
Kedua insan sedarah itu saling mendekap. Meluapkan rasa rindu mengebu-gebu yang sudah cukup lama tertahan. Tak perduli pada tatapan orang di sekeliling, seolah dunia memang sengaja diperuntukan untuk mereka berdua.
"Zara sayang, Ibu sangat rindu," lirih Rumi mengucapnya hingga hanya mampu di dengar oleh sang putri.
Zara pun demikian. Kian merapatkan dekapan, Gadis itu merasa jika tak ingin terpisahkan lagi oleh sang ibu.
"Ehem." Suara deheman dari arah belakang, seketika mengejutkan anak dan ibu itu.
Zara dan Rumi melepaskan pelukan dan memandang kearah sumber suara.
"Ka Sandy," gumam Zara lirih.
"Bibi pasti tak lupa akan tujuan kita datang ketempat ini, bukan?" Sandy menatap tajam kearah Rumi. Dirinya merasa tak terima saat Rumi justru terlihat menikmati pertemuannya dengan sang putri dan melupakan perihal pernikahan Zara yang sudah sedari semalam mereka bahas.
Perempuan paruh baya itu tersenyum tipis, menatap kearah Zara dan kini pada Sandy.
"Tentu tidak, Nak Sandy."
Maksud tujuan? Apa kiranya maksud ucapan dari Ka Sandy kepada Ibu.
"Zara, sayang. Nak Sandy mengatakan pada Ibu, jika dirimu sudah menikah di kota. Dan sekarang, katakanlah pada Ibu jika semua itu tidak benar." Rumi mengusap wajah sang putri. Senyum di bibirnya masih terlihat, sebagai wujud suka citanya selepas bertemu dengan buah hati yang selama ini dirindukan.
Zara dibuat gelagapan. Tidak ingin mengucap kebohongan, namun ia pun tak ingin jika ibunya mengetahui kebenaran.
Sandy yang berdiri di belakang tubuh Rumi, begitu terlihat tegang, tak kalah tegang dari gadis mungil di depannya.
"Zara, sayang. Katakanlah, Ibu hanya ingin mendengar kebenarnya darimu sendiri." Rumi yang begitu yakin akan pemikirannya, bahwa semua yang diucap Sandy hanyalah omong kosong belaka, masih bisa menunjukkan wajah tenang dan percaya dirinya.
"Zara," ucap Sandy lirih. " Pastinya kau tak ingin membohongi seseorang yang sudah melahirkanmu, bukan. Katakan jika yang kudengar pada malam itu tidaklah salah. Siapa seorang pria yang bersamamu saat itu. Bukankah pria itu juga mengatakan jika di dalam perutmu bahkan ada calon bayi yang sedang kau kandung."
Ucapan Sandy sontak membuat Zara menelan ludahnya kasar. Ia memang ingin menjelaskan semua pada Ibunya, akan tetapi bukan dengan seperti ini caranya.
Bahkan para karyawan yang tanpa sengaja mendengar ucapan Sandy pun kini menatap Zara dengan pandangan penuh tanya. Tak jarang ada beberapa orang pembeli yang justru menyaksikan adengan perdebatan ketiga manusia itu.
Rumi mulai meradang, ia tak ingin jika sang putri terus dipojokkan.
"Nak, cepat katakan jika ucapan Nak Sandy itu semua salah," desak Rumi yang mulai tak mampu menguasai diri.
Gadis itu menunduk kemudian menangkup kedua tangan Rumi untuk ia gengam.
"Ibu, maafkan aku. Zara memang sudah menikah tanpa sepengetahuan Ibu dan Ayah."
Mendengar jawaban sang putri, perempuan paruh baya itu menggeleng dan mundur perlahan.
"Tidak! Kau pasti berbohongkan Nak?" Rumi tak sebegitu mudahnya percaya. Akan tetapi, kenapa putrinya justru mengatakal hal demikian.
Zara mulai merasa bersalah, berusaha menggengam kedua tangan ibunya, namun tak mampu menjawab pertanyaan yang perempuan paruh baya itu lontarkan.
"Katakan jika semua itu tidak benar!" Rumi berucap dengan meninggikan nada suara. Keterdiaman sang putri serasa membenarkan semua ucapan Sandy.
"Ibu, Zara bisa menjelaskannya." Gadis itu berusaha menarik tangan sang ibu yang kian mundur menghindarinya.
__ADS_1
Rumi pun menggeleng tak percaya.
