Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Lamaran


__ADS_3

...Apakah ini, yang dinamakan jatuh cinta yang sesungguhnya?...


Anastasya terpaku pada sosok pria yang sedang mengemudi di sampingnya. Lengkung tipisnya pun terkembang sempurna. Jatungnya bahkan berdetak kenjang dan berdebar-debar, seolah baru kali pertamanya ia meraskan jatuh cinta.


Itu terdengar menggelitik. Sungguh. Terlebih untuk perempuan seusia Anastasya. Diusianya yang sudah dua puluh lima tahun, rupanya ia masih bisa merasakan getaran cinta bak remaja. Apakah itu terbilang terlambat? Ah tentu tidak, bukannya jatuh cinta itu tak memandang usia?


Ken mencolek ujung hidung Anastasya dengan jari telunjuk kirinya. Gadis itu pun tersipu malu. Rupanya pria itu tau jika ia sedang mencuri pandang.


"Hem, udaranya sangat sejuk dan terbebas dari polusi." Ken menarik nafas dalam. Ia sengaja membuka pintu mobil, supaya hawa segar pedesaan masuk ke dalam mobilnya.


"Benar Mas. Hal semacam inilah yang selalu kurindukan dan memanggilku untuk pulang." Mungkin sudah beberap tahun ia tak pernah kembali. Terbukti dengan banyaknya perubahan di perkampungan tempat kelahirannya dulu.


"Apa sedari kecil, kau tinggal di kampung ini?" Pria tampan yang tengah mengemudi itu sesekali melirik gadis cantik di sampingnya. Setelah beberapa tahun coba menutup hati, rupanya perempuan bernama 'Anastasya' lah yang mampu membuka pintu hati terdalamnya, hingga membuat ia jatuh cinta untuk kedua kalinya.


Anastasya mengangguk.


"Dulu, rumah kami dan bibi berjarak cukup jauh. Tetapi setelah kedua orang tuaku meninggal, aku hidup bersama bibi dan meninggalkan rumah. Tidak ada pilihan sebab paman dan bibi adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki. Mereka juga sangat baik, dan tak pernah memperlakukanku dengan buruk. Paman dan bibi benar-benar mengantikan peran ibu dan ayah untukku."


Anastasya mengarahkan pandangan keluar kaca. Bayangan masa kecil yang penuh luka kembali terbesit dibenak.


Cukup lama gadis itu terdiam. Mengingat beratnya beban hidup, hingga ia memutuskan merantau ke ibukota.


Jalanan yang dilalui tak terlalu buruk, ditambah dengan pemandangan alam sekitar, membuat perjalanan yang memakan waktu dua setengah jam itu tak terasa.


Anastasya menghela nafas dalam. Ia masih hafal jalan yang dilaluinya saat ini. Jalanan yang tak jauh dari kediaman bibi dan pamannya.


"Apakah masih jauh?"


Pertanyaan Ken membuat gadis itu tersentak dari lamunan.


"Tidak, sepertinya sebentar lagi kita akan sampai." Gadis itu mendongak, memastikan jalanan sekitar. Dan benar saja, rumah keluarganya sudah berada di hadapan.


"Stop mas. Itu rumah paman dan bibi," tunjuknya pada sebuah rumah sederhana berdinding kayu.


Mobil mereka menepi di pinggir jalan. Anastasya menghela nafas dalam sebelum memutuskan turun.

__ADS_1


"Kau kenapa, sayang?" tanya Ken yang mendapati raut sedih kekasihnya.


Gadis itu pun spontan menggeleng. "Tidak apa-apa mas, aku baik-baik saja."


Kaki jenjang yang beralaskan sepatu flat itu turun menapaki jalanan berbatu. Menatap dari kejauhan sebuah rumah yang beberapa tahun ini ia tinggalkan. Terlihat dua gadis kecil bermain di depan rumah. Keduanya sempat melirik dan menunjuk kearahnya dan juga Ken sebelum berlari memasuki rumah.


Apakah mereka Tia dan Ara? Keponakan yang dulu aku tinggal saat mereka masih balita?


Mungkin mereka adalah putri-putri bibinya. Sudah tumbuh besar rupanya. Saat ditinggal, mereka masih berumur tiga dan dua tahun. Mereka jualah salah satu alasan kuat yang melandasi Anastasya untuk merantau. Kedua bocah itu kerap kali menangis sebab tak cukup minum susu dan juga asupan makanan yang layak.


Itu semua membuatnya tak tega. Terlebih pekerjaan sang paman yang memiliki upah tak seberapa untuk mencukupi semua keluarga termasuk diriku dan beberapa anak paman lainnya.


Anastasya melangkah pelan. Meninggalkan Ken yang sibuk mengambil beberapa barang di bagasi mobil.


Langkah gadis itu kian mendekat, sementara netranya mulai berkaca-kaca, menatap rumah yang selama ini teramat ia rindukan.


