
Senyum di bibir Zara tak henti mengembang saat mampu merasakan gerakan-gerakan ringan dibagian perutnya yang terasa ditendang dari dalam. Ya kedua bayi kembarnya terbilang cukup aktif bergerak. Meski masih terbilang ringan dan dalam frekuensi yang tak terlalu sering, mengingat usia kandungannya yang masih berusia empat bulan. Namun tak ayal membuat Zara yang untuk kali pertamanya merasakan proses kehamilan, dibuat takjub tak terkira.
Menurut Dokter Bram, kedua calon bayi di dalam perutnya sangatlah sehat dan tumbuh dengan sempurna seperti calon bayi pada umumnya. Sama sekali tak ada yang perlu dikhawatirkan, hanya saja jenis kelamin dari kedua bayi tersebut masih sulit untuk diketahui.
Itu sama sekali tak menjadi masalah bagi Arka ataupun Zara. Bagi mereka, jenis kelamin dari calon buah hatinya, biarlah menjadi rahasia hingga mereka lahir kedunia. Bisa tumbuh dengan sehat dan sempurna tanpa suatu kekurangan apa pun saja sudah membuat keduanya berterimakasih serta berucap syukur pada sang pencipta.
Seperti pada saat ini, saat sinar mentari tengah terik-teriknya. Zara yang menggunakan pakaian longgar nan nanyaman, duduk di balkon kamar sembari menghirup udara segar dan mengelus perutnya yang membuncit dengan lembutnya.
Ia enggan untuk menghabiskan waktu di kamar jika tak ada sang suami bersamanya. Balkonlah yang menurutnya menjadi tempat paling nyaman, saat udara sekitar terasa panas menyengat.
Terkadang dengan duduk disebuah ayunan yang nyaman, membuatnya tertidur lelap saat angin bertiup segar menyapa tubuhnya. Entah sudah berapa kali hal tersebut ia lakukan, hingga terkadang para pelayan ataupun Arka mendapatinya, dan lekas memindahkan tubuhnya keatas ranjang agar lebih nyaman.
"Sayang." Suara familiar yang menyapa indra pendengaran, seketika membuyarkan lamunan Zara yang duduk bersandar dengan mengayunkan kedua kakinya itu. Gadis itu pun spontan menoleh, dan mendapati wajah sang suami dengan senyum lebarnya sudah berdiri di ambang pintu.
"Sayang, kau sudah kembali?" Zara pun bangkit, dan menghampiri suaminya. Lekas meraih tangan kokohnya dan mencium punggung tangan suaminya itu. "Kenapa pulang secepat ini?" tanyanya lagi.
"Karna aku merindukanmu. Maka dari itu aku pulang lebih cepat untuk hari ini." Pria itu masih tersenyum lebar, seolah binar bahagia tengah menaunginya.
"Benarkah, kau bilang untuk hari ini? Bukankah kau melakukannya hampir setiap hari?" Serigai tipis terulas di bibir Zara. Yang mana membuat Arka hanya bisa tersenyum kikuk dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Baiklah-baiklah. Kau menang." Pria itu pun mencondongkan wajahnya kearah telinga sang istri, kemudian berbisik lembut. "Aku ingin mengajakmu berbelanja untuk perlengkapan calon bayi kembar kita. Bagaimana?"
Zara yang masih menikmati sapuan lembut udara di telingannya itu mengerjap, saat mendengar penuturan suaminya.
"Apa, berbelanja perlengkapan bayi? Bukankah itu masih terlalu cepat, sayang. Kandunganku bahkan baru berusia empat bulan." Tersirat sejejak keraguan pada diri Zara. Bukannya tidak ingin, hanya saja usia kandungannya masih terbilang muda.
"Itu tidak masalah, sayang. Kita bisa menyimpannya di sebuah ruangan khusus selepas membelinya. Dan mulai membuka dan menatanya kembali, saat bayi kita sudah hendak dilahirkan."
Zara tak mampu lagi berkata-kata, apalagi berusaha mendebat keinginan Arka yang tak butuh penolakan. Akhirnya, hanya dengan sebuah anggukan persetujuan, membuat pria itu bergerak cepat untuk mendekap dan melabuhkan kecupan pada puncak kepala sang istri.
