Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Berbahagialah


__ADS_3

Pagi menjelang. Kicau burung samar terdengar. Sang surya mulai muncul di ufuk ufuk timur dengan warna keemasan. Seorang gadis dengan bulu mata lentik mulai menggerjap netra, berniat untuk bangun dan memulai aktifitas.


Ia menggeliat perlahan, akan tetapi tubuhnya serasa terbelenggu oleh sepsang lengan yang mendekapnya dari belakang.


Anastasya berjingkat, sedikit terkejut, akan tatapi dengan segera ia menemukan kesadarannya. Terlebih dengan kondisi tubuhnya yang masih polos dan hanya tertutup selimut tebal.


huff


Aku baru teringat jika sudah menikah.


Dengkuran halus masih terdengar dari arah belakang, dan bisa dipastikan jika Kenan masih terlelap namun tetap mendekapnya semalaman seolah tak ingin melepaskan Anastasya barang sekejap pun.


Gadis itu coba melepaskan dekapan sang suami ditubuhnya, berniat untuk membersihkan diri. Anastasya cukup bekerja keras untuk menyingkirkan tangan besar itu dari tubuhnya. Akan tetapi, Kenan yang merasa adanya pergerakan justru terbangun.


"Kau ingin kemana sayang?" tanya Ken dengan suara serak khas bangun tidur.


"Em, ini sudah siang. Aku harus mandi dan turun untuk membuat sarapan." Anastasya menjawab, dengan menatap kearah suaminya. Ia sudah hendak bangkit dan melepaskan diri. Akan tetapi, dengan cepat Ken menarik tubuh Anastasya yang sudah setengah bangun itu, hingga terjatuh ke atas dada bidangnya.


"Nanti saja, aku masih ingin memelukmu. Lagi pula, sudah ada Bi Sumi yang mampu menyiapkan semua kebutuhan," kilah Ken beralasan.


Anastasya merasakan debar-debar cinta di dadanya. Terlebih saat Ken mulai mengusap pipinya dengan lembut.


"Kenapa?" ucap Ken saat gadis yang berada di atas tubuhnya itu tengah menatapnya lekat.


Anastasya menggeleng, dia tersenyum tipis kemudian memeluk dada bidang suaminya yang masih polos. Pipinya bahkan menempel di dada kekar itu hingga terdengar jelas detak jantung Ken yang tak beraturan.


"Anastasya sayang, apa kau bisa mendengar detak jantungku?"


Gadis itu spontan mengangguk.


"Detak jantungku berubah kacau hanya saat sedang bersamamu saja." Ken terus mengusap surai lembut Anastasya yang masih berbaring dan berbantal dada bidangnya.


Anastasya terdiam dan tak memberi respon, namun secara diam-diam ia tersenyum senang.


"Sayang, kau tak mendengarku atau mengira jika aku hanya berpura-pura saja?" Ken sedikit tak terima saat sang istri tak memberikan tanggapan.


Hingga Ken menganggak kepala Anastasya yang bersembunyi di dadanya, barulah gadis itu tergelak lirih.

__ADS_1


"Mas bicara apa? Maaf, aku tidak jelas mendengarnya," goda Anastasya dengan mimik wajah menggemaskan tanpa dosa.


Ken yang mulai terpancing itu hanya berdecak, kemudian dengan sekali gerakan tubuh ramping Anastasya kini sudah berada di bawah tubuh besarnya. Gadis itu pun terkesiap, namun tak jua menolak.


"Kau mulai menggodaku rupanya." Ken menyerigai tipis. "Ayo kita mulai lagi. Aku selalu hilang kendali saat bersamamu. Waktu semalaman yang sudah terlewati, rasanya masih belum cukup menuntaskan hasratku padamu, sayang."


Anastasya hendak membuka mulut, tetapi Lebih dulun Ken membungkamnya dengan ciuman. Hingga terjadilah pergulatan panjang di pagi hari. Rasa dingin yang menyentuh kulit, kini mulai memanas akibat aktifitas yang menguras tenaga, namun begitu dinikmati oleh sepasang pengantin baru yang baru saja mengecap indahnya cinta.


Anastasya tak menolak, justru merasa senang saat sang suami menginginkan tubuhnya lagi dan lagi. Terlebih dalam hal bercinta, Kenan sangat lembut memperlakukannya. Tidak ada rintihan kesakitan, yang ada hanyalah desahan kenikmatan yang keluar dari bibir mungilnya tanpa mampu dicegah.


*****


Ken dan Anastasya menuruni tangga dengan bergandeng tangan. Senyum kebahagiaan jelas tergambar di bibir keduanya. Pandangan mereka tertuju kearah meja makan yang sudah ramai. Paman, bibi dan juga keponakan Anastasya sudah berkumpul. Begitu pun dengan Sumi yang tampak berdiri di sudut ruangan, sementara makanan sudah tersaji di atas meja.


"Selamat pagi semua," sapa Anastasya. Begitupun dengan Kenan.


Semua mata tertuju kearah sepasang pengantin baru itu.


