Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Sahabat Karib


__ADS_3

"Sudah, sampai sini saja. Aku tidak ingin orang tuaku tau tentang hubungan kita," ucap gadis yang masih berada di kursi depan sebuah kendaraan, kemudian mencondongkan tubuhnya hingga mendaratkan sebuah kecupan di bibir seorang pemuda yang tak lain ialah kekasihnya.


Pria itu pun tersenyum bangga dan membalasnya dengan sebuah kecupan yang lebih panas hingga keduanya terenggah, kehabisan nafas.


"Terimakasih untuk malam ini, sayang." Gadis itu pun keluar dari mobil, melambaikan tanggan kemudian berlari menuju rumah.


Pria muda itu pun tergelak senang sembari mencengkeram kuat kemudinya.


"Dasar gadis bodoh," gumam sandi seraya tersenyum miring dan mulai menjalankan kuda besinya kembali.


Menyisir jalanan yang cukup ramai dalam suasana malam menuju kembali kekediamannya, sosok Sandy masih saja tak melepaskan ingatannya dari Zara. Otaknya terus saja berputar, berfikir bagaimana caranya gadis malang itu kini justru hidup lebih nyaman dibanding dirinya.


Aku yakin jika Zara menjadi simpanan pria tua kaya. Dasar wanita jalang. Dia menolakku dan justru menyerahkan tubuhnya pada lelaki hidung belang.


Pria berpakaian formal itu terus saja memaki dalam hati hingga tanpa terasa mulai memasuki kompleks perumahan tempat tinggalnya yang berada di pinggiran kota. Rumah kelas menengah kebawah berukuran mungil yang masih belum selesai ia cicil.


Sandy menghentikan mobilnya di teras rumah, tak ada garasi atau pun semacamnya yang bisa ia gunakan untuk menyimpan kuda besinya. Pria itu tak menyadari jika beberapa pasang mata tengah mengintainya dikegelapan. Ketika pintu mobil terbuka, beberapa pria berbadan kekar spontan menyergapnya. Membekap mulut dan menariknya untuk keluar dari mobil.


Sandy berusaha meronta. Akan tetapi kedua pria itu mencengkeram tubuhnya dengan sangat kuat dan mendudukkanya di sebuah kursi yang berada di samping rumah.


Seorang pria yang sempat membekap mulut Sandy, kini melepasnya. Hingga pria tampan itu bisa bernafas lega dan mulai berbicara.


"Siapa kalian!" hardik Sandy. "Kenapa memperlakukanku seperti ini?" sambungnya lagi.

__ADS_1


Seseorang berbadan gempal pun muncul dari kegelapan. Tergelak kencang dan bertepuk tangan.


"Hebat sekali kau. Berapa banyak nyawa yang kau punya, hingga berani membentak para pengawalku." Pria itu pun kian mendekat dan mencengkeram wajah sandy hanya dengan satu tangannya.


Wajah Sandy berubah pucat pasi. Dia tahu benar siapa sosok pria yang tengah mencibirnya itu. Ia hanya memekik kesakitan kala tangan besar itu serasa meremukkan tulang rahangnya.


"Ma-maafkan saya, Tuan. Sumpah, saya tidak mengetahui jika mereka pengawal anda," pasrah Sandy akibat rasa sakit dan ketakutan yang didera.


"Cih, omong kosong. Mana gadis desa yang kau janjikan kepadaku. Ini sudah lebih dari tiga bulan semenjak kau mengatakannya, dan mana, sampai detik ini pun kau masih belum menyerahkannya padaku."


Sandy menelan ludahnya kasar. Dia bisa mati jika tuan itu mengetahui apa yang sebenarnya sudah terjadi.


"Katakan!" Pria gempal itu mulai geram tatkala Sandy tak berniat membuka mulutnya hingga mencengkeram dagu itu lebih kuat.


"Ampun Tuan," pekik Sandy. "Gadis itu kabur beberapa jam setelah sampai di kota dan mengelabuhi saya hingga saya pun tak bisa menemukannya sampai saat ini."


"Kurang ajar! Buat dia menyesali perbuatanya dengan coba meremehkanku. Ingat kau pria miskin! Masih banyak hutang-hutangmu padaku yang sama sekali belum kau cicil. Jika dalam satu bulan kedepan kau masih belum bisa melunasinya, maka habislah kau." Pria gempal itu memutar tumit dan berlalu pergi. Sementara kedua pengawal tengah menjalankan perintah sang Tuan. Pekikan kesakitan tak hentinya keluar dari bibir sandy, kala kedua pria berbadan kekar itu mulai melakukan aksinya. Setelah puas, mereka pun meninggalkan Sandy yang terkapar di tanah dan bersimba darah begitu saja.