"Terimakasih, sayang."
*****
__ADS_1
Setelah melalui sedikit perdebatan, di sinilah pasangan calon orang tua muda itu berada. Di butik sebuah pusat perbelanjaan ternama di ibukota yang memiliki perlengkapan bayi super lengkap dengan kualitas terbaik.
Demi keamanan dan kenyamanan sang ustei saat berbelanja, Arka sengaja meminta tempat itu ditutup untuk umum selama beberapa jam dan hanya melayani dirinya dan sang istri berbelanja.
Seolah tak terkejut dengan hal-hal tak masuk akal yang dilakukan Arka, Zara kini mulai terbiasa dan memilih untuk tak ambil pusing. Manajer tempat itu pulalah yang menyambut keduanya dengan ramah. Kemudian meminta mereka untuk berkeliling dan mencari alat perlengkapan bayi yang diinginkan.
Di beberapa sudut ruangan juga berdiri beberapa karyawan butik perempuan pilihan yang bersedia membantu dengan sigap.
Zara sampai dibuat terkagum-kagum pada ruangan super luas dengan dipenuhi berbagai macam perlengkapan bayi yang terasa menghangatkan hati bagi siapun yang melihat. Gadis itu tersenyum haru, dan spontan mengusap perut buncitnya dengan sayang.
Tempat ini layaknya surga bagi para calon ibu yang tengah menatikan kelahiran buah hatinya. Setiap barang yang tertata rapi memiliki susunan warna lembut dan tak terlalu mencolok.
"Kita akan memulainya dari mana sayang?" Dengan lembut Arka mengusap pipi sang istri yang masih terhipnotis dan tertegun di tempatnya. Padahal bukan hanya Sang istri, dirinya pun ikut terbawa dalam suasana ruangan yang menenangkan dan menyentuh hati. Ini adalah pengalaman pertama bagi Zara, namun tidak bagi dirinya.
Setahun lalu, dirinya pun pernah melakukan hal yang sama. Berbelanja perlengkapan bayi untuk Abigail, putra Anastasya. Tetapi pada waktu itu, suasana yang tercipta tak sehangat ini. Dirinya membebaskan sepenuhnya pada Anastasya untuk memilih segala perlengkapan, sesuai dengan keinginan calon ibu itu sendiri.
Tetapi kini berbeda. Entah mengapa, terdapat dorongan dijiwa yang begitu besar, hingga membuatnya berinisiatif dan melangkah dengan gagahnya untuk memilih perlengkapan bayi yang dirasanya pas untuk kedua bayi kembarnya.
"Bagaimana jika kita mulai dari pakaiannya terlebih dulu." Arka coba mengucap keinginannya.
Zara pun mengangguk cepat. Sebab dirinya pun masih ragu, hendak memulainya dari yang mana.
Keduanya mulai bergerak. Satu tangan Arka digunakan untuk merengkuh pinggang sang istri, dan satu tangannya lagi ia gunakan untuk mendorong troli belanjaan.
"Kau lihat, di tempat ini bahkan menyediakan semua barang dengan warna yang cukup lembut, hingga pembeli seperti kita yang masih belum mengetahui jenis kelamin bayi di dalam rahimmu, tidak akan kerepotan." Pria itu mulai menyentuh pakaian bayi berwarna biru lembut bergambarkan burung. "Lihat, biarpun berwarna biru, tetapi pakaian ini masih terlihat manis jika dipakai oleh bayi perempuan." Arka bahkan tanpa ragu membentangkan pakaian mungil tersebut kehadapan Zara, seolah meminta pertimbangan.
Gadis mungil itu mengerjap-ngerjap. Memandang pakaian mungil itu dan sang suami secara bergantian. Lengkung tipisnya mengembang lembut seketika. Tak menyangka jika suaminya yang terkesan dingin itu bahkan lebih antusias dari pada dirinya.
