Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Jangan Pergi


__ADS_3

Zara menatap lembaran uang dalam gengamannya. Hanya inilah yang ia bawa sebagai ongkos untuk sampai kekampung halamannya. Melirik sebentar kearah argometer taksi, gadis yang wajahnya tampak pucat itu mengamati keadaan sekitar sebelum meminta sopir taksi untuk menepi.


Jika terus mengunakan jasa taksi, maka uang yang ia bawa tidak akan cukup. Hingga ia memilih angkot yang bisa mengantarkannya ketempat tujuan dengan biaya cukup terjangkau.


Gadis bernetra sayu itu tampak membisu di sepanjang perjalanan. Ragu akan langkah selanjutnya yang akan ia ambil selepas sampai di depan rumahnya.


Sang ibu memang sempat berucap jika tak lagi mengakui dirinya sebagai anak. Akan tetapi, gadis itu pun faham jika kalimat tersebut terlontar akibat emosi sesaat yang tentunya berlandaskan amarah hingga menimbulkan sesal dikemudian hari.


"Berhenti di situ pak," pinta Zara pada sopir angkot seraya menunjukan jalan masuk perkampungan di mana tempat tinggalnya berada.


Angkot berwarna biru itu pun menepi, selepas membayar ongkos, Zara melanjutkannya kembali dengan berjalan kaki. Lelah dan lapar tak lagi dirasa. Hari pun sudah mulai senja dan hampir menggelap. Akan tetapi, Zara tak patah arang, ia harus bisa mendatangi orang tuanya sebelum malam hari datang. Walau lembar uang dalam gengaman telah habis tak tersisa.


Perkampungan yang cukup sepi, membuatnya sedikit ngeri dan memilih mempercepat langkahnya. Lengkung tipis merah jambu itu mengulas senyum, saat menatap bangunan sederhana yang sedikit terlihat dari kejauhan.


Ia terus melangkah, meski keadaan sekitar sudah mulai gelap. Temaram lampu di serambi rumpah pun tampak menyala. Ada rasa kerinduaan yang mendalam yang kini gadis itu rasakan. Kampung kelahiran yang beberapa bulan ini dirinya tinggalkan.


Sepatunya sudah mulai menginjak tanah halaman depan rumah. Untuk sesaat, gadis mungil itu terpaku, dan mematung. Langkahnya terhenti kala mendengar tangisan dari dalam rumah dengan pintu tertutup rapat itu.


Bulir bening mulai menitik. Sedu sedan dari kedua orang tuanya, menyapa gendang telinga. Sebongkah rasa percaya diri untuk berani menunjukan diri dan mengucapkan maaf, kini hancur seketika bersama raungan kedua orang tua yang sudah membesarkannya.


Meremas pakaiannya sendiri, tubuh kecil itu melemah dan bersimpuh di tanah. Masih adakah kata maaf yang tersimpan untuknya. Tak ada daya, Zara yang berniat memasuki rumah justru mengurungkan niatnya.


Berbalik arah, dia berjalan tertatih menuju sebuah tempat yang bisa digunakan untuk berlindung. Tak menemukan sebuah bangunan, gadis itu pun menemukan sebuah pohon rindang dan melangkahkan kakinya ke sana.


Menyandarkan punggung pada batang pohon, Zara menyentuh perutnya yang terus berbunyi minta diisi. Bulir bening tak henti menitik, isak tangis terdengar lirih. Entah seperti apa kelanjutan hidupnya dengan bayi yang berada di dalam kandungannya. Rasa lelah mulai menyapa, untuk berjalan pun sepertinya sudah tak mampu lagi. Hingga ia hanya bisa diam dan mulai terlelap.


Sapaan di telinga dan guncangan di bahu samar terasa. Akibat rasa kantuk yang teramat, Zara tak memperdulikan sekelilingnya.


"Zara, bangunlah," ucap salah seorang yang juga mengguncang bahunya pelan.


Netra bening itu mengerjap, keadaan sekitar gelap gulita dan hanya disinari cahaya rembulan. Gadis itu pun terkejut kemudian mendongak, menatap wajah seseorang yang sudah membangunkan tidurnya.


"Anda siapa?" Wajah seseorang itu tampak tak jelas sebab minim pencahayaan.


"Zara, ini Bibi Ratih." Menundukan badan, Ratih pun mengusap wajah sang keponakan yang terasa dingin.


"Bibi!" pekik Zara kemudian mendekap tubuh perempuan paruh baya itu sebelum menumpahkan bulir beningnya kembali.


Bahu dan punggung gadis itu berguncang, seirama tangisan. Ratih mengusap punggung mungil itu dan berusaha menenangkan.

__ADS_1


"Tenanglah. Kau akan baik-baik saja bersama Bibi." Ratih menarik tubuh lemah Zara, kemudian memapah dan membawanya menuju rumah yang tak berada jauh dari tempat itu.


******


Anastasya menatap dua koper miliknya dengan perasaan gundah. Gadis itu tengah duduk di jajaran kursi sebuah stasiun kereta. Berusaha menyimpan dan menutup rapat semua kenangan, Anastasya memantapkan hati untuk pergi meninggalkan kota, menuju desa kelahiran.


Tak ada sesuatu apa pun yang mampu mencegah keinginannya. Ketika penumpang lain mulai bergegas, ia pun mulai bangkit kemudian menarik kedua koper miliknya. Senyumnya mengembang, setidaknya ada secerca harapan untuk meraih kebahagiaan di kampung halaman.


Sudah berdiri di ambang pintu kereta yang terbuka lebar, tiba-tiba terdengar suara sapaan menyentuh kegendang telinga.


"Tasya..."


Tubuh gadis itu seketika mematung, tak ada orang lain yang memangil namanya dengan sebutan itu terkecuali, Rangga.


