Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Kau Di mana


__ADS_3

Kata 'Rencana', mungkin saat ini sama sekali tak terbesit di dalam benak Rangga. Hidupnya mulai terasa hampa, tujuan yang sempat diangan-angan, kini hanya terbang menjauh seiring Anastasya yang terus mengabaikannya.


Dia tak pernah menyalahkan gadis itu, atau pun siapapun, terkecuali dirinya. Bodoh, dirinya memang bodoh kala itu. lebih memilih untuk menghindar tanpa memperjuangkan rasa cintanya.


Jika sudah seperti ini, tak ada orang lain yang mampu menolong, terkecuali jika takdir kelak memang mempersatukan mereka kembali.


Ini akhir pekan, Rangga berniat untuk mengunjungi rumah Arka kembali. Kemungkinan besar selepas perjalanan dari kampung, gadis itu masih berada di kediaman sang sahabat sampai hari ini.


Mengenakan kemeja berlengan pendek dan celana bahan semata kaki, membuatnya terlihat lebih santai. Surai hitam legam nan lembut itu ia sisir kebelakang agar terlihat lebih rapi. Menatap pantulan wajahnya di depan cermin, pria berbadan tegap itu bergumam sembari menyemangati dirinya sendiri.


"Yakinlah, kau pasti bisa. Tidak ada sebuah perjuanganmu yang berakhir dengan sia-sia, jika di iringi dengan doa."


Menangkupkan kedua tangan, kemudian mengusapkannya kewajah. Memutar tumit dan meninggalkan kamar, pria itu kini menuju kekamar sang Ibu yang berada tak jau dari kamarnya.


Seorang pelayan seketika menundukan kepala dan meninggalkan ruangan saat Rangga memberikan isyarat padanya untuk menyingkir sejenak. Rangga menatap wajah pucat dengan netra terpejam itu dengan pandangan sendu. Kemudian menyentuh tangan perempuan paruh baya yang sudah melahirkannya itu lantas menciumnya lembut.


"Ibu, doakan aku. Iringi setiap langkahku dengan limpahan doa darimu. Mungkin kau tak bisa melihat sebagaimana perjuanganku, tapi aku tau, jika ibu pasti bisa merasakannya." Mengusap bagian wajah sang ibu yang mulai berkeriput, Rangga terisak seolah meluapkan rasa sedih yang dirinya rasakan selama ini.


"Maaf, aku tidak bisa menuruti berkataan ibu, untuk melupakan Anastasya. Aku akan terus mengejar dia, bagaimana pun caranya." Mendaratkan satu kecupan di kenang sang, ibu. Pria itu lantas beranjak, memutar tumit dan berlalu pergi meninggalkan ruangan.


Tak perduli pada larangan kedua orang tuanya lagi. Baginya, Anastasya adalah segalanya. Dia gadis yang layak untuk diperjuangkan.


******

__ADS_1


Mengendarai kuda besinya, Rangga mulai menikmati perjalanan menuju kediaman sahabat karibnya. Jalanan terbilang cukup lengang, mengingat ini adalah akhir pekan. Melajukan kendaraan dengan kecepatan penuh, hanya dengan menempuh perjalan selama sepuluh menit saja, ia sudah mulai memasuki gerbang utama kediamana Arkana.


Menempatkan kendaraan kedalam garasi, Rangga menggengam kemudi kuat untuk lebih membuatnya bersemangat.


Para pelayan mendekat, menebarkan senyuman lebar saat mengetahui siapa yang datang. Surti yang berada di barisan terdepan, seketika menghampiri Rangga kemudian menundukan kepala.


"Selamat datang Tuan Rangga," sambut Surti.


"Terimakasih, bi." Pria itu mendekat kearah Surti dan mngucapkan kalimat, " Bi, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan. Ikutlah sebentar bersamaku."


Surti pun mengangguk dan mengekori langkah Rangga yang membawanya kearah taman depan.


"Ada apa tuan?" ucap Surti dengan berjuta tanda tanya di benaknya.


Surti menghela nafas dalam, begitu ragu untuk menjawab pertanyaan Rangga. Akan tetapi ia pun harus mengatakannya, meski akan menimbulkan rasa kecewa pada pria yang tengah bersamanya itu.


"Maaf, tuan. Nona Anastasya sudah tidak lagi berada di rumah ini semenjak resmi bercerai beberapa hari lalu."


Jawaban Surti layaknya sebuah tamparan keras di pipi rangga. Begitu sakit dan menyayat.


"Apa bibi tau, di mana keberadaan Anastasya saat ini? Apa dia tetap nekat pulang kekampung halamannya?"


Surti menggeleng, yang berarti jika pelayan paruh baya itu tak mengetahui di mana keberadaan Anastasya saat ini.

__ADS_1


"Bohong! Bibi pasti berbohong dan berusaha menutupi keberadaan Anastasya dariku, bukan?"


Surti gelagapan, dia menggelengkan kepalanya kuat.


"Tuan, demi tuhan saya tidak mengetahui informasi apa pun perihal Nona Anastasya sepulang dari kampung Nona Zara waktu itu. Jika Tuan mengira saya menyembunyikan sesuatu, maka maaf tuan, anda salah besar."


Rangga mulai frustrasi dan mengusap wajahnya kasar.


"Lalu di mana aku harus mencari keberadaan Anastasya, bi?" lirih Rangga berucap, dia sudah kehilangan separuh energi kehidupannya. Tubuhnya bahkan nyaris lunglai, namun sekuat tenaga ia tahan agar tetap kuat untuk berpijak.


Lagi-lagi Surti menggeleng. Yang mana membuat Rangga nyaris hilang kesabaran.


"Lebih baik tuan tanyakan pada Tuan Arka, mungkin beliau bisa membantu tuan."


Seketika ucapan Surti bagaikan tiupan angin yang memberi kesejukan bagi seluruh tubuh Rangga yang terasa gersang.


"Di mana dia?"


"Tuan sedang berada di taman belakang bersama Nona Zara."


Tanpa menunggu lama, Rangga pun mengambil langkah seribu melewati semua ruangan hingga sampai pintu belakang. Di ambang pintu, Rangga berhenti sejenak. Menyisir pandang keseluruh area taman, hingga ia akhirnya menemukan pasangan yang tengah duduk di gazebo tengah saling bercengkrama dan sesekali tergelak sebagai ungkapan kebahagian.


Untuk sesaat Rangga tertegun, sungguh pemandangan yang mampu membuatnya tersentuh. Andai, dua tahun lalu dirinya tidak memilih untuk pergi dan melanjutkan kisah cintanya dengan Anastasya, mungkin saat ini pun dirinya bisa merasakan kebahagiaan yang sama, seperti yang dirasakan sahabat karibnya kini.

__ADS_1


__ADS_2