"Jadi benar ucapan Nak Sandy? Katakan!" Cecar Rumi.
"Be-benar." Zara tak mampu untuk terus mengelak.
Para pengunjung beserta karyawan yang berada di tempat itu pun, mengarahkan pandangan pada Ibu dan anak yang tengah beradu mulut itu.
Kiara yang baru muncul pun dibuat terkejut dengan kejadian apa yang sebenarnya tengah terjadi. Keningnya pun berkerut hingga nampak beberapa lapisan saat menemukan Sandy berada di antara kedua perempuan yang tengah bersitegang itu.
"Hebat Zara. Apa dengan pria ini kau menikah?" Rumi membuka lembaran majalah di mana terdapat gambar Arka yang dimuat oleh surat kabar tersebut.
Beberapa pengunjung toko yang mengetahui siapa sosok pria dalam majalah tersebut, terkesiap. Terlebih para karyawan yang memang mengetahui hubungan antara Zara, Anastasya dan Arka. Semuanya tak mengerti dan tak habis fikir. Sebenarnya apa yang sudah terjadi.
Beberapa penjaga keamanan termasuk Pak Hendro pun berlari menuju area dalam toko bunga. Menatap sekilas dan ingin melerai beberapa orang yang tengah bersitegang itu. Akan tetapi langsung dicegah oleh Kiara. Gadis itu mengatakan jika ini menyangkut masalah keluarga dan tidak memiliki hak untuk ikut campur.
Zara mengigit bibir bawah. Ingin sekali menarik tangan ibunya ketempat yang lebih aman untuk bisa menceritakan semuanya. Hanya saja, gadis itu tahu benar jika ibunya tengah terbakar emosi dan tiba dengan mudahnya untuk diredam.
"Iya."
Rumi kian naik pitam.
Pllaakk..
Satu tamparan keras mendarat di pipi gadis itu. Tubuh mungilnya terhempas kelantai akibat kerasnya tamparan yang didaratkan oleh Rumi.
Bukan hanya Sandy, puluhan pasang netra yang menyaksikan tertegun menatap adegan menyesakkan itu. Kiara yang kebingungan pun lekas menuju pos penjagaan guna memangil Pak Hendro beserta kawan-kawan untuk mengamankan keadaan.
Rumi menatap tangannya sendiri. Tangan hina yang sudah dengan teganya menampar pipi seorang putri yang sudah ia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa. Tangan itu terasa panas, sepanas hatinya yang seperti terbakar amarah.
Tak ingin situasi semakin gawat, para penjaga keamanan meminta paksa pada pembeli atau pun karyawan untuk meninggalkan ruangan tersebut. Hingga hanya menyisakan Zara, Rumi dan Sandy.
"Dia pria sudah beristri, Zara. Kenapa kau masih menjadikannya seorang suami. Apakah karna hartanya yang melimpah hingga membuatmu tergiur walau hanya dijadikan simpan? Kau juga sengaja tak meminta izin lebih dulu pada kami. Apa kau sudah bisa mengira jika kami pasti menolak pernikahanmu dengan seorang pria yang sudah menjadikanmu istri kedua." Rumi teramat murka, yang ada hanyalah rasa marah dan kekecewaan mendalam pada sang putri.
Zara tersedu, sementara tubuhnya masih berada dilantai dan serasa tak mampu untuk kembali bangkit. Pinggangnya terasa nyeri akibat hentakan yang cukup keras.
"Bu, dengarkan aku dulu. Zara bisa menjelaskannya lebih dulu agar ibu tak salah faham."
"Salah faham?" Rumi mengusap wajahnya kasar. Ia sendiri sudah merasa gagal mendidik putrinya. "Kau bahkan sudah mengandung anaknya, lalu apalagi yang masih ingin kau jelaskan?"
Mengerahkan sisa kekuatan, Zara berusaha bangkit untuk bisa menenangkan ibunya.
"Ibu." Terisak, bahkan seluruh wajah Zara sudah penuh dengan linangan airmata.
"Simpan air matamu itu Zara. Semua itu sama sekali tak ada gunanya."
Zara berusaha untuk memeluk ibunya, akan tetapi dengan cepat Rumi mencegahnya.
"Jangan dekati aku. Kau tak pantas menyebutku Ibu." Rumi terus menolak saat Zara berusaha untuk terus mendekap. Sementara Sandy hanya tergelak penuh kepuasaan di dalam hati. Mengingat rencananya yang bisa ia sebut dengan sukses besar.
