Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Disebut Ngidam?


__ADS_3

Senyum kepuasan terukir di bibir seorang gadis yang kini tengah menatap layar ponsel miliknya.


"Ah, kali ini rupanya kau berguna juga," gumam Zara pada benda pipih yang digengamnya. Ia berinteraksi seolah benda itu bisa diajak bicara.


"Kenapa hari ini aku sangat merindukanmu, Kiara." Lagi-lagi gadis mungil itu bergumam lirih. Ia seperti menemukan sesuatu paling berharga dalam ponselnya. Ya, dirinya sempat menyimpan alamat Kiara dengan kamera ponselnya secara diam-diam.


Mengingat hari ini adalah akhir pekan, bisa dipastikan jika Kiara sedang tak bekerja. Dan berkunjung langsung kerumahnya merupakan ide yang tepat.


Gadis itu pun berjalan riang. Surainya yang masih setengah basah, terayun indah kekanan dan kekiri. Sebenarnya cukup ragu untuk menemui dan mengungkapkan keinginannya pada sang suami, hanya saja hari ini ia benar-benar ingin menghabiskan akhir pekannya di luar rumah.


Membuka pintu kamar perlahan, Zara mendapati sang suami yang masih mengenakan jubah mandi dan tengah mengeringkan surainya yang basah dengan handuk kecil.


"Sayang," ucap Zara lirih. "Aku ingin jalan-jalan," sambungnya dengan suara sangat pelan.


Arka yang tak menyadari akan kehadiran sang istri, lekas berbalik badan menuju arah sumber suara.


"Apa? Kau bicara apa sayang? Suaramu sangat pelan hingga aku tak bisa mendengarnya." Pria itu mendekat, kian mendekat. Hingga nyaris tak ada jarak di antara keduanya.


Gadis mungil itu menelan salivanya berat. Terlebih saat sepasang netra elang itu menatapnya lekat.


"A-aku, aku ingin jalan-jalan, sayang. Bolehkah?" jawab gadis itu ragu dan sedikit terbata.


"Apa pun untukmu sayang. Tetapi bukankah ini akhir pekan, dan kau ingin jalan-jalan kemana?" Tangan pria itu bergerak nakal menyentuh pinggang sang istri, kemudian mengesekkan puncak hidungnya pada ujung hidung mbangir istrinya.


"Aku ingin kerumah Kiara. Bolehkah?" pinta Zara dengan raut wajah mengiba.


Arka menarik wajahnya dari wajah sang istri. Dirinya berfikir sejenak.


"Apa kau tau di mana rumahnya?"


Gadis itu pun menggeleng sebagai jawaban, yang membuat dahi Arka nampak berkerut dalam.


"Tetapi aku menyimpan alamatnya di sini." Gadis itu menunjukan layar ponselnya di mana foto alamat Kiara terpampang di sana.


Arka menyerigai tipis, kemudian berucap, "Baiklah. Apa pun untukmu sayang." Pria itu memberi jeda ucapannya, sembari otaknya berfikir. "Apakah ini termasuk dalam katagori ngidam_mu? Sebab kau terbilang jarang sekali mempunyai keinginan semacam ini?" Bukannya jengah akan permintaan sang istri di saat akhir pekan yang biasanya hanya akan ia habiskan dengan berada di rumah untuk mengistirahatkan otak. Pria itu justru menunjukan hal sebaliknya. Ia terlihat luar biasa senang, seolah menikmati peran barunya sebagai calon ayah.

__ADS_1


Untuk sejenak gadis mungil tercengang, menelaah ucapan dan ekspresi wajah yang ditunjukan suaminya.


Apa? Ngidam. Memang hal semacam ini bisa dikatakan sebagai ngidam? Tetapi aku memang benar-benar mengnginkannya.


"Aku akan meminta seorang sopir untuk mengantar perjalanan kita."


Gadis itu spontan menggeleng begitu mendengar ucapan suaminya.


"Aku rasa tidak perlu."


"Kenapa?" jawab Arka cepat.


"Bukankah kau punya asisten pribadi yang setia. Aku rasa, asisten Sam tidak akan keberatan untuk mengantar perjalanan kita walaupun ini akhir pekan."


"Tapi---" Rupanya Arka cukup ragu dengan usul sang istri.


"Ayolah. Aku yakin jika asisten Sam tidak akan menolaknya."


Arka hanya bisa pasrah dan mengikuti keinginan istrinya. Ia pun lekas berganti pakaian dan mengengam tangan Zara untuk mengikuti langkahnya menuju tempat di mana saat ini Sam sedang berada.


Tak jauh dari kediaman mewah Arka, dan masih berada pada lokasi yang sama, terdapat bangunan mewah berlantai dua di mana tempat tersebut adalah tempat tinggal bagi para pengawal dan para pelayan laki-laki yang bekerja pada Arkana Surya Atmadja.


Meski pun akhir pekan, para pengawal tetap bersiaga dan berjaga pada tempatnya. Zara mengikuti sang suami dengan langkah ringan. Meski sudah beberapa bulan sebagai penghuni kediaman Arka, akan tetapi belum sekali pun dirinya memasuki bangunan berlantai dua tersebut.


