
Sam dan beberapa orang suruhannya benar-benar melakukan tugas yang diberikan dengan baik. Hingga kurang dari satu minggu persiapan pesta resepsi sudah berjalan hampir seratus persen. Arka pun tak segan-segan untuk sesekali ambil bagian dalam pemilihan segala dekorasi atau pun sajian yang tak boleh mengencewakan para tamu yang datang.
Kini hanya tinggal sentuhan terakhir. Selepas memesan sepasang gaun dan jas pada perancang busana ternama, Arka pun membawa sang istri untuk melakukan fitting baju sebelum pesta digelar.
Senyum terus mengembang di bibir keduanya. Arka terlihat mengandeng tangan sang istri menuju sebuah bangunan di mana gaun sang istri dipesan. Sam dan beberapa pelayan tampak mengekori langkah di belakang. Guna memastikan jika perjalanan sang tuan baik-baik saja tanpa kendala apa pun.
Begitu sampai di depan pintu masuk bangunan, para pegawai yang bekerja di tempat itu pun tergopoh dan lekas mempersilahkan Arka dan Zara untuk masuk kedalam ruangan serta duduk di sofa yang sudah dipersiapkan. Munuman, makanan ringan dan buah pun langsung tersaji di atas meja seolah semua sudah diatur oleh si pemilik tempat tersebut.
Sambutan dan ucapan selamat datang terlontar dari bibir perempuan paruh baya yang mendesain langsung gaun pengantin Zara. Wajahnya yang terlihat berbinar senang tak mampu lagi ia tutupi.
Arka mulai melakukan fitting, di mana setelan pakaian miliknya sudah mencapai tahap finish pembuatan. Tuksedo berwarna gelap, dan celana berwarna senada menjadi pilihannya. Tubuhnya yang tinggi sempurna kian membuat penampilannya sempurna dengan pakaian yang ia kenakan.
Kemeja berwarna putih serta tuksedo berwarna gelap dan celana bahan berwarna senanda begitu pas melekat di tubuh pria bertinggi badan 185 sentimeter itu.
Zara seakan terhipnotis dengan pemandangan yang tersaji di hadapannya. Untuk beberapa lama gadis itu nyaris tak berkedip, menatap pesona yang dimiliki oleh suaminya itu. Baginya, tak ada celah sedikit pun yang ada pada diri pria yang dicintainya. Semua nyaris sempurna, seakan sang maha pemberi hidup menciptakan prianya itu dengan susunan bentuk dan paras yang terbaik.
"Sayang, bagaimana penampilanku? Suamimu ini terlihat sangat tampan, bukan?" goda Arka pada sang istri. Yang mana membuat gadis yang masih setengah melamun itu gelagapan seketika.
"I-iya sayang, kau terlihat sangat tampan," jawab Zara sepontan akibat terkejut.
"Sekarang giliranmu. Kau juga harus mencoba gaunmu dan memperbaikinya jika menurutmu masih ada yang kurang." Tanpa mengganti pakaian yang tengah dicoba, Arka langsung menempel di samping istrinya. Meminta gadis itu untuk lekas mencoba gaun pernikahan, sama seperti dirinya saat ini.
Zara tersenyum samar, sebenarnya dirinya sangat malu untuk mencobanya langsung di depan Arka, hingga satu ide tiba-tiba muncul di benaknya.
"Aku malu. Bagaimana jika aku mencobanya, tapi suamiku yang tercinta ini tidak boleh melihatnya," tawar Zara dengan mengulas senyum semanis mungkin, berharap Arka bisa mengabulkan keinginannya.
Pria tampan itu pun terkejut dan menautkan kedua alisnya, tampak berfikir dalam.
"Kenapa harus malu. Aku bahkan sudah melihat setiap senti lekuk tubuhmu itu, sayang. Jadi untuk apa kau masih merasa malu pada suamimu ini?"
Zara menggaruk tengkuknya ya tak gatal. Sebenarnya bukan itu yang maksud, hanya saja ia masih ragu untuk mencobanya sekarang di depan Arka.
"Sayang, anggap saja ini sebagai kejutan. Untuk pertama kalinya kau akan melihatku memakai gaun itu pada saat resepsi pernikahan kita. Bukankah itu akan terasa lebih istimewa."
Semoga dengan alasan ini, bisa membuatnya berubah fikiran.
Untuk sejenak pria itu berfikir. Memilah untung dan rugi baginya. Hingga tak berapa lama ia pun mengganguk sebagai persetujuan.
__ADS_1
"Baiklah, aku kabulkan keinginanmu itu. Untuk sekarang aku tak memintamu untuk mencoba gaun itu di hadapanku. Biarkan aku menyimpan rasa penasaran ini hingga pesta berlangsung." Satu kecupan mendarat di puncak hidung sang istri. Gadis itu tersenyum senang, memeluk sang suami sebelum akhirnya menuju ruangan tertutup untuk mencoba gaun miliknya.
Dibimbing oleh perancang dan dua orang asisten, Zara mencoba gaun yang sudah di pesan sesuai keinginannya. Gaun luar biasa mewah berharga fantastis itu sengaja di pilih Arka selepas perhitungan matang dengan dirinya.
Perutnya yang mulai membuncit tak membuatnya aneh. Justru sebaliknya, desain yang diatur sebaik mungkin dengan menyesuaikan bentuk tubuhnya, menunjukan betapa berkelasnya perancang yang Arka pilih hingga membuat siapa pun penggunanya mendapatkan hasil yang memuaskan.
Sementara itu, Arka hanya bisa menunggu dengan menekuk wajahnya di ruang tunggu. Ingin rasanya mengintip, tetapi tidak mungkin. Mengingat ruangan itu sengaja ditutup rapat dari dalam. Jangan untuk melihat, mencuri dengar suara mereka pun rasanya mustahil, sebab ruangan itu kedap suara.