Masih dalam kondisi setengah sadar, Sandy coba meraih apapun yang ada di sekitarnya agar dapat membantu pria tersebut untuk bangkit. Bertempur dengan rasa sakit yang teramat, pria yang wajahnya dipenuhi luka lebam itu menyeret langkah untuk memasuki rumah.


Tubuhnya pun terhempas keranjang, nafasnya terenggah di iringi darah segar yang mengucur dari lubang hidungnya. Dia hanya menyekanya dengan lengan kemeja, hingga pakaian berwarna putih itu seketika berubah merah.


Sandy hanya bisa terkapar di ranjang dan enggan bergerak. Menatap nanar langit-lagit kamar dan mengepalkan kedua tangan.

__ADS_1


"Semua yang aku dapat hari ini, karna ulahmu Zara. Andai saja kau tak berniat kabur dan aku berhasil membawamu pada Tuan rentenir itu. Mungkin hidupku sudah bergelimang harta dan tak menjadi gembel seperti ini. Ingat Zara! Aku masih tetap mengincarmu. Jangan harap bisa hidup tenang, selama aku masih ada di dunia ini."


Sandy masih tetap mengingat dan mengutuk gadis yang seharusnya tak bersalah itu dalam kondisi sekaratnya. Meski sejujurnya Ia memiliki rasa pada Zara, akan tetapi hidup mewah yang kini dirasakan gadis tersebut justru membuatnya iri dan tak akan dengan mudahnya bisa menerima.


******


Semenjak paparan Dokter Bram yang memperkirakan Zara tengah mengandung membuat Arka tak ingin beranjak dari kamar perawatan dan sekejap pun meninggalkan istri mungilnya itu.


Lengkung merah di bibirnya senantiasa mengembang, laksana kuncup bunga yang tengah merekah indah. Yang mana justru tak membuat gadis itu sendiri merasa senang, melainkan khawatir. Pasalnya tak ada yang pria itu lakukan selain duduk, tersenyum, dan mentapnya lekat.


Apakah Ini cara Tuan Arka meluapkan rasa kesalnya setelah tanpa sengaja aku menyemburkan kotoran ketubuh dan pakaiaannya.


Zara menelan salivanya susah payah dan mencengkeram ujung pakaiannya kuat seperti ketakutan. Kalau-kalau suaminya itu akan melemparkannya kapan saja dari atas ranjang perawatan.


Tiba-tiba ponsel yang berasal dari kantong kemeja Arka berbunyi nyaring. Pria itupun sempat mengumpat kesal karna kesenangannya menatap wajah sang istri menjadi terganggu, dengan malas ia meraih benda pipih tersebut. Akan tetapi senyumnya mengembang kala menatap sebuah nama yang tertera di layar ponsel miliknya.


"Sayang, ada telpon penting. Aku tinggal sebentar. Ingat! Jangan turun dari ranjang ini. Pangil perawat atau siapa pun untuk membantumu kekamar mandi selama aku tak ada," tutur Arka sebelum melangkah keluar ruangan.


Arka lekas menggeser ikon berwarna hijau dan pangilan seketika tersambung. Pria tampan berjambang tipis itu menghela nafas lega saat suara seorang pria yang sudah lama tak ia dengar kembali menyapanya.


Arka tak mampu membendung rasa leganya, terlihat dari kedua netranya yang terpancar terang dan senyum yang terus mengembang.


Cukup lama mereka saling menyapa untuk pelepas rasa rindu. Keduanya terlihat sangat dekat, layaknya seorang sahabat.

__ADS_1


"Jika semua urusanmu sudah terselesaikan, pulanglah sesekali. Aku dan seseorang lagi, sangat menunggu kepulanganmu."


Ucapan salam sebagai penutup sudah terlontar. Arka memutuskan panggilan, bertuliskan Sahabat Karib dari layar ponselnya dengan mengusap wajahnya seolah menahan tangis. Ia pun teramat merindukan seseorang yang berada jauh di sana. Entah kapan seseorang yang tengah berada di luar negara itu akan kembali. Akan tetapi, satu yang pasti, ia pun akan kembali pada waktu yang sudah tepat.


__ADS_2