Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Masa Lalu Anastasya


__ADS_3

Beberapa tahun lalu


Udara segar pedesaan dan kicau burung bersahutan kian menambah kedamaian para penduduk desa yang sebagian besar penghuninya memiliki penghasilan dari bercocok tanam.


Seorang gadis muda yang baru saja menamatkan pendidikan sekolah menengah umum dari salah satu pusat pendidikan dikampung terpencilnya tengah menikmati suasana pagi dengan sesekali memandang kearah sawah menghijau dengan tanaman padi yang melambai tertiup angin.


Anastasya, sosok gadis periang yatim piatu yang kini hanya tinggal bersama Paman, Bibi, dan keempat adik sepupunya. Diusianya yang masih kanak-kanak, ia harus menerima kenyataan pahit jika kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Demi melanjutkan hidupnya, Anastasya diasuh dan di besarkan oleh saudara kandung dari Ibunya.


Akan tetapi, kehidupan pahit tak cukup berhenti hanya sebatas itu. Kemiskinan menjadi belenggu sepasang suami istri dari orang yang sudah membesarkannya. Seringkali ia dan keempat saudara sepupunya menahan lapar, karna tak ada sesuatu apa pun yang bisa mereka makan.


Jika Anastasya yang sudah menginjak dewasa mampu menahan rasa lapar, lalu bagaimana dengan keempat anak yang masih dalam masa pertumbuhan. Tangisan dan isak kelaparan bagai nyanyian rutin dalam rumah berbilik kayu itu hampir setiap hari.


Gagal panen dan murahnya harga palawija yang para petani tanam, berdampak buruk bagi kelangsungan hidup mereka.


Merasa tak tahan, Anastasya yang sama sekali tak menmiliki modal apa pun itu nekad menuju kota untuk mengadu nasib. Meski Paman dan Bibinya sempat tak memberi izin, namun selepas berdebatan alot dan alasan-alasan yang Anastasya kemukakan, akhirnya sepasang suami istri itu pun mengizinkannya.


Bertolak kekota besar hanya dengan tas ransel berisi pakaian kumal dan beberapa uang pecahan yang ia dapat dari hasil tabungannya setelah bertahun-tahun. Selama beberapa hari gadis muda itu tidur dan beristirahat di depan ruko yang berjajar di pinggir bersama dengan kaum tunawisma lainnya.


Tanpa rasa lelah ia pun melangkahkan kaki menuju tempat yang sekiranya menyediakan lowongan pekerjaan. Beruntung ia bertemu dengan perempuan paruh baya yang memiliki kedai kopi di sekitar tempat hiburan malam yang menawarinya pekerjaan dengan gajih yang cukup besar bagi gadis miskin seperti Anastasya.


Disela pekerjaan dan rasa lelahnya melayani pembeli kopi. Tanpa sengaja Anastasya bertemu dengan perempuan pengunjung klub malam yang tengah memesan secangkir kopi padanya. Perempuan itu tak banyak bicara, namun memindah keseluruhan tubuh molek sempurna Anastasya dari puncak rambut hingga ujung kaki. Keduanya tak langsung terlibat perbincangan langsung pada malam itu, akan tetapi pada malam berikutnya perempuan itu memberikan sebuah tawaran pekerjaan yang tak pernah Anastasya bayangkan selama hidupnya.


"Model, apa saya tidak salah dengar, Nona? Saya sama sekali tak memiliki pengalaman dalam bidang yang Nona sebutkan." Gadis dengan pakaian seadanya dan surai diikat ekor kuda itu menolak. Sama sekali tak tertarik atau pun tergiur tawaran pekerjaan yang begitu menggiurkan.


"Aku bisa saja mengajarimu asalkan kau punya kemauan. Tak susah membimbing gadis polos sepertimu. Tubuh dan wajahmu sudah mencerminkan seorang model, dan hanya tinggal memolesnya sedikit." Perempuan berpakaian cukup terbuka itu bersedekap dada. Masih memindai gadis di depannya dengan saksama.


"Maaf Nona. Sayangnya, saya tidak berminat." Anastasya hendak memutar tumit dan meninggalkan perempuan paruh baya itu begitu saja.


Akan tetapi secepat kilat perempuan itu menarik lengan Anastasya hingga langkah gadis itu pun terhenti.


"Aku tau jika kau sangat membutuhkan uang. Jika kau menurut sedikit saja padaku, maka aku bisa menjanjikan gelimang uang padamu hingga kau tak perlu banting tulang dengan meracik kopi seperti ini."


Anastasya terdiam, dan berfikir sejenak.


"Dari mana Nona bisa mengetahuinya?"

__ADS_1


Perempuan itu tersenyum sinis dan tampak mencela penampilan Anastasya yang mengenakan pakaian seadanya.


"Penampilanmu menjawab semua pertanyaan, gadis manis."


Anastasya pun menunduk dan menatap dirinya sendiri. Netranya berkaca-kaca seolah merasa begitu terhina.


