
Setelah satu bulan menghabiskan waktu untuk proses kesembuhan dan petumbuhan kedua bayi kembarnya di rumasakit, Zara sudah diperkenankan pulang. Suka cita tampak melingkupi keluarga kecil nan berbahagia itu. Terlebih Arka yang masih berdiri di ambang pintu.
Pria itu menatap kearah sang istri yang sudah mengganti pakaian pasien dengan gaun berwarna hijau tosca yang membalut indah tubuhnya. Arka pun mendekat, kemudian mendekap tubuh sang istri dari belakang.
"Sayang, aku merindukanmu," bisiknya tepat di telinga sang istri.
Zara terkesiap, satu detik kemudian pipinya tampak merona merah, menahan malu. Gadis itu tak mampu membalik badan, sebab posisi sang suami yang sudah mendekap erat dan menyandarkan kepala di ceruk lehernya.
"Rindu? Bukannya setiap hari kita selalu bertemu?" Zara sengaja menggoda, yang mana membuat Arka hanya menghela nafas dalam.
Pria itu pun berdecak, kemudian menghirup dalam aroma tubuh sang istri yang sudah menjadi candu baginya.
"Kau harum sekali, sayang." Satu kecupan mendarat di leher jenjang Zara. Gadis itu sedikit berjingkat, namun tak menolak, tetapi justru menikmatinya.
"Bukankah hari ini aku dan kedua bayi kita sudah diperbolehkan pulang?" Zara sengaja mengalihkan pembicaraan. Ia tau, maksud kata rindu yang di ucapkan sang suami.
Memang kondisinya sudah kembali pulih pasca melahirkan kedua buah hatinya. Selama satu bulan lebih Zara menghabiskan waktunya drumasakit, Arka selalu setia mendampingi. Baik untuk menjaga sang istri, atau kedua bayi mereka.
Akan tetapi sepasang suami istri itu sendiri pun terbilang cukup menjaga jarak, agar tak terjadi hal-hal tak diinginkan. Dan kali ini, Zara mampu menangkap kabut gairah di sepasang netra suaminya.
"Hem, dan aku sudah mempersiapkan semua untuk kepulanganmu dan juga sikembar."
Pintu ruangan terbuka. Zara dan Arka lekas melepas dekapan dan menatap kearah pintu tersebut.
"Oops... maaf. Mungkin aku menggangu kalian." Dokter Bram yang sudah memasuki ruangan dibuat salah tingkah. Ia pun menggaruk kulit kepalanya yang tak gatal dan berniat untuk keluar dari ruang perawatan itu.
"Ka!" panggil Arka. "Kau kemari tentunya ingin mengatakan sesuatu yang penting bukan?" Arka tersenyum samar, menatap kearah Bram yang tersenyum masam dan kembali mendekatinya.
"Tidak juga. Aku hanya ingin mengantarkan mereka pada kedua orang tuanya." Dari arah pintu, muncul dua orang perawat dengan mendorong dua box bayi.
Arka dan Zara spontan tersenyum lebar, dan menyambut hangat kedua bayi kembar mereka.
Zara menatap kearah bayi-bayinya. Di mana Erich terlihat membuka mata, dan si bungsu Ernest yang terlelap begitu nyaman di dalam box bayinya.
Tangan mungil Gadis itu bergerak, meraih dan membawa si sulung yang terjaga dalam buaiannya. Sementara Arka, terlihat mengusap pipi si bungsu yang mulai berisi.
Pertumbuhan kedua bayi tampan itu terbilang cukup pesat, di sertai berat badan yang terus meningkat selama satu bulan ini. Tubuh mungil mereka pada saat pertama dilahirkan, kini tampak menghilang. Menjadi lebih berisi dan montok di mana-mana.
__ADS_1
Merasa tak tahan, Arka pun menggedong bayi Ernest dan memberi ciuman bertubu-tubi di pipi, yang mana membuat bayi itu terusik dan terbangun dari tidurnya yang lelap.
"Sayang, lihatlah. Dia terbangun karna senang digedong oleh Ayahnya." Pria itu bahkan tak perduli saat bayi Ernest menggeliat tak nyaman akibat ulahnya. Wajahnya yang putih bahkan memerah hendak menangis.
Zara hanya tersenyum tipis, dengan mendekap bayi Erich dalam gendongannya.
"Dia terbangun sebab kaulah yang membangunkannya, sayang." terang Zara yang tak selang beberapa lama bayi itu pun mulai menangis kencang.
Zara pun dengan sigap bertukar posisi. Membiarkan Erich bersama sang Ayah, sedangkan Ernest bersamanya. Gadis itu pun lekas duduk di tepi ranjang, kemudian menyusui bayinya agar berhenti menangis.
Benar saja, bayi tampan itu pun spontan terdiam saat mulai meneguk sumber sari kehidupan dari puncak payudara ibunya. Sepasang netranya yang terang tampak berbinar menatap kearah perempuan yang sudah melahirkannya.
Hati ibu mana yang tak tersentuh. Zara menggengam buku-buku jemari mungil itu dan menciumnya. Merasakan sesuatu yang hangat di sana.
