Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Kau Di Mana Part 2


__ADS_3

Rangga sudah hendak mengurungkan niatnya untuk menemui sang sahabat, akan tetapi semua terlambat kala Arka lebih dulu melihat lantas memanggil pria yang sudah berbalik badan itu.


"Rangga, kemarilah! Kau mau kemana?" ucap Arka dengan berteriak mengingat jarak keduanya yang cukup jauh.


Rangga yang sudah berjalan itu menghentikan langkah, kemudian berbalik badan menoleh kearah sumber suara.


"Apa yang kau lakukan di sana? Kemarilah!" titah Arka seraya melambaikan tangan.


Dengan langkah berat, pria itu pun mendekat menuju kearah gazebo di mana sepasang suami istri itu tengah duduk dengan tangan saling menggengam.


Ya Tuhan, apa aku hanya akan dijadikan obat nyamuk jika dipaksa untuk berada di tempat ini.


Rangga tersenyum masam dan mulai mendaratkan tubuhnya untuk duduk di gazebo yang sama dengan sahabat karib beserta istrinya itu.


"Maaf, aku sudah mengangu kalian berdua." Terdengar jika Rangga menghela nafas dalam, yang mana membuat Zara tidak nyaman dan memilih untuk meninggalkan mereka berdua.


"Tidak masalah, Tuan. Lagi pula, saya masih memiliki banyak urusan di dalam," ucap Zara dengan jari tulunjuk yang mengarah kerumah utama.


"Tapi, sayang. Kau tidak ingin duduk untuk berbung dengan kami?" Arka yang tak mengerti akan situasi itu tetap menahan sang istri untuk terus bersamanya.


Gadis itu sudah bangkit dan melepas pertautan tangan di antara keduanya.


"Aku hanya ingin membuat minuman, sayang. Itu tidak akan lama."


"Baiklah." Meski berat, Arka membiarkan gadis yang dicintainya menjauh dari hadapan menuju rumah. Sampai gadis itu menghilang di balim pintu dapur pun, Arka masih mampu mengalihkan pandangan. Hingga Rangga pun berdehem untuk mengalihkan pandangan sahanatnya itu.


"Ehem."


Arka mulai mengerjap, kemudian menatap sang sahabat dengan pandangan penuh tanya.


"Kenapa?"


"Kau terlihat sangat mencintainya," goda Rangga.


"Tentu saja, dia istriku," jawab Arka sedikit ketus yang mana membuat Rangga seketika tergelak kencang.


"Apa kau juga mencintai Anastasya seperti halnya kau mencintai Zara?"

__ADS_1


Ucapan Rangga yang entah apa maksudnya itu membuat Arka kebingungan.


"Maksudmu?"


Rangga yang keceplosan, menjadi serba salah.


"Lupakan, anggap saja jika aku tidak pernah mengatakannya."


Arka kemudian menarik lengan sang sahabat untuk duduk di kursi yang berada di bawah pohon rindang. Di sana akan terasa lebih nyaman dan terlihat santai.


"Kau datang, pasti ingin menanyakan tentang hal penting padaku, bukan?"


Rangga mengangguk. Meski pun belum terucap, tetapi sahabatnya itu sudah mampu membaca arah tujuanya datang kerumah ini.


"Tapi sebelum itu, bisakah aku menanyakan satu hal padamu?"


"Tentang apa itu?" Arka menautkan alisnya, berupaya menebak pertanyaan Rangga.


"Di mana kau mendapatkan istri sepolos dan sebaik istrimu itu. Gadis itu, mengingatkanku pada Anastasya, saat pertama kali aku mengenalnya. Polos, cantik, dan baik hati."


Arka menarik nafas lega, dia fikir jika sahabatnya itu akan melemparkan pertanyaan yang sulit untuk dijawab, tapi nyatanya mampu membuat Arka tersenyum tipis.


"Apa, maksudmu?" Rangga dibuat tak mengerti.


"Anastasya memintaku untuk menikahi Zara. Meski awalnya gadis menolak, tapi nyatanya kami tetap menikah. Lagi pula, aku juga menyukai gadis pilihan Anastasya itu dan tak berniat untuk menolaknya."


Kini Rangga menjadi kian kebingungan.


"Aku yakin jika sempat ada prahara besar, sebelum aku pulang, bukan?"


Arka tak menyanggah. "Justru saat-saat terberat itulah yang membuat cinta kita kian dalam."