"Atau yang ini," ucap Arka sembari menyentuh pakaian yang lain kemudian membentangkannya. "Pakaian berwarna pastel bergambar singa, juga terlihat menggemaskan jika dipakai oleh bayi laki-laki." Senyum di bibir Arka pun melebar, betapa dirinya sudah membayangkan akan selucu apa bayi yang dilahirkan istrinya kelak.
Zara kian merasa haru, ia hanya bisa menganguk ketika tak ada alasan untuk melakukan penolakan. Arka bahkan terkesan lebih teliti dan berpengalaman dari pada dirinya.
Seolah tak ada hambatan, keduanya terlihat sangat bebas dalam menjatuhkan pilihan. Berusaha abai akan jenis kelamin yang dimiliki bayi kembarnya nanti. Tanpa rasa lelah Zara beserta Arka terus melangkah seolah tanpa rasa lelah. Tempat tersebut benar-benar menghipnotisnya. Hingga gadis itu merasakan jika kepalanya mulai berkunang-kunang. Saat mendekati rak sepatu bayi, tanpa sengaja Zara menjatuhkan sepatu mungil berwarna merah muda dari tangannya. Gadis itu pun tertunduk dan memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
__ADS_1
"Sayang, kau kenapa? Apa kau merasa lelah, atau---"
"Aku hanya sedikit pusing, sayang," jawab Zara cepat.
"Baiklah, kita akan istirahat lebih dulu." Bergerak cepat, Arka lekas meraup tubuh sang istri dalam gendongannya dan membawanya kesebuah kursi yang sengaja sudah disiapkan oleh manajer tempat tersebut.
"Maaf, aku terlalu antusias dan sempat melupakan kondisi kehamilanmu." Arka berucap dengan penuh kecemasan. Dengan hati-hati, ia mendaratkan tubuh mungil sang istri dalam kursi empuk tersebut. Beberapa karyawan toko yang berjaga pun dengan sigap mempersiapkan makanan dan minuman di meja teruntuk pelanggan VVIP mereka.
"Tidak apa sayang, aku pun merasakan hal yang sama sepertimu. Bahagia tak terkira, hingga melupakan kondisi tubuhku sendiri." Berusaha tetap bersikap tenang, Zara berusaha keras menunjukan jika dirinya baik-baik saja di hadapan sang suami.
"Beristirahatlah, dan biarkan aku yang memilih semuanya. Kau hanya perlu mempercayakan kepada suamimu yang tampan ini saja."
Tak mampu menolak, Zara hanya mampu mengangguk pasrah dan membiarkan sang suami meninggalkannya untuk kembali berkutat dengan barang-barang lucu nan menggemaskan itu kembali.
Gadis mungil itu menghela nafas dalam. Bukan hanya kepalanya yang terasa berdenyut, tetapi batinnya pun berkecamuk tak karuan. Perasaannya sungguh tak nyaman, tetapi entah ada apa, Zara sendiri tak bisa mengetahuinya dengan jelas.
"Kenapa perasaanku tiba-tiba tak nyaman seperti ini?" gumam Zara lirih. Sementara pandangannya tertuju kearah Arka yang masih dengan riangnya memilih barang-barang yang menyentuh nalurinya. Sesekali pria itu melambaikan tangan kearah sang istri dengan senyum terkembang di bibir, sebagai bentuk luapan kebahagiaan dan berusaha memberi isyarat jika dirinya masih baik-baik saja dan tetap bersemangat.
Zara berusaha tersenyum lepas dengan balas melambaikan tangan kearah suaminya hingga pria itu mengalihkan pandangan darinya dan tampak menyibukan kembali dengan pilihannya.
Gadis itu menyentuh bagian dada, di mana jantungnya berdetak lebih cepat dengan dipenuhi kecemasan.
Ya tuhan, ada apa ini. Kenapa tiba-tiba terasa tak nyaman seperti ini?
Berusaha mengatur nafas, namun nyatanya semua itu tak mampu menghilangkan kecemasannya. Dirinya masih terlihat tegang, dengan peluh dingin yang mulai mengembun di keningnya.
Bersambung..
Like
Komen
Vote seikhlasnya
__ADS_1