
Hari yang ditunggu pun tiba. Hotel berbintantang milik keluarga Atmadja disulap seindah mungkin sebagai tempat resepsi. Dekorasi indah terlihat disetiap sudut ruangan. Memanjakan sepasang netra siapun yang memandang.
Dekorasi yang didominasi warna silver kian membuat ruangan pesta tersebut terlihat mewah dan juga elegan. Bunga-bunga segar yang di atur seapik mungkin, membuat ruangan yang memang sudah terlihat wah itu kian memiliki daya pikat tersendiri. Seolah tempat tersebut sebagai bentuk gambaran rasa bahagia pada sepasang suami istri yang tengah berbahagia itu.
Senang, sekaligus tegang. Begitulah kiranya kalimat paling tepat yang ditujukan untuk Arka. Wajah tampannya terlihat gugup, bahkan peluh mulai mengembun di pelipisnya. Tak terhitung berapa kali ia sudah menyekanya dengan tisu, Ac ruangan yang diatur serendah mungkin pun tak mampu menghilangkan rasa gugupnya.
Ya Tuhan, Kenapa aku setegang ini. Lebih tegang dari pada saat ijab kabul waktu itu.
Arka terlihat beberapa kali mengatur nafas. Menarik nafas dalam dan melepasnya perlahan, hingga beberapa kali. Pria itu sudah terlihat rapi dan tampan dengan tuxedo berwarna gelap yang melapisi tubuh sempurnanya. Surai hitam legamnya pun terlihat tertata berkat seseorang yang membantunya.
Akan tetapi, semua itu terasa percuma saat beberapa saat menunggu namun sang istri masih tak terlihat batang hidungnya.
"Astaga, kenapa lama sekali," gumam Arka setelah beberapa kali memeriksa Arloji di pergelangan tangannya. Ia mulai lelah menunggu.
Sam yang berdiri di sudut ruangan, tampak mengulum senyum tipis, sedikit menertawakan ketegangan tuannya dalam hati.
"Mungkin tidak akan lama lagi, Tuan." Sam pun memeriksa Arloji di pergelangan tangannya. Ini memang hampir mendekati waktu dimulainya acara resepsi, dan para perias yang ditunjuk olehnya tak mungkin berani untuk mengulur-ulur waktu.
"Semoga saja," balas Arka dengan ekspresi wajah tak bersahat. Ia pun sudah terlihat tak sabaran.
Benar saja, beberapa saat kedua pria itu terdiam, dari pintu yang mulai terbuka muncullah sesosok gadis cantik bak bidadari yang tersenyum manis kearah Arka. Siapa lagi dia, jika bukan Zara. Ratu sehari sekaligus pemilik pesta hari ini.
Zara terlihat luar biasa cantik dengan mengenakan Ball gown warna silver berlengan sabrina yang mengekspos leleh putih nan jenjangnya. Make up yang diatur senatural mungkin seusai usianya yang masih belia. Nyatanya membuat Zara terlihat lebih segar dan semakin cantik.
Tampilannya pun dipermanis dengan tambahan Veil, mahkota, dan anting berlian, dengan sebuket bunga ditangannya. Semakin membuat gadis berusia 18 tahun itu menjadi pusat perhatian siapa pun yang melihatnya.
Arka tercengang, menelan ludahnya kasar menatap wajah sang istri yang berjalan menghampirinya. Pria itu sama sekali tak berkedip, dengan tatapan tetap terfokus pada gadis luar biasa cantik dan menggemaskan itu.
Model gaun yang dipilih pun terlihat sangat pas ditubuhnya, dan membuat perut sedikit buncit sang istri samar terlihat. Benar-benar luar biasa batin Arka. Seakan tiada celah sedikit pun pada apa yang tersaji di hadapannya. Semua terlihat sempurna.
"Sayang," ucap Zara yang mendapati sang suami terus menatapnya tanpa kedip. "Kenapa, ada yang aneh denganku?" tanya gadis itu.
Arka menggeleng samar, berusaha mengumpulkan lagi kesadaran kemudian berjalan lebih mendekati istrinya hingga tubuh keduanya saling menempel.
Cup
Satu kecupan hangat mendarat di kening Zara singkat.
"Apa ini yang kau maksud dengan kejutan?"
Gadis itu pun mengangguk dan menunduk malu-malu.
"Kau luar biasa cantik, sayang." Arka menunduk untuk bisa menjangkau bibir kemerahan istrinya. Kemudian menyatukan kedua bibir itu untuk waktu sedikit lama.
Sam hanya memalingkan wajah, ketika lagi-lagi dirinya disuguhi kemesraan tuannya.
"Jika kau sudah berhasil mengejutkanku, maka kali ini giliran diriku lah yang akan mengejutkanmu." Terulas senyum di bibir pria itu. Ia pun lekas mengandeng tangan sang istri untuk mulai memasuki tempat resepsi.
