
Derap sepatu dari seorang pria yang tengah berlari mengalihkan pandangan para patugas medis rumasakit yang berlalu lalang. Beberapa petugas pria dengan sigap menarik brankar dorong untuk pertolongan pertama seorang gadis yang tak sadarkan diri dan mengeluarkan cukup banyak darah. Akan tetapi pria itu menolak dan tetap membawa gadis itu dalam rengkuhannya menuju ruang perawatan untuk lekas ditangani.
Petugas pria itu pun tampak terkejut dengan kedatangan seorang pria pewaris Atmadja group, yang ia yakini sebagai pemilik fasilitas kesehatan tempat dirinya mengabdi.
"Sayang, bertahanlah," lirih Arka sesekali menatap wajah sang istri dalam keadaan berlari.
Bram yang tanpa sengaja berpapasan seketika terbelalak menatap kondisi Arka yang tampak kacau dengan darah di mana-mana.
"Cepat! Selamatkan istriku," teriak Arka pada Bram setengah frustrasi.
"Kenapa dia?" Bram yang masih kebingungan, belum mampu berfikir dengan tenang dan memberi solusi.
"Cepat!" teriak Arka sekali lagi.
"Baiklah."
Bram kemudian membimbing Arka menuju ruang VVIP yang berada di lantai teratas. Direbahkannya tubuh tak berdaya itu di atas ranjang perawatan dengan sprei berwarna putih sementara Bram bergerak dengan cepat memberi instruksi pada petugas medis lain untuk mempercepat penanganan.
"Arka, sebaiknya kau menunggu di luar saja," titah Bram dengan perlahan.
Pria itupun menggeleng kuat, sama sekali enggan untuk beranjak.
"Tidak, kak. Aku ingin tetap ada di sini," kekeh Arka dan sama sekali tak bergerak.
Dokter Bram pun menghela nafas dalam, cukup mengerti dengan kekeras kepalaan pria di depannya ini.
"Tapi istrimu memerlukan beberapa penanganan pada luka robek dibeberapa bagian tubuhnya. Kami perlu menjahitnya. Aku tau jika kau di dalam, pasti akan banyak bicara dan itu berpengaruh dan menjadi beban para dokter yang bekerja, mengingat siapa posisimu di rumasakit ini." Bram coba memberi pengertian pada Arka yang terlihat begitu khawatir pada istrinya.
"Dijahit?" Lagi-lagi Arka menunjukan keterkejutannya.
"Benar. Serpihan benda itu menimbulkan luka yang cukup dalam. Jika tidak dijahit, kemungkinan besar akan menyebabkan infeksi," papar Bram sembari menepuk pelan pundak pria tampan di depannya untuk membuatnya lebih tenang.
"Pasti sangat sakit?" Entah mengapa, bayangan wajah Zara yang merintih menahan sakit, sempat terlintas di benak Arka.
"Percayalah, istrimu akan baik-baik saja dalam penangan kami."
"Baiklah, aku berharap besar pada kalian dan jangan sampai mengecewakanku."
Bram menganguk kuat. "Tunggulah di dalam." Bram menunjuk ruang tunggu ruang VVIP agar Arka bisa beristirahat atau setidaknya bisa sedikit meredam kecemasannya.
__ADS_1
"Tidak, kak. Aku ingin menunggu di sini sana." Pria itu menolak dan duduk dalam jajaran kursi yang berada di depan ruangan tempat Zara ditangani.
"Baiklah." Bram menghela nafas dalam dan memutar tubuh memasuki ruangan untuk bergabung dengan petugas medis lainya.
Arka menatap dinding dengan pandangan kosong dan menyandarkan punggungnya. Terdengar langkah mendekat membuatnya menggeser pandang. Anastasya berjalan cepat menghampirinya.
"Arka, bagaimana keadaan Zara," tanya gadis itu kemudian duduk di sisi kanan sang suami.
"Entahlah, doakan saja yang terbai untuknya." Pria itu masih tetap mengedarkan pandang kearah lain, engan menatap Anastasya.
"Maaf, aku tidak mengira jika Zara sudah berada di dalam saat aku mengatakannya."
"Anastasya, aku mohon. Jangan bahas masalah itu sekarang. Setidaknya kau fikirkan bagaimana perasaan Zara, saat kata-kata itu kau ucapkan."
Anastasya terdiam dan tertunduk dalam. Ia memang sengaja menginginkan perceraian, sebelum semuanya terlambat.
Pintu ruangan terbuka, Bram dan beberapa dokter serta perawat keluar dari ruangan. Arka seketika bangkit dari posisinya dan mendekat kearah Bram.
"Kak, bagaimana keadaan istriku," desak Arka.
"Istrimu masih tak sadarkan diri. Kondisi tubuhnya pun lemah. Tapi aku pastikan dalam beberapa menit kedepan, istrimu akan siuman."
"Tidak masalah, tapi jika ia sudah sadar, kurangi interaksi dan biarkan ia tetap istirahat, supaya mempercepat proses pemulihan."
Arka pun berbinar senang diiringi senyum lebar.
"Baik, akana aku pastikan itu." Arka bergerak cepat membuka pintu dan menutupnya kembali dengan sangat pelan.
