Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Panggilan Sayang


__ADS_3

Selepas pergulatan panas melelahkan dan penuh kasih sayang itu, Arka masih tetap terjaga hingga fajar mulai menyapa. Tatapannya hanya tertuju pada sosok mungil cantik yang tengah terlelah dengan berbantalkan lengannya. Wajah polos tanpa hiasan itu memang benar-benar cantik alami. Layaknya seorang putri khayangan yang turun kebumi.


Sudah tak terhitung beberapa kali pria itu menciumi seluruh wajah sang istri, namun itu semua belum membuatnya puas.


"Terimakasih, untuk malam ini cantik." Satu kecupan mendarat di puncak hidung mbangir sang istri.


Sebagai seorang pria mapan dengan kerajaan bisnis tersebar di mana-mana. Sudah begitu banyak gadis cantik yang ia temui, bahkan tak jarang para gadis tersebut menawarkan diri untuk dinikahi atau bahkan rela jika hanya dijadikan simpanan. Akan tetapi pria tampan itu dengan tegas menolak. Baginya pernikahan ialah hubungan sakral. Jika bisa meminta, ia akan memilih menikah satu kali dengan gadis yang ia cinta hingga maut memisahkan.


Pada kenyataanya, semua diluar ekspektasi. Dirinya terlanjur menikah dengan seorang gadis karna iba, tanpa rasa cinta. Dan setelah semua terjadi, takdir justru mempertemukannya dengan gadis yang mampu mengobrak abrik seluruh perasaanya. Merasakan jatuh cinta sesungguhnya pada gadis kampung nan bersahaja.


Arka menyerigai tipis kala mengingat pergumulan panasnya kembali. Ia pun bisa melihat dengan jelas bercak darah perawan dari ruang kenikmatan sang istri. Jika dirinya lelaki pertama bagi Zara, maka begitu pun sebaliknya, Zara juga yang pertama untuknya.


Walau menikahi Anastasya secara resmi, namun belum sekali pun ia menggaulinya. Tidur pun juga dalam ranjang yang berbeda. Baginya, Anastasya tetap kekasih dari sahabat karibnya. Ia pun juga tak merasakan jatuh cinta, meski kecantikan Anastasya tak perlu dipertanyakan lagi. Tubuh sintal nan tinggi semampai bak model, kulit putih bersih dan rambut lurus yang indah. Akan tetapi semua yang ada pada diri gadis itu tak membuat Arka tergoda.


Arka menghela nafas dalam. Wajah imut Zara begitu mengodanya, hingga ia ingin terus menerkamnya, namun sebisa mungkin ia tahan dan menggeser kepala sang istri yang berada di atas lengannya. Satu kecupan di bibir dan usapan lembut di puncak kepala sebelum ia bergegas kekamar mandi untuk membersihkan diri.


Guyuran air dingin membuatnya lebih segar. Nafsu yang sempat bangkit kini mulai bisa ia redam. Tubuh tinggi sempurnanya menengadah, menikmati segarnya air yang mengucur deras. Bayangan wajah imut Zara, kembali muncul dalam bayangan. Lagi-lagi Arka mengulas senyum, mengingat bagaimana ia melewati indahnya malam ini.


"Kenapa semakin hari, aku semakin tergila-gila pada istriku sendiri."


Menyandarkan kedua tangannya di dinding, pria berbadan kekar itu membiarkan guyuran air shower mengalir dan memberi sensasi pijitan di punggungnya. Merasa lebih segar, ia pun menyudahi ritual mandinya dan lekas mengganti pakaian di walk in closet.


Sementara itu, seorang gadis di bawah selimut tengah mengerjap. Bulu mata lentik itu terlihat bergerak-gerak seirama kerjapan. Menggeliat kesana kemari, mencari kenyamanan. Akan tetapi aktifitasnya seketika terusik akibat rasa nyeri yang berasal dari bagian bawah perutnya. Gadis itu pun tersadar dan membulatkan netra kala ia berusaha menyibak selimut yang menutup tubuhnya hingga ke leher.


Apa? Haduh, di mana pakaianku.


Zara dibuat cemas saat mendapati tubuhnya yang tanpa sehelai benang pun. Menatap kearah lantai, mencari-cari di mana letak pakaiannya. Ia mengingat jika semalam Arka membuangnya kesega arah. Gadis itu pun kian frustrasi mendapati sang suami tak ada di sampingnya.


Astaga Tuan Arka bahkan sudah bangun lebih dulu.


Zara panik seketika setelah sekian lama masih tak jua menemukan di mana pakaiannya. Langkah mulai terdengar, gadis mungil itu pun terlonjak dan bangkit seketika. Menyambar satu-satunya pakaian di lantai yang ia temukan kemudian memakainya.


T-shirt warna abu-abu milik Arka kini melekat di tubuh mungilnya. Terlihat kedodoran hingga menutupi setengah pahanya. Beruntunglah pintu terbuka saat Zara sudah berhasil mengenakan pakaian sang suami meski tanpa bawahan.


Tubuh tinggi sempurna berbalut kemeja abu-abu dan celana gelap itu muncul dari pintu yang terbuka. Pria itu terkejut saat tak mendapati tubuh istrinya di atas ranjang, namun beberapa detik kemudian pria tampan berjambang tipis itu terperangah dan mengulas senyum tipis di bibir ketika menemukan sang istri yang berdiri di sudut kamar dengan menundukan kepala malu.


"Zara, kau sudah bangun?" Arka berjalan mendekati sang istri yang mana membuat gadis itu malu tiada terhingga.

