
Sebelum menuju tempat kelahiran sang istri, sesuai keinginan pria itu pun mempersiapkan semuanya dengan matang. Selain mobil box berisikan sembako dan pakaian, Arka juga membawa Sandy untuk ikut bersamanya.
"Bawa pria brengsek itu bersama dia dan suruh padanya untuk mengakui semua kebohongan dan kelakuan bejatnya," titah Arka pada Sam.
"Baik Tuan."
"Bawa juga Bi Surti untuk menemani Anastasya selama di perjalanan."
"Baik Tuan." Sam pun bergegas memangil Surti dan meminta pada pengawal untuk menuju ruangan Sandy dan membawa pria itu bersamanya.
Sementara itu Arka kembali menuju kamar kemudian mengambil sebuah benda dari nakas. Pria itu menghela nafas dalam dan mendaratkan ciuman pada benda berwarna merah berbentuk hati itu. Membukanya dan tersenyum tipis memandang benda tersebut.
"Semoga kali ini aku bisa menemukanmu, sayang. Dan kembali menyematkan cincin pernikahan kita di jari manismu."
Mengusapnya pelan sebelum menutup kotak itu kembali dan menyimpannya di saku. Arka bergegas turun, dia tak ingin terlalu lama membuang waktu. Baginya waktu adalah uang, dan ini bahkan lebih dari uang hingga tak ada kesempatan baginya untuk bersantai.
Nampak iring-iringan kendaran Atmadja group berbaris rapi di jalanan. Ada sekitar sepuluh kendaraan pribadi dan dua mobil box menyusul di belakang mengangkut semua keperluan.
Sandy hanya duduk terdiam di himpit kedua pria berbadan kekar yang bertugas mengawalnya. Pria itu sama sekali tak berkutik dan hanya pasrah pada keadaan.
Bermacam doa tak hentinya terucap dari bibir Arka selama perjalanan. Ia benar-benar tak tenang, sesekali mengigit bibir bawahnya dan menghela nafas dalam untuk mengusir ketegangan.
Bagaimana jika istrinya masih belum ditemukan, dan bagaimana jika kedua orang tua Zara menolak kehadiran dan justru mengusirnya. Entahlah, namun satu yang pasti, ia akan berjuangan sekuat tenaga dan rela melakukan apa pun asal orang tua Zara bisa menerima dan merestui pernikahannya dengan putri mereka.
Tiga jam berlalu, rombongan sudah mulai memasuki jalan perkampungan yang berlobang dan becek. Jalan berukuran cukup sempit itu sangatlah rusak dan tak terawat.
"Apa tidak ada jalan lain yang lebih baik dari ini," gumam Arka pada Sam yang berada di kursi kemudi.
"Tidak ada Tuan. Ini adalah akses jalan satu-satunya untuk menuju kediaman Nona."
Mendengar jawaban Sam, Arka hanya bisa menghela nafas berat. Akan tetapi rasa tak nyaman itu berubah seketika saat menatap pemandangan indah di sepanjang jalan.
Pegunungan yang berjajar, sawah menghijau, dan perkebunan palawija penduduk yang tumbuh dengan suburnya. Semua terlihat begitu segar dan asri. Tak ada polusi di mana-mana, yang membuat semua orang pasti akan betah untuk tinggal di pedesaan ini.
__ADS_1
Tanpa terasa, rombongan telah tiba di depan halaman rumah sederhana Zara. Untuk sesaat, pria yang masih berada di dalam kendaraan itu tertegun. Menatap rumah sederhana yang baginya m jauh dari kata layak untuk ditinggali.
Kiranya seperti apa tumbuh kembang di masa kecil istriku dulu. Apakah dia juga merasakan kebahagian seperti gadis kecil pada umumnya?
Tersirat sejejak keraguan untuk turun dari kendaraan. Apakah ia akan diterima, ataukah ditolak. Persetan dengan semuanya. Arka bergegas turun dan berjalan lebih dulu menuju rumah tersebut.
Rumah yang tampak sepi, dengan pintu tertutup rapat. Sam mengarahkan keempat ruas jemarinya untuk mengetuk pintu. Tak berapa lama, pintu usang itu berderik pelan dan seseorang perempuan muncul dengan wajah sembab.
Perempuan yang tak lain ialah ibu Zara tampak terkesiap dan membulatkan netra seketika kala mendapati pemandangan tak biasa yang tersaji di hadapannya.
Ada apa ini. Kenapa ramai seperti ini, dan siapa mereka ini.
Rumi tercengang, menatap belasan mobil yang terpakir di jalanan begitu saja. Kemudian menatap puluhan pria dan beberapa wanita yang berjajar dan menatapnya dengan senyuman. Hingga pandangannya tertuju pada pria tampan berpostur tinggi sempurna yang sempat ia lihat beberapa waktu lalu.