Wajah yang sempat berbinar itu, kini redup seketika mendapati sang istri tergolek lemah tak berdaya di ranjang perawatan. Netranya terkatup rapat. Jarum infus menancap di punggung tangan, dan beberapa luka di tangan dan kaki yang tertutup kain perban. Cukup membuat seorang Arkana Surya Atmadja hancur berkeping-keping.
Pria itu menarik sebuah kursi untuk lebih dekat dengan ranjang, lantas mendudukinya. Diraihnya tangan mungil berbalut perban itu dan menciuminya lembut.
"Bangunlah, sayang. Aku merindukan cinta dan tawamu." Mengusap pipi Zara dan menciumi kembali punggung tangannya bertubi-tubi. Sepertinya berhasil, gadis itu mulai mengerjap, mengedipkan kelopak netranya.
"Sayang, kita di mana?" Netra sayunya menyibak pandang kesekeliling ruangan untuk mencari jawabannya.
"Kita di rumasakit sayang. Jangan difikirkan, kau akan aman bersamaku." Arka kembali mendaratkan usapan di puncak kepala dengan penuh sayang.
Rumasakit. Aku di rumasakit.
__ADS_1
Gadis mungil itu coba mengingat kembali akan peristiwa yang sudah terjadi. Hinga rasa pedih yang mulai menjalar di beberapa bagian tubuhnya, seketika membuatnya tersadar, dan mengingat kejadian yang membuatnya tak sadar dan berakhir di ranjang perawatan.
Iya, aku ingat. Nona Anastasya ingin meminta cerai, tapi di mana Nona sekarang. Tidak, ini tidak boleh terjadi.
Tiada daya untuk meronta, hanya buliran bening yang mewakili perasaannya.
*****
Bram menatap Anastasya yang ditinggal begitu saja oleh Arka. Tergambar jelas gurat kesedihan di wajah gadis cantik itu. Bram pun mendekat dan mendaratkan tubuhnya di kursi kosong di sampingnya.
"Anastasya, bagaimana jika aku mentraktirmu minum kopi?" Tawar Bram pada Anastasya. Meski keduanya terbilang tak akrab, namun bram berusaha sebaik mungkin untuk membuat gadis tersebut nyaman.
Anastasya hanya mengangguk, kemudian keduanya mulai melangkah menuju kantin yang berada di area belakang rumasakit.
"Bagaimana kondisi rumah tanggamu dengan Arka saat ini, Anastasya?" Tanpa ragu Bram menanyakan sebuah perkara yang sengaja Anastasya tutup rapat.
"Tidak ada masalah, Kak. Semua berjalan sebagaimana mestinya," jawab Anastasya sesekali mengaduk es kopi yang ia pesan namun tak berniat meminumnya.
"Jangan berbohong kepadaku. Bukankah gadis yang terluka itu juga istri dari suamimu, dan aku dengar jika kau sendirilah yang menginginkan pernikahan itu terjadi."
Anastasya menghela nafas dalam. Tidak ada orang luar yang tau asal muasal pernikahan Arka dan Zara, dan sekarang Bram pun mengetahuinya. Gadis itu pun faham, jika Arka sendirilah yang sudah pasti mengatakannya pada Dokter keluarga Atmadja tersebut.
"Aku tidak bisa mengungkap apa alasannya, ka. Tapi aku yakin jika gadis itu bisa memuat hidup Arka lebih sempurna."
Bram berdecak dan menggelengkan kepala tak habis fikir.
"Bukankah dengan hadirnya dirimu sudah cukup membuat hidup Arka sempurna?"
"Ka, aku yakin jika anda mengenal suamiku bahkan lebih dari diriku sendiri. Bagaimana dia memperlakukanku, menatapku, pasti Dokter tau semua. Aku juga ingin mempunya sebuah rumah tangga yang menjadi impian banyak orang. Saling berbagi, mencintai, dan mencurahkan seluruh perasaannya. Bukan hanya memandang harta sebagai takaran kebahagian."
Bram menimang ucapan Anastasya dan membayangkan beberapa kejadian yang pernah ia lihat.
Anastasya adalah gadis yang pernah ia temui dikediaman Arka untuk pertama kalinya saat gadis cantik itu terluka parah akibat berusaha untuk bunuh diri. Ia pun tengah mengandung, dan dihari berikutnya gadis itu sudah berubah setatus menjadi nyonya Arkana.
"Ketahuilah Dokter Bram, Arka tidak mencintaiku. Hingga aku berinisiatif untuk mencarikannya seorang gadis yang memang ia cintai. Aku sadar, jika bukan aku yang memintanya, maka pernikahan itu pun tidak akan pernah terjadi."
Bram terbelalak, namun ia juga mampu merabanya. Saat Arka mengadu tentang datang bulan, ia sudah mampu menebak jika pria itu memang tak main-main pada perasaanya untuk gadis yang bernama Zara itu. Terlebih obat penyubur kandungan yang Arka juga minta.
Apa. obat penyubur kandungan. Astaga, aku bahkan baru mengingatnya. Bagaimana kiranya dengan obat itu, apakah sudah bekerja atau bahkan sudah mendapatkan hasil.
__ADS_1
Bukannya mendengar isi hati Anastasya, Brama justru sibuk dengan fikirannya sendiri tentang penyubur paten yang sudah diminta Arka untuk sang istri.