Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Prama Samudra


__ADS_3

"Bagaimana ini? Telfon tidak, telfon tidak?" Sam bergumam sembari menimang. Ponsel masih tergengam di tangan, namun ia masih ragu untuk menekan nomor kontak seseorang.


Hilir mudik melangkahkan kaki kesana dan kemari, rupanya itu semua tak mempengaruhi tingkat ketegangan yang kini tengah dirasakan pria muda itu.


Niat hati ingin menghubungi Kiara, tapi apa daya, sifat gengsinya yang setinggi langit membuatnya enggan untuk menyapa lebih dulu, meski pun melalui sambungan telopon atau sebatas pesan singkat.


Setelah cukup lama menimang dampak baik dan buruknya, pria itu pun menghela nafas dalam. Menatap ponselnya nanar, sebelum menyimpannya kembali kedalam saku jas yang dipakai.


Aku masih cukup ragu untuk melakukannya.


Melangkahkan kaki menuju rumah yang dihuninya, Sam merasa cukup lelah selepas seharian berkutat dengan pekerjaannya.


Waktu sudah menunjukan tengah malam saat pria bertubuh tinggi tegap itu memasuki kamarnya. Selepas mengantar sang kembali dengan selamat, pria itu masih disibukan dengan pekerjaan ini dan itu. Menjalani perannya sebagai asisten pribadi seorang CEO, dan kepala pengawal, dari sekian banyak orang yang bekerja pada Arka yang bukan hanya di area rumah dan kantor tetapi juga yang tersebar di beberapa kota.


Sam yang merasa jika seluruh tubuhnya terasa penat dan lengket itu, bergegas menuju kearah kamar mandi untuk membersihkan diri. Menanggalkan seluruh pakaian dan berdiri di bawah shower yang menguyur tubuhnya dengan air dingin.


Hem, rasanya begitu segar dan nyaman. Rasa lelahnya pun seolah hilang seketika bersama genangan air yang mengalir dipembuangan. Aroma segar yang menguar dari sabun yang pria itu pakai, bagai terapi tersendiri untuk mengembalikan seluruh energi yang terkuras habis seharian ini selepas bekerja.


Sam keluar dari kamar mandi dengan handuk putih terlilit di pinggang. Surainya yang masih setengah basah dikibaskannya perlahan ke arah samping dan belakang. Menuju kearah lemari pakaian, Sam meraih satu stel piyama tidur untuk dikenakan.

__ADS_1


Prama Samudra, atau yang dikenal banyak orang dengan sebutan Asisten Sam, pria berumur dua puluh delapan tahun itu sudah diboyong oleh Almarhum Surya Atmadja pada usia delapan tahun.


Sam merupakan anak yatim piatu yang diambil Surya dan Mirah dari sebuah panti asuhan. Pria itu dididik dan tumbuh bersama Arka, meski usia mereka terpaut dua tahun.


Surya Atmadja yang rendah hati tak pernah membedakan antara Sam dan Arka. Keduanya dididik dengan tingkat kemampuan masing-masing. Arka yang menyukai buku dan memiliki kecerdasaan di atas rata-rata, di arahkan Surya pada bidang bisnis sebagai penerusnya. Sementara Sam yang lebih menyukai olah raga bela diri, dan cermat dalam mengatur strategi, diarahkan Surya untuk lebih memperdalam keahlian dan ilmunya lewat beberapa orang pilihannya, hingga pada umur delapan belas tahun Sam yang mulai tumbuh dewasa mampu disejajarkan dengan pengawal senior yang bekerja pada keluarga Atmadja.


Diawal Sam memasuki kediaman Atmadja bersama Surya dan Mirah. Sam kecil cukup kesulitan beradaptasi. Ia kerap kali menangis di sudut kamarnya sebab tak dapat lagi bermain dengan teman sebayanya di panti asuhan. Sedangkan Arka pada waktu itu memang masih tak mengenal Sam dan juga tak memiliki banyak waktu untuk bermain.


