
Bagai sambaran petir di siang hari. Sandy yang sudah bersembunyi di dalam kuda besinya itu pun lekas melepas masker dan coba mengatur nafasnya tak beraturan. Kedua pria itu bahkan sudah seperti setan yang mampu membuatnya lari tunggang langgang untuk menyelamatkan diri.
"Kenapa aku justru harus berusan dengan orang-orang seperti mereka." Sandy memukul-mukul kemudi cukup kuat dengan kedua tangannya. Bagaimana gadis incarannya justru hidup diantara kedua pria petinggi perusahaan seperti mereka.
"Apa jangan-jangan Zara memakai ajian pemikat, susuk atau semacamnya untuk bisa menarik perhatian pria kaya itu?" Bermacam praduga yang berasal dari fikiran sandri beterbangan.
Dirinya masih tak habis fikir.
"Hanya satu yang bisa menjawab semua tanya di fikiranku."
Pria muda itu lekas menghidupkan mesin mobil dan menjalankannya dengan kecepatan sedang. Meraih ponsel di saku kemejanya dan mengubungi seseorang.
"Aku penasaran, seperti apa kehidupanmu selepas kabur dariku. Bukanya menjadi gembel, kau malah hidup dengan nyaman sekarang."
Sandy mengarahkan kuda besinya menuju suatu tempat yang akan ia gunakan untuk bertemu dengan seseorang. Hingga mobil itu menepi disalah satu kedai kecil di pinggir jalan.
Tetap menggunakan maskernya, Sandy menyibak keadaan sekitar. Setelah memastikan aman, pria itu bergegas turun dan memasuki kedai sederhana tersebut.
Pria itu pun memilih kursi yang terletak di sudut ruangan. Rupanya seseorang yang memiliki janji dengannya masih belum menunjukan batang hidungnya. Seorang perempuan paruh baya bertubuh tambun dengan celemek yang melekat di tubuhnya itu mendekat.
"Ingin pesan apa nak?" tanya si pelayan.
Sandy menatap berbagai menu masakan yang terpampang di etalase kaca.
"Saya pesan sate padang dua, dan es teh dua," jawab Sandy dengan menunjukan dua ruas jemarinya pada si pelayan tersebut.
__ADS_1
"Baik. Tunggu sebentar." Memutar tumit, pelayan dengan surai di ikat sederhana itu menjauh meninggalkan Sandy.
Pria itu menarik nafas dalam. Sejujurnya ia gengsi mengajak kencan di tempat seperti ini. Hanya saja, kini isi dompetnya tengah sekarat. Tidak mungkin ia bisa memilih resto mewah untuk sekedar bertemu. Jika dirinya selalu meminta sang kekasih untuk mentraktir, lalu bagaimana jika kejadiannya sama seperti saat kencannya bersama Kiara tempo hari. Keduanya bahkan tak memiliki uang untuk membayar tagihan makan. Jika bukan Zara yang membayar, tentu ia sudah menjadi bulan-bulanan masa atau menjadi pelayan resto sebagai ganti rugi.
Disela lamunan, terdengar langkah mendekat.
"Sudah menunggu lama?" tanya seorang gadis.
Sandy memasang wajah full senyuman.
"Tidak sayang, baru sebentar. Lagi pula, makanan yang aku pesan juga belum datang."
Sosok gadis yang menjadi bahan interogasi Sandy ialah Kiara. Lagi-lagi Kiara yang harus ia jadikan korban demi kelancaran misinya.
Baik Kiara atau pun Sandy, sama-sama menikmati sate padang dengan lahap.
Pria itu menatap kearah sang gadis yang sibuk menyuapkan makanan kemulutnya. Ia segera bertindak cepat, untuk mengorek informasi sedetail mungkin.
"Sayang, apa kau mengerti tentang perusahaan Atmadja group?" Langkah awal untuk memancing pembicaraan, begitu fikir Sandy.
Gadis itu pun menganguk dengan masih mengunyah makananannya.
"Perusahaannya sangat besar, aku yakin jika CEO perusahaan tersebut orang pasti hebat. Aku jadi penasaran dengan kehidupan pribadinya. Apakah dia juga sudah memiliki keluarga atau masih lajang?"
Kiara berhenti mengunyah sementara netranya menyipit menatap kearah sang kekasih.
__ADS_1
"Kenapa kau sampai sepenasaran itu? Bukankah kau sendiri tidak bekerja di perusahaan itu?"
Arka sedikit terkejut. Ia pun tersenyum kecut mendengar jawaban sang kekasih.
"Ma-maksudku bukan begitu. Hanya saja, aku berkeinginan untuk mencari pekerjaan di tempat itu. Mungkin saja gajinya akan beberapa kali lebih besar dari tempat kerjaku saat ini."
Kiara meneguk es teh dari gelasnya.
"Aku tau siapa pria yang kau maksud, CEO Atmadja group kan? Aku juga mengenalnya."
Semilir angin serasa menerpa kulit berpeluh Sandy. Inikah jawaban yang ia cari selama ini.
"Beliau Tuan Arkana Surya Atmadja. Memang tak banyak orang yang seberuntung diriku untuk bisa melihat langsung wajahnya. Jika kau tanya kenapa. Jawabanya adalah karna beliau suami dari Nona Anastasya. Siapa Nona Anastasya? Nona Anastasya adalah pemilik toko bunga tempat aku bekerja. Jadi jika kau penasaran dengan kehidupan pribadinya,aka jawabannya ialah, Tuan Arka sudah menikah dan setatusnya tidak lagi lajang."
Sandy yang beberapa saat membuka indra pendengarannya lebar-lebar itu pun hanya bisa meresapi setiap kalimat yang terucap dari Kiara selama gadis itu berbicara.
Apa. Istrinya bernama Anastasya. Lalu Zara? Apa setatusnya bagi pria kaya itu. Jika hanya teman, kenapa mereka sangat dekat dan menyentuh perut Zara dengan mengucap calon bayi kita.
Sandy kesulitan untuk mengurai benang rumit dari kasus gadis yang mencari incarannya.
"Tapi, sepertinya aku kurang mempercayainya."
Gadis itu mendengus kesal dan menghabiskan suapan terakhir makanannya.
"Kau bisa membacanya di majalah bisnis atau surat kabar. Nanyak artikel yang mengungkap kehidupan pribadi pewaris Atmadja group," jawab Kiara sekenanya. Ia sendiri sudah malas untuk menjawab pertanyaan sang kekasih.
__ADS_1