Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Rasa Cinta


__ADS_3

Tak jauh berbeda dengan Rangga, saat ini Anastasya pun butuh teman untuk berbagibbeban sekaligus membantunya untuk bisa mencari jalan keluar. Tetapi ia pun tak ingin berharap banyak pada orang lain, terkecuali pada dirinya sendiri.


Bersama seorang sopir, Anastasya menginjakan kakinya kembali kerumah Arka. Tetapi bukan untuk menemui mantan suaminya itu, melainkan untuk menemui Zara. Semilir angin menyambut kedatangan mantan nona, saat beberapa pelayan berbaris menyambutnya.


Gadis itu hanya menatap teduh orang-orang yang dulu pernah melayaninya. Tanpa banyak bicara, ia pun mengikuti langkah Surti yang langsung membawanya kesebuah ruangan yang sudah ditunjuk oleh dirinya.


Anastasya sengaja memakai ruangan tertutup untuk bisa berbicara banyak dan lebih dekat dengan Zara. Saat beberapa menit menunggu, terdengarpintu ruangan dibuka perlahan, kemudian sesosok perempuan bertubuh mungil dengan perut sedikit membuncit muncul dari balik pintu yang terbuka itu.


Zara mengulas senyum teduh begitu melangkahkan kaki untuk mendekat. Anastasya pun demikian, ia membalas senyum gadis itu dengan tak kalah lembutnya, kemudian menepuk ruang kosong di sisi kanan tubuhnya untuk Zara tempati.


"Nona, senang sekali bisa bertemu kembali dengan anda." Gadis itu pun menempati ruangan yang ditunjuk oleh Anastasya, yang membuat keduanya duduk dengan berdampingan.


"Zara, berhentilah memanggilku dengan sebutan Nona. Aku bukan lagi majikanmu, dan bukankah kita adalah teman, Kita adalah sahabat atau bahkan sudah menjadi keluarga. Kau bisa memanggilku kakak untuk menyesuaikan usia kita."


Gadis mungil itu tersenyum tipis. Mungkin panggilan Kakak masih asing baginya untuk ditujukan kepada Anastasya. Dulu mereka memang lebih terlihat seperti pelayan dan majikan. Mungkin masih butuh waktu bagi Zara untuk menyesuaikannya.


"Zara, kau lebih terlihat cantik dan bersinar. Apalagi ditambah dengan tubuhmu yang sedikit berisi, kau bahkan terlihat beberapa kali lipat lebih cantik dari sebelum-sebelumnya," puji Anastasya selepas menilik perbedaan dari aura kecantikan gadis mungil itu yang semakin hari kian terpancar.


"Terimakasih nona, em... maksudku Ka Anastasya. Tetapi percayalah, dari segi apa pun anda masih jauh lebih cantik dari pada saya." Tak ingin besar kepala, Zara justru berucap merendah dan mengatakan apa yang sejujurnya.


Anastaaya tersenyum simpul kemudian berucap, "Itulah yang kusuka dari dirimu, tak pernah sombong, namun selalu tetap merendah." Memang, tak ada sesuatu perubahan pada pribadi Zara, baik dulu atau pun kini. Gadis itu tetaplah polos dan apa adanya meski sudah bergelimang harta.


"Apa yang bisa saya banggakan dari kehidupan singkat di dunia ini. Saya hanya perlu mensyukuri setiap nikmat yang sudah di titipkan tuhun untuk saya. Saya sadar, jika bukan karna anda, mungkin hidup saya tidak akan seperti ini." Zara mengingat betul berbagai proses yang ia jalani hingga sampai pada tahap seperti ini. Ditolong oleh Anastasya, bekerja di toko bung miliknya, hingga sampai menikah paksa dengan suaminya. Gadis itu sadar, jika bukan karna Anastasya, dirinya bukanlah siapa-siapa.


Suasana berubah senyam, pembicaraan yang semula tampak santai, kini berubah sesak.


"Lupakanlah, aku datang bukan untuk membahas masalah itu." Anastasya memberi jeda ucapannya sejenak saat Surti datang membawa nampan dengan dua gelas jus buah segar beserta camilan. Selepas pelayan itu pergi, barulah Anastasya menyambung kembali ucapannya. "Aku berniat untuk pergi dari kota ini, dan mungkin ini untuk yang terakhir kalinya kita bisa bertemu." Berucap lirih, gadis itu bahkan tertunduk dan mencengkeram jemarinya sendiri.