Tangis keduanya terus bersahutan. Zara terus mendekat, sementara Rumi tetap menolak.
__ADS_1
"Ada apa ini!" Suara dingin seorang pria memenuhi ruangan. "Apa yang sudah terjadi?" Pria itu mendekat. Tanpa menatap kearah sumber suara, Zara sudah mengenal akan sosok pemilik suara yamg baru saja datang.
Sandy menunduk dalam saat netra pria itu tertuju kepadanya.
"Sayang, siapa mereka." Pria yang tak lain ialah Arka itu mendekati sang istri, dan sedetik kemudian tatapan lembutnya berubah dingin saat mendapati kedua netra sang istri yang sembab serta sudut bibir yang mengeluarkan bercak darah.
"Sayang, apa yang terjadi denganmu. Apakau menangis? dan siapa yang sudah berani memukulmu?" Arka merangkup wajah sang istri dan tak menatap perempuan paruh baya yang berada di antaranya.
"Saya yang melakukannya, Tuan." Rumi menjawab tanpa keraguan. Ia yakin jika pria itu adalah suami dari putrinya.
Arka pun menggeser pandang, menatap dingin wajah Rumi.
"Maaf, siapa anda?"
"Beliau adalah Ibuku." Zara lebih dulu berinisiatif untuk menjawab.
"Ibu?" tanya Arka setengah terkejut.
"Maaf Tuan. Mulai detik ini, gadis yang tuan nikahi bukanlah putri saya lagi."
"Ibu." Zara menagis mengiba. Tidak percaya jika sang Ibu mengucapkan kalimat demikian.
Sadar akan situasi yang tengah terjadi, Arka pun mendekati Rumi dan mencoba untuk meraih tangan dari perempuan paruh baya itu.
"Maaf, Tuan. Tangan kotor saya, terlalu hina untuk tuan sentuh," tolak Rumi saat kedua tangan itu hampir terpaut.
Zara tak kuasa menahan semuanya. Ia berlari, kemudian terduduk di lantai dengan tangan menggengam kedua kakinya erat.
"Ibu, aku mohon maafkan aku. Bukan tanpa alasan Zara melakukan ini semua."
Rumi tetap meronta. Ia tahu jika dirinya teramat menyayangi Zara, namun kesalahan yang dilakukan oleh sang anak, baginya terlalu fatal.
"Lihatlah Sandy. Kurang baik apa dia pada kita, tetapi kau justru meninggalkannya. Maaf, aku harus pulang." Rumi melepas paksa gengam tangan sang putri dari kakinya. Ia memutar tumit dan berbalik badan untuk meninggalkan ruangan. Akan tetapi, selepas dua langkah berjalan, Rumi memutar kembali tubuhnya.
"Tuan, aku titipkan gadis ini pada anda. Jagalah dia dengan sepenuh hati dan jangan pernah menhecewakannya." Selepas berucap, Rumi menarik tangan Sandy dan membawa pria muda itu untuk menunggalkan toko bunga bersamanya.
*****
Secara diam-diam, Sam mengamati semuanya yang terjadi dari kejauhan. Ia pun masih mampu mengingat akan sosok pria pembuat onar yang datang bersama Ibunda Zara.
Arka mendudukan sang istri di sofa. Mengusap wajah dan mengompres luka di sudut bibir gadis mungil itu. Keduanya sama-sama terdiam. Masih enggan untuk membahas peristiwa yang baru saja terjadi.
"Maaf, karna aku selalu menunda untuk bisa mengunjungi orang tuamu dan menjelaskan semuanya." Penuh ketelitian Arka membersihkan wajah sembab sang istri. Akan tetapi gadis itu masih tetap tak bersuara. "Hingga semuanya menjadi rumit seperti ini," sambung Arka lagi.
"Hanya ada satu cara, agar masalah ini bisa cepat terselesaikan." Bibir mungil itu akhirnya bersuara setelah membungkam beberapa lama.
"Apa itu, sayang."
"Akhiri semua hubungan kita, maka masalah rumit ini akan cepat terselesaikan."
Arka meradang, mendengar jawaban yang keluar dari mulut sang istri. Ia perlahan bangkit dan membuang kain kompres itu kelantai. Kedua netra membelalak dengan rahang mengetat. Tak habis fikir dengan jalan keluar yang ada di benak sang istri.
__ADS_1