Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Kau Mau Kemana?


__ADS_3

Disela tidur lelapnya, Zara mampu merasakan adanya sentuhan di area wajah dan juga surainya. Sebuah sentuhan tak asing, yang seketika membuat gadis itu yakin akan keberadaan sang suami di sampingnya.


Usapan dan belaian tangan itu terasa sangat nyaman. Ingin sekali Zara membuka mata dan tersenyum kearah prianya, tetapi urung dilakukan setelah mendengar kalimat yang terucap lirih dari bibir suaminya.


Dengan jelas Zara mampu mendengar semua ucapan Arka tentang kondisi Ayahnya. Sebuah kenyataan pahit yang nyatanya coba dirahasiakan oleh pihak rumasakit dari dirinya dan juga ibunya. Pada saat itu, Zara nyaris tersulut emosi dan hampir meledakkan kemarahannya pada suaminya. Tetapi, begitu mendengar alasan jika semua menyakut kesetabilan emosi dan juga perkembangan janinnya, maka gadis itu pun mengalah. Mengesampingkan ego, dan berfikir lebih realistis mengingat semua memang sudah menjadi takdirnya.


Saat Arka mulai bangkit, melepaskan jas dan menyampirkannya dipunggung sofa, gadis itu hanya mampu mendengarnya dan bertindak seolah dirinya masih tetap terlelap.


Tak berapa lama terdengar dengkuran halus, yang Zara yakini jika suara tersebut berasal dari suaminya yang mulai terlelap. Tak ingin bertindak gegabah, Zara memilih diam beberapa saat, untuk memastikan jika suaminya itu sudah benar-benar tertidur lelap.


Setelah sepuluh menit berlalu, Zara mulai membangunkan setengah badannya kemudian bersandar pada kepala ranjang. Tatapannya melembut seketika saat disuguhi pemandangan yang membuatnya hatinya tersentuh. Demi tak mengusik lelapnya, sang suami rela untuk merebahkan tubuh kemudian terlelap di sofa. Sofa tunggal yang cukup luas dan panjang itu, serasa tak mampu menampung tubuh tinggi besar suaminya. Membuat sebagian kakinya menekuk dan terlihat tak nyaman.


Gadis itu pun sontak menjejakkan kakinya kelantai kemudian berjalan mendekat kearah sofa dengan mendekap sebuah selimut. Zara tersenyum tipis dan berlutut di hadapan tubuh suaminya. Menatap lekat seraut wajah tampan nan terlihat lelah yang sudah membuatnya jatuh cinta.


Dengkuran halus terdengar, rupanya Arka benar-benar terlelap dalam. Tangan mungil itu bergerak untuk mengusap wajah sang suami dengan lembut dan hati-hati, agar pria itu tak terjaga.


"Maaf sayang, seharusnya aku lebih bisa memahami keadaan ini. Kau pasti menyimpan semua hal sepenting ini dari kami, sebab tak ingin membuat kami kehilangan harapan."


Zara sadar seburuk apa kondisi ayahnya kini. Hanya saja, dirinya tetap akan berjuang untuk bisa menyembuhkan penyakitnya.


Melihat suaminya yang sama sekali tak menunjukan pergerakan, membuat gadis itu membentangkan selimut untuk menutupi tubuh suaminya agar tak kedinginan.


"Selamat tidur, sayang." Satu kecupan hangat mendarat di bibir suaminya. Gadis itu tersenyum simpul, sebelum berbalik badan untuk kembali merebahkan tubuh di ranjang.


*****


"Turun, atau tidak."


Entah sudah beberapa puluh kali Sam mengucapkan kalimat yang sama. Sementara kedua tangannya mencengkeram kemudi kuat.


Sore hari selepas mengantarkan sang tuan kerumasakit untuk menemui istri dan kedua mertuanya, Sam memberanikan diri untuk menjumpai Kiara di tempat kerjanya.


Hembusan nafas kasar terdengar. Entah mengapa, kali ini dirinya merasa gemetar. Ragu untuk menemui, namun keinginan untuk bertemu pun lebih kuat dari pada rasa ragunya.


Akhirnya, dengan semangat yang berkobar. Sam memberanikan diri untuk turun, dan melangkahkan kaki untuk memasuki toko bunga tersebut.


Dengan setengah tertunduk Sam meraih gagang pintu kaca dan berniat membukanya, namun diwaktu yang bersamaan seorang gadis tiba-tiba muncul di hadapan dan membuatnya terkesiap.

__ADS_1


"Kau," ucap Sam pada sigadis.


Seorang gadis yang masih sama-sama terkejutnya itu, berusaha menetralkan nafasnya. Namun suara bariton yang tak asing lagi didengar, membuatnya lekas mendongak.


"Tuan," jawab Kiara sembari menelan salivanya berat.


Ya tuhan, kenapa kami harus bertemu lagi.


