Terjerat Dua Cincin Sang CEO

Terjerat Dua Cincin Sang CEO
Olahraga Malam Yang Gagal


__ADS_3

Menjalani pekerjaan sebagai asisten Anastasya dalam mengelola toko bunga miliknya, memang terbilang cukup ringan bila dibanding dengan pekerjaan yang sebelumnya. Akan tetapi, kenapa tubuhnya semakin terasa lelah. Bahkan gadis itu sesekali menguap, menahan kantuk disela pekerjaannya.


Kenapa aku terlihat sangat lelah akhir-akhir ini. Tuan Arka bahkan tak memberikan waktu yang cukup untuk tidur.


Zara meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku sembari memutar tubuhnya kekanan dan kekiri di atas kursi kerja miliknya. Meraba bagian perut yang tiba-tiba kram dan nyeri.


Kenapa perutku tiba-tiba sakit seperti ini.


Gadis itu hanya mengira-ngira dalam diam.


Apa mungkin efek dari olahraga malam yang sering kami lakukan? Tuan Arka sekarang justru pulang lebih awal dan selalu saja berselera, bahkan hampir setiap malam ia melakukannya.


Gadis itu meringis dan meremas bagian perutnya yang terasa nyeri.


"Zara, kau kenapa?" Anastasya yang tengah berada tak jauh dari Zara, membuka suaranya saat mendapati gadis yang tengah bersamanya itu sepertinya tengah menahan sakit.


"Tidak apa-apa, Nona. Perut saya hanya sedikit nyeri, mungkin saya hanya salah makan saja." Zara merapikan posisi duduknya kembali dan berusaha menutupi rasa sakitnya dari Anastasya.


"Kau yakin hanya salah makan?" tanya Anastasya lagi.


Zara pun mengangguk dan berusaha tersenyuk. "Iya, Nona. Pasti saya hanya salah makan."


Anastasya pun kembali menyelesaikan pekerjaanya, begitupun Zara. Keduanya sibuk di meja kerja masing-masing hingga jam makan siang.


"Nona, apakah anda menginginkan sesuatu untuk makan siang kita?" Zara menatap Anastasya yang sepertinya masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Aku sudah memesan makanan, kau hanya tinggal menunggunya saja." Anastasya mendongak dan tersenyum sejenak kearah Zara, kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya.


"Baik, Nona. Saya akan menunggunya di bawah." Zara bangkit dari kursinya dan hendak keluar ruangan menuju lantai dasar. Akan tetapi, Anastasya yang tanpa sengaja mengangkat pandangan itu menangkap sesuatu yang tergambar jelas di gaun bagian belakang tubuh Zara.


"Zara," pekik Anastasya. "Kau sedang haid?" sambung Anastasya lagi.


Zara yang setengah panik itu sontak meraba dan memutar kepala menatap bagian belakang tubuhnya. Netranya terbelalak, mana kala bercak merah bermotif abstrak menodai gaunya yang berwarna putih bersih.


Benar saja, inilah tersangka utama dari kram perut yang aku derita.


"Iya, Nona. Sepertinya ini haid hari pertama saya."


Anastasya pun mendekat. "Apa kau membawa baju ganti dan pembalut?"


"Tidak, Nona." Kemudian Zara berfikir sejenak. "Tapi sepertinya saya masih menyimpannya di kamar." Tanpa aba-aba, gadis itu pun berlari menuju kamar yang berada di toko bunga.


Membongkar lemari dengan teliti hingga ia pun bernafas lega saat berhasil menemukan sesuatu yang ia cari. Ia pun bergegas kekamar mandi, membersihkan diri dan mengganti pakaiannya yang ternoda.

__ADS_1


Begitu terlihat rapi, gadis yang sudah terlihat rapi kembali itu mencari kotak obat dan senyumnya melebar penuh kepuasan. Meraih satu tablet obat pereda nyeri haid dan mengambil sebotol air putih.


Mungkin ini akan terasa lebih baik.


Zara masih menikmati tegukan air yang ia minum, meskipun sebutir obat sudah tertelan sedari tadi. Ia mendaratkan tubuhnya di sebuah kursi yang berada di dekat jendela. Ia bisa melihat keadaan sekitar bunga dari lantai dua tersebut. Angin yang berhembus serasa menyejukkan kulitnya. Ia sengaja mencari udara segar, sementara pandangannya menatap area depan toko bunga yang masih disinggahi pembeli.


Pandangan gadis itu pun tertuju pada mobil yang baru saja memasuki area parkir toko. Sepertinya tengah menurunkan seorang gadis yang Zara yakini ialah Kiara, sahabatnya dan karyawan toko bunga Anastasya.


Akan tetapi ada sesuatu yang terasa mengganjal.


Aku sepertinya pernah melihat kendaraan yang mirip seperti itu. Tapi di mana?


Zara berusaha terus mengingat, namun ia pun coba mengabaikannya. Mengingat di kota besar seperti ini, banyak kendaraan dengan warna dan model yang sama.


Tapi sepertinya tidak mungkin.


Zara masih terpaku. Kiara tampai melambaikan tangan pada sosok pria yang berada di dalam kendaraan tersebut sebelum mobil yang membawanya itu bergerak jauh meninggalkannya.


******


Zara menatap jam dinding yang terus berputar seiring waktu yang terus bergerak. Netranya sudah tak sanggup lagi menahan kantuk. Perutnya pun sudah terisi penuh oleh makanan. Sebuah pesan yang suaminya kirim, mengisyaratkan jika pria tampan itu akan pulang terlambat.