Perempuan bernama Sarah itu pun kemudian mendekat dan mendekap bahu Anastasya lembut.


"Terimalah tawaranku, maka aku akan membuat hidupmu lebih baik dari ini."


Anastasya menghela nafas dalam. Memang itulah tujuannya nekat menuju kota, tentunya untuk mengadu nasib. Tawaran dari Sarah terdengar menggiurkan dan tak ada salahnya untuk terlebih dulu mencoba.


Meski sedikit ragu, Anastasya mengiyakan tawaran perempuan itu untuk mengikuti audisi pemilihan model di salah satu agensi.


Sarah yang juga berprofesi sebagai model itu dengan telaten membimbing Anastasya yang masih kaku untuk berlenggak lenggok di atas panggung. Ia juga tak ragu merogok kocek dalam dompetnya untuk menganti penampilan Anastasya dari ujung rambut hingga kaki.


Hari yang ditunggu pun tiba. Audisi di buka dan berbondong-bondong model pendatang baru berlomba untuk menyuguhkan penampilan terbaik. Dengan berpakaian dan berias sebaik mungkin, Anastasya yang memang sudah cantik itu terlihat sangat memukau. Sempat ragu dan malu-malu diawal babak, namun selepas mendapatkan pengarahan dari Sarah, ia pun mulai dapat mengatur dirinya untuk lebih santai dan lepas.


Dari ratusan pasang mata yang menyaksikan acara tersebut, seorang pria muda bernama Rangga yang merupakan pewaris dari agensi model tersebut. Anastasya yang cantik dan pendiam membuatnya jatuh hati meski keduanya hanya sekali bertemu.


Nasib baik rupanya tengah menaungi gadis yang awal mulanya hanya coba-coba itu. Dari sekian banyak peserta, hanya Anastasya dan dua rekannyalah yang terpilih. Kemudian berpeluang besar untuk menjadi model terkenal di ibukota.


Tak seperti kacang yang lupa pada sang kulit, Anastasya dengan rutin mengirimkan uang pada Paman dan Bibinya di kampung untuk menyambung hidup. Ia juga membangun usaha ternak hewan untuk mengatur roda perekonomian Pamannya sebagai tabungan.


Kian hari karir Anastasya semakin berada di puncak kesuksesan. Rumah, kendaraan dan segala kemewahan sudah ia miliki. Bahkan pria tampan dari keluarga terpandang pun berhasil ia taklukan. Akan tetapi, dari segala gelimangan hidup, Sarah seorang yang secara langsung menjadi orang yang berpengaruh besar pada kesuksesan Anastasya merasa dilupakan. Karirnya sebagai model menyurut, seiring persaingan ketat dan usianya yang sudah tak muda lagi.


Meski Anastasya sangat loyal dan sama sekali perhitungan pada seseorang yang sudah berjasa pada hidupnya, namun Sarah yang merasa sakit hati memutar otak untuk bisa menghancurkan hidup Anastasya secara perlahan.


Segala tipu daya mulai dijalankan. Ia mengingkan Anastasya untuk menjadi model majalah pria dewasa agar mengikuti jejaknya. Namun dengan tegas gadis itu menolak. Hingga Sarah berubah geram dan memilih menghancurkan katir juga masa depan Anastasya.


Sarah yang sudah hilang akal mengundang Anastasya di untuk sebuah klub malam untuk membicarakan sesuatu hal. Anastasya datang bersama Rangga, sang kekasih. Tanpa di duga, dengan cara licik Sarah sudah mempersiapkan minuman beralkohol sebagai sajian. Meski awalnya ia menolak, namun dengan rengekan dari Sarah ia pun mengiyakan dan menginjakkan kaki untuk pertama kalinya ketempat itu.


Semakin malam, keadaan pun kian tak terkendali. Rangga yang duduk di sebelah Anastasya pun mulai menengak alkohol hingga beberapa gelas. Sarah yang terus saja membujuk Anastasya pun membuahkan hasi, namun gadis cantik itu hanya meminumnya sedikit.


beberapa teguk alkohol berhasil mendarat di mulut Anastasya, membuatnya mengerang menikmati sensasi rasa aneh yang untuk kali pertamanya ia rasakan. Tak berapa lama, kepalanya terasa pusing dan berputar-putar. Rangga yang menyadari pun lekas membawa sang kekasih dari klab itu dan membawa keapartemennya.

__ADS_1


Anastasya yang tertidur selama perjalanan pun tak menolak atau pun memberontak kala Rangga menggendongnya menuju kamar apartemen. Tubuh molek Anastasya seketika membangkitkan nafsu Rangga yang sudah beberapa lama menginginkan tubuh gadis cantik itu.


Dengan satu kali gerakan, Rangga yang sudah tertutupi gairah itu menyatukan tubuhnya dengan milik Anastasya yang masih terlelap. Pria itu pun tak terkejut kala mendapati milik sang kekasih yang masih bersegel.