"Silahkan masuk, tuan." Gadis itu memberikan akses jalan dengan mengeser tubuhnya dan hendak meninggalkan Sam begitu saja.


"Hei, kau mau kemana?" tanya Sam setengah berbalik badan saat menyadari jika Kiara berniat kabur darinya.


Spontan Kiara menghentikan langkah dengan kedua netranya yang membulat sempurna. Ia pun berbalik badan, kemudian berucap, "Apakah tuan memangil saya?"


Sam menghela nafas dalam. " Memangnya siapa lagi. Bukankah di tempat ini hanya ada kau dan aku. Lagi pula aku tak memiliki indra keenam untuk mampu berinteraksi dengan makhluk tak kasat mata."


Kiara hanya mampu mengertakkan gigi dan tersenyum kecut. Pria itu tetaplah pria datar, dan tak akan pernah bisa memperlakukannya dengan manis.


Tetapi kenapa, setiap kali melihat wajahnya, aku justru teringat pada pembalut merah muda itu.


Gadis itu menundukan kepala, dan memilin jemarinya. Lebih memilih untuk tak bertemu pandang pada pria yang seketika membuatnya malu sendiri.


Kiara pun mendongakkan kepala dan gelagapan.


Lalu aku harus biacara apa tuan.


"Tuan datang untuk mencari siapa?" Cukup gemetar Kiara mengucapnya.


"Mencarimu."


Apa? Apa dia datang berniat untuk meminta pembalut itu kembali setelah tau apa kegunaanya?


"Untuk apa tuan mencari saya?"


Tak ingin berdebat, Sam pun menghampiri Kiara dan menggengam tangannya.


"Ikutlah denganku. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu."

__ADS_1


Kiara yang terkejut luar biasa itu, nyatanya bisa memberontak.


"Tuan lepas! Ini masih jam kerja saya. Saya bisa dipecat jika keluar tanpa izin."


Sam terus menariknya. Membuka pintu mobil dan meminta gadis itu untuk masuk.


"Itu akan menjadi tanggung jawabku nanti. Kau tak perlu khawatir." Didorongnya tubuh kecil Kiara hingga memasuki mobil, kemudian pria itu lekas menutupnya sebelum gadis itu berniat untuk melarikan diri.


*****


"Kenapa kau tak mengatakan kejadian yang sejujurnya saja, jika aku sudah menurunkanmu di pinggir jalan."


Sam menatap gadis di depannya lekat, sembari menikmati suasana sore hari di area cafe terbuka.


"Untuk apa. Semua juga tidak ada untungnya bagi saja." Gadis itu kini terlihat lebih santai. Sesekali ia menggigit roti isi yang di pesan kedalam mulutnya.


"Terimakasih sebelumnya. Jika kau jujur, mungkin saat ini, aku tak bisa menikmati sore hari di tempat ini bersamamu."


Begitu mendengar ucapan terimakasih dari bibir Sam, Kiara spontan tersedak. Ia berbatuk-batuk hingga Sam yang melihat pun dibuat cemas dan lekas memukul pelan punggung gadis itu.


"Berhati-hatilah," ucap Sam memperingatkan.


Kiara tersipu malu, dirinya benar-benar terkejut dengan perubahan sikap pria di depannya ini. Ya meskipun dia sadar, jika itu semua sebagai ucapan terimakasih. Tetapi setidaknya, makian dan ucapan kasar itu kini mular jarang terlontar dari bibir pria itu.


"Bisakah aku meminta nomor ponselmu?" Sam bahkan memberikan ponselnya pada Kiara. "Simpan nomormu di situ?" sambung pria itu lagi.


Kiara kian dibuat terbelalak. Lalu dirinya harus bagaimana. Memberikan atau menolaknya. Tetapi dengan melihat tampang serius Sam, ia pun tak tega untuk menolaknya.


Gadis manis bersurai lurus itu mulai mengusap layar ponsel milik Sam dan menekan beberapa digit angka di dalamnya.


"Sudah." Dengan tersenyum hangat Kiara mengembalikan ponsel itu kepemiliknya.


"Terimakasih."


Untuk kali pertamanya Kiara mendapatkan sebuah senyuman dari seorang Sam. Membuatnya hampir tak berkedip dengan liur yang nyaris menetes.


"Bagaimana, apa kau menyukai semua barang dariku?"

__ADS_1


Apa? kenapa menanyakan itu lagi.


Kiara tersenyum semanis mungkin sembari menganggukkan kepala agar membuat Sam yakin jika dirinya benar-benar merasa senang akan buah tangan darinya. Tapi di sisi lain, gadis itu selalu dibuat malu tak terkira, jika kembali mengingatnya. Pasalnya, entah mengapa jika melihat wajah Sam, dirinya justru teringat akan pembalut bawaannya dan bukan kebaikannya.


__ADS_2