
Penat dan lelah mengiringi langkah para pekerja dipenghujung senja. Peluh dan helaan nafas lega tergambar di wajah para tulang punggung keluarga selepas berjibaku dengan aktvitas rutin mereka hingga gelap menyapa.
Senja merupakan waktu yang teramat mereka nantikan. Di mana rasa lelah dan penat serasa hilang seketika berganti dengan rasa bahagia kala istri dan anak-anak yang berlarian menunggu kedatangan sang Ayah di teras rumah, dengan wajah berbinar.
Hal itu pulalah yang kini dirasakan Arka, pria yang tengah duduk di kursi penumpang itu terlihat sesekali tersenyum sembari menatap kerumunan manusia berlalu lalang di jalanan dari pintu kaca. Pria itu mengarahkan pandangan pada ruang di sampingnya, di mana ada beberapa kantong berisikan makanan dan aneka buah untuk oleh-oleh sang istri.
Istriku pasti senang.
Arka mengalihkan pandangan lagi kearah jalanan.
Sam yang tengah mengemudi itu hanya menghela nafas dalam. Rupanya wajah merona sang Tuan tergambar jelas dari kaca kecil di depannya. Ia sempat mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Arka menyodorkan kertas bertuliskan beberapa macam camilan dan buah-buahan saat Tuannya itu meminta menepi di area pusat perbelanjaan.
Asisten sekaligus pengawal itu tampak terkejut. Pasalnya ada beberapa macam barang yang seumur hidup belum pernah ia kenal apalagi membelinya. Bahkan, para penjaga kasir yang semuanya wanita muda itu, tampak menatapnya tak percaya kemudian tersenyum malu-malu sementara tanganya bergerak mengulurkan belanjaan yang Tuan tampan itu inginkan.
Meski tak habis fikir, namun sam tetap memahaminya. Melihat Tuannya tampak begitu perhatian pada Nona barunya, itu membuatnya cukup bersyukur.
Menyibak jalanan padat dengan kecepatan sedang, kini kuda besi yang mereka tunggangi sudah memasuki gerbang utama. Para penjaga tergopoh membuka gerbang nan tinggi menjulang itu, lantas menundukan kepala. Hingga memasuki halaman rumah, wajah Arka yang masih dipenuhi rona bahagia itu semakin terpancar kala mendapati sang istri menunggunya dalam jajararan para pelayan.
Pria tampan itu bergegas turun, namun tak lupa meraih kantong buah tangan dengan antusias. Langkahnya yang lebar mempermudahkanya untuk mengejar waktu dan lekas memeluk sang istri yang juga tengah tersenyum kearahnya.
Zara lebih dulu mencium punggung tangan Arka sebelum pria itu mencium keningnya.
__ADS_1
"Untukmu," ucap Arka seraya mengulurkan buah tangan yang ia bawa kehadapan sang istri.
"Untuk saya?" Meski ragu, namun gadis itu menerimanya dengan suka cita. "Apa ini?"
"Buka saja, dan kita akan lihat apa isinya di kamar." Arka meraih pinggang sang istri dan mendorong tubuhnya lembut untuk bergerak menuju lantai atas di mana kamarnya berada.
Sembari berjalan, Zara tampak menerka-nerka isi dari kantong pemberian suaminya itu.
Apa isinya. Apa mungkin ini pakaian yang terbuka hingga Tuan Arka menyuruhku untuk membukanya di kamar. Ah tapi sepertinya tidak mungkin.
"Sekarang bukalah." Arka mempersilahkan Zara untuk membuka isi kantong tersebut saat keduanya sudah berada di dalam kamar dan memastikan pintunya terkunci rapat.
Gadis itu pun mulai membuka kantong satu persatu. Akan tetapi, dibeberapa detik berikutnya, gadis dengan dres bermotif garis selutut itu tampak tersipu malu.
Zara tergelak dalam hati. Merutuki fikiran kotor yang sempat memasuki otaknya. Lagi pula, Arka cukup tau akan kondisinya. Jadi tidak mungkin pria itu memberikan sesuatu yang aneh-aneh untuknya.
"Apa kau suka?"
Arka yang sudah membuka jas dan menyisakan kemeja abu-abu dengan lengan yang ia lipat hingga kesiku itu mendekat dan mengusap surai sang istri yang masih terlihat bertanya-tanya pada buah tangan yang dibawanya.
"Su-suka, sayang."
__ADS_1
Zara menatap puluhan coklat hitam batangan dengan berbagai merek dan yogurt berbagai rasa dalam kantong yang berbeda. Bukan itu saja, masih banyak lagi camilan dan buah segar dalam kantong yang berbeda pula.
Untuk apa semua ini.
"Semua makanan ini akan membuatmu lebih nyaman dalam menjalani datang bulan."
Ya tuhan Tuan, aku hanya sedang datang bulan dan bukan melahirkan. Kenapa anda sudah terlihat seperhatian ini.
"Tapi ini terlalu banyak, sayang," ucap Zara sembari menatap nanar tumpukan camilan di depannya.
"Tak masalah, kau bisa membaginya dengan para pelayan jika menurutmu itu terlalu banyak," jawab Arka enteng dengan tangan yang tak hentinya mengusap pipi putih istrinya.
"Dan masih ada lagi." Arka meraih kantong berukuran lebih kecil dari tas kerjanya.
"Ini akan membuat perutmu nyaman selama datang bulan, dan ini," Arka meraih satu kantong lainya. "Ini adalah vitamin yang bisa kau minum selepas datang bulan. Ini adalah tablet khusus, kau jangan pernah sesekali membuangnya. Ini adalah Vitamin yang bisa menjaga kondisimu agar lebih vit. Tidak perlu khawatir, dokter sudah memastikan jika obat yang mereka berikan padaku aman."
Arka berusaha meyakinkan Zara dengan ucapannya. Ia tampak tersenyum saat pria itu memberinya obat pereda nyeri dari dokter, namun gadis itu pun sempat meragukan pada tablet vitamin yang harus ia konsumsi selepas datang bulan. Akan tetapi Arka lebihlah pintar, hingga gadis itu tak mampu untuk menolak.
Percaya atau tidak, sejujurnya itu bukanlan tablet vitamin biasa, melainkan obat penyubur kandungan yang Arka dapatkan dari Dokter Bram. Lewat segala macam rayuan dan alasan, akhirnya Dokter Bram tak mampu menolak keinginan Arka hingga pria itu merekomendasikan penyubur kualitas terbaik yang hanya dijual di apotik tertentu.
Bibir seksi itu tersenyum penuh kemenangan kemudian membawa kepala sang istri untuk bersandar di dada bidangnya. Mengusap surai lembutnya dan mendaratkan kecupan di puncak kepalanya bertubi-tubi.
__ADS_1
Maaf sayang, aku harus melakukan hal semacam ini. Aku tau jika kau masih belum siap untuk memiliki bayi, namun hanya dengan cara inilah aku bisa terus mengikatmu dalam hubungan pernikahan. Mungkin, setelah ada anak, kau tidak akan pernah berniat untuk pergi dariku.