
Lelah, penat, dan segala beban, serasa sirna kala guyuran air hangat mulai mengalir membasahi kepala dan seluruh tubuh gadis mungil yang kini tengah membersihkan diri tersebut. Netranya pun terpejam menikmati sensasi pijatan di punggungnya dan menghirup aroma wangi sabun yang membuatnya kian merasa tenang.
Setelah dirasa cukup, ia pun menarik handuk yang tergantung dan mengeringkan tubuh beserta Surainya kemudian membalut seluruh tubuhnya dengan handuk piyama.
Berjalan kearah walk in closet sembari mengeringkan surainya dengan handuk kecil, Zara mengamati beberapa tempat pakaian yang sama sekali belum ia buka untuk melihat isinya.
Tangan mungilnya bergerak membuka pintu tempat pakaiannya yang letaknya berdampingan dengan piyama tidurnya. Netranya pun terbelalak dan membulat sempurna kala mendapati puluhan pakaian tidur transparan.
"Apa ini? Kenapa terlihat menerawang seperti ini." gumam gadis berlesung pipi itu. Akan tetapi tangannya meraih satu lembar gaun itu untuk melihatnya dengan saksama.
Gadis itu pun bergidik. Tak pernah membayangkan jika dirinya harus mengenakan pakaian semacam ini saat sedang bersama suaminya.
"Lalu siapa yang menyiapkan semua ini?" Zara menempelkan pakaian berwarna hitam itu di tubuhnya.
"Ukurannya pun sepertinya pas denganku. Jadi, bisa dipastikan jika ini bukanlah pakaian Nona Anastasya." Warna gelap pada pakaian itu pun terlihat memyatu dengan kulitnya yang putih bersih.
Merasa enggan untuk memakai, Zara pun meletakan kembali pakaian itu ketempatnya semula dan mengantinya dengan gaun malam selutut berlengan sabrina yang mengekspos kedua bahu putihnya.
"Kenapa tubuhku serasa lelah seperti ini." Zara mendaratkan tubuhnya di sofa kamar. Menonton televisi dan bersandar pada punggung sofa dengan setengah berbaring.
Senyumnya terulas mendapati sepiring potongan buah segar dan jus yang sudah dipersiapkan Surti untuknya.
Meraih dan mulai menyuapkan potongan Kiwi kedalam mulutnya sembari menikmati serial drama di layar televisi.
Kunyahan dalam mulutnya terhenti saat netranya tertuju pada satu adengan drama yang terlihat menyentuh. Fikirnya kembali pada saat dirinya berdua dengan Anastasya. Agenda rutin harian untuk mengunjungi toko bunga pun urung, berganti dengan sesi curhat dan mencurahkan beban yang sempat terpendam.
Zara tak menyangka jika kehidupan Anastasya tak lebih baik darinya. Sama-sama berasal dari kampung dan terlahir dari keluarga tak berpunya.
Apa mungkin selama dua tahun membina rumah tanngga, Tuan dan Nona tak juga merasakan cinta. Ya walau setidaknya sedikit saja percikan-percikan asmara kala keduanya sedang bersama.
Gadis itu memanyunkan bibirnya. Setelah mendengar pengakuan dari Anastasya jika ia tak pernah sekalipun tidur berdua dengan Arka, entah dirinya harus senang atau justru sebaliknya.
"Sinta, sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Tapi di mana?"
__ADS_1
Zara berfikir keras, berusaha menemukan wajah pemilik nama yang sempat disebutkan Anastasya. Ia coba memutar kembali memorinya beberapa bulan belakangan ini setelah dirinya bertemu dengan sosok Anastasya. Beberapa saat kemudian gadis itu menegang, menemukan wajah pemilik nama yang ia cari.
"Sinta. Bukankah dia perempuan yang sempat kami datangi di sebuah klab malam saat perayaan ulang tahun waktu itu. Dari sekelompok wanita berpakaian terbuka itu, aku yakin jika ia salah satunya. Tetapi kena ia justru ingin menjerumuskan Nona kelembah hitam?" Gadis itu masih bergumam seorang diri sembari menyuapkan buah segar kemulutnya tanpa henti.
Dan kekasih Nona yang bernama Rangga, tidak lain dialah Ayah dari Abigail dan bukan Tuan Arka.
Zara menggigit bibir bawahnya, serasa ikut merasakan penderitaan yang dialami Anastasya. Beruntung kala malam itu ia berhasil lepas dari cengkeraman Sandy yang berusaha untuk menodainya. Jika tidak, kemungkinan besar ia pun bernasib sama dengan Anastasya.
Kenapa aku bahkan teringat pada Kak Sandy. Lalu di mana ia sekarang, masih bekerja di kota atau bahkan kembali kekampung.
Pintu kamar terbuka tanpa suara. Sesosok pria tampan yang muncul di balik pintu itu seketika tersenyum lembut menemukan gadis yang memenuhi hatinya itu tengah duduk melamun, namun dengan mulut yang tak henti mengunyah.
"Apa yang sedang kau fikirkan, sayang," ucap Arka yang kemudian menghampiri sang istri dan duduk di sampingnya.
Gadis itu terkejut dan nyaris menjatuhkan piring buah di tanganya jika sang suami tidak lebih dulu menopangnya.
"Sa-sayang, anda sudah pulang." Entah mengapa panggilan itu masih terasa aneh bagi gadis berusia delapan belas tahun itu. Mengambil alih piring buah dan mendaratkannya dimeja kemudian mencium punggung Arka seperti biasanya.