"Kenapa? Dan di mana Ka Anastasya akan pergi? Apakah Tuan Rangga yang akan membawa anda pergi jauh?"


Gadis itu spontan menggeleng. "Bukan, Zara. Ini semua tak ada sangkut pautnya dengan Rangga. Aku pergi karna kami memutuskan untuk menjalani kehidupan kami masing-masing."


"Apa maksudnya? Bukankah hubungan di antara kalian sudah terlihat membaik?" Sebab itulah yang ditangkap Zara pada saat keduanya terkunci di dalam kamar ysng sama. Bahkan saat Rangga datang untuk mengadukan masalah pada suaminya, gadis itu pun masih tak tau apa-apa.


"Zara, luka yang ditorehkan Rangga padaku cukup dalam. Butuh waktu lama untuk bisa menyembuhkannya, bahkan aku sendiri tak yakin sampai kapan luka ini akan mengering, kemudian hilang tanpa bekas. Sudah cukup lama aku bernegosiasi dengan perasaanku sendiri, mencari jawaban terbaik dan memilah baik buruknya. Akan tetapi, selama proses itu berjalan, tetap satu jawabanlah yang bisa kutemukan. Kami tetap harus berpisah, meski hati kita berontak untuk meminta dipersatukan."


Anastasya mengatupkan sepasang netranya rapat dan menggigit bibir bawahnya kelu. Rasa ini sakit, teramat sakut. Namun ini lebih baik dari pada memaksa untuk kembali dan Rangga kembali mencampakannya lagi.


"Apakah Ka Anastasya sudah merasa yakin dengan pilihan yang coba diambil?"

__ADS_1


Anastasya mengganguk kuat. "Aku yakin."


Zara menghela nafas dalam, ia sendiri tak tau hendak berbuat apa. Untuk mencegah pun rasanya tak mungkin mengingat betapa menggebunya Anastasya berucap.


"Apakah tidak ada sesuatu hal lagi yang ingin Kakak pertahankan dari diri Tuan Rangga?" Setidaknya, Zara berharap jika hubungan keduanya masih bisa untuk diperbaiki.


"Aku rasa tidak," ucap Anastasya datar. "Kau mungkin tak tau seperti apa perjuangan hidupku dulu, tetapi Arka mengetahui semuanya."


Entah apa mksud ucapan Anastasya, Zara hanya bisa mendengar tanpa ingin berspekulasi.


"Hidupku hancur karna Rangga, dan meninggalkanku begitu saja tanpa sebaik kata. Aku kehilangan akal dan berniat mengakhiri hidupku sendiri. Beruntunglah ada pria sebaik Arka yang sudi menolongku. Terlebih, sedikit demi sedikit dia mulai mengobati rasa luka yang ditorehkan Rangga dengan berbagai macam perhatiaannya." Anastasya kini menatap netra gadis di depannya lekat. "Hingga muncullah perasaan cinta dari lubuk hati terdalamku untuk Arka."


Zara terdiam, sebisa mungkin ia mengulas senyum meski pun rasanya cukup sulit.


"Aku mencintai Arka sekaligus mengaguminya. Aku pun berharap jika rasa cintaku ini terbalaskan. Tetapi sayang, semuanya hanyalah angan. Meski pun sah menjadi pasangan suami istri, namun nyatanya hati Arka tak pernah bisa mencintaiku. Dia bahkan tak pernah menyentuhku, apalagi sampai bercinta denganku. Dua tahun kami hidup bersama, tetapi selama itulah kita tidur di kamar yang berbeda. Mungkin tak ada satu orang pun yang mengetahuinya, baik itu surti atau Ibu mertua sekalipun. Kau mungkin tidak tau jika di kamarmu ada sebuah pintu rahasia yang terhubung dengan kamarku. Pintu itu didesain khusus atas permintaan Arka. Jadi, walaupun kami memasuki kamar yang sama, tetapi kami tidur di ruangan yang berbeda."


Zara terpaku tanpa ekspresi. Memang Anastasya sempat mengatakan jika Arka tak mencintainya. Tapi mereka benar-benar tak melakukan hubungan intim selama pernikahan berlangsung, bukankah itu sesuatu hal yang susah dipercaya.


Kini tatapan Anastasya tertuju pada perut Zara yang mulai membuncit. Gadis itu tersenyum lembut, dan mengarahkan tangannya untuk membelai perut itu pelan.


