Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Mertua Dan Menantu


__ADS_3

Mirah yang menyadari wajah tegang menantunya itu pun lantas menarik piring berisi buah dan sebungkus besar kripik kentang tepat di hadapan gadis cantik itu.


"Makanlah. Ada buah dan juga camilan. Kau lebih suka yang mana?" tanya Mirah dengan tak mengalihkan pandangan dari wajah menantunya.


Zara menatap Ibu mertua dan makanan di meja bergantian. Gadis itu berfikir sejenak, berusaha menjawab pertanyaan dengan sebaik mungkin. Ia pun teringat akan ucapan yang sering dilontarkan sang suami.


"Tubuh tak akan sehat dan bugar dengan sendirinya. Maka dari itu, tetap konsumsi makanan sehat dan berolahraga, hingga kau pun akan dapatkan sendiri manfaatnya."


Zara menunjuk sepiring buah di hadapannya. "Yang ini, Bu" balas gadis yang mengikat rambutnya tinggi itu.


Mirah tersenyum. Terlihat jika perempuan paruh baya itu merasa puas dengan jawaban sang menantu.


"Lalu, apakah kau tidak menyukai kripik kentang?" tanya Mirah lagi.


Zara kini mulai terlihat santai dan tak setegang beberapa waktu yang lalu. "Suka Bu. Hanya saja, mengonsumsi buah jauh lebih sehat dan memiliki banyak manfaat dari pada kripik kentang."


Mirah tersenyum lebar dan berucap, " Pintar sekali, dan sekarang makanlah." Kata-kata yang terdengar begitu tulus hingga nyaris membuat gadis yang tengah duduk di depannya itu terbelalak tak percaya.


"Ayo makan. Lihatlah." Mirah menunjuk potong buah-buahan itu dengan telunjuknya. "Terlihat sangat segar bukan?"


Zara menganguk samar sebagai jawaban dan mulai meraih garpu. "Ibu juga harus memakannya, buah ini terlalu banyak dan kita bisa membaginya," tawar Zara dan meraih garpu lainya untuk di berikan pada Mirah.


"Tidak usah. Kau saja, lagi pula Ibu masik kenyang," tolak Mirah lembut. Perutnya memang masih benar-benar kenyang dan engan untuk makan.


"Tapi...


"Sudahlah, Ibu benar-benar masih kenyang."


Gadis itu pun mulai menusuk potongan buah dan menyuapkannya kedalam mulut. Buah segar dan manis itu menyapa indra pengecap Zara dengan riang gembira. Potongan buah apel, kiwi dan melon itu terlihat sangat mengugah selera. Hingga tanpa terasa separuh piring buah sudah berpindah tempat kedalam perutnya.

__ADS_1


Mirah tersenyum simpul menatap wajah senang Zara yang tengah melahap buah segar tanpa malu-malu. Semakin dia menatap dalam gadis mungil di hadapannya itu, semakin pula ia mengingat bayangan wajah seseorang yang dulu teramat dekat dengannya.


"Zara, di mana kedua orang tuamu tinggal?" Mirah melontarkan pertanyaan di tengah keterdiamannya.


Zara yang sempat melahap buah dengan wajah berbinar itu seketika berubah murung dan menghentikan aktifitasnya mengunyah.


"Kedua orang tua Zara berada di kampung Bu, dan sudah beberapa bulan ini kami tak bisa berkomunikasi atau pun sekedar bertemu."


Mirah tampak terkesiap. "Kenapa?"


Gadis itu tersenyum penuh ironi. Mungkin akan lebih baik jika kisah ini hanya akan ia simpan sendiri.


"Ini terlalu rumit untuk bisa diurai Bu, dan mungkin saya tidak bisa untuk menceritakannya."


Mirah terlihat semakin penasaran. Jika ini perihal kehidupan Zara, kemungkinan besar putranya pun ikut terlibat.


"Katakan saja Zara, anggap saja Ibu ini orang yang sudah melahirkanmu. Jangan ada yang disimpan. Mungkin jika kau mengatakannya pada Ibu, itu bisa membuat bebanmu sedikit berkurang."


"Berawal dari keinginan saya untuk bisa merubah hidup orang tua dengan mencari pekerjaan di kota atas ajakan teman pria sekampung yang sudah memiliki pekerjaan tetap di kota. Awalnya saya mengantungkan harapan besar padanya sebelum saya tau jika pria itu hanya memanfaatkan saya. Sebagian barang dan identitas saya tertinggal saat saya berusaha untuk lari darinya. Hidup pun terlunta-lunta di jalanan selama beberapa bulan, namun nasib baik datang saat saya bertemu dengan Nona Anastasya."


