
Zara menatap lembut kearah dua putranya yang berjemur di area balkon kamarnya. Bayi-bayinya terlihat lucu dan menggemaskan dengan kaca mata khusus yang bertengger di sepasang bola mata bening mereka.
Erich dan Ernest bertumbuh dengan pesat, hingga tubuh kecil mereka kini tampak montok, di tambah surai lebat nan hitam legam yang membuat wajah bocah kecil itu sangat tampan yang mendominasi gen sang ayah.
Zara mengusap pipi kemerahan putranya yang terlelap di bawah terpaan sang surya yang terasa hangat. Aktifitas semacam ini merupakan agenda rutin bagi Zara, di mana ia akan berjemur bersama kedua putranya sesaat sebelum Arka berangkat kekantor.
Aku tidak menyangka jika akan memiliki mereka berdua. Bayi-bayi yang lucu, suami yang begitu perhatian, juga semua fasilitas yang kubutuhkan. Semua masih terasa seperti mimpi.
Helaan nafas terdengar. Meski ia merasakan bahagia, tapi dari hati kecil, Zara tak seutuhnya bahagia.
Surti datang dengan nampan di tangan. Membawa secangkir teh hangat dan juga camilan.
"Silahkan, nona." Bi Sumi mendaratkan nampan tersebut di sebuah meja. Membungkuk sesaat, dan hendak pergi meninggalkan sang nona.
"Bi, kemarilah. Temani aku bicara dan jangan pergi."
Ucapan Zara yang terdengar serius, membuat Sumi yang sudah hendak berjalan, berbalik badan.
"Ada apa, nona?" Surti mendekat, sementara pandangannya tertuju pada Zara yang duduk di antara kedua bayinya.
Zara menatap Surti lekat, dan mengajaknya untuk duduk.
"Bi, jujur. Dalam kehidupanku yang seperti ini, aku masih sering diliputi perasaan bersalah." Zara tertunduk, entah mengapa hatinya terasa sakit bak tercabik-cabik.
Surti sendiri rupanya masih tak memahami ucapan nonannya.
"Maksud nona?"
"Aku masih memikirkan Kak Anastasya. Tidak seharusnya aku menggantikan posisinya di rumah ini."
"Apa maksud anda, nona? Tidak baik mengucapkan hal demikian." Surti seperti tak terima. Walau sebagaimana pun situasinya, Zara merupakan gadis pilihan sang tuan, dan sampai kapan pun tidak ada yang sanggup merubah hal tersebut.
"Bibi," lirih Zara. "Aku seperti seorang perempuan yang tak tau diri. Mengacaukan segalanya hingga Kak Anastasya menghilang tanpa jejak."
"Nona, saya mohon berhenti mengucapkan hal yang bisa memicu kemarahan tuan jika tanpa sengaja mendengarnya. Lagi pula, nona Anastasya juga hidup dengan bahagia saat ini." Namun setelah berucap demikian, Surti lekas mengatupkan bibirnya. Terlebih kedua netra Zara tampak menyipit, seolah menyimpan kecurigaan terhadapnya.
"Bagaimana bibi bisa tau jika Kak Anastasya hidup dengan baik-baik saja? Apa bibi menyimpan sesuatu dariku?"
Perempuan paruh baya itu mulai gugup dan gelagapan. Tak menyangka jika ia sudah keceplosan.
"Bibi, ayo katakan." Selama satu tahun ini Anastasya memilih menghilang dan memutuskan kontak. Tak ada satu orang pun yang mengetahui keberadaanya saat ini, termasuk Surti. Tetapi jika melihat dari ucapan Surti, bukan tidak mungkin jika perempuan paruh baya itu menyimpan sesuatu hal yang tak diketahui oleh Zara dan Arka.
"Maaf, nona."
"Maaf untuk apa bibi?"
Sejenak Surti terdiam. Wanita paruh baya itu tak menjawab.
"Bibi," ucap Zara lirih.
"Dulu saya masih sering bertukar kabar dengan nona Anastasya."
Sontak Zara terperanjat. Kenapa Surti tidak mengatakan padanya.
"Kenapa bibi tidak mengatakannya padaku? Bukankah bibi pernah bilang jika tidak memiliki kontak milik Kak Anastasya yang bisa dihubungi padaku?" Zara mulai mengguncang kedua pundak Surti.
