Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Satu Hari Bersamamu


__ADS_3

Rangga sengaja membawa Anastasya agar terpisah dari keluarga Arka untuk kembali kekediamannya. Pria itu kini menuju arah jalan berbeda untuk mengantar gadis itu kembali.


"Di mana tempat tinggalmu selama ini?" Rangga yang tengah mengemudi itu menoleh kearah samping di kursi yang ditempati oleh Anastasya.


"Aku tinggal di apaetemen milik Arka," jawab Anastasya jujur. Berusaha untuk tak menyembunyikan apa pun saat ini.


Tanpa menjawab, Rangga pun menambah jecepatan untuk bisa menuju apartemen tersebut dalam waktu singkat. Keduanya saling bungkam hingga kuda besi yang membawa mereka menuju kearea parkur sebuah apartemen nan tinggi menjulang yang merupakan salah satu dari sekian banyak aset berharga yang dimiliki Arka.


"Masuk dan bersihkan badanmu. Aku akan membawamu kesuatu tempat," titah Rangga selepas mesin mobil dimatikan. Akan tetapi ia pun tak beranjak dan memilih tetap duduk di tempat.


"Apa kau tak ingin turun?"


"Tidak," jawab pria itu tegas. "Aku akan tetap menunggumu di sini," sambungnya lagi.


Gadis itu hanya menghela nafas dalam. Tangannya pun bergerak untuk meraih hendle pintu kemudian keluar dari kuda besi itu. Karna pria yang bersamanya menolak untuk turun, ia pun lekas melangkah menuju lift untuk bisa dengan cepat menuju lantai teratas bangunan, di mana apartemennya berada.


Rangga menatap punggung Anastasya yang mulai jauh meninggalkannya dari dalam mobil. Selepas terkurung semalam, rupanya banyak sekali keluh kesap yang diucap gadis itu kepadanya.


"Anastasya, apakah perasaanmu padaku masih tetap sama seperti beberapa tahun yang lalu." Rangga mencengkeram kemudi kuat. Sejenak merutuki kebodohan yang ia buat dengan membiarkan Anastasya menikah dengan orang lain.


Meski yang menikahinya adalah Arka, yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri. Tetapi mereka tingga di rumah yang sama selama beberapa tahun. Meski Arka sendiri pernah berucap jika tidak pernah menggauli Anastasya selayaknya istri sah, namun bagaimana dengan perasaan gadis itu sendiri. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat, dan segala kemungkinan bisa saja terjadi.


Anastasya mungkin pernah merasa terpikat oleh pesona yang dimiliki sahabatnya. Bisa dikatakan jika Arka sendiri lebih dari dirinya dari segi apa pun. Harta, ketampanan, bahkan postur tubuh, diakui Rangga jika Arka lebih dan lebih ada di atasnya.


Siapa yang tak tergoda pada pria seluar biasa Arka. Jangankan wanita lain, Anastasya yang berstatus istri sahnya pun tak dipungkiri jika memiliki perasan mengagumi atau bahkan mencintainya.


Rangga hanya mampu mengacak kasar surainya dengan frustrasi. Sungguh ia tak mengiira jika akan berakhir seperti ini.


Dari kejauhan Rangga mampu melihat keberadaan Anastasya yang muncul dari lift yang terbuka untuk menghampirinya. Seperti biasa, gadis itu terlihat menawan dengan pakaian indah yang melekat di tubuhnya. Rangga tak hentinya berdecak kagum, saat tubuh perempuan yang pernah mengandung seorang anak itu masih terlihat ramping dan terawat.


Pria itu menghela nafas dalam, berusaha untuk menetralisir detak jantungnya yang mulai tak beraturan dan berpura baik-baik saja.


Anastasya kian mendekat, dan kini mulai membuka pintu mobil yang di dalamnya masih ada seorang Rangga yang setia menunggu.


"Kita akan kemana." Gadis itu mulai melempar tanya kala Rangga bergerak memasangkan sabuk pengaman di pinggangnya.


"Kau akan tau setelah kita sampai pada tempat tujuan." Tak berniat menjawab, Rangga terlihat tanpa ekspresi saat berucap, sementara kedua tangannya mulai bergerak mengatur kemudi.


Disitu Anastasya hanya menghela nafas dalam. Sebenarnya, ke mana pria itu akan membawanya. Dan sikap lembut yang semalam ia tunjukan sangat berbanding terbalik dengan saat ini. Pria itu terlihat lebih banyak diam dan dingin.


Mobil yang mereka naiki melaju kencang memecah hiruk pikuk jalanan ibu kota. Tak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir Rangga, hingga Anastasya pun memilih untuk diam. Menggeser pandang melihat pemandangan sekitar dari arah jendela, gadis itu cukup terperangah. Pasalnya ini adalah jalan yang pernah ia lalui beberapa tahun lalu.

__ADS_1


Ini tidak mungkin.