Bosan menunggu, pria itu merogoh ponselnya dari kantong celananya untuk memeriksa pesan masuk.
Sam tampaknya mengirim beberapa pesan laporan tugas darinya. Perkaran tamu undangan dan segala macam sudah Sam bereskan. Termasuk hotel milik Atmadja group pun sudah mulai disulap seindah mungkin untuk acara.
Sam bahkan meminta supir untuk menjemput semua keluarga dekat seperti kedua orang tua Zara, Ibu dari Arka beserta keluarga dekat lainnya.
Kerja keras Sam rupanya sangat membantu Arka dalam kesuksesan rencana resepsi pernikahannya. Jika bukan karna campur tangan Sam, dirinya mungkin belum sampai pada tahap ini.
Melihat sang istri yang sudah keluar ruang ganti, membuat Arka langsung mengajaknya pulang guna menyelesaikan urusan lain yang masih menunggunya.
******
Anastasya tak mampu menutupi rasa senang bercampur haru saat Zara mengabarkan perihal resepsi pernikahan yang akan digelar padanya. Ia sama sekali tak merasa sedih, ia justru senang bahwa masalah pelik yang sempat menghadang diperjalanan rumah tangga mereka, kini telah tersibak satu persatu dan berganti dengan kebahagiaan.
"Walau sejujurnya aku engan untuk bertemu dengan pria itu lagi, tapi aku mengesampingkan urusan pribadiku sementara waktu, untuk bisa menyaksikan hari bahagiamu, Zara." Inilah yang selalu membuat Anastasya sedih. Terkurung dalam luka masa lalu, yang teramat sulit untuk bisa ia lepas. Mungkin selepas acara resepsi ini, dirinya benar-benar akan menghilanga dari kota dan kembali kekampung seperti rencana awal.
****
Sam menghela nafas dalam. Kali ini dirinya berada di area parkir toko bunga dengan beberapa lembar undangan di tangannya.
"Nona Anastasya dan Nona Zara bahkan sudah tidak ada di tempat ini lagi, lalu pada siapa aku harus memberikan undangan ini." Sam bergumam sembari melangkah menuju pintu depan toko.
Tempat tersebut cukup ramai didatangi banyak pembeli, sementara Sam sendiri kebingungan mencari karyawan toko yang sudah pernah ia lihat sebelumnya.
Sial, aku terlihat seperti orang linglung di sini.
Dari banyaknya karyawan yang Anastasya miliki, Sam sama sekali tak mengenal satu pun dari mereka. Toh, sebenarnya ini bukan urusannya. Jika bukan karna perintah sang tuan, maka ia tak akan mau untuk memberikan undangan tersebut pada karyawan di tempat ini.
Sam hampir putus asa, hendak berbalik menuju pos penjagaan, namun tanpa sengaja ia berpapasan dengan seseorang yang pernah ia temui beberapa waktu lalu.
__ADS_1
"Tuan," ucap seseorang tersebut.
"Kau," jawab Sam kemudian.
"Untuk apa tuan datang kemari?" Seseorang yang tak lain adalah Kiara itu mendekat kearah Sam. Namun tanpa diduga, Sam justru menarik tangan gadis itu dan membawanya keluar toko.
"Tuan, kenapa menarik saya seperti ini?" pekik Kiara setengah berteriak karna terkejut.
"Aku hanya ingin memberikan ini padamu dan temanmu yang lain," ucap Sam datar seraya mengulurkan beberapa lembar undangan ketangan Kiara.
"Apa ini? Undangan? Dari siapa?" Kiara masih membuka lebaran undangan yang entah milik siapa itu.
"Tuan Arka dan Nona Zara. Resepsi akan digelar tiga hari lagi, datang dan ajak temanmu yang lain." Selepas berucap, Sam memutar tumit dan berlalu pergi. Meninggalkan Kiara yang masih terpaku dan kebingungan di tempatnya.
"Hei, tuan! Tuan Arka, Nona Zara siapa maksudmu?"
Sam sama sekali tak menoleh. Ia sudah masuk kedalam kuda besinya dan menjalankan mesinya. Enggan untuk menjawab pertanyaan Kiara.
"Sialan," maki Kiara geram.
Ia pun membaca undangan dan memnacanya lebih teliti.
"Arkana ini bukannya suami dari Nona Anastasya, lalu Azzara ini siapa? Tidak mungkin Zara, kan?"
Kiara menepuk dahinya beberapa kali, dibuat pusing tujuh keliling dengan kedua mempelai yang tertera pada kartu undangan.
Astaga, siapa mereka ini. Semoga aku tidak salah masuk gedung saat menghadiri pestanya nanti.
Hai salam kenal, aku Raisha penulis Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Mohon maaf sebelumnya karna tidak bisa membalas komentar kakak sekalian satu persatu. Tapi percayalah, setiap komentar, penyemangat, bahkan kritikan sekalipun selalu aku baca tanpa tertinggal.
Saya ucapkan banyat terimakasih atas dukungan, like bahkan Vote yang sudah kakak pembaca berikan. Jujur, itu membuat saya terharu sebab tulisan sederhana seperti ini bisa diapresiasi oleh pembaca sekalian.
Jika ada yang bilang: Kok ngegantung terus, jadi males ah bacanya.
Nah ketahuilah, novel ini masih bersambung dan belum END. Jadi selama novel ini masih bersambung, maka akan tetap menggantung.
__ADS_1
Salam hangat semua. Tetap ikutan kelanjutan novel Terjerat Dua Cincin Sang CEO hingga akhir.
Terimakasih 😍😍🙏🙏🙏🙏