Zara masih tak mengerti, apa kiranya kejutan yang dimaksud oleh suaminya itu. Hingga sebuah pintu lebar terbuka, di mana di lantai tempat keduanya berpinjak terdapat karpet merah yang membentang.
Riuh tepuk tangan bergema dari para undangan yang datang memenuhi tempat resepsi. Begitu banyak yang mengabadikan momen tersebut dari kalangan media dan tetamu yang datang. Keduanya berjalan elegan dan melemparkan senyuman pada keluarga dekat dan tamu yang menyaksikan.
__ADS_1
Zara masih sulit mengendalikan emosinya saat dirinya disuguhi pemandangan luar biasa dari dekorasi pernikahan yang sesuai dengan impiannya. Ruangan sangat luas itu terlihat sangat berkelas. Semua benda dan ornamen di dalamnya nyaris berwarna silver seperti gaun yang ia kenakan.
Rasa haru pun menyeruak, kedua neyranya mulai berkaca-kaca. Terlebih saat ia melihat jajaran orang-orang penting dalam hidupnya berdiri menyambut berbaur dengan tetamu lain dan menatapnya dengan rasa bahagia.
Apa ini yang dimaksud kejutan oleh suamiku?
"Jangan menangis, sayang. Ingat! ini adalah hari bahagiamu. Kau harus terlihat senang seharian ini, sebagai wujud terimakasihmu pada suamimu yang tampan ini," goda Arka saat keduanya masih terus melangkah menapaki karpet merah menuju pelaminan.
Zara tersenyum penuh haru. Ia ingin menangis, namun sebisa mungkin ditahan sebab tak ingin mengecewakan suaminya yang sudah bekerja keras untuk mewujudkan satu hari indah seperti saat ini.
Dari tempat keduanya berdiri kini, terlihat dengan jelas semua pemandangan apik dari ruangan pesta tersebut. Ini benar-benar sesuai keinginan Zara, meski gadis itu tak pernah mengatakannya.
"Terimakasih, sayang. Terimakasih," ucap Zara berulang, tertuju pada suaminya.
Arka tersenyum tipis kemudian menganggul samar.
"Berterimakasihlah dengan benar selepas acara ini di kamar," goda Arka dibarengi senyum miring di bibirnya.
Zara hanya tersipu malu dan memalingkan wajah. Anastasya terlihat mendekat dan mengucapkan selamat pada keduanya. Tak ada rasa sedih, yang ada hanyalah kebahagiaan. Disusul oleh keluarga dekat seperti kedua orang tua Zara dan juga orang tua Arka. Tetamu undangan pun tak mau kalah, berbaris rapi memanjang dan mengucap selamat secara bergantian.
*****
Kiara terus ternganga begitu memasuki hotel di mana pesta di gelar. Ia bingung hendak kemana melangkah, dan sialnya ia justru datang seorang diri tanpa teman.
"Haduh, aku bahkan datang kemari seorang diri. Lalu akan kemana lebih dulu, hingga tak tersesat," gumam Kiara selepas memindai ruangan luas yang penuh sesak oleh tamu undangan.
Ragu gadis manis itu mulai melangkah dan mencari-cari seseorang yang mungkin saja ia kenal. Hingga pucuk dicinta, ulam pun tiba. Sam tanpa sengaja muncul di hadapan kemudian mendekatinya.
Gadis itu gelagapan. "I-iya, tuan."
"Bukankah sudah kukatakan untuk mengajak temanmu yang lain," ucap Sam dingin.
Kiara menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dan sedikit salah tingkah.
"Kami terpisah, tuan. Dan tinggalah saya seorang diri. Maka dari itu, sudikah tuan untuk bisa membimbing saya kehadapan kedua mempelai," pinta Kiara dengan wajah memelas.
Sam mendengus kesal. Ini bukanlah pekerjaanya, tetapi ia juga tak ingin ambil resiko jika gadis ini benar-benar tersesat dan hilang tanpa jejak. Maka otomatis pekerjaanya pun menjadi dua kali lipat untuk mengurus gadis yang baginya sama sekali tak penting itu.
Tanpa menjawab, pria itu mulai berjalan dengan memberi isyarat tangan agar Kiara mengikuti langkahnya. Gadis itu pun melangkah dan terus mengekor di belakang Sam hingga mendekati kedua mempelai.
Akan tetapi langkah gadis itu terhenti seketika kala melihat siapa kedua mempelai pemilik pesta megah tersebut.
"Zara," ucapnya lirih kala keduanya saling berhadapan. "Ini benar-benar dirimu? Dan kenapa kau menikah dengan..," ucapan Kiara menggantung saat sedikit melirih kearah Arka. Sedangkah setahu Kiara, Arka masih beristrikan Anastasya, bos di tempatnya bekerja.
"Ceritanya panjang, lain kali aku akan mengatakannya padamu." Zara membalas santai pertanyaan sahabatnya. Begitu pun dengan Arka.
