
"Itu nama bayi-bayi kita?" Zara mendongak, menatap wajah sang suami yang sedang berada di belakangnya.
"Benar, sayang. Si sulung bernama Erich, dan si bungsu bernama Ernest. Mereka akan menyandang nama Surya Atmadja, di belakang nama depan mereka." Satu kecuan mendarat di puncak kepala Zara. Perempuan itu sendiri tengah menyusui si bungsu, sementara Arka memeluk sang istri dari belakang.
Si sulung, Erich yang sudah lebih dulu menyusu, kini tampak tertidur lelap di dalam kotak inkubator.
Zara menatap lekat wajah sang putra yang menyusu dalam buaiannya. Sepasang netra bayi mungil itu terbuka, hingga nampak bulu mata lentik yang menaungi netra beningnya.
"Sayang, lihatlah. Mata putra kita indah seperti dirimu," puji Arka diiringi senyum gemas yang terarah kepada sang putra.
Gadis itu pun mengangguk, disertai senyum haru luar biasa. Wajah kedua putranya benar-benar perpaduan dari parasnya dan juga sang suami, tetapi gen Arkalah yang rupanya lebih banyak diturunkan untuk kedua putra mereka.
"Aku tau. Tetapi kedua putra kita, lebih mirip denganmu, sayang."
Arka tergelak. Memang begitulah adanya. Ia sendiri tampaknya tak memungkiri jika putra kembarnya lebih mirip dirinya, dari pada sang istri.
Zara menatap kearah putra-putranya secara bergantian. Meski dilubuk hati terdalamnya tersimpan luapan kebahagiaan yang tak terkira, tetapi ia pun tak menyangkal jika rasa cemas juga memenuhi sanubarinya.
"Sayang, apa yang kau fikirkan?" Arka menatap kearah sang istri. Saat mengetagui jika perempuan itu sedikit termenenung.
"Apakah kelak, mereka akan hidup dengan normal seperti anak-anak lain pada umumnya?"
Arka tentu sudah mengerti akan arah tujuan dari pertanyaan sang istri. Pria itu menghela nafas dalam.
"Mungkin akan cukup sulit, sayang. Kelak mereka pasti akan mengantikan posisiku untuk mengurus perusahaan. Aku tidak bisa menjamin mereka akan menempuh pendidikan disekolah biasa dan bisa berkumpul dengan banyak orang." Meski tersirat keterpaksaan saat berucap, tetapi mungkin seperti itu lah gambaran tumbuh kembang kedua buah hatinya kelak. Kesana kemari dengan pengawalan ketat, juga keterbatasaanya dalam berinteraksi dengan dunia luar.
"Kau tau sayang. Bukan tanpa alasan semua ini kulakukan. Sebagai seorang pebisnis, pastinya ada saja lawan bisnis yang selalu ingin mencari celah untuk menghancurkan pekerjaanku. Dan salah satunya, tentu dari orang-orang terdekatku seperti kalian."
Zara menggigit bibirnya kelu. Ia menunduk, memandang sang putra dalam buaian. Bayinya itu sudah terlelap kekenyangan sehabis menyusu. Dengan hati-hati ia memberikan putranya kepada Arka untuk di baringkan kedalam kotak inkubator.
Rasanya begitu sesak saat menatap kedua bayi yang sudah harus memikul beban di pundak mungilnya. Seandainya saja dia masih bisa berharap, pasti ibu muda itu akan menginginkan kedua putranya hidup dengan normal seperti anak-anak pada umumnya. Bersekolah, bermain, dan bebas menjelajah dunia, sesuai keinginannya.
Sampai melewati lorong rumasakit pun Zara masih terdiam. Duduk terpaku di atas kursi roda yang dikendalikan oleh suaminya.
__ADS_1
Arka yang menyadari akan kegundahan yang dirasakan sang istri, berusaha untuk menghiburnya.
"Sayang. Apa kau menginginkan sesuatu?"
Zara spontan mendongak. Menatap kearah suaminya.
"Sesuatu?"
"Heem, apa kau ingin makan sesuatu?" tawar pria itu coba mengalihkan pembahasan.
