Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Karna Aku Mencintainya


__ADS_3

Dunia seakan runtuh seketika. Pria tampan berjambang tipis itu berjuang sekuat tenaga untuk tetap terlihat tegar. Akan tetapi, saat dirinya ditinggal oleh seseorang yang sudah memunuhi hatinya, tangisnya pun pecah seketika.


Untuk sesaat Sam meninggalkan sang tuan yang tengah meluapkan semua emosinya di dalam toko. Pengawal pribadi itu lekas beralih dan menghirup udara segar di luar.


Arka melepaskan jas dan dasi yang melekat di tubuh hingga menyisakan kemeja saja. Disela tangisnya, ia mendogak. Mencegah buliran bening untuk menetes lebih banyak lagi.


Tak ada kata-kata yang mampu diucap sebagai gambaran rasa sedihnya. Ia sengaja tak memilih pergi dan tetap berada di toko. Berharap sang pujaan hati lekas kembali, dan memeluk tubuh mungil itu lagi.


Di luar, Sam pun tak hanya diam. Ia terlihat sibuk dengan ponsel yang tak hentinya berdering. Beberapa waktu berlalu, pencarian yang dilakukan masih belum membuahkan hasi. Ia pun menghela nafas dalam. Bahkan beberapa detektif pun mulai diturunkan, bsok untuk mencari keberadaan Zara atau pun Sandy.


Arka menyibak pandangan keseluruh ruangan dari tempat duduknya saat ini. Fikirnya menerawang jauh saat kali pertamanya ia bertemu dengan Zara. Tatapannya tertuju pada pintu depan toko berlapiskan kaca transparan itu. Keduanya nyaris berbenturan saat sama-sama tak saling lihat.


Pria itu pun mengacak kasar surainya sendiri. Betapa ia sudah menyesali apa yang terjadi. Ingin rasanya memutar waktu dan mengulang masa-masa itu kembali. Merubahnya menjadi lebih baik dan lebih dulu menghindar dari perkara besar yang kemungkinan terjadi.


Satu yang menjadi penyesalan Arka saat ini. Andai ia secepat mungkin untuk menemui orang tua Zara selepas pernikahan. Kemungkinan masalah ini tidak akan pernah terjadi dan sang istri pun tidak memilih untuk pergi.


"Tapi kemana Zara akan pergi. Dia bahkan tak membawa cukup uang."


Arka kian frustrasi. Ia tidak bisa tinggal diam, dan ingin berusaha mencari keberadaan sang istri.


Melangkahkan kaki keluar toko, Arka lantas memasuki kuda besinya tanpa menghiraukan Sam yang sibuk dengan ponselnya dan masih berdiri di depan toko bunga.


"Sam, ayo cepat," ucap Arka tak sabaran.


Sam pun mendekat dan duduk di belakang kemudi.


"Kita akan kemana, Tuan?"


Arka menggeram kesal. "Kemana kau bilang. Pasti untuk mencari keberadaan Zara. Aku tidak bisa dengan hanya berdiam diri seperti ini saja."


Sam pun mengangguk sebagai persetujuan.


"Bagaimana jika kita lebih dulu pulang, dan tuan bisa membersihkan diri sebelum mencari di mana keberadaan nona," tawar Sam selepas memperhatikan penampilan tuanya yang kacau balau.


"Sam, kita sedang tidak main-main sekarang. Ini menyangkut keberadaan istriku yang tidak bisa disepelekan." Pria itu berusaha menolak. Meski ia sendiri merasa tidak nyaman dengan tubuhnya yang lengket oleh keringat.


"Kita bisa melakukannya selepas tuan membersihkan diri. Percayalah tuan, ini tidak akan memakan waktu lama. Lagi pula, saya pun sudah mengerahkan cukup banyak orang untuk mencari Nona Zara."


Arka berfikir sejenak sebelum mengucapkan kalimat, "Baiklah, aku ikuti semua saranmu. Kita lebih dulu pulang sebelum mencari istriku."


Sam menghela nafas lega. Setidaknya, dengan membersihkan diri, fikiran panas sang tuan mampu sedikit teredam.


******


Bukan hanya di toko bunga, di rumah megah milik Arka pun dibuat gempar seketika saat kabar menghilangnya sang Nona terdengar di telinga para pelayan, penjaga keamanan dan semua orang seisi rumah. Raut wajah kecemasan jelas tergambar disetiap wajah sosok yang mengenal dekat sang gadis.


