
Saat sepasang bola mata bening itu mulai mengerjap, hal pertama ya ia lihat adalah langit-langit ruangan berwarna putih dan rasa sakit yang berasal dari punggung tanggannya.
Di mana aku.
Menghadap kearah tangannya dengan kepala berat menahan rasa pusing, Amastasya menganga tak percaya saat selang jarum infus mengalirkan cairan bening kedalam tubuhnya.
Apa, Infus? Apa aku di rumasakit?
Gadis itu coba mengingat kembali kejadian beberapa waktu lalu, yang bisa membawanya sampai ke tempat ini. Bersamaan dengan itu, pintu ruangan terbuka dan menampilkan seseorang berbadan tegap yang muncul dari belakangnya.
Tuan Ken?
Anastasya memejamkan sesaat netranya yang terasa panas. Kenapa justru ia pingsan pada saat yang tak tepat hingga harus merepotkan seseorang yang bukan tetangga atau pun keluarganya.
"Kau sudah sadar?" Suara bariton itu menyapa indra pendengaran Anastasya. "Apakah kepalamu masih pusing?" tanya pria itu lagi.
Anastasya menggeleng cepat. Sekuat tenaga bergerak untuk bisa bangkit, namun usahanya gagal sebab kondisi tubuhnya masih sangat lelah.
"Berbaring saja, tubuhmu masih lemah. Jika dipaksakan, kau bisa pingsan lagi." Dengan sigap Ken menahan tubuh Anastasya yang limbung dan merebahkan tubuh gadis itu kembali.
"Maaf sudah merepotkan anda, tuan." Ada sejejak penyesalan dari ucapan Anastasya. Saat ini dirinya benar-benar sudah merepotkan Ken.
"Tak masalah. Aku justru khawatir, andai aku tak berada di sana pada saat kau pingsan. Siapa yang akan mendapatimu, karna sepertinya kau hidup seorang diri di rumah itu." Ken sempat berteriak dan berusaha memangil siapa pun orang yang berada di rumah itu, tetapi tak ada siapa pun. Bukankah bisa disimpulkan jika Anastasya hidup seorang diri.
"Apa selama ini, kau memang hidup sendiri?" Kenan sudah memposisikan tubuhnya untuk duduk di hadapan Anastasya yang terbaring di ranjang perawatan, lantas menatap wajah sendu gadis itu lekat.
"Iya," jawab Anastasya seraya mengangguk pelan.
Terdengar jika pria itu menghela nafas dalam.
"Bukankah itu sangat berbahaya, terlebih kau seorang perempuan."
"Di kota saya memang hidup seorang diri tuan. Di dunia ini saya hanya punya bibi dan paman di kampung sebagai keluarga yang masih tersisa."
__ADS_1
Masih banyak tanda tanya yang bersemayam di benak Ken tentang Anastasya, tetapi mengingat kondisi gadis itu yang masih lemah, Jenan pun menyudari rasa penasaran dan menyimpannya untuk kembali ditanyakan kemudian hari.
"Kau pasti lapar? Bagaimana jika makan lebih dulu, ya setidaknya bisa menambah tenagamu." Ken meraih kantong plastik dan mengeluarkan satu kotak makanan berisikan bubur ayah yang sudah ia beli pada saat Anastasya masih belum sadarkan diri.
"Apa kau bisa bangun?"
Sejujurnya Anastasya tak ingin makan, minum atau apa pun, tetapi jika terus seperti ini, maka kata sembuh pun akan semakin menjauhi dan orang yang paling direpotkan di sini tak lain adalah Ken. Dan Anastasya tak menghendakinya.
Gadis itu lekas mengangguk, dan berusaha untuk bangkit, tentunya atas bantuan dari Ken. Punggung dan kepalanya bersandar pada kepala ranjang, guna mencari posisi paling nyaman.
Bungkusan bubur ayam itu sudah terbuka, dan Ken mulai menyendoknya lalu menempelkannya di bibir Anastasya.
"Maaf tuan. Saya bisa melakukannya sendiri," tolak gadis itu secara halus.
"Tapi---" Kotak bubur itu kini sudah berpindah tangan.
Ken menatap kedua tangan gadis di hadapannya yang masih terlihat gemetar. Terlebih dengan adanya selang infus yang membelenggu pergerakannya.