Seorang perempuan paruh baya berpakaian lusuh muncul dari pintu yang terbuka. Menatap Anastasya lekat, sementara dua gadis kecil tadi mengapit di sebelah kiri dan kanannya.


"Ana, kau kah itu?" Suara perempuan paruh baya itu terdengar bergetar. Keduanya saling pandang, sebelum Anastasya setengah berlari untuk menubruk tubuh sang bibi, memeluk dan menangis di bahunya.


"Bibi, ini aku, Ana."


"Bibi tak percaya ini," ucap perempuan paruh baya itu lirih, kemudian mengendurkan pelukan setelah beberapa saat untuk bisa memandang wajah Anastasya lebih dekat.


"Ana, apa ini benar-benar kau, nak?"


Anastasya mengangguk sebagai jawaban sembari mengusap bulir bening di pipinya.


Tak kuasa menahan, bibi pun memeluk gadis ity kembali. Hingga beberapa saat pandangannya tertuju pada seorang pria yang datang bersama sang keponakan.


"Ana, kau datang bersama siapa?" Pria itu bukanlah suami Anastasya. Ia pernah melihat Arka dari sebuah foto, dan pria ini sama sekali tak mirip dengannya.


"Dia mas Kenan, bi."


Begitu sampai di hadapan bibi Anastasya, Ken menaruh barang bawaanya yang terbungkus plastik di tanaah, kemudian menyalami dan memperkenalkan diri kepada perempuan paruh baya itu.

__ADS_1


****


Anastasya benar-benar merasakan bahagia yang sesungguhnya. Berada di lingkungan keluarga dan juga pria yang mencintainya, hingga bibir tipis itu tak hentinya mengulas senyuman.


Paman yang sedang mengurus pabrik pengilingan padi miliknya, bergegas pulang saat mendapat kabar jika keponakannya kembali.


Pabrik pengilingan padi itu pun terbangun atas uang yang selalu Anastasya kirimkan perbulan pada sang paman untuk digunakan sebagai modal usaha dan biaya hidup. Hingga keluarga mereka kini terbilang hidup lebih nyaman tanpa kekurangan makanan seperti dulu.


Melirik sekilas kearah dua gadis kecil yang tadi sempat berlari. Mereka tampak asik bermain boneka dan beberapa camilan yang sempat dibeli Ken sebagai buah tangan.


"Paman, bibi, maaf. Sebenarnya saya datang kemari bukan tanpa alasan." Ken mulai berbicara serius setelah cukup berbasa basi sebagai ucapan perkenalan.


Paman dan bibi saling melempar pandang.


"Masuk nak Ken?" ucap paman menggantung. Sepertinya pria paruh baya itu masih kebingungan.


"Saya datang kemari bukan sekedar untuk bersilaturahmi namun juga ingin meminang keponakan paman dan bibi untuk menjadi istri saya." Kenan mengucapkannya dengan penuh keyakinan. Raut wajahnya pun santai dan tenang seakan tak ada sesuatu pun yang masih mengganjal didirinya.


Bangkit dari keterpurukan masalalu, memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Akan tetapi, sebisa mungkin ia akan menyongsong masa depan dengan seseorang yang ia cinta, tanpa melupakan sosok wanita dan putrinya yang sudah berada di surga.


Pasangan patuh baya itu masih saling pandang, namun dengan senyum terkembang di bibir keriput mereka. Kabar jika sang keponakan berstatus sebagai janda, memang sudah sampai di telinga. Bahkan pada saat itu, Anastasya sempat mengabari jika ia akan tinggal dan memulai hidup baru di kampung. Akan tetapi, setelah beberapa minggu gadis itu pun mengurungkan niat, entah dengan alasan apa.


Sementara Anastasya sendiri terlihat menundukan pandangan dan terdiam. Sesekali memilin jemarinya sendiri di atas pangkuan.


"Nak Kenan. Jika Anastasya memang sudah memilih anda, berarti kami pun tak punya alasan untuk menolak pinangan Nak Kenan pada keponakan saya, Anastasya. Sebab, apa pun yang sudah menjadi pilihannya, tentu yang terbaik untuknya."


Ken tersenyum simpul, menatap Anastasya yang mulai mendongak.


"Paman dan bibi benar-benar merestui kami?" Ulang Kenan untuk lebih memastikan.


"Tentu, nak. Kami sangat yakin."


Ken terharu. Beberapa kali pria tampan itu tampak mengucap syukur. Ia pun mendekat, dan duduk di samping Anastasya. Di gengamnya tangan gadis itu, dan meremasnya lembut. Ia benar-benar merasa bahagia dan tak mampu berkata-kata. Namun, saat ia memandang tangan yang saling bertautan itu, raut wajahnya berubah seketika.


ya tuhan, bodohnya Aku. Seharusnya dimomen seperti ini aku membawa cincin sebagai bukti keseriusanku. Tetapi nyatanya?

__ADS_1


Ken bahkan merutuki diri. Ingin melamar, tapi tak membawa perhiasan apa pun. Sungguh sangat disayangkan. Ckckckck....


Bersambung


__ADS_2