__ADS_1


"I-iya Tuan," jawabnya terbata.


Sungguh indah pemandangan yang tersaji di hadapannya. Pakaian miliknya, justru terlihat menggemaskan kala di pakai Zara. Hanya menutupi bagian atas tubuhnya sampai separuh paha. Arka tak tahan, diraihnya tengkuk sang istri hingga menyatukan kedua bibir itu kembali. Menyesapnya rakus seperti tak ada hari esok. Merasa sang istri mulai kehabisan nafas, ia pun seketika menyudahinya.


Arka kemudian duduk di sofa yang berada di sebelah nakas dan mendaratkan tubuh mungil Zara di atas pangkuannya. Melingkarkan tangan kokohnya di pinggang ramping sang istri dan mengesekan wajahya di perut yang tertutup pakaian miliknya. Uyel-uyel gemas.


"Tuan, saya masih belum mandi," pekik Zara yang setengah terkejut dengan ulah spontan suaminya.


"Kenapa, tidak masalah bukan?" Arka hanya menjawab santai.


"Sudah pasti saya bau, Tuan."


"Hustt..!" Menempelkan telunjuk di bibir Zara. " Ganti nama panggilanmu, aku sangat tidak suka itu," sambung Arka kemudian.


Hah, bukankah dari dulu anda tak mempermasalahkan tentang panggilan itu.


"Lalu saya harus mengantinya dengan apa?"


Berada dalam posisi seperti ini, membuat keduanya lebih sejajar. Zara di atas pangkuan Arka pun masih sedikit mendongak untuk menjangkau wajah sang suami.


"Bisa kau ganti dengan cinta, sayang, baby atau honey."


Gadis itu sedikit terkejut, semua panggilan yang disebutkan terdengar menggelitik di telingannya.


"Terserah Tuan saja," jawab Zara pasrah.


Arka berfikir sejenak sembari menatap lekat wajah cantik istrinya.


"Semua pangilan sayang terlihat cocok untukmu. Sweety bagaimana? Karna kau sangat manis dan menggemaskan." Mencubit pipi sang istri dengan gemasnya.


Gadis itu meringis menahan rasa sakit akibat ulah Arka. "Terserah anda."


"Baiklah, karna aku menyukai semua beberapa panggilan sayang, maka aku pun akan memangilmu dengan sesuka hatiku. Dan kau, panggil aku sayang. Mulai detik ini, buang sebutan Tuan dari bibirmu itu untukku," titah mutlak Arka.


"Baik, Tuan." Ops... membekap mulutnya seketika kemudian membukannya lagi. "Maksud saya sa-sayang." sambungnya sedikit terbata.


Kenapa terdengar aneh begini.

__ADS_1


Arka tergelak senang, kemudian tangannya meraih benda yang berada di laci nakas.


"Maaf, saat membelinya aku justru lupa memberikannya padamu," ucap pria tampan itu dan menyerahkan sebuah ponsel yang sempat dibelinya beberapa hari lalu.


Zara terpaku pada benda pipih yang membuatnya terhipnotis dengan tampilannya yang sudah terlihat elegan dengan berlian di salah satu sisinya.


"Ini untuk saya?" tanya gadis itu untuk meyakinkan.


Arka menganguk tanda mengiyakan. Sementara itu dengan gemetar Zara menerima benda yang kini sudah berada di tangannya.


"Di sana sudah tersimpan beberapa kontak, kau bisa menambahkannya lagi jika kau mau. Misalnya kontak orang tua, kau masih mengingatnya bukan?"


Zara mengganguk dan mulai menggeser layar ponsel. Gadis itu terbelalak mendapati cover depan layar ponsel bergambar wajah tampan Arka dengan setelah jas lengkap dan senyum yang mengembang.


"Kenapa kau terlihat terkejut seperti itu?" Arka tak mampu menahan gelak mendapati ekspresi wajah sang istri yang sepertinya masih belum terbiasa dengan kehadiran dirinya dalam kehidupan gadis mungil itu.


Zara hanya tersenyum kikuk dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Tiba-tiba Arka meraih ponselnya yang berada di atas nakas dan mengusap layar depan.


"Bagaimana, cantik bukan?" ucap Arka sembari menunjukan Cover depan layar ponsel bergambarkan dirinya yang tengah bermain pasir di pantai beberapa hari lalu.


"Aku memotretmu secara diam-diam dan kau pasti tidak menyadarinya. Bukankah itu terlihat sangat natural, kau tersenyum begitu manisnya."


Gadis itu terdiam, menatap pria di depannya lembut. Bagaimana pria yang dulunya ia anggap dingin kini berubah seratus persen setelah menjadi suaminya. Penuh kelembutan dan penyanyang.


"Sayang, kau bisa mengunakannya kan?" Arka mengarahkan pandangannya pada ponsel di tangan sang istri.


Zara pun mengerjap dan mulai memainkan ponselnya. Kemudian menekan beberapa tombol untuk menambahkan kontak kedua orang tuanya.


Seperti dalam bayangan Arka, pria itu tak mengalihkan sorot netranya dari tangan mungil yang kini bergerak lincah di atas layar ponsel. Arka dibuat gemas dengan jemari putih nan lentik itu hingga tanpa sadar menggigitnya gemas.


"Aw..."


Gadis itu terbelalak dan memekik kesakitan, sementara sang suami hanya tersenyum dan mengusap bekas gigitan tanpa rasa berdosa.


Kenapa Tuan Arka semakin menakutkan begini si.

__ADS_1


__ADS_2