"Apa yang dilakukan Anastasya padamu?" ucap Mirah ingin tahu setelah mendengar kisang perjalanan hidup Zara.


Mengalirlah sebuah kisah awal mula pertemuan Zara dan Anastasya dari peristiwa nyaris kecelakaan hingga Anastasya mempekerjakan Zara di toko bunganya.


"Saya juga tak menyangka jika Anastasya berfikiran untuk meminta Tuan Arka untuk menikahi saya."


Mirah tercengang, bahkan mencondongkan tubuhnya untuk lebih mendekati Zara. "Jadi Anastasya yang sudah meminta kalian berdua untuk menikah?"


Zara menganguk kuat, ia tak ingin memendam semuanya sendirian. Lagi pula, Mirah bukanlah orang asing bagi suaminya. Mungkin wajar jika ia pun berhak mengetahuinya.

__ADS_1


"Iya, Ibu. Maaf saya tidak mampu untuk menolaknya. Nona Anastasya sempat mengancam ingin mengakhiri hidup jika kami berdua menolaknya."


Perempuan paruh baya yang mengenakan gaun berwarna hitam itu menghela nafas dalam-dalam. Berusaha mencerna strategi yang dibangun Anastasya dengan akal sehat, namun ia pun terlihat tak terkejut.


"Apa yang sebenarnya difikirkan Anastasya saat hidup berumahtangga dengan putraku selama ini. Entah untuk yang keberapa kalinya gadis itu melakukan hal semacam ini. Bahkan sempat memintaku menikahkan suaminya dengan perempuan lain jika Arka tak bahagia hidup dengannya." Mirah menjabarkan sedikit keinginan Anastasya yang pernah gadis itu ucapkan kepadanya.


Apa? Jadi bukan hanya aku yang menjadi sasaran Nona Anastasya.


"Tapi hanya dirimu yang membuat putraku mengiyakan keinginan Anastasya," sambung Mirah lagi.


"Tapi Ibu, Tuan Arka mungkin terpaksa menikahiku. Jika Nona tidak berniat mengakhiri hidup, mungkin Tuan Arka pun enggan untuk mengiyakan keinginan Nona."


Mirah yang mendengar ucapan menantunya itu tergelak samar. Bagaimana bisa putranya menikahi seorang gadis lugu seperti Zara hanya berlandaskan keterpaksaan.


"Apa kau masih belum bisa memahami, bagaimana putraku memperlakukanmu selama kau sudah menjadi istrinya beberapa hari ini? Bagaimana dia selalu ingin melindungi dan membuatmu senyaman mungkin berada di sampingnya."


Fikir Zara melayang jauh. Mengenang beberapa waktu lalu selepas sumpah suci pernikahan terucap dari bibir Arka. Secuil pun pria tampan itu tak pernah membuatnya bersedih, justru mencurahkan cinta kasihnya yang melimpah ruah.


Tapi apakah mungkin Tuan Arka juga mencintaiku. Bagaimana bisa diartikan cinta jika semenjak menikah Tuan Arka bahkan belum...


Zara mengusap wajahnya yang tiba-tiba merona merah. Menghapus semua fikiran nakal yang sempat bergentayangan dibenaknya.


"Zara, apa yang kau fikirkan?" Murah menatap dengan wajah binggung kala mendapati gadis mungil itu yang terdiam namun tersipu malu.


"Ti-tidak ada Ibu. Saya hanya mengingat beberapa kejadian yang sempat kami berdua lalui selama ini."


Tidak mungkin jika kukatakan kalau kami belum pernah berhubungan suami istri sepelas menikah. Ibu mungkin tak akan perduli dengan hal-hal pribadi semacam ini.


"Ketahuilah Zara. Ibu adalah perempuan yang sudah berumah tangga." Mirah menghela nafas dalam. "Walaupun kami sudah di pisahkan oleh maut, namun aku beruntung sempat menjadi seorang istri yang selalu disayang dan cintai. Jadi aku pun bisa merasakan dan melihat, jika putraku benar-benar mencintaimu."

__ADS_1


Mirah menatap kedua netra menantunya lekat. Memasuki dan menyelami hati lembut gadis cantik nan bersahaja itu. Ia menyakini dengan pandangan yang lihat beberapa jam belakangan ini. Putranya tak pernah bermain-main dengan seorang wanita apalagi untuk menyakitinya. Mirah yang sempat berfikir jika Zara tak ubahnya Anastasya yang hanya menginginkan materi dari pernikahannya dengan Arka. Akan tetapi, penilainya itu luruh seketika saat sebuah kenyataan hadir jika hanya sesosok gadis mungil nan poloslah yang menjadi istri dari putra sematawayangnya.


__ADS_2