Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Tak Terduga


__ADS_3

Anastasya merasakan seluruh tubuhnya lemah seperti tak bertulang. Sudah selama tiga hari ini gadis itu menghabiskan waktunya hanya di dalam rumah dan beristirahat tanpa melakukan aktifitas lain. Pekerjaannya pun untuk sementara ia tinggalkan, sebab sama sekali tak memiliki tenaga.


Dalam kondisi seperti ini, Anastasya sungguh menderita. Hidup seorang diri, tanpa siapa pun yang menjaga atau pun menemani.


Selama tiga hari ini pulalah ia tak mampu memasak dan hanya memesan makanan secara online.


"Kapan keadaanku akan membaik," keluh Anastasya disela tangisnya.


Kehidupannya yang dulu dengan sekarang sungguh jauh berbeda. Sepanjang hari, dari pagi hingga larut malam ia habiskan waktunya dengan bekerja. Supaya roda kehidupannya terus berputar. Hingga Pada saat rasa lelah ditubuhnya kian menumpuk, maka rasa remuklah yang ia dapatkan.


"Andai saja aku memiliki orang terdekat saat ini, maka hidupku tidak akan seperti ini." Ingin rasanya menghubungi Surti, tetapi ia tak ingin semuanya runyam jika salah seorang pengawal memergoki Surti saat keluar dari kediaman mantan suaminya.


Arka atau pun Zara pasti tak tinggal diam jika mengetahui tentang kondisinya saat ini. Sudah barang pasti, sepasang suami istri itu akan memaksanya kembali kerumah entah dirinya mau atau pun menolak. Sungguh membingungkan hingga Anastasya urung melakukannya.


Ketukan di pintu terdengar berulang. Anastasya mengerutkan dahinya, nampak berfikir.


"Siapa yang bertamu pada saat kondisiku sepeeti ini?" Gadis itu berusaha abai, dan tak bergerak dari ranjangnya.


Akan tetapi, ketukan di pintu terdengar kian keras dan bertubi-tubi.


"Siapa sebenarnya yang bertamu? Tubuhku bahkan lemas dan susah untuk berdiri," gerutu Anastasya dengan banyak makian terucap dari bibirnya. Melangkah gontai dengan berpegangan pada dinding, ia berusaha bangkit untuk bisa menyentuh pintu lantas membukanya.

__ADS_1


Anastasya sempat melirik kearah jam dinding yang menunjukan pukul 12:25, pertanda hari sudah siang. Membuka pintu perlahan, gadis bersurai panjang itu bahkan sudah memasang ekspresi wajah tak suka pada tamunya, meski belum mengetahui siapa orang yang berada di balik pintu tersebut.


Ekspresi wajah garang nan menyeramkan itu lunturlah sudah seiring mengetahui siapa tamu sebenarnya.


"Tuan Ken," ucap Anastaaya dengan bibir bergetar.


Pria yang berdiri di depan pintu terkesiap saat melihat betapa pucatnya wajah sang penghuni rumah dengan tubuh yang menggigil.


Ya tuhan, dari mana tuan Ken bisa tahu tempat tinggalku.


"Anastasya, wajahmu pucat, apa kau sakit?" Kata-kata pertama yang terucap begitu saja dari bibir Ken.


Gadis itu pun lekas menggeleng, meski tubuhnya sempat terhuyung hendak roboh jika tidak berpegangan kuat pada gagang pintu.


Pria itu pun menurut, memasuki rumah kemudian duduk di sofa yang berada di ruang tamu.


Anastasya masih berdiri di tempatnya, sama sekali tak bergerak. Namun ia menyentuh pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut dengan memberi sensasi rasa sakit yang tak tertahankan.


Tubuhnya kian lunglai, serta pandangannya pun mulai memburam. Hingga tak berapa lama, tubuhnya pun tersungkur di lantai, dan pandangannya menggelap seketika.


Brugg...

__ADS_1


Ken yang baru saja mendaratkan tubuhnya di sofa itu pun spontan bangkit kala menyaksikan tubuh Anastasya ambruk membentur lantai. Ia bergegas mendekat dan memastikan kondisi gadis tersebut.


"Anastasya, bangunlah." Ken bahkan terperanjat, rupanya Anastasya tak sadarkan diri dengan tubuh dingin dan sepasang netra yang terkatup rapat.


"Ya tuhan, dia pingsan. Aku harus bagaimana?" Ken tak menyangka jika akan seperti ini. Rupanya memang benar, jika Anastasya sedang sakit dan membutuhkan perawatan. Tetapi kenapa, gadis itu tetap kekeh dan mengatkan jika baik-baik saja.


Ken coba menepuk-nepuk pipi putih Anastasya agar sadar, tetapi tetap saja tak merubah apa pun. Wajahnya bahkan kian pucat dan dingin.


"Aku harus segera membawanya kerumasakit." Tak menunggu waktu lama, Ken lekas meraup tubuh Anastasya untuk menggendong dan membawanya kedalam mobil. Mungkin itu solusi tepat agar semua tak terlambat.


Merebahkan tubuh gadis cantik itu di kursi penumpang, Ken bahkan sempat mengucap kalimat yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


"Bertahanlah, aku akan cepat membawamu kerumasakit agar kau lekas mendapat penanganan." Tangan besarnya bahkan mengusap puncak kepala Anastasya lembut seolah menenangkan.


Pria itu sadar, jika gadis yang bersamanya itu dalam kondisi sadar, maka tidak mungkin ia melakukan hal demikian. Tetapi itu semua bahkan muncul atas dorongan hatinya sendiri yang tak mampu untuk dicegah,meski beberapa menit kemudian ia menyesali perbuatannya.


Ken menutup rapat pintu penumpang, sebelum menjalankan kemudi guna mencari rumasakit terdekat.


Berbeda dari biasanya, kini jantungnya tampak berdetak lebih cepat, juga diliputi kecemasan yang membuatnya sesak dan sulit bernafas, terlebih melihat kondisi Anastasya saat ini.


Sesekali Ken melirik kearah belakang, di mana tubuh lemah itu terbaring tak sadarkan diri.

__ADS_1


Kenapa mendadak perasaanku menjadi seperti ini? Rasa yang bahkan sudah lama tak pernah kurasakan, kenapa kini seakan kembali lagi. Apakah aku hanya sekedar iba, atau aku justru sudah ......., Ah entahlah. Terlalu dini untuk bisa kusimpulkan sekarang.


Bersambung...


__ADS_2