"Anda ingin memakan buah?" tawar Zara. "Rasanya sangat manis," sambungnya lagi.
Arka tergelak dan mencubit puncak hidung mbangir sang istri.
"Tidak ada yang lebih manis darimu, sayang," goda Arka kemudian mengusap leher dan bahu Zara yang sedikit terbuka dengan begitu lembut.
Gadis itu merinding bercampur geli, merasakan sentuhan dari seorang pria yang sudah berstatuskan suaminya.
"Sayang, apa kau lelah?" Arka menatap wajah sang istri dan mengengam tangan mungilnya.
Gadis itu pun mengeleng samar dan berucap, "Tidak."
"Jika tidak, bagaimana jika membantuku mandi dan memijat kepalaku sebentar. Aku sangat lelah." Terlihat jelas dari wajah dan lingkaran hitam di area netranya. Pria itu benar- benar lelah.
Tanpa perlu menjawab sebagai persetujuan, gadis mungil itu mulai membuka jas yang membalut tubuh kekar suaminya.
__ADS_1
"Biar aku saja yang melepasnya, kau siapkan dulu airnya hangatnya untukku." Arka mengambil alih sang istri saat gadis itu terlihat gemetar membuka satu persatu kancing kemejanya dan meminta pada istrinya itu untuk melakukan hal yang lain.
Zara menuangkan beberapa tetes aroma terapi dalam air hangat yang ia isi di bathup, juga tak lupa sabun mandi beraroma mint kesukaan suaminya itu.
Ia pun sudah memposisikan tubuhnya dan duduk di kursi kecil di sisi bathup. Arka yang hanya menggunakan boxer itu mulai memasuki kamar mandi kemudian menutup pintunya rapat. Sempat menatap wajah sang istri yang tertunduk dan masih begitu malu melihat tubuhnya yang dalam kondisi seperti itu.
Zara hanya mampu menghela nafas dalam dan mengatur detak jantungnya saat pria tampan itu sudah memposisikan kepala tepat di hadapannya. Mengadah, menatap langit-langit ruangan dengan merebahkan kepalanya di sudut Bathup tepat di hadapan Zara.
"Sayang, biar saya pijat bahu anda lebih dulu," pinta Zara ketika hendak memulai proses pemijatan.
Pria yang sudah menutup netranya dan menikmati aroma yang terasa menenangkan itu pun mendongak, guna menjangkau wajah sang istri.
"Baiklah, apa pun akan aku lakukan untukmu." Pria itu kemudian bangkit dan membuat tubuhnya setengah duduk.
Zara kian menelan salivanya berat. Bahu kokoh putih bersih dengan otot yang menonjol itu terpampang jelas di hadapannya. Tangan mungilnya yang sedikit gemetar itu mulai menyentuh bagian tubuh tak tertutup kain itu, kemudian memberikan pijatan ringan dan tak menyakitkan.
Arka memejamkan kedua netranya kembali. Gerakan tangan sang istri serasa begitu nyaman dan menenangkan. Tangan mungil itu bergerak lincah dan terarah, seakan faham dimana letak tubuhnya yang terasa tegang dan lelah.
Setelah beberapa lama memijat bahu, kedua tangan Zara mulai naik memijat leher kemudian kepala Arka. Memijatnya lembut hingga sang suami hampir tak mampu membuka netranya karna mengantuk. Akan tetapi beberapa detik kemudian pria itu tersadar jika tengah berada di kamar mandi.
"Sayang," lirih Arka mengucapnya sementara tanganya meraih tangan sang istri yang masih sibuk memijat untuk ia cium. Pria itu mendongak dan bertemu dengan wajah sang cantik istrinya. "Apa kau merasa bahagia, hidup bersamaku," ucapnya sementara netranya menatap netra Zara lekat. Berusaha menjari jawaban jujur di sana.
Gadis itu pun mengerjap, kemudian menunduk membalas tatapan suaminya.
"Ten-tentu saja, sayang. Bukankah kita sudah hidup bersama selama ini." Itulah kalimat yang terucap dari bibir Zara. Tidak akan mungkin ia berucap jika dirinya tak bahagia. Meski sejujurnya hubungan ini masih rumit dan sulit terurai.
"Benarkah?" jawab Arka menggantuk. "Tetapi sejujurnya bukan ucapanmu yang tergambar jelas dari tatapanmu. Katakan sayang, apakah masih ada sesuatu yang membuatmu tidak tenang?" Arka tanpa henti menghujani tangan mungil itu dengan sentuhan hangat bibirnya. Jika Zara berucap bahagian, namun kenapa yang ia tangkap justru berbeda.
"Tidak ada, sayang. Sungguh saya mengatakan yang sebenarnya." Zara voba berucap semantap mungkin. Menghilangkan sejejak kecurigaan dari pengamatan suaminya.
Pria itu pun menghela nafas lega kemudian memutar tubuhnya hingga keduanya saling berhadapan. Tanpa aba-aba, wajah Arka semakin mendekat. Bibir sexynya meraup bibir mungil sang istri yang gelagapan yang tampak belum siap menerima serangan darinya.
Semakin lama ciuman itu semakin dalam. Semua sebagai luapan rasa gembira yang tak terkira dari Arka. Hingga ia pun tak ingin melepaskan sang istri dengan begitu saja.
__ADS_1