Arka pun mendekat, untuk duduk di samping sang istri. Kini perasaan hangat itu pun tertular pada pria tampan itu. Ia menatap kearah Erich dalam pangkuan dan Ernest dalam pangkuan sang istri secara bergantian. Bibir seksinya pun terkembang lebar.
"Sayang, aku benar-benar merasakan kebahagiaan yang tak terkira. Bersamamu, dan kedua bayi kita," ucap Arka dengan menatap wajah sang istri lekat.
Zara pun tersenyum lembut, guna membalas tatapan sang suami.
"Aku pun merasakan hal yang sama, sayang. Bersamamamu dan anak-anak kita, aku merasa sangat bahagia."
Aku senang, sekarang kau terlihat sangat bahagian dengan keluarga kecilmu. Dokter Bram.
****
Masih terpaku dan membisu, Anastasya menatap lekat pria tampan di hadapan. Darahnya berdesir seketika, pun dengan detak jantungnya yang berpacu cepat. Sementara hatinya, masih belum mempercayai ucapan spontan yang terlontar dari bibir Kenan.
"Anastasya, kenapa masih diam." Tangan kekar pria itu kini terulur dan mulai menyentuh tangan ramping Anastasya. Menautkan dan menggengamnya lembut.
"Apa kau masih ragu akan keseriusan dari ucapanku?"
Anastasya masih bungkam.
"Ketahuilah, Anastasya. Aku tidak pernah main-main dengan setiap ucapan yang keluar dari mulutku." Ada sejejak harap dari setiap kata yang Kenan ucapkan.
Anastasya menunduk. Entah mengapa kini ia tak mampu untuk menatap wajah pria di hadapannya.
__ADS_1
"Mungkin saya masih butuh waktu tuan," jawab gadis itu lirih.
"Sampai kapan?"
"Entahlah." Bahkan Anastasya sendiri tak mampu menjawabnya.
Ken tergelak penuh ironi.
"Apa kau akan menyerah begitu saja pada takdir? Terpuruk dalam ketidakberdayaan, dan menangisi kegagalan percintaanmu, di sepanjang hidupmu?"
Anastasya menyipitkan netra. Tampak tak suka akan ucapan yang pria itu katakan.
"Apa maksud anda, tuan?"
"Anastasya, tidaklah kau lihat. Kau masih muda, masa depanmu masih panjang. Tetapi lihatlah dirimu sekarang, bukannya mengapai apa yang seharusnya bisa kau dapatkan, tetapi justru bertahan dikubangan berlumpur dan engan beranjak dari sana."
"Tuan."
"Kau seharusnya bisa bertanya pada hati kecilmu sendiri. Kau berusaha menghindar dari masa lalu. Akan tetapi ketahuilah, masalalu masih tetap membekas sampai kapan pun, selama kita sendiri tak pernah berniat mengantinya dengan masa depan yang lebih indah. Dan masa depan indah itu tentunya bisa kau raih dengan seseorang yang bisa mencintaimu sepenuh hati, serta menerimamu dengan apa adanya."
Ada sepasang netra yang mulai berkaca-kaca. Nyaris tertumpah dengan deras jika tak mampu menahannya.
"Aku benar-benar menginginkanmu, Anastasya. Kita pernah merasakan betapa sakitnya kehidupan dan segala coba. Dan kini sudikah kiranya, kau menerima seorang duda ini, untuk menyatakan perasaan cintanya padamu dan menginginkanmu untuk menjadi satu-satunya ratu di istananya?"
Anastasya tertegun, bulir bening kini benar-benar mengalir dari sudut netranya. Mungkin ini berat, bahkan terbilang sangat berat. Masalalu dan masadepan. Kata nyaris serupa, namun terkadang memiliki arti yang jauh berbeda. Apakah ia mampu, apakah ia bisa? Entahlah.
Disela isak tangis, Anastasya menghela nafas dalam kemudian mengangguk perlahan.
"Iya, saya bersedia, tuan." Gemetar-gemetar gadis itu menjawabnya.
Ken yang medengar jawaban itu pun lekas mengusap air mata Anastasya dengan jemarinya, kemudian membawa gadis itu dalam dekapan.
"Maaf, mungkin aku terkesan memaksa. Tapi aku juga sangat berharap dan tak ingin jika kau sampai menolakku."
Anastasya mengangguk Samar. Ia tak menolak pelukan itu. Dengan menyandarkan kepala di dada bidang Ken, Anastasya mampu merasakan detak jantung pria itu yang juga berpacu cepat, sama seperti yang ia rasakan kini.
Apakah itu debaran cinta?
__ADS_1
Anastasya tersenyum samar. Benar kata Ken. Untuk apa kita berlarut di dalam luka masa lalu, tapi enggan untuk merajut masa depan, yang mungkin saja indah. Bukankah tak ada salahnya untuk mencoba dan menjalani. Saling menggengam, berjalan beriringan bersama orang tersayang. Itu mungkin lebih baik.
Bersambung...