Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Gagal Sebelum Bertarung


__ADS_3

Siang berganti malam. Pesta resepsi sudah rampung digelar. Para keluarga inti memilih untuk bermalam di hotel dan pulang selepas rasa lelah hilang. Arka dan Zara sepertinya ingin mengenang momen malam pertama mereka dulu saat keduanya masih ragu untuk melakukan hubungan selayaknya suami istri.


Tetapi mungkin tidak untuk sekarang. Kini keduanya saling memiliki keterikatan satu sama lain, dan diperkokoh dengan adanya sepasang bayi kembar hasil buah cinta mereka.


Arka tak segan-segan untuk menujukan sebesar apa rasa cintanya pada Zara. Begitu pun sebaliknya. Gadis pemalu itu kini mulai bisa memposisikan diri sebagai istri yang baik, dan wajib mengikuti keinginan suaminya. Termasuk dalam hubungan suami istri.


Memasuki kamar pengantin yang disiapkan khusus. Sepasang suami istri itu langsung merebahkan diri di atas ranjang King size tanpa melepas pakaian resepsi yang masih digunakan.


"Aku lelah," ucap Zara lirih selepas merasakan sensasi kasur yang nyaman.


"Kita bahkan belum memulainya, dan kau sudah mengatakan lelah," goda Arka yang posisinya kini berada di samping kanan sang istri, dengan pandangan menatap langit-lagit kamar.


Zara spontan memukul lengan suaminya cukup keras, hingga tawa menggelegar keluar dari bibir Arka.


"Aku benar-benar lelah, sudah beberapa jam kita berdiri tanpa istirahat. Apa menurutmu itu tidak melelahkan?" gerutu Zara tak terima.

__ADS_1


Arka terbahak, ia pun membalikan badannya untuk bisa menatap sang istri yang ada di sampingnya.


"Baiklah, istriku tersayang memang sedang kelelahan sekarang. Dan sebagai bentuk perhatian dari suamimu yang paling tampan ini, bagaimana jika aku pijat tubuhmu, supaya terasa lebih nyaman."


Gadis itu pun lekas mengangguk ketika akan mendapatkan bonus pijatan dari suaminya. Arka pun tersenyum lebar. Yakinlah, ini hanya akal-akalan kaum pria jika tidak diselipi keinginan terselubung.


"Aku akan mandi lebih dulu, kemudian memijatmu." Arka lebih dulu mencium kening sang istri sebelum bangkit dan menuju kamar mandi. Senyum miring tercetak di bibir seksinya. Ia sudah tak sabar untuk mengerjai istrinya malam ini.


Ritual mandi pun berlangsung, sesekalia ia bersiul dengan mengosok punggung dan tubuhnya yang terasa lengket dengan sabun mandi beraroma mint. Ia pun tak lupa mencuci bersih surainya, agar Zara kian tergila-gila pada dirinya.


"Selesai," gumam Arka dengan tangan meraih jubah handuk yang tersedia di kamar mandi. Ia menyempatkan diri untuk bercermin, kemudian tersenyum puas kala mendapati wajahnya yang kembali segar dan terlihat tampan. Mingibaskan surai setengah basahnya dengan jemari kokohnya, Arka mulai menarik gagang pintu untuk menjumpai sang istri dan mulai menjalankan rencananya.


"Sa-yang..." sapaan Arka melemah saat mendapati apa yang sedang sang istri lakukan di atas ranjang tanpa adanya pergerakan sedikit pun.


"Apa! Dia tertidur bahkan sebelum memulai pertarungan?" Arka menggeleng tak percaya. Istri mungilnya itu benar-benar terlelap.

__ADS_1


"Sayang, bangunlah." Tetap bersemangat Arka terus membangunkan istrinya dengan berbagai cara. Kini ia mencium pipi gadis itu dan mengoyangkan tubuhnya.


"Sayang, bangun. Bukankah kau minta dipijat olehku?" Tangan pria itu terus menguncang tubuh istrinya. Begitupun bibirnya yang tanpa lelah mencium seluruh bagian wajah gadis itu.


Akan tetapi di luar perkiraan Arka, bukanya terbangun tetapi..


Plak..


Tamparan cukup keras mendarat di pipi pria itu. Tangan mungil sang istri rupanya cukup kuat untuk melayangkan pukulan yang membuatnya terbelalak seketika. Namun gadis itu melakukannya tanpa sadar, dan hanya bergumam tak jelas dengan kedua netra terkatup rapat.


Ya Tuhan


Arka menggeram kesal dalam hati. Rencana pijat plus-plus kini benar-benar sirna seiring sang istri yang terlelap dan sulit dibangunkan.


"Baiklah, aku menyerah kalah. Aku melepaskanmu untuk malam ini, tapi tidak pada malam selanjutnya."

__ADS_1


Meski sangat kecewa, namun ia sadar jika istrinya pasti kelelahan selepas pesta. Ia pun membaringkan kembali tubuh sang istri kemudian melepas perhiasan yang masih menempel pada tubuh sang gadis satu persatu. Saat ia ingin membuka gaun mewah yang di pakai Zara, Ia beberapa kali menghela nafas dalam saat tak berhasil melakukannya.


"Kenapa gaun mahal ini justru sulit untuk dilepaskan." Arka terus berceloteh, namun tampaknya ia sudah menyerah untuk berusaha melepaskan gaun itu. Ditambah rasa kantuk yang menyergap, membuat pria itu pun ambruk dengan mendekap tubuh sang istri yang masih berbalutkan gaun pengantin.


__ADS_2