Zara tersenyum miring, lantas berucap, "Jangan coba macam-macam, atau Kak Bram akan memarahi kita berdua."
Arka tergelak. Ia sangat tau jika sang istri menginginkan makanan luar dengan cita rasa super pedas. Sementara pihak rumasakit sendiri sangat melarangnya untuk mengonsumsi makanan yang berasal dari luar terlebih tak masuk dalam standar ahli gizi.
*****
Saat sepasang suami istri itu memasuki kamar perawatan kembali, rupanya bukan hanya ada Rumi yang berada di dalam ruangan tersebut, tetapi juga ada Kiara yang datang bersama dengan Sam.
Gadis manis itu tersenyum lembut, saat pandangannya bertemu dengan netra sang sahabat.
Arka pun memindahkan tubuh sang istri dari kursi roda keatas ranjang perawatan.
"Zara, aku turut berbahagia atas kelahiran si kembar." Kiara mendekat, kemudian menyuarakan rasa senangnya yang terkira. Gadis itu memang mendapatkan kabarnya langsung dari Sam, jika sang nona sedang berjuang untuk melahirkan bayi-bayinya.
Zara membalas senyum bahagia sang sahabat dengan senyum yang tak kalah bahagia. Ia tau jika Kiara benar-benar tulus mengatakannya. Sejak dulu, hanya Kiaralah satu-satunya teman yang tak pernah menjauh, saat dirinya beramai-raimai dicemooh sebagai perempuan perusak rumah tangga orang lain.
"Terimakasih, Kiara." Keduanya saling berpelukan. Cukup lama. Hingga kedua netra gadis itu berkaca-kaca.
Kiara mengendurkan pelukan. Saat mendapati jika sahabatnya itu menangis, ia pun lekas mengusap bulir bening itu dengan ibu jarinya.
"Hei, kenapa kau menangis? Bukankah ini hari bahagiamu?" goda Kiara.
"Hei, jangan sok tegar. Kau juga menangis kan?" balas Zara yang kini mengusap jejak air mata di pipi Kiara dengan jemari lentiknya.
__ADS_1
Keduanya pun tergelak. Disusul dengan ketiga orang lainnya yang berada di ruangan tersebut.
Kini pandangan Zara tertuju pada Sam yang terlihat tampan dengan kemeja putih yang melekat di tubuhnya.
"Asisten Sam," panggil Zara.
"Iya nona."
"Bolehkah aku bertanya?" Seperti biasa, Zara memasang wajah sepolos mungkin.
"Tentu nona." Sam bahkan menelan salivanya berat. Aku mohon nona. Pastikan jika anda tidak memiliki pertanyaan yang membuat saya kesulitan untuk menjawab.
"Heemm." Zara pura-pura berfikir sejenak. Meski sejujurnya ia sendiri sudah mengantongi pertanyaan itu sedari tadi. "Bukankah kalian sudah berpacaran, lalu kapan rencana kalian untuk melepas masa lajang?"
Sam menegang seketika. Ternyata sesuai dengan praduganya.
Sementara itu, kedua netra Kiara membulat sempurna. Ia pun mencondongkan bibirnya tepat di telinga sang sahabat, kemudian membisikan kalimat di sana.
"Zara, apa yang kau katakan. Aku malu mendengarnya," gumam Kiara dengan mengertakkan giginya menahan geram.
"Sudahlah, tenang saja. Aku hanya ingin mengetes Sam saja. Seperti apa jawabannya," jawab Zara dengan suara kecil yang hanya mampu di dengar oleh kedua sahabat itu.
"Secepatnya, nona." Suara lantang Sam membungkam Zara dan Kiara yang tengah berdebat.
Kedua gadis itu pun tertegun dengan jawaban Sam yang terdengar tak main-main. Sementara Arka yang sedari tadi hanya menonton, tampak tersenyum tipis. Ia tau jika pria seperti Sam tidak pernah main-main dengan keputusan yang ia ambil, termasuk dalam urusan tambatan hati.
Bersambung....
Yuk merapat yang nunggu Visualnya Asisten Sam. Semoga cocok dengan imajinasi pembaca😊😊😊😊
__ADS_1