
Tubuh mungil itu mulai menggeliat, meski terbelenggu sepasang tangan kokoh yang mendekapnya erat seolah engan untuk dilepaskan. Bulu matanya bergerak seiring netra yang mulai mengerjap.
Mungkin hari sudah beranjak pagi, gumam Zara yang berusaha melepaskan diri dari tangan sang suami. Tangan mungilnya perlahan coba melepaskan pelukan Arka yang sudah membuatnya hangat semalamam agar pria itu tak terusik dan terbangun dari tidurnya.
Memunguti pakaian yang berserakan di lantai dan beranjak kekamar mandi untuk membersihkan diri. Tak berapa lama ia menuju tempat pakaian hanya dengan berbalut handuk yang menutupi separuh tubuhnya.
Pantulan tubuh mungilnya kini terpampang nyata dalam kaca berukuran besar yang berada di ruangan tersebut. Beberapa bekas kemerahan tanda kepemilikan membekas di bagian dada. Kulit tubuhnya yang putih bersih membuat bekas itu terlihat dengan jelas. Beruntunglah Arka hanya memberikan tanda pada bagian tubuh tertentu yang selalu tertutup di balik pakaian.
Tubuh gadis itu serasa melemah tanpa daya. Bersandar pada dinding hingga berakhir duduk di lantai.
Apakah aku wanita kejam yang sudah mengambil suami orang lain. Tuan Arka memang suamiku, tetapi beliau juga suami dari Nona Anastasya. Akan tetapi kenapa semenjak menikah denganku, Tuan Arka justru tak pernsh lagi memasuki kamar Nona Anastasya.
Zara mengusap wajahnya kasar. Hendak merutuki dan memaki dirinya sendiri. Untuk beberapa saat gadis yang masih belum menganti pakaian itu terisak lirih, berusaha melepaskan beban di dada.
Dirasa sudah cukup lega, Zara mengusap sisa buliran bening yang mengalir di wajahnya dan segera mencari pakaian untuk ia kenakan. Gadis itu pun lagi-lagi hanya menghela nafas dalam saat membuka tempat pakaian khusus barang-barang miliknya. Dari pakaian, sepatu dan aksesoris merupakan rancangan desainer dengan brand kenamaan dari dalam dan luar negeri.
Seakan faham akan selera, Arka terlihat cukup pemilih dan selalu ingin terlihat sempurna dengan pakaian yang akan digunakan istrinya. Tak ayal, pakaian model terbaru selalu menghiasi setiap sudut walk in closet di kamarnya.
Zara menarik satu gaun berwarna merah muda kesukaannya dengan pinggang ramping dan mengembang indah di bagian bawahnya hingga mencapai lutut. Pakaian terlihat pas di tubuh Zara. Membuatnya terlihat segar dan menggemaskan kala bagian bawah gaunnya bergerak seirama langkah kakinya.
Menuju meja rias dan mengaplikasikan krim wajah dan bedak tipis di wajah agar tak terlihat pucat. Sebagai sentuhan terakhir, ia menyisir rambutnya yang setengah basah agar terlihat rapi. Zara tak memakai lipstik di bibir, mengingat bibirnya sudah semerah cerry meski tanpa polesan.
Menggeser pandangan kesamping, Zara menemukan sang suami yang masih terlelap di ranjang. Selimut yang hanya sepinggang, tampak mengekspos bagian tubuh atas Arka. Dada bidang layaknya roti sobek itu terpampang nyata tanpa penghalang. Dengkuran halus terdengar, pertanda pria tampan itu masih terlelap dan tak terusik dengan kicauan burung yang beterbangan di balkon.
__ADS_1
Sebagai rutinitas harian, Zara bergegas menuju dapur guna menyiapkan sarapan. Surti dan para Koki menyambut Nonanya dengan menundukan kepala.
"Nona, tidak seharusnya anda berada di dapur. Biarkan para Koki dan pelayan yang mengerjakannya." Surti merasa cemas, sebab ia tak ingin jika Nonanya sampai terkena percikan minyak panas atau apa pun itu yang bisa membuatnya terluka.
"Bi, bukankah Ibu Mirah juga sering melakukannya? Lagi pula, sudah menjadi kewajiban jika seorang istri mempersiapkan makanan untuk suaminya," ucap Zara, sementara tangannya mulai membuka lemari pendingin dan meraih beberapa macam sayuran dan daging untuk diolah.
"Baiklah, Nona," jawab Surti pasrah.
