
"Bagaimana hubunganmu dengan gadis itu?" tanya Arka pada Sam sang asisten. Keduanya kini berada di ruang kerja sembari memeriksa berkas-berkas penting yang tak sempat di kerjakan di kantor meskipun akhir pekan.
Senyum terkembang di bibir pria tampan itu saat Arka sekilas meliriknya.
"Mungkin, tidak lama lagi saya akan menikahi Kiara, tuan."
Arka menegakkan kepala, kini memilih untuk menatap kedua netra sang asisten lekat. Wajah pria yang sudah hidup bersamanya sekian lama itu terlihat bahagia. Itu tandanya, Sam benar tak main-main dengan keputusan yang akan diambil.
"Kau terlihat sangat bahagia dengannya," telisik Arka begitu menatap pandangan pria di depannya.
Sam tersenyum simpul sebagai jawaban.
"Aku tau kalau gadis itu adalah cinta pertamamu, dan apakah kau sudah menimang dengan benar atas keputusan yang akan kau ambil?" Tak menaruh curiga, hanya saja Arka ingin lebih memastikan.
Sam menghela nafas. Ia sedikit berkisah tentang gadis yang kini mulai memenuhi hatinya.
"Sejujurnya, rasa ini tumbuh sudah cukup lama. Pada saat kita membawa Sandy kerumah ini, saat itu jualah saya bertemu dengan Kiara."
Arka cukup terkejut. Sandy, Kiara? Ada hubungan apa diantara keduanya?
"Sandy lelaki brengsek itu? Lalu apa hubungannya dengan gadis yang kau cintai itu?"
Lagi, Sam menghela nafas dalam.
"Kiara adalah salah satu kekasih Sandy pada waktu itu."
Arka pun terkesiap.
"Sam, lalu kenapa kau memilih gadis seperti itu?" Terdengar nada tak terima dari kalimat yang diucap Arka.
"Pada awalnya saya pun berfikiran serupa dengan tuan. Mengira jika Kiara seorang gadis tak benar seperti kekasih Sandy uang lainnya. Akan tetapi, dugaan saya salah besar."
Pembicaraan keduanya kini terdengar serius. Arka menggeser beberapa berkas di meja, dan memilih untuk fokus membahas gadis yang akan menikah dengan asistennya.
"Katakan, apa saja yang membuatmu merubah fikiran. Apa kau sudah mencari informasi secara detail tentang gadis itu?"
__ADS_1
Sam mengangguk.
"Saya meminta kepada beberapa pengawal untuk mencari informasi Kiara secara keseluruhan. Naik identitas diri, pergaulan, serta latar belakang keluarganya."
"Lalu informasi apa yang kau dapatkan?"
"Kiara hanya satu-satunya gadis, yang berbeda dari mangsa Sandy lainnya. Kiara bukan berasal dari keluarga, tetapi justru sebaliknya. Dia berasal dari kampung dan sengaja mengadu nasib di ibu kota. Sebab ingin membantu sang ayah sebagai tulang punggung keluarga."
Arka tertegun sesaat. Jika dilihat dari sorot mata Sam, jelas pria itu sedang tak berbohong.
"Hampir mirip seperti Zara." Arka justru teringat Akan sang istri.
"Benar tuan. awalnya, saya pun berfikir demikian. Kiara juga hidup seorang diri di kota. Tuan pasti masih ingat, di kontrakan sempit itulah ia tinggal."
Arka menghela nafas dalam dan membuangnya perlahan.
"Dia gadis yang baik. Berfikir dewasa dan tak pernah meminta apa pun dari saya. Itulah yang membuat Kiara semakin istimewa di mata saya."
Entah mengapa, saat mendengar kalimat yang keluar dari bibir Sam, membuat pria tampan berjambang itu tersenyum miring.
"Kau benar-benar sudah merasakan jatuh cinta sekarang," goda Arka dengan serigainya.
"Bukankah ini akhir pekan? Temui dia dan ajaklah jalan-jalan. Selama kau masih punya waktu luang, bahagiakanlah gadis yang kau cintai. Buatlah dia senang dan nyaman saat bersamamu. Aku yakin, gadis itu pasti akan semakin tergila-gila padamu." Seperti orang yang sudah berpengalaman saja Arka berlagak. Ia sendiri bahkan terkikik dalam hati selepas mengucapnya.
"Baik tuan, saya akan lebih dulu menyelesaikan pekerjaan, sebelum menemui Kiara."
"Terserah padamu saja," jawab sang tuan sekenanya.
******
Sam menilik penampilan dirinya secara keseluruhan. Sudah cukup sempurna menurutnya. Kuda besi sudah menepi di jalan masuk gang. Bahkan ia sempat mengirim pesan pada sang kekasih jika akan datang, agar gadis itu tak terkejut.
Baru juga Sam menuruni kuda besinya, saat langkah kaki terdengar mendekat. Pria itu pun lekas menoleh, dan beberapa saat bobirnya pun mengulas senyum lembut saat mengetahui jika sang kekasihlah yang tengah berjalan mendekat kearahnya.
"Ka, sudah sampai?" tanya gadis manis bersurai panjang itu basa basi.
__ADS_1
Sam menganguk samar dengan senyum yang masih terpatri di bibir.
"Iya, aku baru saja sampai," jawab Sam seraya mengusap lembut puncak kepala sang kekasih.
"Kak," ucap Kiara mengambang, namun wajahnya terlihat mulai cemas.
Sam menautkan kedua alisnya.
"Kenapa? Ayo kita kekontrakanmu dulu. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu." Sam mulai menarik lembut tangan mungil Kiara, namun sepertinya gadis itu engan melangkah.
"Kia, ada apa?" Sam menatap tubuh Kiara yang tak bergerak sementara tangan mereka saling berpaut.
"Ka," ucap gadis itu lirih.
"Ada apa? Katakan saja padaku."
Sam bahkan mulai menajamkan pandangan kearah Kiara, yang mana membuat gadis itu kian menciut dan mulai gemetaran.
"Katakan, ada apa?" Ulang Sam lagi.
Gadis itu pun gelagapan, namun sebisa mungkin ia berucap walaupun terbata.
"I-bu d-dan juga ayah datang dari kampung, Kak. Mereka sedang ada di kosan," setengah terbata gadis itu berucap.
"Apa! Orangtuamu datang dari kampung?"
Gadis itu mengangguk, kemudian tertunduk. Ada ketakutan tersendiri di dalam fikirannya. Apakah Sam akan melanjutkan langkahnya menuju kosan dan bertemu orang tuanya. Ataukah akan berbalik arah, meninggalkannya dan enggan bertemu dengan kedua orang tua Kiara.
Bersambung....
Tebak menebak yuk kakak-kakak. Kira-kira si babang Sam mau maju apa mundur? 😆😆
Yuk
Komen
__ADS_1
Komen
Komen