Terlebih Surti, semenjak kabar sampai ketelinga perempuan paruh baya itu, Surti tak hentinya merapalkan doa, agar sang nona mendapatkan perlindungan dari yang maha kuasa.

__ADS_1


Selama Arka membersihkan tubuh dan bersiap, Sam mencuri kesempatan untuk bisa menemui surti, sang kepala pelayan.


Pria itu membimbing langkah Surti menuju tempat yang lebih sepi.


"Bi, di mana Nona Anastasya. Sedari tadi aku tak melihatnya?" Anastasya memang tak jarang sekali terlihat di rumah Arka semenjak proses sidang perceraian. Ia lebih suka menyendiri di villa dan tak membiarkan siapa pun untuk mengunjunginya.


"Nona Anastasya sudah pergi dari rumah ini. Semenjak vonis perceraian dijatuhkan, nona bahkan sudah membawa barang-barang pribadinya, dan kemungkinan nona tidak akan pernah datang kerumah ini lagi." Kesedihan jelas tergambar di wajah Surti. Belum hilang rasa pedih akibat perginya Anastasya, dan kini Zara pun ikut menghilang.


Sam menarik nafas dalam. Berharap nonanya bisa menjadi penyelamat, namun sayangnya Anastasya justru sudah angkat kaki dari rumah tuannya itu.


"Tadinya aku sempat berharap pada Nona Anastasya untuk menjadi penegah dalam masalah ini. Hanya beliaulah yang faham dan mengerti akan asal muasal pernikahan Tuan dan Nona Zara. Akan tetapi, jika Nona Anastasya pun sudah pergi, apalagi yang mampu kita harapkan. Selain meminta agar akan adanya suatu keajaiban yang datang." Baik Sam atau pun Surti saling diam. Sepertinya akan sulit untuk bisa memecahkan masalah dalam waktu dekat, mengingat kedua perempuan yang menjadi sumber pembahasan justru sama-sama menghilang.


"Sam, ada apa?" Arka muncul tiba-tiba dari arah pintu dengan mengenakan pakaian non formal. Kaos abu-abu yang pas di badan dengan celana kain berwarna hitam, kian membuat pria hampir berusia tiga puluh satu tahun terlihat tampan dan lebih muda.


Sam dan Surti saling lempar pandang, seolah saling berkomunikasi dengan tatapan netra.


"Ada apa?" Arka mengulang pertanyaannya kembali.


"Tuan Sam hanya menanyakan kepada saya, di mana Nona Anastasya."


"Anastasya sudah pergi." Sebelum Surti menjawab, Arka lebih dulu mengatakannya.


"Kita sangat membutuhkan Nona Anastasya untuk menjadi penengah dalam masalah ini. Hanya beliaulah satu-satunya harapan kita."


Sam pun terlihat frustrasi. Selain sang tuan, dirinya pun mendapatkan imbasnya dalam kepergian Zara. Sam harus bisa menempatkan diri, untuk bisa bekerja lebih ekstra dan berkali lipat untuk bisa mengurus masalah perusahaan dan kehidupan pribadi tuannya.


Ponsel di saku jas Sam bergetar, spontan diraihnya benda pipih itu dan menekan ikon berwarna hijau di layar.


"Ada perkembangan?" Sam mendengarkan dengan seksama jawaban seseorang di seberang.


"Bagus. Ringkus dan bawa dia kemarkas." Sambungan telpon terputus. Sam terlihat menarik nafas lega.


"Ada apa?" Arka dibuat penasaran.


"Kita sudah menemikan pria yang datang brsama Ibunda Nona Zara. Mereka sudah menahan dan akan membawanya kemarkas," jawab Sam.


"Lalu istriku. Apa masih belum bisa ditemukan?"


Sam menggeleng. "Maaf, dari sekian banyak orang yang dikerahkan. Belum ada satu pun yang melaporkan tentangan keberadaan nona."


Arka mengusap wajahnya kasar. Ini bahkan sudah hampir sore hari dan belum ada kabar. Ia takut jika sesuatu hal buruk menimpa sang istri.


"Terus lakukan pencariaan. Jangan berhenti sebelum istriku bisa ditemukan," titah Arka.


"Baik."