Perempuan paruh baya itu menatap tubuh mungil itu dari belakang. Gerakan tubuh dan kedua tangannya sangat lihai dan terampil. Seolah memasak bukanlah sesuatu yang asing baginya. Lengkung merah jambu Surti mengulum senyuman. Hatinya begitu berbunga mendapati Zara kini menjadi istri Tuannya. Gadis sederhana itu seolah menjadu pelengkap dari sosok pria kaya nan baik hati seperti Arka.
*****
Kecanggungan senantiasa menyergap kala kedua istri Arkana Surya Atmadja itu hanya berdua. Jika menatap wajah Anastasya, Zara kian merasa berdosa. Netra bulat itu melirik sekilas perempuan cantik yang tengah fokus mengemudi. Tak ada yang aneh dari Anastasya, bahkan perlakuan baiknya pada Zara pun tak berkurang seiring berjalannya waktu.
Gadis mungil itu menghela nafas dalam sebelum berucap dikala menemukan tempat yang ia inginkan.
Anastasya mengerutkan kening hingga tampak beberapa lapisan, namun tak menghentijan laju kendaraan yang ia kemudikan.
"Untuk apa, Zara. Bukankah tujuan kita masih cukup jauh?"
"Saya mohon, Nona," balas Zara mengiba.
Meskipun masih tak mengerti akan maksud gadis di sampingnya itu, Anastasya tetap menepikan kendaraan di lokasi kosong sesuai keinginan Zara.
__ADS_1
"Ada apa Zara. Apa kau sakit dan ingin kembali kerumah?" Anastasya menyentuh kening dan pipi Zara, namun suhu tubuhnya normal dan terlihat baik-baik saja.
"Nona," ucap Zara seketika kemudian menggengam tangan Anastasya erat. Keduanya kini saling berhadapan. "Pukul saya, tampar saya Nona, jika nona memang menginginkannya." Zara sudah mengarahkan satu tangan Anastasya kesalah satu sisi pipinya.
Anastasya terbelalak. "Zara, apa maksudmu!" pekiknya dengan pandangan penuh tanya.
"Nona pasti sangat membenci saya, sebab Tuan Arka sudah membagi cintanya yang seharusnya untuk Nona seorang. Maka dari itu, Nona berhak untuk melakukan apa pun pada saya, sekiranya bisa meluapkan amarah yang selama ini tersimpan."
Netra bening itu mulai berkaca-kaca. Pasrah jika Anastasya memainkan tangan dan harus membuatnya menahan rasa sakit. Mungkin dengan begitu, rasa bersalahnya akan sedikit berkurang.
"Apa yang kau katakan Zara. Semua yang ada dibenakmu itu tidak benar. Semua ini terjadi juga atas keinginanku, dan bukan kesalahanmu." Anastasya menatap gadis yang tengah bersamanya itu lekat dan sesekali mengusap bahu yang sedikit terguncang itu lembut, untuk lebih menangkan. Anastasya tahu benar jika Zara berada dalam posisi yang terhimpit. Jika salah bergerak sedikit saja, justru bisa menyakiti dirinya sendiri.
"Maafkan aku yang sudah membawamu dalam situasi seperti ini. Akan tetapi, perlu kau ketahui, Zara. Jika kau fikir aku merasakan sakit hati atas semua pilihan yang sudah aku ambil ini, maka fikiranmu itu salah besar."
Zara mengeleng samar, tak semudah itu percaya pada pernyataan Anastasya.
"Tidak, Nona. Anda tentulah seorang perempuan normal yang memiliki rasa cinta dan sakit hati. Bagaimana mungkin Nona tidak merasakan itu semua saat Tuan Arka bersedia untuk menikahi saya."
Anastasya menghela nafas dalam. Netranya terpejam sesat untuk menetralisir percikan amarah yang sedikit membakar.
"Zara, harus dengan cara apa aku bisa menyakinkanmu. Sudah aku katakan jika aku sama sekali tak memiliki rasa benci padamu. Apa kau tau itu!" Anastasya meninggikan nada bicaranya dan penuh penekanan.
Zara terdiam, tak berniat untuk menjawab.
__ADS_1
"Karna kami tak saling mencintai, Zara. Dan kaulah istri sesungguhnya yang dipilih oleh Arka, sekaligus orang pertama yang tidur satu ranjang dengannya. Apa kau faham? Berhentilah berfikir yang macam-macam. Aku justru senang akan kehadiranmu yang kini membuat hari-hari arka mulai berwarna."
Bibir mungil milik Zara bergetar. Ia tak mampu berkata-kata. Hanya diam terpaku dengan tubuh melemah