Para pengawal yang kebetulan berada di luar dan mendapati sang tuan bersama istrinya mengunjungi tempat tinggal mereka, lekas berlari tergopoh menghampiri.


"Tuan dan nona, adakah sesuatu yang bisa kami bantu?" Pengawal itu berucap dengan nafas tersengal. Bingung dan takut menghampiri. Kiranya ada keperluan apa hingga sang tuan repot-repot untuk datang sendiri ketempat yang jarang sekali beliau datangi.


"Tidak ada. Aku hanya ingin bertemu dengan Sam," jawab Arka lugas pada sang pengawal.


"Mari tuan, Tuan Sam sedang berada di dalam," jawab si pengawal dengan mengarahkan Arka untuk mengikuti langkahnya.


Selain menjadi Asisten pribadi Arka, Sam juga memiliki peranan penting sebagai kepala pengawal yang ditunjuk oleh Arka beberapa tahun silam.


Zara tak hentinya berdecak kagum saat mulai memasuki ruangan. Lantai dasar bangunan terdapat ruang tamu luas beserta sofa seperti rumah pada umumnya. Kemudian di ruangan sebelah, rupanya digunakan sebagai tempat latihan dengan berbagai macam alat fitnes yang tampak memenuhi ruangan tersebut.

__ADS_1


Sementara di lantai atas, seluruh ruangan di gunakan sebagai tempat beristirahat para pengawal dan pelayan. Layaknya asrama anak sekolah dengan begitu banyak kamar di dalamnya.


Pengawal itu pun membawa Arka beserta Zara kesebuah ruangan yang mana digunakan para pengawal untuk latihan. Dari kejauhan mereka bisa menemukan Sam tengah melakukan latihan dengan mengunakan salah satu alat fitnes. Tubuhnya yang tinggi dan kekar, dengan mudah dapat dibedakan meskipun ia tengah berbalik badan.


"Tuan Sam ada di sana, Tuan," tunjuk pengawal itu kearah Sam.


"Baiklah, kau boleh pergi," ucap Arka pada pengawal itu. Disaat yang bersamaan, pria yang bernama Sam itu berbalik badan, dan alangkah terkejutnya dia saat Arka bersama Zara kini sudah berada di antaranya. Dengan berlari kecil ia pun datang menghampiri.


"Tuan, Nona, adakah sesuatu yang diperlukan hingga sampai datang ketempat ini untuk menwmui saya?"


"Asisten Sam, maaf sudah membuat anda terkejut dengan kedatangan kami. Terlebih ini adalah akhir pekan." Bukan Arka, tetapi Zaralah yang berinisiatif untuk menjawab.


"Tidak masalah nona, baik hari kerja atau pun akhir pekan, bagi saya tidak ada bedanya jika mengingat tentang kepentingan Nona dan Tuan," jawab Sam lugas.


Merasa sudah terwakilkan, Arka hanya diam sembari tersenyum tipis di samping tubuh istrinya. Dengan begitu dirinya tak perlu bersusah payah untuk membujuk Sam supaya mengikuti kehendak istrinya.


"Aku ingin jalan-jalan, dan bisakah asisten Sam menemani perjalanan kami?" Zara berucap dibubuhi dengan senyuman semanis mungkin, yang mana membuat Sam tak sanggup untuk menolaknya.


"Tentu nona. Saya pasti akan mengantarnya dengan senang hati. Tetapi di mana tempat yang akan menjadi tujuan kita hari ini?"


"Asisten Sam tentu masih mengingat Kiara, bukan? Dia gadis yang pernah Asisten Sam antar pulang beberapa hari yang lalu. Dan sekarang aku ingin sekali berkunjung kerumahnya. Tentu Asisten Sam tidak keberatan, bukan. Untuk mengantarkan kami?" Zara bahkan menangkupkan kedua telapak tangannya ditambah dengan tatapan mengiba.


Sam menelan ludahnya kasar. Tentu dirinya masih ingat pada gadis yang sempat ia antar beberapa waktu lalu.


"Apakah Kiara yang nona maksud ialah salah satu karyawan di toko bunga?"


Zara pun spontan mengangguk.


"Benar sekali. Nah bagaimana, anda pasti tidak keberatan untuk mengantarkan kami kerumah kiara kan?"


Sam hanya mampu mengangguk samar, tanpa jawaban.


Tak disangka, nonanya terlihat luar biasa bahagia.


"Terimakasih. Satu jam lagi kita akan berangkat. Bersiap-siaplah asisten Sam, dan berpenampilanlah sekeren mungkin." Zara dan Arka sudah berbalik badan. Meninggalkan Sam yang masih terpaku ditempatnya. Ekspresi wajah senang pada sepasang suami istri itu rupanya berbanding terbalik dengan seorang pria kaku yang perlahan mengerjap mengumpulkan kembali kesadarannya selepas menerima ajakan sang nona. Entah apa yang pria itu fikirkan saat ini, namun terlihat jika ia berdecak berulang kali diiringi gelengan kepala samar.

__ADS_1


Habislah aku.


__ADS_2