Susah payah Anastasya mengerakkan tangannya untuk menyendok dan menyuapkan sesendok bubur kemulutnya, namun akibat tubuhnya yang masih lemah, membuat sendok berisikan bubur yang menurut gadis itu sudah digengam erat justru nyaris terjatuh jika tidak sigap Ken merebutnya.
Anastasya hanya diam dan memilih tsk menjawab. Tetapi membuka mulut saat Ken mulai menyuapinya.
Untuk sejenak keduanya diam dengan fikiran masing-masing. Akan tetapi setelah beberapa menit berlalu, barulah perasaan canggung itu tercipta. Ken mungkin berusaha terlihat biasa saja, meski dalam hati ia tak menyanggka bisa melakukan hal sedekat ini pada sosok gadis yang bukan siapa-siapa baginya.
Di sisi lain Anastasya di buat lagi-lagi tak nyaman. Jika dilihat sepintas, mungkin Ken terlihat cuek dan masa bodoh. Tetapi semakin kemari, kenapa sisi hangat pria ity justru semakin terlihat.
"Sudah, cukup." Anastasya menolak saat Ken menyuapkan bubur itu kemulutnya kembali. "Saya sudah kenyang," sambungnya kembali.
"Apa kau yakin?" Ken terlihat ragu.
"Sungguh. Saya sudah kenyang sekarang."
"Baiklah." Ken meletakkan sisa bubur itu di meja. "Apa kau ingin berbaring lagi?"
__ADS_1
Merasa jika tubuhnya masih lemah dan butuh istirahat, Anastasya menganggukan kepala.
Ken mengulas senyum lembut dan membantu gadis itu untuk berbaring lagi. Anastasya bisa merasakan bagaimana lembutnya sentuhan Ken untuk membuatnya nyaman tanpa menimbulkan rasa sakit.
"Beristirahatlah. Aku akan keluar sebentar." Ken sempat meninggalkan sebuah senyuman sebelum tubuh pria itu pergi dan menghilang di balik pintu.
Anastasya yang melihat dan merasakan itu semua tak mampu membendung buliran bening yang mendesak untuk keluar dari sudut netranya. Pikirannya berkecamuk, antara takut dan khawatir. Bagaimana jika pria itu pergi meninggalkannya dalam kondisi seperti ini. Tetapi bukankah itu yang memang seharusnya terjadi, toh tidak mungkin Ken akan sudi untuk menunggunya di tempat ini, dan juga untuk merawat gadis asing seperti dirinya.
Anastasya hanya bisa pasrah. Tidur mungkin akan membuatnya lebih baik dan sedikit mengurangi beban di hidupnya.
Bersama kantuk yang melanda, gadis itu coba memejamkan netra meski susah payah. Setelah beberapa menit berpura-pura tidur, rupanya gadis itu bisa benar-benar tertidur pulas. Hingga kedatangan seorang perawat bersama seorang pria yang datang keruangan, tak disadarinya.
*****
"Jam berapa ini?" gumam Anastasya dengan mengeliat pelan meregangkan otot tubuhnya. Rupanya selepas terlelap membuat tubuhnya lebih nyaman dan pusingnya pun perlahan sirna.
Ia pun mengeser pandang mencari keberadaan jam dinding sebagai penunjuk waktu. Belum sempat menemukan sesuatu yang dicari, ia justru mendapati seorang pria yang tertidur di sofa tanpa menggunakan bantal atau selimut sekalipun.
Tuan Ken?
Gadis itu ternganga tak percaya. Bahkan sempat melebarkan netranya untuk lebih memastikan. Tetapi tetap saja, pria itu tetaplah Kenan yang menunggunya hingga tertidur.
Aku sungguh tak percaya ini. Tapi dia benar-benar Tuan Ken. Lalu kenapa dia tidak pulang dan malah menungguku di sini?
Sungguh sulit dipercaya. Bagaimana bisa pria itu justru tetap berada di tempat ini dan memilih untuk tak pulang.
Akan tetapi dengan cepat Anastasya tersadar dan enggan terlalu dini untuk menyimpulkan sesuatu hal. Bisa saja pria itu kelelahan dan tertidur di sofa pada saat ingin memutuskan pulang.
Menghela nafas dalam. Anastasya kini memilih untuk kembali memejamkan netranya kembali. Hendak membangunkan Ken yang terlelap pun rasanya tidak mungkin. Biarlah pria itu tertidur dan akan bangun dengan sendirinya.
Bersambung...
Like
__ADS_1
Komen
Vote seiklasnya