Kenapa mereka kemari?
"Tuan-tuan dan nona sekalian, kiranya ada kepenntingan apa hingga membuat anda semua datang kemari?" Masih berdiri di ambang pintu. Rumi masih di buat kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Jamil yang mendengar adanya suara yang berasal dari halaman rumah, lekas mendoromg kursi rodanya sendiri dan mendekati sang istri.
"Ibu, ada apa ini," tanya jamil kemudian sembari menatap kesemua orang.
Rumi menggeleng samar sebagai jawaban.
Tanpa memperdulikan jika mendapat penolakan, Arka lekas mendekat kearah perempuan dan pria paruh baya itu untuk mejabat kemudian mencium punggung tangan mertuanya itu.
Rumi dan Jamil tak menolak, apalagi mendorong tubuh menantunya itu. Jika Rumi sudah mengetahui jika pria itu adalah duami putrinya, maka Jamil sebaliknya. Pria itu masih bertanya-tanya siapakah gerangan pria yang penuh sopan santun itu.
"Ibu, ayah, bisakah kita masuk dan membicarakan semuanya di dalam?"
Rumi berfikir sejenak dan tak berapa lama ia pun mengangguk sebagai persetujuan.
Ruangan tamu yang cukup mungil hanya beralaskan karpet tanpa sofa atau pun sejenisnya. Semua orang termasuk pengawal ikut duduk melingkar, sementara beberapa pengawal lain yang tak kebagian tempat, memilih untuk mencari udara segar dan duduk di bawah pohon rindang.
__ADS_1
"Bibi, maaf perihal kedatangan kami yang mendadak dan mengejutkan seperti ini." Anastasya membuka percakapan. Berusaha mengusir ketegangan yang membentang.
"Tidak masalah, Nona. Saya hanya masih tak mengerti akan maksud kedatangan anda semua kegubuk ini."
"Ibu, siapa mereka?" Jamil bergumam, dirinya benar-benar tak tau siapa mereka.
Rumi menghela nafas dalam dan menatap pria muda yang tak lain ialah suami putrinya.
"Dia tuan yang menikahi putri kita."
Mendengar jawaban sang istri, jamil seketika terdiam dan mematung. Seperti inikah sosok pria yang sudah menikahi putri polosnya.
"Maaf ibu, ayah. Maksud kami datang kemari adalah mencari keberadaan Zara. Apakah dia pulang kemari untuk menjenguk ibu dan ayah?"
"Apa?" Ucap keduanya bersamaan.
"Zara tidak datang kemari untuk menjenguk kami. Apakah tuan yakin jika Zara tidak sedang di kota bersama dengan anda?" Netra Perempuan paruh baya itu mulai berkaca-kaca, begitu pun dengan Jamil.
"Saya sudah memastikannya Bu. Sejak kedatangan Ibu kemarin, Zara justru menghilang saat saya tinggal sebentar dan tak kembali sampai saat ini. Saya pun sudah mencarinya kemana-mana, tetapi tak membuahkan hasil," papar Arka dengan tegas.
Rumi menggeleng tak percaya dengan bulir bening bercucuran. Ia lekas memeluk tubuh renta sang suami dan mulai terisak pilu.
"Ini pasti karna salahku, Ayah. Zara menghilang karna ucapan kasarku." Keduanya saling mendekap satu sama lain. Jamil pun tak mampu menutupi rasa sedihnya. Rumi pun merasakan sesal yang mendalam akibat ucapan tak terpuji yang terlontar dari bibirnya.
Semua orang ikut hanyut terbawa suasana yang seketika berubah sendu. Akan tetapi, ada beberapa orang yang melewatkan adegan menyayat hati tersebut.
Sandy mengetatkan rahang dan meremas tanganya sendiri yang bertautan. Ia benar-benar tak diizinkan turun saat dirinya belum merasa dibutuhkan. Bersama kedua pengawal yang mengapitnya, Sandy hanya duduk diam dan tak berani berulah.
Sementara itu Ratih yang berada di sebuah kamar menggeser pandang menuju arah jalan di mana banyak mobil terparkir di sana. Perempuan itu menunggu Zara yang tengah terlelap selepas rasa mual yang melanda. Tubuh gadis itu sangat lemah, hingga Ratih menyuruhnya untuk beristirahat.
Selepas memastikan gadis itu benar-benar tertidur pulas, Ratih pun mendekat kearah jendela kaca dan mengintip keadaan dari dalam.
Ada apa ini. Tidak seperti biasanya banyak mobil berjajar seperti ini. Apakah ada orang penting yang datang? Tetapi mengapa mendatangi kediaman Kak Jamil dan kakak ipar.
__ADS_1
Ratih ingin mendekat, akan tetapi ia pun tak ingin meninggalkan Zara seorang diri berada di rumahnya.