"Selamat pagi juga Ana, Ken," jawap paman dan bibi bersamaan.


"Ayo sarapan."


"Bibi dan paman terlihat lebih rapi?" Ada sesuatu yang janggal, begitu batin Anastasya.


Bibi dan paman tersenyum lembut disela menikmati sarapannya.


"Iya Ana. Paman dan bibi juga anak-anak akan pulang pagi ini."


Spontan gadis itu terkejut, tak terkecuali Ken.


"Kenapa sangat cepat Bi, bibi dan paman bahkan baru beberapa hari tinggal di sini. Apa mungkin juga harus pulang hari ini juga." Ken mengucapkan protesnya.


Anastasya bahkan sudah berubah muram. Secepat itukah bibi dan paman akan meninggalkannya.


Bibi tersenyum teduh. Ia menatap Anastasya lekat, seperti pandangan seorang ibu pada putri yang amat disayanginya.


"Dengan memastikan hidupmu bahagia bersama pria yang bertanggung jawab dan menyayangimu, itu sudah lebih dari cukup bagi kami untuk tenang meninggalkanmu. Kau sudah hidup dengan seseorang yang tepat, Ana. Maka berbahagialah. Kami pun akan merasakan kebahagiaan yang sama, meski kita tinggal berjauhan." Bulir bening mulai menitik di sudut netra perempuan patuh baya itu. Begitupun dengan Anastasya. Ia bisa merasakan sebesar apa rasa sayang bibi kepadanya, meski tak pernah terucap dari bibir keriput itu.

__ADS_1


"Bibi dan paman tidak usah khawatir. Aku dengan setulus hati berjanji, untuk melindungi dan membahagian Anastasya selamanya. Tak akan ada yang memisahkan kami, terkecuali maut." Begitu kiranya sebuah janji yang di ikrarkan Ken di hadapan paman dan bibi Anastasya.


Terpancar raut kelegaan dari wajah pasangan paruh baya itu. Setidaknya, sang keponakan sudah berada di tangan seseorang yang tepat.


Selepas sarapan, keluarga Anastasya rupanya mulai berkemas. Beberapa tas besar berisi pakaian yang sempat dibawa dari kampung sudah tertata rapi seolah sudah dipersiapkan sedari semalam.


"Ana, bibi dan paman akan pulang. Jaga dirimu baik-baik." Bibi merengkuh tubuh Anastasya dalam pelukannya. Kedua perempuan itu pun terisak, seolah berat untuk saling berpisah.


Ken yang sadar jika tak memiliki supir untuk bisa mengantar bibinya kembali kekampung, lekas menghubungi jasa travel untuk mempermudah perjalanan.


Semua saling berjabat tangan dan berpelukan. Termasuk putra putri bibi yang saling berebut untuk bisa menjabat dan mencium punggung tangan Kenan secara bergantian.


Tak berapa lama, kendaraan yang dipesan pun tiba. Barang-barang pun mengisi penuh bagasi. Anastasya kembali menangis. Ditatapnya sanak saudara yang sudah menghidupi dan membiayai sekolahnya sedari kecil.


Paman dan bibi mengusap bahu Anastasya lembut, menyalurkan kasih sayang. Sejujurnya, mereka pun engan berpisah. Tetapi dikampunglah kehidupan mereka yang sebenarnya. Hingga hidup dan mati pun, mereka tetap akan menghabiskan waktu di perkampungan terpencil itu.


"Ana, jaga dirimu baik-baik," pesan paman pada Anastasya. "Nak Ken, aku titip Ana padamu. Paman percaya padamu. Kau pria baik, yang kelak akan membimbing Ana pada kehidupan yang lebih baik."


Anastasya kian tersedu. Kini ia menangis seraya memeluk tubuh Ken yang juga mendekapnya erat. Kemeja pria itu bahkan sudah basah oleh air mata sang istri yang sedari tadi keluar.


Kenan mengangguk mantap. Ia terlebih dulu menjabat dan mencium punggung tangan paman dan juga bibi Anastasya sebelum akhirnya melepaskan mereka untuk pulang.


Dari pintu gerbang, Ken dan Anastasya melambaikan tangan pada kendaraan berwarna hitam yang mulai berjalan menjauhi mereka. Keduanya sejenak terpaku dan terdiam. Berperang dengan fikiran masing-masing.


"Sayang, kemana rencana kita untuk bulan madu?"


Ucapan Ken jelas membuat Anastasya tersentak.


Apa, bulan madu?


"Terserah mas saja," jawab Anastasya malu-malu.


Ken tersenyum simpul.


"Ayo, kita bicarakan bulan madu kita, di kamar saja." Ken menarik tanggan Anastasya untuk memasuki rumah. Anastasya mulai gelagapan.


Apa? Kenapa membicarakannya saja harus di kamar? Aku curiga, aku curiga. Ini bahkan masih pagi dan rambutku juga masih setengah basah. Apa iya aku harus mandi kedua kali sepagi ini?

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2