Rangga berfikir dalam, entah mengapa kini dirinya mulai terbakar api cemburu.


"Kau dan Anastasya terlihat sehati. Jika tidak, bagaimana mungkin Anastasya mengetahui seleramu dan memilih seorang gadis yang kau sendiri tak mampu menolak untuk menikahinya."


Arka terhenyak, merasakan adanya perbedaan dari cara bicara pria di sampingnya itu.

__ADS_1


"Satu hati, maksudmu?"


"Kalian saling memiliki keterikatan. Kalian juga memiliki kedekatan batin, yang mana Anastasya bisa mengetahui apa saja yang menjadi keinginanmu. Aku sempat lupa, jika kalian sudah dua tahun lamanya." Rangga menghela nafas dalam dan melepaskannya perlahan. "Apa, kalian juga pernah tidur bersama?" Selepas berucap, Rangga memalingkan wajah. Enggan untuk menatap wajah sang sahabat.


Dari kejauhan nampak seorang pelayan mendekat dengan membawa nampan berisikan minuman.


"Silahkan, Tuan," ucap si pelayan.


"Di mana istriku?" Bukankah Zara yang berniat membuatkan minuman untuk mereka. Begitu isi fikiran Arka.


"Nona sedang beristirahat di kamar, tuan," jawap pelayan yang sudah hendak membalikan badan itu.


"Baiklah."


Pelayan itu pun pergi. Meninggalkan kedua pria yang masih saling terdiam.


"Rangga," lirih Arka berucap. "Kau adalah sahabat terdekatku. Kita tumbuh bersama, usia kita tak jauh berbeda. Bahkan aku sudah menganggap layaknya adik kandungku sendiri. Kau pasti tau segalanya tentang diriku, dari luar atau pun dalam." Arka menatap kedua netra Rangga lekat, yang mana seketika membuat pria itu tertunduk, bahkan menyesali ucapan yang ia lontarkan beberapa saat lalu.


"Maaf."


"Kami memang sah di mata hukum atau pun agama. Kami halal melakukan apa pun yang ada dalam hubungan pernikahan. Tapi ketahuilah, aku memegang teguh janji yang pernah kuucapkan padamu. Saat kau datang dan berlutut meminta perlindungan atas Anastasya. Kemudian kau bilang jika masih mencintainya dan berjanji akan kembali. Disitulah aku mengucap janji pada diriku sendiri untuk tak menjamah Anastasya dan menyerahkan kembali padamu untuk kau nikahi."


Rangga menggigit bibir bawahnya kelu. Dia meremas kuat jemarinya sendiri. Betapa kesalahan yang sudah dia lakukan, justru berdampak lebih menyakitkan pada sahabatnya sendiri.


"Ma-maafkan aku."


"Jadi jangan pernah mengangap jika aku sudah melakukan banyak hal pada Anastasya, meski pun kami halal. Dia sama sekali tak terjamah. Aku mencintai Zara lebih dari apa pun. Walau pun Anastasya lebih segalanya dari Zara, tetapi bagiku, Zara tetaplah gadis tercantik yang ada di muka bumi ini, hingga aku tidak akan pernah untuk berpaling darinya."


Rangga mulai terisak. Mengusap wajah dan spontan mendekap tubuh sang sahabat erat. Menangis tersedu di bahu Arka, Rangga teramat menyesal. Ia terlalu bodoh sebab sempat meragukan sahabatnya itu dan berniat merusak kepercayaan yang ia beri.


"Maafkan aku, aku bodoh karna sempat tak mempercayaimu." Rangga belum melepaskan dekapan dan masih menangis di bahu Arka.


"Itu wajar. Semua itu pasti karna rasa sayangmu yang masih tersimpan untuk Anastasya. Aku akan melangsungkan resepsi pernikahan tak lama lagi. Disana kau bisa bertemu dengan Anastasya, dan berjuang kembali."


Mendengar kabar baik itu, Rangga spontan mengendurkan dekapan dan menatap wajah sang sahabat dengan pandangan berbinar.


"Benarkah?"

__ADS_1


"Tentu. Maka berjuanglah. Mungkin ini adalah kesempatan terakhirmu untuk bisa bertemu dan memperjuangkan kembali cintamu."


Rangga tersenyum haru. Ia mengganguk sembari mengucap doa. Semoga untuk kali ini, dirinya bisa membawa Anastasya untuk berbicara dari hati kehati tanpa emosi


__ADS_2