Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Tempat Tujuan


__ADS_3

Menatap kendaraan yang berjalan di depannya, Rangga hanya tersenyum tak bisa menutupi rasa senangnya. Ya, Anastasya tak ingin berada satu mobil denganya dan memilih ikut bersama Surti dan sopir suaminya.


Pria itu sama sekali tak mempermasalahkannya, baginya itu sudah cukup. Hanya dengan melihat sang pujaan ada dalam pandangan, sudah bisa membuatnya bahagia tak terkira.


Masih adakah harapan untukku bisa merajut benang asmara seperti dulu lagi, sayang.


Rangga benar-benar kembali ke ibukota setelah beberapa tahun merintis bisnis di negeri orang. Bukan untuk lepas dari tanggung jawab atau tak ingin mengakui anak yang dikandyng Anastasya. Rangga sebenarnya tengah membangkitkan kembalis bisnis keluarga yang sempat terpuruk di negara tersebut.


Ia memang tak lebih dulu menjelaskan dan pergi begitu saja, sebab Rangga tahu pasti jika kedua orang tua yang dulu sempat tak merestui hubungannya dengan sang kekasih, pasti tak akan membiarkan hal itu terjadi. Hingga diam menjadi pilihan, dan menitipkan Anastasya pada Arka, sahabat karibnya.


Mereka sudah mulai memasuki gerbang rumah utama Arka. Berbagai kesibukan jelas terlihat dari para pengawal berbadan tegap yang berlalu-lalang.


Rangga menghela nafas dalam, menuruni mobil tanpa menurunkan koper Anastasya. Mengikuti langkah sang gadis dan Surti yang berada di depan, Rangga menatap tubuh pujaannya itu dari belakang dan tak tahan untuk memeluknya. Akan tetapi, rasanya sungguh tidak mungkin. Mengingat betapa besarnya kesalahan yang telah ia lakukan, hingga sangsi untuk mendapatkan kata maaf.


Tak jauh berbeda dari keadaan di luar, di dalam rumah megah itu pun para pelayan tampak hilir mudik berkutat dengan kesibukan masing-masing. Akan tetapi ada yang berbeda, semua wajah tak ada satu pun yang menunjukan kegembiraan. Satu sama lain saling diam dan hanya tangan yang bergerak.


Ketiganya menuju ruang keluarga, di mana beberapa orang tampak berkumpul di sana. Mendapati sang sahabat nampak di depan mata, Rangga pun menggeleng pelan sebelum akhirnya mendekat dan langsung mendekap tubuh sahabat karibnya itu.

__ADS_1


Arka yang masih terkejut itu, berusaha mencari tau siapa pemilik wajah dari seseorang yang sudah lancang memeluknya. Namun selepas dekapan itu terlepas dan wajah Rangga terlihat, Arka justru menarik kembali tubuh itu dan mendekapnya lagi.


"Kau sudah kembali?" tanya Arka sembari mendorong cukup kuat tubuh sang sahabat hinngga tubuh pria itu sedikit terhuyung kebelakang.


Sang sahabat pun tersenyum tipis kemudian menjawab, "Ya. Kali ini aku benar-benar kembali."


Anastasya yang melihat pemandangan mengharukan tersebut pun, merasakan adanya senyar asing yang masih ia tak mengeeti akan apa artinya. Akan tetapi, lekas ia menepis rasa haru itu dan memilih untuk duduk di salah satu sofa.


Arka kini tengah berbincang bersama Sam dan beberapa pengawal senior. Pembahasan mereka tetaplah sama, tak lain ialah tentang menghilangnya Zara dan masih belum diketemukan.


Anastasya merasa jengah dan hendak berpindah tempat. Akan tetapi, kini bukan waktunya untuk bermain-main di hadapan para pria yang tengah kesusahan.


"Maaf Arka. Bi Surti sempat mengatakan jika Zara menghilang. Apakah itu benar?" Anastasya lebih dulu melayangkan pertanyaan. Dirinya sendiri merasa tidak nyaman, mengingat sudah berniat pergi, namun kini kembali lagi.


Arka mengangguk sebagai jawaban. Wajahnya pun nampak gurat kesedihan yang teramat sangat.


"Apakah ada sesuatu hal yang memicu Zara hingga menghilang dari rumah seperti ini?" Tidak mungkin jika tak ada masalah yang cukup pelik. Bahkan saat ia meminta Zara untuk menikah secara paksa dengan Arka, gadis itu tak berniat kabur dan tetap melangsungkan acara tersebut meski dengan keterpaksaan.

__ADS_1


"Ibunya datang bersama seseorang, entah apa yang diucapkan hingga membuat Zara teramat bersalah dan menginginkan untuk berpisah."


"Apa?"


Inilah yang selama ini Anastasya takutkan. Pernikahan Zara yang terjadi tanpa sepenetahuan orang tua, akan menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja.


"Aku pun masih belum bisa mempercayau ini semua, bahwa Zara masih meragukan perasaanku padanya. Hingga dia lebih memilih pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun padaku." Pria itu terlihat lemah. Perasaanya hancur. Terlebih mengingat calon bayi yang berada dalam perut sang istri yang berumur sangat muda.


"Mungkin ada dua tempat yang menjadi tempat perginya Zara saat ini," terka Anastasya.


"Di mana?" tanya Arka dan Sam bersamaan.


"Jika tidak kekontarakannya dulu, pasti dia kembali kerumah orang tuanya. Kemungkinan besar, Zara ada di salah satu tempat yang kusebutkan."


Arka dan beberapa pengawal tampak berdiskusi. Memang selama ini mereka tak tahu tempat seperti apa yang akan menjadi tujuan Nonanya. Beberapa hari melakukan pencarian, mereka justru mendatangi semua hotel, villa pribadi dan sepanjang jalan ibu kota.


Arka menarik nafas lega. Setidaknya, ia sudah memiliki tempat tujuan untuk menemukan keberadaan sang istri.

__ADS_1


__ADS_2