Diantara kabut dan rasa nikmat luar biasa, Rangga masih tersadar dan memberikan usapan dan ciuman sang kekasih dengan rasa sayang. Pria itu pun tak menyesal, dan tak akan meninggalkan jika suatu saat benih itu akan tumbuh di rahim Anastasya.


Setelah beberapa waktu terlelap, Anastasya yang merasa tubuhnya tertimpa benda berat itu mulai mengerjap. Netranya mulai terbuka, namun didetik yang sama ia pun berteriak histeris mendapati siapa pemilik tubuh dari orang yang menindihnya.


"Rangga, apa yang sudah kau lakukan?" teriak Anastasya disusul tangisnya.


Rangga yang terkesiap sebab masih dalam keadaan terlelap itu menghela nafas dalam.


"Maafkan aku sayang. Aku sangat tidak tahan dan sudah melakukannya bersamaku. Aku mohon maafkan aku," lirih Rangga dengan mengusap punggung tangan Anastasya dan menciuminya.


Anastasya tersedu. Ia tak mengira jika akan berakhir seperti ini. Akan tetapi Rangga terus menenangkannya dan berjanji jika semua akan baik-baik saja.


Satu setengah bulan berlalu. Anastasya mulai merasakan perubahan pada dirinya. Disela pemotretan atau pun foto shot ia kerap kali merasakan pusing dan mual. Ia pun mulai cepat lelah dan menginginkan bermacam makanan yang tampak segar.


Rangga yang menyadari semua itu pun tak mampu menahan untuk tak bertanya. Akan tetapi jawab gadis itu hanya mengambang. Ia hanya mengingat jika tamu bulanannya terlambat tak seperti biasanya.


Satu bulan kemudian Rangga nekat membawa Anastasya menuju dokter kandungan, dan benar saja, Anastasya mengandung menginjak bulan ketiga. Keduanya terbelalak tak percaya. Rangga yang terkejut dan Anastasya yang kehilangan semangat hidup.


Di dalam mobil Anastasya terisak pilu. Dilema dengan kehadiran janin di luar pernikahan. Rangga yang berusia lebih dewasa itu menggengam tangan kekasihnya dan berjanji jika semua akan baik-baik saja.


Tanpa fikir panjang Rangga membawa Anastasya menuju rumah kedua orang tuanya. Disana ia menceritakan secara langsung kejadian dan meminta restu untuk bisa menikahi Anastasya secepatnya.


Akan tetapi di luar dugaan. Kedua orang tua Rangga yang masih mengalir darah biru itu menolak mentah-mentah keinginan sang putra. Bahkan menuduh Anastasya sengaja mengunakan Rangga untuk bertanggung jawab pada anak yang bukan dari benih putranya.


Anastasya meremas ujung gaunya dengan geram. Buliran bening yang mengalir deras ia seka seketika begitu orang tua rangga mencaci makinya. Ia keluar dari rumah mewah itu dengan berlari dan engan berbalik menunggu Rangga yang berteriak menyebut namanya.


Mungkin inilah takdir hidup yang tuhan gariskan untuk Anastasya. Kehamilannya pun membuatnya didepak dari agensi model yang sudah menaunginya dan berbagai kontrak pun dibatalkan secara sepihak. Tak hanya di situ, Anastasya yang mulai putus asa itu lagi-lagi harus merasakan pahit mana kala kabar bermbus jika kedua orang tua Rangga mengirim sang putra untuk mengurus bisnis tekstil yang berada di luar negara.


Bagai jatuh tertimpa tangga pula. Remuk dan luar biasa sakit. Di tengah berbagai hujatan dari rekan seprofesinya, gadis itu pun memilih untuk mengakhiri hidup dan tak memiliki keberanian lagi untuk menunjukan wajah di hadapan Paman dan Bibinya.


Langkahnya mulai tertatih menyusuri jalanan ramai yang dilalui banyak kendaraan. Ia sudah putus asa. Merasa lemah dan tak memiliki siapa pun sebagai penopang hidup.

__ADS_1


Ia sengaja memasang badan dan berdiri di tengah jalan menyongsong kendaraan yang berlalu lalang. Netranya terpejam dan tubuhnya pun terhempas saat sebuah mobil menabraknya kemudian berlalu pergi.


Rasa sakit mulai menyergap, tubuhnya lemah namun ia masih hidup. Pengendara lain mulai mendatangi tubuhnya yang terkapar di jalanan. Memeriksa kondisinya yang mengeluarkan banyak darah. Tiba-tiba seorang pria datang, mengamati dirinya kemudian mengendong tubuh lemahnya. Lamat -lamat Anastasya masih mengenali siapa pria yang sudah menolongnya. Arka, teman karib pria yang sudah menghamilinya. Akan tetapi rasa sakit itu mulai berdenyut hebat dan kedua netranya benar-benar terkatub rapat.


__ADS_2