Tubuh Anastasya mulai gemetar, ia menoleh kearah pria di sampingnya, namun pria itu terdiam dan tak menunjukan ekspresi apa pun. Jantung Anastasya bahkan kini berpacu dengan cepat saat mobil mulai memasuki gerbang perumahan elit yang ia yakini sebagai komplek perumahan orang tua Rangga.


Mobil pun mulai masuki gerbang utama salah satu rumah mewah nan luas. Tubuh Anastasya membeku seketika. Benar, kini Rangga membawa dirinya kerumah yang tak pernah ingin ia datangi lagi.


"Ayo turun," titah Rangga dengan menggengam tangan gadis tersebut.


Karna masih menyisakan trauma mendalam, Anastasya menggeleng seketika. "Tidak."


"Kenapa?"


"Maaf, aku terlalu hina untuk bisa menginjakkan kaki kerumah orang tuamu," lirih gadis itu berucap. Wajahnya tertunduk dan berubah murung seketika.


"Anastasya, aku mohon. Sekali ini saja. Temuilah kedua orang tuaku dan aku tidak akan pernah memaksamu lagi."


Anastasya tersenyum penuh ironi, tidak semudah itu ia bisa melupakan semua yang sudah terjadi di rumah ini.


"Semudah itukah kau bicara. Apakah kau fikir dengan gampangnya aku bisa melupakan semua tindakan keji yang kedua orang tuamu lakukan padaku." Anastasya berucap lantang. Sejujurnya ia enggan untuk mengorek luka lama itu kembali, namun saat Rangga terlihat begitu entengnya berkata. Seolah membuat hati kecilnya meronta tak terima.


"Anastasya..."


"Satu kali, saat kau membawaku dan berniat untuk menikahiku, tapi apa yang aku dapat? Hanyalah penghinaan dan caci maki. Kedua, saat aku berniat mencarimu, sebab kau tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Aku membuang rasa malu hanya demi ingin mengetahui keberadaanmu. Tapi apa yang aku dapat? Mereka mengatakan jika kau sengaja pergi kenegara XX karna tak sudi untuk melihat wajahku lagi. Sementara kau akan menikah dengan seorang gadis pilihan yang sebanding denganmu dan bukan gadis miskin sepertiku."


Apa.


Rangga tercengang. Dia bahkan tak mengerti akan ini semua. Memang beberapa gadis pernah ibunya sengaja datangkan kenegara Xx untuk menemuinya, sekaligus ingin menikahkan dengan salh satu dari mereka jika Dirinya menginginkan. Namun Rangga sendiri tak tertarik, dan tetap setia menjaga rasa cintanya untuk Anastasya.


"Ta-tapi.."


"Tapi apa? Dan yang ketiga, aku yang hanya gadis rendahan ini datang kembali dengan mengiba dan penuh harap, lagi-lagi hanya ingin mengetahui di mana keberadaanmu. Untuk apa? Untuk bayi di dalam perutku yang butuh pengakuan dari seorang pria yang sudah menghamiliku seperti dirimu. Tapi apa lagi yang aku dapat? Bukan hanya penghinaan dan makian, Ibumu bahkan tega menyeret dan menendangku untuk bisa keluar dari rumahmu yang megah ini." Anastasya yang tak mampu mengendalikan diri mengucapkan semua fakta yang terjadi diantara dirinya dan kedua orang tua Rangga. Sementara Rangga sendiri yang sama sekali tak mengetahui semua itu, hanya bisa memaki kedua orang tuanya dalam hati. Sungguh tindakan teramat tak terpuji yang pastinya berimbas pada kesetabilan jiwa Anastasya.


Jadi itulah pangkal masalah dari rencana bunuh diri Anastasya.


Rangga menggengam tangan gadis itu, dan memberinya tatapan hangat.


"Atas nama kedua orang tuaku, aku meminta maaf padamu. Dengan sangat-sangat aku meminta kesudian hatimu untuk bisa memaafkan kesalahan orang tuaku dulu. Bahkan jika perlu, aku rela bersujud di kakimu hingga kau merasa ini setimpal dengan rasa sakitmu. Tapi aku mohon, setidaknya untuk sekali ini saja, janganlah kau menolakku untuk membawamu kehadapan kedua orang tuaku." Rangga bahkan menangkupkan kedua telapak tangannya sebagai permohonan.


Anastasya terdiam sesaat. Rasa sakit atas perlakuan kejam dari kedua orang tua Rangga masih nyata membekas di benaknya. Akan tetapi, dirinya pun bukanlah manusia egois yang hanya akan menyimpan rasa dendam itu selamanya. Setidaknya, semuanya perlu dicoba. Namun jika respon kedua orang tua Rangga masih sama, maka ia pun tidak akan sudi untuk menginjakan kaki kerumah ini lagi.


"Baiklah," ucap gadis itu kemudian yang mana membuat Rangga merasakan kebahagiaan tak terkira. Pria itu pun bergegas turun dan memutari mobil untuk bisa membukakan pintu mobil untuk Anastasya.

