
"Apa dia mengalami gangguan jiwa? Ah tapi rasanya tidak mungkin." Anastasya terus bergumam sementara tangannya bergerak mengelap meja kotor bekas pelanggan makan malam.
Gadis itu terus berperang dengan fikirnya sendiri. Semenjak malam itu, pria misterius dengan stelan jas lengkap yang datang seorang diri namun selalu memesan makanan yang cukup disantap untuk tiga orang itu, hampir setiap malam selalu datang kerestoran pada saat menjelang tengah malam pula.
"Hei, kau sedang melamun? Memang apa yang kau fikirkan?" Rekan Anastasya bernama Nana, mencolek pinggang gadis bersurai panjang itu yang sepertinya tengah melamun disela pekerjaanya.
Anastasya yang sedikit berjingkat karna terkejut itu, menarik nafas dalam saat dirinya menemukan Nana yang berdiri di belakangnya.
"Aku hanya sedang memikirkan pelanggan aneh restoran yang selalu datang hampir tengah malam itu. Menurutmu, apakah dia kurang waras atau---"
"Hust, jangan ngaco ah. Ga baik tau berfikiran buruk seperti itu," sela Nana setengah tak terima.
Anastasya pun menautkan kedua alisnya keheranan. Nana bahkan belum pernah melihat pelanggan itu makan, tetapi kenapa bisa berucap demikian.
"Kau bahkan belum pernah melihatnya, tetapi kenapa kau berbicara seolah sudah mengenal pria misterius itu dengan baik," selidik Anastasya dengan melempar tatapan tajam kearah rekannya itu.
"Ah sudahlah. Tidak perlu dibahas. Lagi pula ini juga tidak penting." Nana menjawab sekenanya. "Aku lapar dan mengantuk, ini juga sudah malam. Kita harus berkemas untuk pulang," ucapnya lagi.
Anastasya memanyunkan bibirnya, merasa diabaikan oleh Nana yang memilih meninggalkanya seorang diri.
"Huh, kau benar-benar aneh. Coba saja jika kau bertemu dengannya. Aku yakin, kau pasti akan sepemikiran denganku yang menganggapnya pria kurang waras." Anastasya terus mendumal, tanpa menyadari jika ada seseorang yang berdiri mematung di hadapannya.
"Maaf, apakah restorannya masih buka?" ucap seseorang itu, yang mana membuat Anastasya berjingkat dan terkejut setengah mati akan kehadiran sosok pria dihadapannya yang datang tanpa diduga.
Dia benar-benar seperti hantu yang datang tanpa diduga.
"Be-belum, tuan," jawab Anastasya sedikit terbata, sementara tubuhnya bergetar hebat.
Jika aku bilang tutup juga percuma. Kau pasti akan merengek dan memintaku agar merayu koki untuk mau membuatkan makanan untukmu.
"Terimakasih." Pria itu pun tersenyum simpul dan duduk disebuah tempat yang berada di sudut ruangan.
"Tuan ingin memesan menu apa?" Anastasya menyodorkan buku menu kehadapan pelanggan, akan tetapi dengan cepat pria itu menolaknya.
"Seperti biasa."
__ADS_1
Seperti biasa? Maksudnya?
"Apakah yang tuan maksud adalah menu yang sama dengan apa yang tuan pesan sebelum-sebelumnya?"
Pria itu pun spontan mengangguk, meng-iyakan.
"Dan untuk tiga orang?" tebak Anastasya.
Lagi-lagi pria itu mengangguk, dengan diiringi senyum tipis di bibirnya seolah puas dengan jawaban Anastasya.
Benar-benar kurang waras.
Gadis itu mulai melangkah kearah dapur. Berusaha mencari koki agar sudi memasak dikala jam kerja mereka sudah habis. Beruntunglah koki paruh baya nan baik hati itu tak menolak dan terkesan faham akan situasi. Ia tak menolak, justru senang hati dan tak sedikit pun terbebani kala mengolah pesanan pria misterius tersebut.
Dengan penuh kehati-hatian Anastasya mendaratkan beberapa piring makanan kehadapan pria yang entah siapa namanya itu. Setelah semua hidangan tertata apik, ia pun lekas menepi dan memilih memperhatikan pelanggannya itu dari kejauhan.
Meski mengetahui jika pelayan yang menyajikan makanan terlihat memperhatikannya dari kejauhan, pria itu tak ambil pusing. Ia kini terlihat sangat lahap menyantap hidangannya, selepas berbicara pada dirinya sendiri.
Meski terkesan misterius dan menakutkan, namun nyatanya pria itu tak semenakutkan yang Anastasya bayangkan. Wajahnya cukup tampan, dan cara makannya pun juga elegan. Tak serampangan seperti pria urakan pada umumnya.
Pria itu tak lain adalah Wisnu. Manajer restoran tempat Anastasya bekerja.
"Iya, Kak. Aku kembali merindukan makanan dan tempat ini."
Jadi pria misterius ini namanya ken. Nama yang cukup keren.