__ADS_1
Surti tertunduk. Ia merasa bersalah.
"Maaf, nona. Dulu saya masih memiliki nomor ponsel Nona Anastasya yang bisa dihubungi, tetapi..." Surti menggantung ucapannya.
"Tetapi apa bi?"
Perempuan paruh baya itu tertunduk.
"Tetapi, nomor kontak itu kini tak bisa lagi dihubungi."
Zara menghela nafas berat. Apakah Surti mulai berbohong padanya.
"Bibi, aku hanya ingin tahu bagaimana kabar Kak Anastasya saat ini. Aku juga tidak ingin merusak kebahagiaannya. Apakah bibi tidak percaya padaku hingga berusaha menutupi sesuatu yang bibi ketahui." Zara meratap iba. Sampai kapan pun ia akan tetap merasa bersalah pada Anastasya. Andai saja Anastasya tak menolak segala fasilitas yang di berikan Arka, tentu rasa bersalahnya tak akan sebesar ini.
"Nona, bukan seperti itu." Surti kebingungan merangkai kata. Sementara Zara kian tertunduk dalam.
"Kontak Nona Anastasya memang benar-benar tak bisa dihubungi, nona. Saya sama sekali tidak berbohong. Dulu memang kami sering bertukar kabar, tapi entah mengapa selama beberapa bulan ini, Nona Anastasya tak lagi memberi kabar. Saat saya coba menghubungi ponselnya pun, selalu tak bisa terhubung."
Ucapan Surti, seketika membuat Zara mengerutkan dahi.
"Apa bibi berkata jujur?"
Surti spontan mengangguk.
"Benar Nona, saya berani bersumpah."
Zara menelan salivanya berat. Sungguh tak seharusnya menyudutkan perempuan paruh baya yang begitu berarti bagi hidup suaminya.
"Bibi, maaf. Bukan maksudku untuk meragukan bibi, hanya saja..."
Surti mengusap tangan Zara lembut. Perempuan paruh baya itu nampaknya faham, dengan isi kepala nonanya.
"Tetapi untuk apa bi?"
"Karna Nona Anastasya berfikir, jika keberadaanya tetap diketahui, maka selamanya itu pula hidupnya akan terus bergantung pada Tuan Arka. Dan Nona Anastasya tak ingin hal tersebut terjadi."
Zara tergelak samar, dengan menggelengkan kepala. Ia tak habis fikir dengan apa yang Anastasya lakukan.
Perempuan itu pergi dengan membawa lara. Mengikhlaskan suaminya menikah dengan gadis lain, hanya untuk membuat suaminya itu bahagia. Tetapi bagaimana dengan hatinya?
"Tapi Bi, bukankah Kak Anastasya memang tak memiliki keluarga di kota hingga Tuan Arka berusaha memberikan perlindungan dan hidup yang layak untuk Kak Anastasya kedepannya."
"Tetapi Nona Anastasya memang tak menginginkannya, nona."
Surti mulai bercerita panjang lebar tentang kehidupan baru yang dijalani mantan nonannya itu. Mulai dari membeli rumah di kompleks sederhana, hingga bekerja disebuah rumah makan sebagai pelayan.
Zara kian merasa bersalah hingga buliran bening menetes dari sudut netranya. Di saat bersamaan, Arka yang baru saja mandi dengan hanya hanya menggenakan handuk yang terlilit di pinggang, muncul dari arah pintu hingga mengejutkan kedua perempuan yang tengah berbincang itu.
Zara lekas menghapus sisa airmata, dan Surti pun spontan mengunci mulutnya.
Arka pun mendekat kearah Zara. Surti yang faham situasi, seketika langsung menghilang dari area balkon selepas menundukan kepala.
"Sayang, aku ingin bekerja," ucap Arka yang sudah mendekap tubuh Zara dari belakang. Mencium tengkuk gadis itu dan melabihkan banyak kecupan di sana.
"Iya sayang. Tunggu sebentar, aku akan memindahkan si kembar kedalam dan setelah itu menyiapkan semua kebutuhanmu."