__ADS_1


Beberapa pelayan pun sudah terlihat menyambut. Saat mulai melangkah untuk memasuki rumah, Anastasya masih terlihat ragu, namun Rangga lekas memberi isyarat jika semua baik-baik saja. Suasana di dalam rumah tersebut cukup senyap dan taj ada pemilik rumah pun yang terlihat.


Rangga terus menggengam tangan Anastasya untuk menuju ruang keluarga. Sungguh suasana yang tak jauh berbeda, tetap sunyi. Akan tetapi terlihat seseorang pria berusia senja tampak duduk termenung menatap kearah jendela yang terbuka, di mana taman bunga terlihat dari sana.


"Ayah." Rangga memangil seseorang tersebut. Pria itu lekas menoleh dan tak bisa menutypi keterkejutan saat melihat seseorang yang datang bersama putranya.


"Anastasya," ucap Sofyan dengan bibir bergetar.


Bukan hanya Sofyan, Anatasya pun menunjukan reaksi yang tak kalah berbeda. Terkejut, bahkan lebih dari itu. Terlebih dengan penampilan pria itu saat ini.


Benarkah itu Ayah dari Rangga.


Wajah garang dan tubuh gempalnya kini tak lagi terlihat. Bergantikan dengan wajah kusam dan tubuh yang terlihat jauh lebih kurus.


Pria itu bergegas bangkit dan berjalan mendekati putranya. Wajah muramnya, kini terlihat lebih cerah.


"Anastasya, kau kah itu?" Sofyan menghampiri tubuh Anastasya dan melihat gadis itu dengan rasa tidak percaya.


Masih canggung hendak bereaksi semacam apa, gadis itu pun hanya bisa mengangguk samar.


"Benarkah?" Pria paruh baya itu spontan membawa tubuh gadis itu dalam pelukan yang mana mana membuat Anastasya luar biasa tak percaya dengan perlakuan sangat berbeda dari Ayah Rangga. "Ayah masih tak percaya, jika kau mau datang kerumah ini." Sofyan bahkan mulai terisak. Hingga gadis itu hanya bisa pasrah menerima sebuah pelukan dari pria tua yang dulu pernah menghinanya.


******


"Ayah harap, kau bisa memaafkan kesalahan kami, nak. Dan menikah dengan putra kami. Aku yakin istriku akan sangat senang jika mengetahuinya. Bukankah begitu, sayang?" Sofyan menggengam tangan istrinya yang lemah tak berdaya di atas ranjang. Berusaha berinteraksi dengan sang istri meski tak ada jawaban yang keluar dari bibir perempuan paruh baya itu.


Anastasya hanya mampu menatap nanar pemandangan yang tersaji di hadapannya. Sungguh kontras dengan pemandangan yang ia lihat beberapa tahun lalu. Apakah ini hukuman yang setimpal akan rasa sakit yang dideritanya? Entahlah. Semua yang menjadi takdir, pastinya sudah atas kehendak sang maha pencipta.


"Bagaimana Nak Tasya? Apa kau menerimanya?" desak pria paruh baya itu lagi.


Anastasya menghela nafas dalam, dan melepaskannya perlahan.


"Entahlah, tuan. Saya masih belum bisa menjawabnya sekarang." Berusaha bersikap Formal, Anastasya bahkan masih memangil Sofyan dengan sebutan Tuan. Dirinya memang merasa iba, tetapi tidak ingin menjawab sebuah pertanyaan dengan berlamdaskan keterpaksaan.


Dirinya memang masih mencintai Rangga, tetapi sudah tak seperti dulu. Saat pria itu pergi dan meninggalkan dirinya bersama janin di dalam kandungannya, rasa cinta itu perlahan luntur menjadi gumpalan kebencian yang tak mudah untuk dimusnahkan.


Begitu mendengar jawaban yang terlontar dari bibir gadis yang teramat dicintainya, Rangga hanya bisa menahan kegetiran. Dirinya memang salah, dirinya memang patut untuk dihukum, tetapi bukan dengan cara seperti ini.


"Anastasya, aku tau jika kau masih membenciku. Aku tidak memaksamu untuk menjawabnya sekarang. Biarlah cinta kita mengalir seperti air, dan akan bermuara pada tempat yang sudah semestinya."


Tak ada lagi paksaan, yang ada hanyalah pasrah. Akan tetapi Rangga tak pantang menyerah. Baginya, Anastasya adalah sumber kebahagiaannya. Dirinya hanya perlu melakukan pendekatan dan mengulang kembali kenangan manis yang pernah dilalui dulu. Rangga yakin, jika Anastasya tak benar-benar membencinya, dari lubuk hati terdalam, pastilah rasa cinta itu masih ada di lubuk hatinya, walaupun hanya secuil.

__ADS_1


__ADS_2