"Saat aku dengar jika kau positif hamil, aku tersenyum senang. Sebab perkiraanku benar dengan cara memaksa kalian untuk menikah. Janin di dalam rahimmu, bagai menjawab semua pertanyaanku. Arka benar-benar mencintaimu dan menginginksn kau yang mengandung dan melahirkan anak-anaknya."


"Jika Ka Anastasya dan Tuan Arka tak pernah melakukan hubungan itu, apa itu berarti---"


"Ya.., Kau adalah wanita pertama bagi Arka." Seakan tau kemana arah pembicaraan Zara, Anastasya menjawab cepat sebelum pertanyaan selesai diucap.


Zara menghela nafas panjang, entah mengapa masih ada setitik keraguan.


"Jangan berfikir macam-macam. Arka memang punya segalanya dan bebas tidur dengan gadis mana pun yang diinginkannya. Tetapi percayalah, dia adalah pria dingin dan susah dirayu apalagi dijamah. Alkohol dan **** bebas, sangat jauh dari seorang Arkana Surya Atmadja. Jadi, beruntunglah kau Zara, yang sudah berhasil menaklukan hati seorang pria seperti dia." Dari lubuk hati terdalam Anastasya mengucap kekagumannya. Tak menyangka jika gadis mungil nan polos pilihannya bisa menjadi pelabuhan cinta mantan suaminya.


Lengkung tipis merah muda Zara mengembang seiring sanjungan yang diucap Anastasya untuknya. Jika memang benar adanya, maka dirinya pun luar biasa bahagia sebab bisa dicintai oleh pria sebaik suaminya.


"Maaf, aku sudah terlalu banyak bicara. Tapi percayalah, aku mengatakan semua hal ini bukan untuk maksud lain. Aku mengungkap semuanya agar lebih jelas, hingga kelak kau tidak pernah mengungkitnya lagi. Arka hanya mencintaimu, sedangkan aku hanya masa lalunya. Jadi, sebelum aku pergi. Biarkan awan gelap di antara kita berubah terang. Aku akan melangkah tanpa beban menyongsong masa depanku, dan kau hidup bahagia bersama Arka dan anak-anakmu kelak tanpa adanya bayang-bayang diriku." Anastasya berucap tulus. Ia tak ingin jika kelak Zara masih menyangkut pautkan dirinya dengan Arka suaminya.


Seolah faham akan maksud ucapan Anastasya, Zara mengulas senyum lembut dengan netra berkaca-kaca. Meskipun dirinya dianggap orang ketiga dalam rumah tangga Anastasya oleh sebagian orang. Akan tetapi, begitu mendengar pengakuan jika Arka hanya mencintainya, maka itu pun sudah cukup menjadi jawaban.


*****


"Sayang, aku pulang." Arka tersenyum lebar, melepaskan Jas kerja dan meletakkannya di punggung sofa. Sementara pandangannya tampak menyisir ruangan, mencari keberadaan sosok mungil yang seharian ini dirindukan.

__ADS_1


"Sayang, kau di mana?" Pria itu hanya menghela nafas dalam saat tak mendapati sang istri di kamarnya. Tetapi ia yakin jika istrinya itu tengah berada di kamar mandi tengah membersihkan diri.


Ia pun mengendurkan dasi yang masih melingkar di leher dan berniat untuk membuka pintu kamar yang terhubung dengan balkon. Suasana senja dengan langit berwarna jingga menyapa indra penglihatan pria tampan itu saat pintu terbuka. Dihirupnya udara sekitar yang terasa segar, tiba-tiba sepasang tangan mungil bergerak menyentuh pinggangnya kemudian mendekapnya hanggat.


Arka sempat memejamkan netra saat sentuhan itu terasa membuainya. Ditambah dengan beberapa ciuman di punnggungnya yang masih berbalutkan kemeja, kian menambah gelayar rasa hanggat saat ia yakin jika istri mungilnya itu lah yang kini tengah berulah.


"Sayang," ucap Arka dengan suara parah dengan netra masih terpejam. Tangan mungil Zara ia gengam dan remas dengan lembutnya.


"Biarkan seperti ini sayang. Aku ingin lebih lama lagi merasakannya." Bukan hanya Arka, Zara pun tampak menikmati saat pipinya menempel pada punggung hangat suaminya. Ia pun mengatupkan netra, dan menikmati rasa hangat dan nyaman yang tercipta.