Keduanya bergegas menuju markas. Arka sudah tak sabar untuk melihat wajah pria yang sudah membuat rumah tangganya buyar dalam jarak dekat.

__ADS_1


Tiga puluh menit menempuh perjalan. Mereka sampai di sebuah rumah yang betada di pinggir hutan. Arka melangkahkan kaki lebarnya menuju tempat di mana pria itu disekap.


Semua orang yang berjaga menundukan kepala. Disebuah ruangan dengan diga beberapa pengawal bertubuh kekar. Tampak sesosok tubuh pria dalam posisi duduk serta tangan dan kaki yang terikat.


Arka menuju ruangan tersebut, seketika para pengawal yang berjaga menyisih. Memberi tempat untuk sang tuan.


"Senang bertemu bisa bertemu denganmu, cobir Arka pada pria yang masih terlihat segar dan bertenaga itu.


Sandy pun mendongak, hingga keduanya saling bersitatap.


"Saya juga senang bisa bertemu dengan pria sehebat anda, Tuan Arkana Surya Atmadja," jawab Sandy dengan rasa percaya diri yang tinggi.


Arka pun tersenyum tipis, bagaimana bisa pria di depannya ini justru terlihat sedang mempermainkannya.


"Aku tidak punya banyak waktu untuk terus berada di tempat ini. Sekarang katakan, apa motifmu dengan merendahkan harga diri Zara di depan ibunya sendiri?"


Menanggapi pertanyaan Arka, Sandy tergelak.


"Kenapa, apakah ada yang salah. Zara memang menikahi pria beristri, bukan?"


Arka mengetatkan rahang, bagaimana pria seperti dia yang tak tau apa-apa justru asik mengarang cerita versi dirinya sendiri.


"Aku memang pria sudah beristri saat menikahi Zara. Tapi itu bukanlah sebuah borok yang perlu kau cari-cari dan justru melibatkan orang lain dalam masalah ini. Ibu Zara hanya mengetahui sebagian darimu, dan aku rasa kau juga terlebih dulu menghasut putrinya hingga perempuan yang sudah melahirkan Zara itu sampai naik pitam."


Sandy tergelak kencang. "Bukankah kau ini pria hebat, lalu kenapa kau mengikat tubuhku seperti ini. Sedangkan kau, begitu nyaman tanpa terbelenggu apa pun. Apakah itu adil? Aku bahkan belum tentu bersalah."


Merasa harga dirinya tergores, Arka meminta pada seorang pengawal untuk melepaskan ikatan di tubuh Sandy.


"Ah, nyaman sekali. Kenapa tidak sedari tadi kalian melepasnya," gumam Sandy sembari mengusap pergelangannya yang memerah.


"Berhenti berlagak seperti pria tak bersalah. Cepat katakan! Apa alasanmu di balik ini semua!" Arka tak mampu lagi membendung emosi. Bagaimana bisa pria di depannya ini memasang wajah tak berdosanya untuk bisa mengelabuhi dirinya.


"Apa tuan benar-benar ingin tau alasannya?"


"Katakan!" seru Arka.


"Karna aku mencintainya. Apa anda puas."


Semua orang terkecuali Sandy, terbelalak. Bagaimana bisa pria rendahan itu justru mengucap pengakuan yang mengejutkan.


"Sudah lama saya mengincanya. Berbagai cara saya lakukan, sampai membawanya kekota dengan kedok mencari pekerjaan. Tapi apa yang saya dapatkan?" Sandy berusaha menyampaikan semua rasa yang selama ini di pendam. "Bukannya jawaban menyenangkan, Zara justru kabur meninggalkan saya, hingga saya mendengar jika dia sudah menikah dengan saya. Zara memang hebat, menikahi pria kaya raya, tanpa menghiraukan jika dia hanya dijadikan istri kedua."


Plaakk..


Bogem mentah mendarat di area hidung Sandy. Pria itu terhempas di lantai di iringi aliran darah segar yang mengucur dari lubang hidungnya.


"Jaga bicaramu pria muda. Kau bisa saja mati ditanganku jika tak mampu mengontrol ucapanmu sendiri."

__ADS_1


Tatapan menghunjam Arka arahkan kearah Sandy. Sekali lagi pria brengsek ini masih menghina sang istri, maka Arka pun tak akan sungkan-sungkan untuk meremukan tulang belulangnya dengan tangannya sendiri.


__ADS_2