Gadis itu menghela nafas dalam. Mungkin itu hanyalah ilusi diri semata, yang berusaha untuk menggagalkan niatnya.


Berusaha abai, Anastasya mulai melangkah kembali hingga separuh tubuhnya sudah memasuki kereta tersebut. Akan tetapi, kini bukan hanya namanya yang disebut, sebuah tarikan tangan pun menyapa tubuhnya hingga kembali menuruni kereta.


Gadis yang terkejut setengah mati itu pun masih berusaha mengumpulkan kesadaran. Bahkan kedua koper miliknya pun terhempas keluar saat kereta mulai berjalan.


"Apa yang anda lakukan? Saya bahkan sudah ketinggalan kereta karna ulah anda." Anastasya yang masih tertinduk itu, masih menyeka kotoran di pakaiannya, masih belum menatap sosok tubuh yang sudah membuatnya hilang kendali dan terjatuh.


Apa. Su-suara itu.


Gadis itu pun mendongak, dan alangkah terkejutnya saat mendapati wajah dari pemilik suara familiar itu.


"Kau?" Anastasya mengepalkan tangan. Bergegas bangkit dan menarik koper tanpa memperdulikan pria yang tengah berusaha mencari perhatiannya.


Tak ingin kehilangan, pria itu pun menarik kembali lengan sang gadis.


"Aku mohon. Tetap bersamaku dan jangan pergi dariku," cegah Rangga Saat Anastasnya hendak berlalu pergi.


"Untuk apa!" geram Anastasya. "Untuk bisa kau sakiti lagi?" sambung sang gadis dengan meninggikan nada bicaranya.


"Anastasya, aku mohon, maafkan aku. Ini semua bukan atas kehendakku. Tapi aku berjanji, selepas ini, kita akan membangun semuanya dari awal lagi."


Rangga, pria tampan berkemaja hitam itu menatap lekat wajah seorang gadis yang beberapa tahun ini ia tinggalkan. Berusaha tetap menjaga hati, pria bertinggi badan 185 sentimeter itu tak pernah menjalani hubungan dengan wanita manapun selama hidup di negri orang. Cinta dan seluruh perasaannya tetap ia simpan teruntuk Anastasya seorang.


Berusaha tak goyah, Anastasya mendekati pria bertubuh tegap itu. Melemparkan pandangan yang tak sehangat dulu lagi. Bagi Anastasya, Rangga hanyalah bayangan usang masalalu yang perlu untuk dibinasakan.

__ADS_1


"Aku sudah lama memaafkanmu, tapi berhentilah mencegah keinginanku. Ingat, saat ini kau bukan siapa-siapa lagi bagiku."


Ingin menghindar,meskipun hati melawan. Anastasya menarik kembali koper dan kembali melangkah. Sementara Ragga, tak kuasa untuk bisa menahannya kembali. Akan tetapi, baru beberapa detik melangkah, lagi-lagi terdengar seseorang menyebut-nyebut namanya.


"Nona, kembali!"


Anastasya pun menoleh, mencari arah sumber suara.


Seorang perempuan paruh baya berpakaian pelayan berlari tergopoh berusaha mengejar seorang gadis pemilik nama yang beberapa kali ia sebut.


"Bi Surti, ada apa?"


Menghentikan langkah, Surti yang masih terenggah itu menarik kedua lengan nonannya agar tak berlalu pergi.


"Saya mohon, nona. Jangan pergi." Berurai air mata. Surti tetap menarik tubuh nonanya itu, walau sang nona tidak menunjukan pergerakan.


"Iya, tapi ada apa. Apa yang sudah terjadi, Bi? Katakan? Jangan membuatku bingung seperti ini." Anastasya mengusap pelan kedua lengan Surti. Perempuan paruh baya itu terlihat sangat cemas dan kacau, hingga ia pun harus lebih dulu menenangkan.


"Nona Zara--"


Zara


"Zara, ada apa dengan Zara?" Mendengar nama Zara, Anastasya pun menjadi khawatir. Ada apakah gerangan dengan gadis itu, hingga membuat Surti sebegitu panik.


"Nona Zara menghilang sejak kemarin dan hingga saat ini masih belum ditemukan keberadaannya."


"Apa?"


Anastasya merasa, jika keadaan sekarang sedang tidak baik-baik saja. Ia memang dapat memperkirakan sedari awal, bahwasanya pernikahan Arka dan Zara yang sempat ditutupi, akan meledak jua jika beberapa orang terdekat dengan mereka, mengetahuinya.


"Hanya Nona Anastasyalah satu-satunya harapan kami untuk menjadi penegah untuk meluruskan masalah ini, dan---"


"Baiklah, aku akan kembali." Anastasya menarik tangan Surti untuk meninggalkan stasiun dengan meninggalkan kedua kopernya.


Surti kian terharu. Dirinya sadar jika jedua suami Tuannya memiliki tingkat kepudian pada sesama dengan sama rata. Hingga yakin jika Anastasya tidak akan mungkin diam saja, jika menyangkut masalah Zara.


Sementara itu, Rangga yang masih berdiri dan ditinggalkan kedua wanita itu, mengulum senyum tipis di bibir.


Seolah mengerti, Rangga menarik koper yang sengaja ditinggalkan oleh Anastasya dengan kedua tangannya. Bukan hanya Surti yang merasa senang, akan urungnya kepulangan Anastasya, akan tetapi Ranggalah yang paling merasakan kebahagiaan.

__ADS_1


Setidaknya, dengan menahan sang gadis untuk tetap berada di kota, membuatnya lebih leluasa untuk bertemu sekaligus berusaha keras untuk mendapatkan kata maaf dari seseorang yang teramat dicintainya itu.


__ADS_2