
Laksana secerah mentari pagi, senyum di bibir Arka tak surut memudar hingga ia keluar dari ruang pakaian. Jas berwarna Navy pun sudah membalut tubuh kekarnya. Tentu atas bantuan istri mungilnyalah, dirinya bisa terlihat begitu rapi dan sesenang ini.
Berjalan mendahului, Arka terdengar bersenandung ria menuruni puluhan anak tangga penuh suka cita. Sementara Zara yang berjalan mengekorinya, hanya mampu meraba bagian dada, di mana arah detak jantung berdegub kencang, kian tak mampu ia kendalikan lagi.
Surti dan beberapa pelayan terlihat sigap saat keduanya datang. Sementara satu pelayan lain bergerak menarik kedua buah kursi yang kerap Tuan dan Nonanya gunakan.
Nampak sudah memahami akan keingin sang Tuan, para pelayan memilih kembali berjajar di sudut ruangan dan tak menyajikan makanan kedalam piring sarapan Tuannya.
Zara yang sudah mulai terbiasa, mulai meraih piring dan mengambil potongan omelet beraromakan mentega yang mampu membuat siapa pun tergoda. Kocokan telur dengan campurkan irisan daging asap, jamur, parutan keju beserta paprika dan bahan pelengkap lain, terasa begitu nikmat disantap.
"Silahkan Tuan." Zara mendaratkan piring berisikan potongan omelet dengan tambahan saus itu tepat di hadapan suaminya, yang mana disambut antusias oleh pria berwajah tampan tersebut.
"Trimakasih, istriku," ucapnya tanpa ragu. "Kau juga harus sarapan," sambungnya kemudian.
Zara menganguk, "Baik Tuan."
Gadis itu pun mulai mengambil potongan omelet untuk ia santap sendiri, namun ada yang terasa berbeda pagi ini. Di meja makan, kini hanya ada mereka berdua tanpa Anastasya.
"Bi, di mana Anastasya. Kenapa masih belum terlihat?" tanya Arka pada Surti sembari menyibak pandangan kesegala arah, mencari keberadaan istri pertamanya.
"Nona Anastasya sudah meminta izin untuk keluar lebih dulu, Tuan."
Arka menautkan kedua alisnya, setengah berfikir. "Sepagi ini, bukankan dia hanya akan mengunjungi Toko?" Arka mengarahkan pandangannya kearah surti seakan mencari sebuah kebenaran.
"Nona berniat untuk mengunjungi makam lebih dulu Tuan. Maka dari itu Nona berangkat lebih pagi, sebelum terjebak kemacetan." Surti menjelaskan secara detail, pasalnya sang Tuan akan terus mencecarnya dengan rentetan pertanyaan jika jawabanya terkesan dibuat-buat, hanya untuk menutupi kesalahan Anastasya.
Arka sejenak berfikir, namun beberapa detik kemudian ia menganguk samar dan tak melanjutkan pertanyaanya lagi.
Sementara Zara yang menyuap sepotong omelet kedalam mulutnya, terasa berat untuk mengunyah apalagi menelannya.
Apa nona berniat untuk menghindar. Aku tau ini pasti akan terjadi.
"Tuan."
"Iya." Arka menyeka sudut bibirnya denga tisu sementara pandanganya tertuju pada istri di sampingnya.
Zara mengumpulkan keberanian untuk mengajukan lagi keinginannya.
"Seperti janji yang pernah saya ucap, bahwa saya akan kembali menempati toko bunga tempo hari, saya akan menagihnya kembali. Tentu Tuan tidak akan keberatan bukan, terlebih Tuan sudah menyetujui permintaan saya."
Glek..
__ADS_1
Arka menelan salivanya berat. Sejujurnya ia teramat menyesal telah menyetujui permintaan istri mungil yang terasa memberatkan untuknya.
"Aku sudah berjanji, maka aku pun harus menepatinya." Wajah secerah mentari yang sempat tergambar, kini mendung seketika. "Aku akan mengirim arsitek untuk membuat toko lebih nyaman untuk bisa kau tinggali." Entah mengapa nada bicara pria muda itu terdengar berat.
Secepat kilat Zara menggeleng kuat. "Tidak perlu Tuan! Toko bunga itu sudah cukup untuk saya." tolaknya tegas.
Arka tidak menjawab, pria muda itu lekas bangkit dari kursinya. Berusaha menutupi amarah yang mulai menjalar di seluruh tubuhnya. Melangkah dengan kaki lebarnya memasuki mobil yang sudah dipersiapkan oleh sam dan meninggalkan Zara yang masih mematung di tempatnya tanpa sepatah kata pun.
*******
"Apa nona tidak akan merubah keputusan," ucap Surti pada Zara. Keduanya kini tengah berada di kolam ikan hias yang terletak di bagian belakang kediaman Arka.
Zara menyemai butiran pakaian kepermukaan air hingga seketika disambar beberapa ikan yang tampak asik saling berebut. Gadis itu menghela nafas dalam.
"Itu sudah menjadi keputusanku, Bi. Mungkin ini yang terbaik untuk kami bertiga."
Keduanya yang sudah terbilang dekat, mempermudah untuk saling mencurahkan perasaan satu sama lain.
"Tapi Tuan terlihat sangat murka dan tak menginginkan itu semua terjadi." Surti mengeser pandangan menatap Nonanya lekat.
"Bibi pasti tahu benar, apa yang melandasiku untuk melakukan hal semacam ini." Zara balas menatap Surti lekat.
Perempuan paruh baya itu terdiam, enggan membuka mulutnya.