Tubuh Sam yang tambun mulai terlihat kurus. Bocah kecil itu tak merasakan kebahagiaan sedikit pun. Terkecuali makanan lezat yang menyapanya sepanjang waktu, namun itu pun tak membuatnya serta merta enak makan.


Selain Surya yang gila kerja, Mirah pun kerap menghabiskan sebagian besar waktunya di luar rumah. Sebagai pebisnis dan perempuan sosialita, memang menyita banyak waktunya untuk tetap berada di rumah dan memaksanya menghabiskan waktu di luar rumah.


Beruntung ada Surti. Perempuan paruh baya yang sudah mengabdi pada keluarga Atmadja bahkan pada saat Arka belum dilahirkan.


Begitu pun dengan Arka dan Sam. Arka yang sejak dilahirkan itu memang sudah diasuh oleh Surti, rupanya sempat menggeser posisi Mirah sebagai ibu kandung. Perempuan paruh baya itu tak enak hati, dan meminta maaf. Tetapi Mirah yang memang sudah menyadari jika kasih sayang untuk sang putra tak sepenuhnya bisa tercurah, hanya bisa berlapang dada, namun berharap jika Arka tetap menyayanginya seperti seorang ibu.


Sama halnya dengan Sam, isak tangis yang bocah tambun itu pendam rupanya mampu terdeteksi oleh Surti. Surti muda mengangkat dagu bocah yang tertunduk itu untuk mengusap bulir beningnya. Sungguh hatinya pun teremas, bagaimana bocah yatim piatu itu masih sulit beradaptasi dengan keluarga barunya.


"Berhentilah menangis, nak. Kau tak sendiri. Du sini masih ada bibi yang akan selalu menjagamu."

__ADS_1


Satu kalimat yang diucap Surti, rupanya memberi pengaruh besar pada bocah penyuka keripik kentang itu. Sam kecil pun mendongak, dan tanpa kata langsung mendekap tubuh Surti dengan eratnya.


Bahkan hingga kini pun kalimat itu masih tersimpan jelas dalam ingatan Sam. Keduanya pun memiliki hubungan sangat dekat selayaknya ibu dan anak. Di dunia ini, selain keluarga Atmadja yang sudah mengadopsinya, Surtilah yang memiliki pengaruh besar pada hidup dan kesuksesannya.


Sam menatap pantulan tubuhnya di cermin. Bagaimana wajah kusamnya beberapa waktu lalu sudah terlihat tampan dan segar.


"Bi Surti, kaulah yang sudah membuatku seperti ini. Jika tanpa dirimu, entah jadinya apa diriku di rumah ini." Seraut wajah perempuan paruh baya itu serasa membayang di cermin dan tersenyum padanya.


Bibir milik Sam mengulas senyum tipis. Selain Surti dan Mirah dan Zara, tak ada wanita lain yang menurutnya berharga. Namun beberapa detik kemudian, ekor netranya melirik benda pipih yang ia lemparkan begitu saja di atas ranjang.


Ia pun menghela nafas dalam dan meraih benda pipih tersebut. Mengusap layar ponsel namun ragu untuk menekan menu lainnya.


Ya Tuhan, kenapa otakku terus berfokus kesana.


Tanpa sengaja ibu jarinya menyentuh ikon kontak dan menampilkan nama Kiara yang beberapa waktu lalu hendak dihubunginya.


Kiara dan Kiara. Entah kenapa semenjak bertukar nomor ponsel, alam bawah sadarnya seakan terus membujuk untuk terus menyebut namanya.


Gamang menghadang. Ragunya bahkan lebih besar dari pada keyakinannya. Hingga menyimpan ponsel itu di laci nakas, dirasa menjadi solusi paling tepat.

__ADS_1


Ah sudahlah. Lagi pula kenapa aku memikirkannya, toh dia pun juga tak tentu memikirkanku


Enggan pusing dan dilema dengan sesuatu yang tak pasti, Sam lebih memilih merebahkan diri di ranjang empuknya dan menarik selimut tebal hingga kelehernya. Mungkin itu dirasa lebih nyaman dari pada berurusan dengan seorang gadis yang bahkan belum pernah dirasa sepanjang hidupnya.


__ADS_2