Dinginnya suhu ruangan yang ia atur cukup rendah, membuatnya terasa nyaman dan mulai terlelap. Lelap dan tidur semakin lebih dalam. Sebuah mimpi indah pun terangkai, hingga lengkung tipis merah jambu itu tersenyum semanis madu sebagai luapan rasa bahagia. Akan tetapi, rasa geli mulai merayap menuju bagaian wajah dan lehernya.


Gadis itu pun sedikit bergerak dan menggeliat, seolah hendak mengusir rasa geli yang mulai menyerang bagian tubuhnya. Sayangnya tidak, rasa geli dan sentuhan itu justru kian terasa nyata. Aroma sahmpo pun menyeruak memenuhi indra penciumannya.


Dan benar saja, sesosok pria tampan yang kini menjadi suaminya itu tengah menciuminya. Satu tangannya pun bergerak nakal dan mulai membuka satu persatu kacing piyamanya. Hingga turun dan menyentuh bagian bawah perut, yang seketika ditangkis oleh tangan mungil Zara.


"Sayang, apa yang kau lakukan," ucap Arka seperti tidak terima, kesenangannya dihentikan begitu saja.


"Bu-bukan begitu, sayang. Hanya saja, saya sedang da-datang bulan." Zara yang masih merebahkan tubuh itu, memalingkan pandangan kearah lain seolah menahan malu.


Arka mengerutkan dahinya, dan menatap bagian bawah perut sang istri.


"Da-datang bulan, apa maksudmu?"


Zara memejamkan netranya sesaat. Sementara otaknya berfikir keras.


Bagaimana aku menjelaskannya.


"Jika datang bulan, kita tidak boleh melakukan hubungan suami istri dulu. Karna...


"Kenapa tidak, bukankah kita pasangan yang sah? Atau kau yang sengaja ingin menghindar dariku?" tuduh Arka dengan pandangan menghunjam.

__ADS_1


Zara gelagapan, merasa kesulitan untuk menjawab tuduhan sang suami.


"Tidak sayang, bukan begitu maksudnya. Hanya saja di bagian itu sedang ada darah."


Wajah Arka yang semula menahan geram, berubah cemas seketika.


"Kenapa bisa? Apakah bagian tubuh ini terluka?" Arka bergerak mengusap bagian bawah perut Zara yang masih berlapis pakaian lembut. Pria itu berjingkat, menarik tangan dan mengerutkan dahinya. "Apa kau membalutnya dengan kain perban?" Sambungnya lagi dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.


Zara yang bisa berfikir dewasa itu menghela nafas dalam kemudian meraih kedua tangan sang suami dengan posisi tubuhnya yang masih berbaring.


"Sayang, apa anda tidak tau? Setiap perempuan normal memang mengalami hal semacam ini, rutin setiap bulannya. Apa anda benar-benar tak tau, dan tak mengerti tentang apa itu datang bulan?"


Arka mengelengkan kepalanya samar. "Aku hanya pernah mendengarnya, tapi aku sama sekali tak mengerti dengan hal semacam itu. Aku dulu memiliki adik perempuan, namun aku terlalu sibuk bekerja hingga tak memperhatikan fase pertumbuhannya. Aku pun tak pernah memiliki seorang kekasih sebelum akhirnya menikah. Bahkan saat menikah pun, aku---"


Arka tak mampu meneruskan kalimatnya, sebab hubungan pernikahan yang ia lalui bersama Anastasya pun cukup rumit.


Zara hanya tersenyum gemas mendapati ekspresi wajah sang suami. Ia pun bergerak mengusap pipi Arka dengan lembut. Seolah mengatakan jika ia baik-baik saja.


"Sayang, apa itu terasa sakit?"


Gadis mungil itu tergelak. Lagi-lagi disuguhi pandangan iba dari pria yang secara diam-diam sudah mencuri hatinya.


"Tidak, sayang. Hanya akan terasa nyeri di bagian perut pada hari-hari pertamanya saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


Arka menatap perut rata berbalut piyama yang sebagian kacingnya sudah pria itu buka. Ia pun menyibaknya hingga perut rata dengan kulit putih bersih itu terlihat. Arka mengusapnya lembut dan sesekali menciuminya.


"Tunggu sebentar." Pria itu bangkit dan mengambil botol berukuran kecil dari dalam laci nakas. Ia kemudian duduk bersimpuh dan meneteskan cairan dari dalam botol tersebut yang terasa hangat menyentuh kulit.


"Apa ini terasa nyaman," tanya Arka dengan tangan mengusap lembut perut rata sang istri.


Zara terdiam dan menikmati usapan tangan Arka yang serasa membuat nyeri di perutnya mulai menghilang.


"Iya, sayang. Itu terasa nyaman sekali."


Arka seketika menyungingkan senyum di bibir, merasa puas akan hasil kerjanya.


"Sekarang, tidurlah. Aku akan tetap mengusapnya hingga kau tertidur," titah Arka.


"Tapi, sayang. Itu tentu akan membuat anda lelah."


Pria berjambang tipis itu menghela nafas dalam. "Jangan membantah," ucapnya penuh penekanan.


"Baiklah," jawab Zara lirih dan mulai memejamkan netranya.

__ADS_1


Usapan tangan itu memang terasa nyaman. Meski terasa sedikit geli sebab tak terhitung lagi Arka mendaratkan bibirnya pada perut rata itu disela usapannya. Tak ayal, Zara yang sudah mulai mengantuk itu mulai terbius menuju alam bawah sadar. Hingga dengkuran halus terdengar, pertanda gadis mungil itu benar-benar tertidur pulas.


Sementara itu disela aktifitasnya, Arka sedikit mengumpat dalam hati. Pasalnya olahraga malam dengan tenaga ekstra yang sudah ia siapkan, kini harus gagal total terhalang datang bulan.


__ADS_2