Surti tetap diam. Namun raut wajahnya tak menunjukan rasa iba. Sudut bibirnya justru tersenyum samar, namun ia sengaja membuang pandangan kearah lain untuk tak bersitatap dengan Nonanya.
*****
Seperti biasanya Arka akan kembali setelah pekerjaanya benar-benar terselesaikan dan itu sudah menjelang larut malam. Sepanjang hari ini hingga kembali kerumah miliknya, wajahnya terlihat kusut masai dan tak bersemangat.
Pelayan perempuan berjajar rapi menyambutnya. Surti lantas meraih tas beserta jas dari tangan Tuannya.
"Bi, ikut keruanganku dan bawakan aku roti isi dan minuman hangat," titah Arka kemudian melangkahkan kakinya menuju ruang kerja.
"Baik Tuan," jawab Surti dengan menundukan kepala.
Arka mengusap kasar surai lembutnya. Surai yang sempat istri mungilnya sentuh dan sisir rapi. Jika kembali mengingat kejadian itu, ingin rasanya Arka berteriak dan melarang Zara untuk meninggalkan kediamannya.
Surti membuka pintu tanpa suara, dengan nampan di tangannya. Berusaha tak ingin membuyarkan lamunan sang Tuan, namun pria itu terlebih dulu menyadari keberadaannya.
"Silahkan, Tuan."
__ADS_1
"Terimakasih banyak Bi." Arka lantas meraih gangang cangkir porselen dan menyesap minuman hangat di dalamnya dengan tiga kali tegukan.
"Apa yang Istriku lakukan seharian ini."
Menyebutkan kata istriku, Surti cukup faham siapa yang dimaksud oleh sang Tuan.
"Tidak banyak, Tuan. Sepeningal Tuan menuju kantor, Nona hanya meminta saya untuk menemaninya duduk bersantai di dekat kolam. Selebihnya, Nona menghabiskan waktunya di dalam kamar untuk membaca buku yang sempat diambil dari perpustakaan."
Arka menganguk faham. "Apa dia juga sempat mengutarakan isi hatinya pada Bibi?"
Surti mengangguk, memang seharusnya sang Tuan bisa mendengar ini semua.
"Nona juga mengungkapkan alasanya untuk tak tinggal di kediaman Tuan, itu pun atas permintaan saya."
"Apa yang istriku ucapkan?" desak Arka penuh keingintahuan.
"Ketidaknyamanan dan rasa bersalah_lah pemicu terbesarnya. Nona Zara berucap, jika Nona Anastasyalah yang lebih berhak atas Tuan dari segala sisi. Hingga berada di rumah yang terpisahlah dianggap menjadi pilihan terbaik bagi Nona Zara."
Seketika Arka mengusap wajahnya kasar. Inilah yang sejujurnya ia takutkan. Zara hanyalah gadis polos dan berhati lembut. Ia pasti berfikir dengan pemikiran matang sebelum bertindak.
Gadis itu pun belum tahu benar, bahwa apa yang gadis itu lihat dan bayangkan. Sejujurnya tak semuanya benar.
******
Arka tampak ragu untuk menyentuh gagang pintu kamarnya. Bayangan wajah menyedihkan istrinya kembali memenuhi isi kepalanya. Membuka pintu tanpa suara, pandangan Arka seketika tertuju pada gadis mungil yang tengah bersandar pada kepala ranjang dalam keadaan terlelap sementara kedua tangannya masih menggengam erat buku yang sempat ia baca.
Arka menutup rapat pintu dan berjalan mendekat kearah istrinya. Senyum simpul terulas di wajah tampannya.
Kau ketiduran rupanya.
Arka meraih buku dan menyimpannya di atas meja nakas. Merengkuh tubuh istrinya untuk membenarkan posisi tidurnya agar terasa lebih nyaman. Arka bersimpuh menatap wajah cantik itu lama dan mengusap puncak kepalanya lembut.
Mengapa kau berfikiran hingga sejauh itu. Kau bahkan tak pernah menanyakan langsung padaku.
Pria itu meninggalkan satu kecupan lembut di dahi istrinya sebelum beranjak kekamar mandi.
Keluar dengan tubuh yang segar membuatnya sejenak melupakan segala masalah yang sempat menerpa. Menatap kearah ranjang berwarna emas di mana istrinya tengah terlelap begitu tenangnya, membuat pria itu berkeinginan untuk memeluk erat tubuh mungil istrinya itu.
Tanpa aba-aba, Arka mulai mendaratkan tubuh dan berbaring di samping istrinya. Gadis itu masih tetap tenang dan tak menunjukan pergerakan. Wajah cantik nan manis Zara tak pernah bosan pria itu tatap. Bahkan Arka kini lebih terlihat lebih berani dan tubuhnya menerobos masuk dalam satu selimut yang sama.
Posisi yang saling berhadapan membuat Arka dengan leluasa mengusap surai lembut istrinya. Gadis itu pun mulai terusik namun netranya tetap tertutup dan hanya berbalik badan memunggungi suaminya.
__ADS_1
Arka tersenyum lebar, mendapati tingkah sang istri yang begitu menggemaskan. Nyaris tangannya bergerak mencubit gemas kedua pipi istrinya jika ia tak mampu menahan gejolak dengan sekuat tenaga.
Tak kehilangan akal, pria itu bergerak mengusap punggung berbalut piyama banana itu lembut hingga mendekap erat tubuh mungil itu yang nyaris tengelam dalam pelukan tubuh kekarnya. Dengan posisi seperti inilah Arka justru terasa menyenangkan. Surai wangi istrinya dengan leluasa ia ciumi sesuka hati. Begitu pun tubuh mungilnya yang terasa pas dalam peluknya.