Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Ending


__ADS_3

5 Tahun Kemudian


"Ibu, apa boleh aku bergabung dengan Tuan muda Ernest?" tanya seorang bocah tampan berusia empat tahun pada sang ibu yang tak lain ialah Langit, putra dari Sam dan Kiara.


Kiara berlutut, mensejajarkan tingginya dengan postur tubuh sang buah hati.


"Boleh sayang. Asal jangan mengganggu tuan muda. Cukup mendekat dan duduk di sampingnya," ucap Kiara memperingatkan.


"Baik ibu." Bocah itu pun berlari kecil menuju kearah taman belakang dimana Erich dan Ernest tengah belajar bersama guru privat dan juga pembimbing.


Ya, Erich dan Ernest yang masih berusia lima tahun sudah mulai dididik dalam seluk beluk manajemen perusahaan. Tak ada sekolah formal seperti anak-anak seusianya seperti apa yang diinginkan Zara. Keduanya cukup belajar dirumah dengan bimbingan pengajar profesional dan ditemani buku-buku tebal perbisnisan setiap harinya.


Kedua bocah itu tak menolak, meski sesekali terlihat membanting buku atau tak mau bicara jika terlalu bosan belajar. Bocah kembar itu tumbuh dengan wajah tampan dan kecerdasaan diatas rata-rata. Meski mereka kembar identik, akan tetapi memiliki kepribadian yang cukup bertolak belakang.


Erich, si jenius yang tak banyak bicara, dan Ernest, si tampan yang berhati lembut dan juga penyanyang. Erich si sulung lebih mewarisi sikap dingin dan berwibawanya sang ayah, sementara Ernest memiliki kepribadian dan hati selembut Zara.


"Tuan muda, bolehkah saya ikut bergabung?" tanya lagit yang berdiri diantara mereka dan menggengam tangannya didada. Setelah pandangannya bertemu dengan Erich, bocah imut itu pun spontan menundukan kepala.


Erich terdiam tak menjawab. Hanya memperhatikan sosok bocah yang lebih muda darinya, yang merupakan putra dari asisten ayahnya itu.


"Tentu," jawab Erich dengan senyum manis tercetak diwajah tampannya. Bocah itu bahkan menepuk ruang kosong di sebelahnya, seakan meminta langit untuk menempatinya.


Bocah kecil itu mendongak, menatap kearah Ernest, kemudian tersenyum bahagia. Tanpa ragu ia duduk di samping sang tuan muda seperti biasanya. Bahkan tak sungkan Langit menempel, saat Ernest bergerak mengusap puncak kepalanya layaknya seorang adik.


Sementara Erich yang menatap sekilas kearah mereka hanya acuh, dan lekas mengalihkan pandangan. Kalian memang masih seperti anak kecil. Begitulah Erich. Bocah kecil itu memiliki fikiran lebih dewasa dari usianya.


Berbeda dari Ernest yang lebih santai dan sesekali masih bermain atau pun berlarian saat belajar. Erich terkesan lebih tenang, tak banyak bicara, dan fokus pada bimbingan pengajar. Aura pemimpin memang sudah terlihat dari keduanya, diusia mereka yang masih sangat muda. Akan tetapi, baik Arka atau pun Zara tak pernah bisa memaksa andai saja salah satu dari mereka tak ingin mengikuti jejak sang Ayah sebagai pengusaha. Biarlah kelak mereka yang akan menentukan pilihan kedepannya masing-masing.


Dari kejauhan, Kiara menatap kedekatan yang terjalin antara sang putra dengan tuan mudanya, mengulas senyum simpul. Langit memang sudah cukup dekat dengan Ernest, hingga bocah empat tahun itu tak sungkan lagi untuk bergelanyut manja pada sang tuan muda, layaknya seorang adik. Tetapi jika pada Erich, langit cukup takut untuk mendekatinya. Selain pendiam, Erich juga lebih suka menyendiri, hingga Langit pun menjaga jarak pada tuan muda satunya itu. Namun, dibalik sifat dingin rupanya Erich pun memiliki kepedulian dan kasih sayang yang sengaja ia tutupi. Sering kali ia memberi makanan atau pun mainan pada Langit dengan cara sembunyi-sembunyi. Entah apa alasanya, hanya saja bocah itu pernah berucap 'Bukankah memberi itu tanpa pamrih'.


Kiara tersenyum menatap pandangan yang tak jauh darinya. Ia pun menghela nafas, dan mulai memasuki kediaman Atmadja.


Kemana dia?


Kiara masih sibuk dengan pandangannya, berusaha mencari keberadaan sang suami yang sedari tadi belum ia temukan.


Hingga suara seseorang mengejutkannya.


"Kia, kau sedang mencari asisten Sam?" tanya seseorang perempuan berwajah pucat dengan menyentuh bagian perutnya yang sedikit membuncit.


"Zara," jawab Kiara setelah berbalik badan. "Iya, aku sedang mencari Kak Sam. Apa kau melihatnya?" Kiara menghampiri Zara yang tengah berjalan kearahnya.


"Asisten Sam sedang berada di ruang Kerja."


Kiara pun membawa Zara untuk duduk disofa karna melihat wajah perempuan itu yang pucat.

__ADS_1


"Apa masih mual?" tanya Kiara sembari mengusap lembut perut sang sahabat.


Zara pun mengangguk. Ini adalah kehamilan kedua baginya dan baru menginjak bulan ketiga. Seperti dialami ibu hamil kebanyakan, ia pun merasakan mual dan muntah di trimester awal kehamilan hingga membuat wajahnya tampak pucat.


"Iya, tapi aku sangat menikmatinya."