Kiara terdiam, berusaha mengira apa yang sebenarnya sudah terjadi, namun tepukan di bahu lekas menyadarkannya. Gadis itu menoleh, dan mendapat tatapan tajam dari Sam.
"Cepatlah, aku tidak memiliki banyak waktu untuk mengurusimu."
Gadis itu pun mengangguk seketika. Lekas meninggalkan sahabatnya itu dengan setuja tanya.
__ADS_1
****
Anastasya menuju meja prasmanan, di mana banyak minuman segar tersaji di sana. Dirinya sangat haus, setelah beberapa jam berputar-putar mengelilingi ruang pesta dan menyapa beberapa orang yang mengenalnya.
Gadis itu terlihat cantik dengan mengenakan gaun berwarna silver pemberian Mirah. Surainya yang indah dan panjang itu hanya ia beri hiasan jepit mutiara sebagai pemanis.
"Aku haus sekali," ucap Anastasya hendak meraih satu gelas berisi minuman segar rasa melon. Akan tetapi, belum sempat tangannya menyentuh gelas yang diinginkan, seseorang justru menarik tangannya sedikit kuat hingga ia pun memekik, karna terkejut.
"Aw...., lepaskan," pekik Anastasya. Ia tak berani berteriak, takut jika akan membuat keributan mengingat dirinya masih ada di acara pesta.
Setelah seseorang itu berhasil menariknya keluar ruangan pesta, gados itu pun coba menatap wajah seseorang yang sudah lamcang menariknya.
"Siapa kau," ucap Anastasya pada pria yang sengaja menutup sebagian wajahnya itu dengan topi.
Tak menjawab, pria itu justru menarik Anastasya kencang dan membawanya kesebuah ruangan yang cukup jauh dari keramaian.
Anastasya berteriak kencang saat ia yakin jika seseorang itu membawanya kesebuah ruangan yang tak lain ialah salah satu kamar dari hotel ini.
"Lepaskan!" Gadis itu terus berteriak dan memberontak. Terlebih seseorang itu sudah berhasil membawanya kedalam kamar.
Tak hilang akal, Anastasya menggingit tangan seseorang itu hingga ia bisa terlepas. Mendapatkan celas, gadis itu lekas berlari kearah pintu yang terbuka,namun belum sempat mecapai pintu, seseorang justru menutup kembali pintunya dari luar dan menguncinya rapat.
"Buka! Siapa pun di luar, tolong buka pintunya!" Gadis itu berteriak dab sekuat tenaga memukul pintu itu dengan telapak tangannya. Anastasya dicekam ketakutan, sebab dirinya berada di dalam bahaya.
"Anastasya," ucap seseorang di balik punggung Anastasya.
Dia tau namaku. Siapa dia?
Gadis itu pun membalikkan badan, dan terkesiap saat seorang pria berlutut di hadapannya.
"Anastasya, will you marry me?" Rangga berlutut di hadapan Anastasya dengan membawa kotak berisi cincin untuk gadis cantik itu.
Tubuh Anastasya membeku. Terkejut dan juga tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia sempat tersentuh dengan hal tak terduga yang dilakukan Rangga padanya. Akan tetapi, ia pun tersadar seketika.
"Maaf, Rangga. Aku tidak bisa." Gadis itu memalingkan wajah, engan melihat ekspresi terkejut dari Rangga.
"Kenapa?"
"Entahlah, tetapi untuk saat ini, aku masih belum bisa."
Rangga pun bangkit dengan masih menggengam kotak cincin di tangannya. Tanpa aba-aba, pria tampan itu lekas mendekap tubuh gadis di depannya dan menangis di dalam pelukannya.
"Aku tau, kesalahanku begitu banyak padamu. Tetapi aku mohon, beri aku satu kesempatan untuk bisa memperbaiki semua kesalahanku di masa lalu. Aku berjanji, jika akan membahagiakanmu sebisaku, dan tak akan membiarkanmu bersedih lagi."
Anastasya mencoba berontak. Akan tetapi tangisan dan ucapan maaf Rangga membuat tubuhnya melemah dan membiarkan pria itu terus memeluknya.
****
"Sayang, apa kau yakin jika rencana ini akan berhasil," bisik Zara pada Arka saat keduanya masih sibuk menyalami tetamu.
"Tenang saja, Ibuku sudah teruji akan kepandaiannya mengatur strategi. Jangan khawatir." Arka tersenyum miring. Mirahlah yang sebenarnya memiliki ide untuk mengunci Anastasya dan Rangga dalam satu ruangan. Bukan tanpa alasan, Mirah berharap jika selama keduanya terkurung, mereka bisa saling berbicara dari hati kehati hingga bisa menemukan jalan keluar dari permasalahan keduanya.
__ADS_1
"Wuahh... Tak disangka, rupanya aku memiliki seorang ibu mertua yang sangat keren," puji Zara dengan netra berbinar dan senyum mengembang. Ia sedikit menerka, kiranya apa yang Anastasya dan Rangga lakukan saat keduanya terkunci dalam satu ruangan yang sama.