__ADS_1
Zara membawa Ernest dalam gendongan, sementara Arka menggendong Erich si sulung kedalam rumah.
Zara bergegas mempersiapkan semua kebutuhan Arka sebelum kekantor. Tubuh kekar pria tampan yang masih berbalut handuk itu masih berdiri mematung. Menanti sentuhan tangan sang istri yang merawatnya setiap hari.
Kemeja hitam itu mulai terpasang di tubuhnya. Arka tersenyum lembut menatap wajah cantik Zara. Tetapi pagi ini, wajah perempuan yang ia sayang itu tak seceria hari biasanya. Entah mengapa, seperti ada kabut tipis yang menyelimutinya.
"Sayang, ada apa?" Arka melirik kearah dua bayinya yang sesekali mengoceh di atas ranjang. Bayi-bayinya tampak sehat dan baik-baik saja. Tetapi kenapa wajah sang istri sama sekali tak mencerminkan jika ia baik-baik saja.
Zara terkesiap. Ia berusaha fokus menangani suaminya, dan mengusir segala fikiran agar pria itu tak menaruh curiga.
"Hem, tidak ada. Aku baik-baik saja," jawab Zara asal.
Zara memasangkan jas berwarna gelap ketubuh suaminya sebagai sentuhan terakhir.
Arka yang sejenak menautkan alis itu, kini justru tersenyum miring.
"Aku tau. Kau bersikap seperti ini karna merindukanku, bukan? Kau pasti menginginkanku untuk selalu dekat denganmu." Arka tergelak kencang, dan meraup tubuh sang istri dalam gendongan, yang mana membuat Zara gelagapan.
"Aku sadar sayang. Akhir-akhir ini pekerjaanku memang sangat banyak hingga tak memiliki banyak waktu yang bisa kuhabiskan denganmu." Arka menurunkan tubuh istrinya dengan pelan keatas ranjang. Mengikis jarak, hingga bibir keduanya beradu sesaat.
Zara menghela nafas lega dalam diam. Rupanya, Arka tak mampu menebak isi hatinya dan justru merasa bersalah akan minimnya waktu yang ia miliki untuk anak dan juga istrinya.
"Sayang, berhentilah. Bukannya kau ingin pergi bekerja?" Zara menutup bibir Arka dengan telapak tangannya. Berusaha menghentikan aktifitas yang bisa membuatnya menggila.
Pria itu tergelak.
"Apa yang kau fikirkan." Pletak. Satu sentilan mendarat di kening istrinya, hingga perempuan itu spontan meng-aduh.
"Aduh."
"Apa kau fikir kita akan melakukannya di hadapan mereka?" Pandangan Arka terarah pada dua bocah mungil yang masih sesekali mengoceh di atas ranjang. Pria itu bahkan tersenyum miring dengan pandangan menggoda.
Zara gelagapan. Wajahnya bersemu merah seketika. Entah mengapa dirinya begitu malu.
"Ti-tidak. Bu-bukan begitu maksudku," elak Zara.
Arka justru tergelak.
"Aku tentu tau apa maksudmu, sayang." Arka mulai berbicara serius. Dipandangnya wajah sang istri lekat, dengan kedua tangan yang menangkup pipi istrinya.
"Aku akan pulang lebih cepat untuk bisa menghabiskan waktu bersamamu. Aku janji." Satu kecupan di bibir kembali di layangkan Arka. Pria itu benar-benar tak mampu menahannya.
"Berdandanlah yang cantik dan tunggu aku pulang." Selepas berucap, Arka mengusap bibir sang istri yang sedikit membengkak dengan ibu jarinya.
Zara hanya bisa mengangguk malu-malu sebagai jawaban.
"Jaga dirimu. Akan berangkat," ucap Arka sebelum meninggalkan sang istri yang masih mematung di tempatnya.
Aku tau jika kau sangat menyayangiku juga anak-anak kita. Tetapi aku akan tetap mencari keberadaan Kak Anastasya, meski dengan cara sembunyi-sembunyi.
Bersambung..
Hai Hai Haiπππ
Salam termanis dari Kakak Autorπππ
__ADS_1
Meski terbilang lambat up, tetapi Autor akan sebisa mungkin untuk melanjutkan novel ini sampai selesai.
Terimakasihππππ