Anastasya semakin intens mengamati interaksi antara atasannya dan juga pria misterius itu. Dan tanpa gadis itu duga, rupanya kedua pria itu terlihat cukup dekat.
Wisnu duduk tepat di hadapan ken. Sementara ken sendiri merasa tak tergangu dan asyik menyantap makanannya.
"Sejak kapan kau kembali." Dengan nada bicara cukup pelan, Wisnu mengucapkan pertanyaanya.
"Sejak seminggu yang lalu, Kak. Semua pekerjaanku di negara XX sudah berakhir, dan sudah waktunya aku kembali ke negeri ini." Wajah ken seketika berubah mendung. Entah apa yang pria itu tengah fikirkan, namun yang pasti tersimpan sejejak gurat kepedihan di wajah tampannya.
Wisnu menghela nafas dalam. Satu tangannya bergerak menepuk bahu Ken pelan namun berulang.
__ADS_1
"Kuatkan hatimu. Aku yakin, kau pasti bisa melewati semuanya yang sudah terjadi." Tatapan Wisnu tertuju pada hidangan yang tak teesentuh di meja. "Mereka pasti sudah tenang dan hidup dengan nyaman di sana. Kau tidak perlu melakukan ini, mereka sudah pasti merasa kenyang di sana." lanjut Wisnu lagi.
Ken mendaratkan sendok dan garbunya kepiring hingga menciptakan dentingan yang cukup berisik.
"Maaf kak, mungkin aku belum bisa melakukannya sekarang. Mereka seperti masih ada bersamaku. Hingga cara semacam inilah, yang membuatku bisa merasakan akan kehadiran mereka." Ken sedikit tak terima. Merasa jika ucapan Wisnu mengusik nalurinya.
Wisnu pun gelagapan. Tak menyangka jika ucapannya akan menyulutut amarah Ken.
"Baiklah. Maafkan aku. Tak sepatutnya aku mengucapkan hal demikian." Wisnu tersenyum hambar, berlapang dada mengakui kelancangannya.
"Tidak kak. Akulah yang sepatutnya meminta maaf," ucap Ken dengan netra berkaca-kaca. "Ini sudah berjalan tiga tahun lamanya dan aku masih belum bisa melupakannya. Aku tau jika kau sangat perduli padaku, dan terus mendorongku untuk mampu bangkit dalam keterpurukan ini. Tetapi nyatanya, aku masih tak berdaya dan tetap berkubang pada rasa sakit ini."
Dari kejauhan, Anastasya menyipitkan netra. Dirinya bahkan dengan jelas mampu mendengar percakapan dua pria dewasa itu. Dibalik keterdiaman dan sikap misteriusnya, rupanya Ken menyimpan luka yang mendalam. Kiranya luka semacam apa? Entahlah, Anastasya pun tak mampu mengiranya.
Tak berapa lama, Ken terlihat bangkit dan berpamitan. Sebelum beranjak, ia sempat memberikan beberapa lembar uang sebagai biaya makannya. Tak tertinggal pula, beberapa lembar uang tips yang diberikan pada Anastasya, sama seperti sebelum-sebelumnya.
Selepas pria misterius itu benar-benar menghilang dari pandangan, Wisnu selaku manajer menghampiri Anastasya.
"Dia adalah temanku. Aku mohon, setiap dia datang layani permintaanya dengan baik, meskipun terkadang tak masuk akal. Jika perlu, ajak dia bicara."
Anastasya menelan salivanya berat, seolah dicekam ketakutan. Wisnu yang menyadarinya pun tergelak.
"Kau tidak perlu khawatir. Dia manusia biasa, sama seperti kita dan bukan makhluk halus, jadi kau tak perlu takut."
"Ta-tapi tuan," ucap Anastasya ragu.
"Sebenarnya dia adalah pria yang baik. Hanya saja, takdir sedang mengujinya dengan cobaan yang cukup dahsyat hingga jiwanya terguncang. Selama beberapa tahun dia memilih untuk mengurung diri dan menjaga jarak dengan orang lain. Ya, sampai seperti ini jadinya. Dia terkesan pendiam dan tertutup. Wajah cerianya yang dulu seakan sirna seiring luka yang terus membelenggunya."
Anastasya tak mampu menjawab. Sementara fikirnya sibuk menelaah ucapan sang manajer.
"Aku harap kau mengerti." Selepas berucap, Wisnu memutar tumit dan berlalu pergi. Sementara Anastasya menatap nanar meja yang baru saja ditempati oleh Ken.
Pria itu bertahun-tahun menahan luka. Dan makanan yang tak tersentuh ini sebenarnya milik siapa? Apakah seseorang telah meninggalkan dia, hingga dirinya bertingkah seperti sedang makan bersama seseorang. Tetapi siapa seseorang itu?
Anastasya mengelengkan kepala pelan. Berusaha mengaitkan kejadian dengan asumsinya sendiri. Tetapi apa? Tanya itu tak ada jawabnya, selama si pemilik luka tak menjabarkannya.
__ADS_1