istri lebih lelap dan dalam.
"Dokter bahkan sudah mengatakan, jika sangat tipis harapan untuk ayahmu bisa sadar dan membuka matanya kembali. Tetapi, mana mungkin aku sanggup mengatakannya padamu sendiri, terlebih dengan kondisi kehamilanmu saat ini. Aku yakin, kau pasti tak mampu mengendalikan diri, jika sewaktu-waktu kabar buruk itu benar-benar terjadi."
Pria itu bangkit dari posisinya. Melepaskan jas yang melekat di tubuh dan mendaratkannya di punggung sofa. Ingin rasanya berbaring di atas ranjang untuk menyusul istrinya, tetapi untuk waktu sekarang, rasanya tidak mungkin. Mengingat keduanya yang kini berada di rumasakit serta kondisi kritis yang dialami sang ayah mertua, membuatnya harus lebih dulu mengendalikan diri.
Akhirnya, hanya sofa tunggallah yang bisa Arka gunakan untuk melepas lelah. Selain tidak ingin menganggu tidur nyenyak sang istri, ia juga tak ingin jika nafsunya bangkit seketika saat menatap wajah manis sang istri yang sudah seperti candu baginya.
__ADS_1
Tubuh tinggi besarnya seolah tak tertampung oleh sofa berukuran cukup luas dan panjang itu. Namun bagaimana pun, pria itu harus terlihat nyaman supaya bisa beristirahat dan terlelap di atas sofa berwarna putih tersebut.