"Kenapa? Jika seperti ini, aku bahkan tidak bisa melihat wajah dan senyum malu-malumu itu." Benar adanya, di dekap dari belakang memang terasa nyaman. Tetapi dirinya menjadi tak leluasa. Sebab tak mampu menatap wajah cantik istrinya. Tak ingin terus berada diposisi seperti ini, dengan satu kali gerakan Arka denhan cepat mengubah gerakan, hingga keduanya saling berhadapan.


Zara yang terkesiap pun lekas menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami. Dirinya benar-benar merasa malu.


"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi. Saat ini kau tak seperti biasanya, sayang." Arka mendaratkan sebuah kecupan pada puncak kepala sang istri dan memeluk tubuh mungil itu dengan mesranya. Entah mengapa, setiap kali gadis itu menunjukan rasa cintanya tanpa diminta, membuat Arka merasa gemas dan ingin membalasnya dengan berkali lipat.


"Aku mencintaimu, sungguh mencintaimu." Ucapan itu terlontar begitu saja dari bibir Zara namun tak berani menatap sang suami dan masih besembunyi pada dada bidangnya.


Arka ternganga tak percaya. Bibirnya menyerigai dengan bibir sedikit terbuka akibat rasa takjubnya.


"Apa? Aku tidak mendengarnya, sayang. Coba ulangi sekali lagi." Pria itu menangkup kedua pipi berisi sang istri dan mengangkat wajahnya agar mereka saling bersitatap. Hingga Pria itu mampu dengan mudah untuk menyelami kejujuran akan ucapan cinta yang terucap dari bibir istrinya. Padahal Arka tidaklah tuli, ia bahkan dengan jelas mampu mendengar apa yang baru saja diucap oleh Zara. Hanya saja, dirinya masih ingin mendengar kata-kata itu kembali.


"Aku sungguh mencintaimu, sayang," ulang Zara untuk kedua kalinya, sementara kedua tangannya sibuk memainkan kancing kemeja suaminya.


Arka tergelak samar dengan senyum melebar. Tanpa berfikir panjang ia lekas memagut bibir mungil nan mengoda sang istri dengan mesranya. Menyesapi rasa semanis madu yang kian menjadi candu baginya.


Ciuman panas itu membuat keduanya hanyut dalam rasa saling mencicipi. Zara yang masih minim pengalaman dalam hal berciuman, hanya bisa mengikuti permainan sang suami meski masih cukup kaku. Pertautan bibir itu terlepas saat Arka menyadari jika sang istri kehabisan nafas.


Arka menyerigai penuh kepuasan saat menatap bibir mungil kemerahan Zara tampak membengkak dan lembab akibat ulahnya.


"Sayang, apakah kau ingin mandi sekarang?" tanya Zara pada sang suami dengan nafas masih terenggah.


Lagi-lagi Arka menyerigai. Entah makanan apa yang dikonsumsi istrinya selama seharian ini hingga tingkahnya nyaris berubah derastis. Zara yang semula pasif, kini bergerak lebih aktif dari pada dirinya. Dan tak ayal itu membuat hati Arka berbunga-bunga.


Pria itu pun mengangguk tanpa menjawab. Zara pun bergerak untuk mempersiapkan semua keperluan di kamar mandi. Selepas mengisi bath tup dengan air hangat dan aroma terapi. Kini Zara dengan cekatan membantu suaminya untuk menanggalkan pakaian dan menyimpannya di keranjang pakaian kotor.


Melihat betapa sang istri melepaskan setiap lemar pakaianya tanpa malu-malu, tak urung membuat Arka diliputi tanda tanya besar. Gerangan apakah yang membuat istrinya menjadi berubah seperti ini. Sampai pada saat Zara mencuci rambut bahkan mengosok punggungnya dengan telaten dan tanpa malu-malu apalagi ketakutan saat melihat dirinya tanpa pakaian. Percayalah, itu bukanlah Zara yang selama ini dia kenal. Zara istrinya adalah gadis polos dan pemalu. Meski mereka telah menikah dan Zara sudah mengandung buah cintanya, tetapi Zaratetaplah gadis pemalu yang masih ragu untuk mengungkapkan rasa cintanya.


Tapi saat ini, semuanya berubah. Gadis polos nan pemalu itu sudah mulai nakal dari berani mengungkapkan perasaannya. Tentu Arka merasa senang, bahkan luar biasa senang. Dengan begitu ia sudah tak kehabisan ide lagi untuk bisa mengoda dan merayu sang istri, hingga membuat wajah cantik itu merona malu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2