
Hampir separuh hari Anastasya hanya menghabiskan waktunya untuk berguling-guling di atas ranjang. Tak ada kegiatan lain yang bisa ia lakukan hingga membuatnya teramat bosan.
"Sepertinya sudah lama aku tidak memanjakan diri dengan melakukan perawatan di salon." Lengkung tipis Anastasya pun menggembang dan lekas bangkit dari rebahannya.
Memilah gaun yang tertata rapi di lemari, hingga pilihannya jatuh pada dres warna kuning selutut berlengan panjang.
"Aku akan pakai yang ini saja," ucapnya seraya menanggalkan pakaian lama dengan dres pilihannya.
Tersenyum membanggakan diri, gadis itu menatap pantulan tubuhnya di depan cermin. Wajahnya yang cantik serta tubuh rampingnya membuatnya terlihat seperti gadis remaja yang duduk di bangku kuliah. Bahkan mungkn tidak akan ada yang percaya jika dirinya sudah pernah melahirkan seorang anak.
Memoleh wajah dengan make up tipis dan lipglos, Anastasya kemudian menyisir surai panjangnya dan mengikatnya tinggi.
__ADS_1
"Sempurna." Menjinjing tas di bahu, Anastasya pun hendak melangkahkan kaki menuju salon langganannya. Akan tetapi..
"Ah tidak-tidak, bagaimana kalau aku keluar dan dia menemukanku? Ini tidak boleh terjadi." Anastasya yang sudah membuka pintu apartemen itu mengurungkan kembali niatnya. Ia ragu, sekaligus tak ingin jika kembali bertemu dengan Rangga di tempat umum.
Berjalan dengan langkah gontai, gadis cantik itu menghempas tubuhnya kembali ke atas ranjang. Kemudian mengatupkan kedua netranya rapat.
"Memang aku sempat mengharapkanmu untuk kembali, tapi itu dulu dan bukan saat ini. Kenapa di saat aku ingin pergi meninggalkan semua masa lalu ini, kau justru datang dan mengharapkan diriku kembali."
Rangga mungkin tak begitu merasakan penderitaan seperti yang ia rasakan. Berbulan hidup dalam keterpurukan hingga tekad kuatlah yang membuatnya bisa kembali bangkit.
"Rasanya aku sangat muak padamu, benci jika melihatmu dan ingin muntah mendengar semua ucapanmu," celoteh Anastasya dengan memukul-mukul bantal guling yang di peluk.
__ADS_1
"Tetapi aku juga merindukanmu. Mencintaimu, dan hanya kaulah yang mampu membuat hatiku bergetar." Menahan geram, gadis itu justru melempar bantal guling yang sempat ia pukul kesembarang arah disusul dengan bantal-bantal lainnya.
"Tapi aku bisa apa, Rangga. Kau yang sudah begitu tega padaku. Mengacuhkan aku dan meninggalkanku begitu saja." Terisak, tangis itu pun perlahan pecah sebagai luapan rasa kecewa.
"Hidupku bahkan lebih sakit dan tragis dari pada yang kau bayangkan. Apa kau tau semua itu, Rangga? Pasti tidak, bukan."
Anastasya terus berbicara tanpa kenal lelah pada dirinya sendiri. Mungkin semua itu dapat membuat bongkahan amarah yang tersimpan di dalam hati perlahan melunak hingga membuatnya sedikit lega.
"Aku sendiri ragu, apakah masih bisa memaafkanmu atau tidak. Jujur, rasa sakit itu masih ada, dan tak akan semudah itu bisa disembuhkan. Kau bilang jika ingin merajut kembali asmara kita, tapi bagaimana jika yang kudapatkan hanyalah penghiatan dan rasa sakit seperti dulu?" Bibir itu menyerigai tipis.
"Semua itu pasti tidak akan kubiarkan untuk terjadi kedua kalinya."
__ADS_1
Begitulah Anastasya. Tidak akan semudah itu melupakan rasa sakit yang pernah orang lain torehkan padanya. Dirinya mungkin pernah lemah, tapi itu dulu. Sebelum cobaan besar menghampiri dan membuatnya menjadi wanita setegar karang. Tak mudah terkikis meski diterjang badai gelombang yang tiada henti.