Zara tampak tersenyum senang, yang mana membuat Kiara menautkan alisnya.


Menikmatinya?


"Sayang, kau di mana? Minum dulu susunya."


Suara bariton itu terdengar dari arah dapur, yang seketika membuat kedua perempuan itu mengeser pandangan.


"Aku di sini sayang, kemarilah," jawab Zara dibarengi senyum yang tak mampu diartikan oleh Kiara.


Tak berapa lama, sang pemilik suara bariton itu mendekat. Kiara yang melihat itu pun tampak terkesiap saat seorang pria bertubuh tinggi besar datang dengan membawa nampan berisi segelas susu berwarna merah muda, yang Kiara yakini sebagai susu kehamilan dengan rasa strawbery.


Kiara melengos, berusaha sekuat tenaga menahan tawa. Sementara Zara tersenyum sembari bertepuk tangan riang.


"Sudah jadi?" tanya Zara yang dijawab anggukan oleh Arka. Walaupun ada Kiara, namun Arka tak merasa malu. Dengan langkah lebar ia berjalan mendekati sang istri, kemudian duduk di sampingnya.


"Kia, kau pasti tau maksud ucapanku tadi kan?" gumam Zara setengah berbisik pada sang sahabat.


Hah, maksud apa?


"Terimakasih, sayang."


Arka tersenyum, dan mengusap surai sang istri dengan lembutnya.


"Itu sudah menjadi kewajibanku, sayang."


Kiara yang sadar situasi pun memilih untuk mundur alon-alon sebab takut menggangu. Ia pun bergegas menuju ruang kerja, di mana Sam tengah berada. Disaat melangkah ia tampak berfikir keras mengurai kembali ucapan Zara.


Apa itu arti kata 'Menikmatinya' versi Zara? Apa karna perhatian yang diberikan tuan Arka padanya, hingga ia terlihat begitu menikmati kehamilannya walaupun berat?


Kiara mencebikkan bibir. Secara tiba-tiba ia mengusap perut ratanya begitu hendak memasuki ruang kerja.


Saat melihat Sam yang tengah berkutat dengan tumpukan berkas di sofa, ia pun berlari kecil dan duduk di sampingnya.


Sam pun terkejut. Lebih terkejut lagi saat Kiara berbisik seraya mengucap, "Sayang, aku ingin hamil lagi."


*****


Washington, D.C Amerika Serikat

__ADS_1


Bergelut dengan rasa sakit dan mulas teramat sangat, Anastasya tengah berjuang bertaruh nyawa demi melahirkan sang buah hati.


Lima tahun usia pernikahannya dengan Kenan, dan didetik inilah ia tengah berusaha untuk mempersembahkan wujud cintanya.


Ken yang tak sedetik pun meninggalkan Anastasya yang tengah berjuang di ruang persalinan, tampak menyeka peluh di dahi sang istri tercinta sembari mengengam erat tangan dan juga mengucapkan kata-kata penyemangat nan penuh cinta di telinga sang istri.


"Kau pasti bisa, sayang." Satu kecupan di kening mendarat, bersama buliran bening yang tak mampu dibendung saat menatap wajah Anastasya yang sudah mulai kelelahan selepas beberapa jam melewati proses namun sang bayi belum jua lahir.


Anastasya menarik nafas dalam. Kembali para dokter memberi aba-aba beserta penyemangat.


Anastasya menggengam tangan Kenan begitu erat dan mulai berteriak.


Tak berapa lama, sesuatu yang lama ditunggu pun muncul. Sosok bayi perempuan mungil dengan tangis mengelegar, membuat orang seisi ruangan bersalin menarik nafas lega.


Isak tangis lirih terdengar dari bibir Anastasya sebagai luapan rasa bahagia, begitu pun dengan Ken. Keduanya saling berpelukan mengurai rasa.


Selepas melewati beberapa tahap, bayi mungil itu pun diberikan kepada Ken sebagai sang Ayah. Ken yang sudah pernah memiliki anak sebelumnya pun faham. Sebagai seorang muslim, ia lebih dulu mengumandangkan Adzan di telinga sang putri, kemudian menyerahkannya pada sang istri untuk menyusu.


"Sayang, lihatlah. Putri kita begitu cantik. Cantik sepertimu," puji Kenan, yang mana membuat Anastasya merona malu.


"Apa kau sudah mempersiapkan nama untuknya?"


"Iya. Aku akan memberinya nama 'Natasya'. Nama yang cantik, untuk anak ayah yang cantik." Bayi yang tengah menyusu itu tampak terlelap. Seolah tak menolak dengan nama pemberian dari sang ayah.


"Bagaimana, apa kau menyukainya sayang?" tanya Ken meminta persetujuan.


Anastasya berfikir sejenak.


Anastasya dan Natasya. Bukankah hampir mirip? Tetapi sepertinya cocok untuk putriku yang cantik dan mungil ini.


"Ya, aku menyukainya sayang."


Jawaban Anastasya membuat Ken tersenyum lebar. Ia pun mendaratkan ciuman di kening sang istri kemudian berpindah pada sang putri.


"Terimakasih, sayang."


TAMAT.


Alhamdulilah...


Dengan seijin yang maha Esa, Akhirnya novel ini terselesaikan😊


Terimakasih teruntuk kakak semua yang sudah membaca dari part awal hingga Akhir. Maaf jika ceritanya cenderung pasaran dan membosankan. Karna saya hanyalah Autor remahan renginang yang jauh dari kata layak dalam ilmu kepenulisan.


Semua kisah ga ada yang ngegantung ya. Alias sudah menemukan kebahagiaannya masing-masing.

__ADS_1


Terimakasih


Salam sayang😘😘😘


__ADS_2