
Arka menghempaskan tubuhnya di jok mobil sembari memejamkan netra. Jika dilirat dari sudut mana pun, pria itu terlihat sangat lelah.
"Sam,"
"Iya tuan," jawab Sam di kursi kemudi dengan mobil yang masih belum bergerak.
"Apakah aku jahat?"
Hah, maksudnya?
"Semalam Zara menangis. Aku yakin jika akhir-akhir ini aku kurang memperhatikannya." Getir. Bayangan Sang istri yang menangis dan terbaring di dadanya, terbayang diingatan.
Sam yang mendengar pun menghela nafas dalam. Lalu kemudian ia menatap ponsel yang tersimpan di laci mobil.
Jangankan nona, saya pun juga menggerutu di situasi seperti ini.
Di tempat yang mereka datangi bahkan tak ada jaringan. Pesan yang Sam untuk Kiara pun bahkan belum terkirim.
Menatap nanar ponsel ditangan, Sam bahkan menahan emosi untuk tak melempar ponsel itu kesembarang arah.
Aku bisa gila jika pembangunan di tempat ini tak akan selesai dalam satu bulan. Bisa dipastikan jika aku akan kehilangan Kiara, karna tak bisa mengirim pesan atau menghubunginya.
"Sam! Aku sedang bertanya padamu. Tapi kau malah asik dengan fikiranmu sendiri," bentak Arka jengah, sebab merasa diabaikan.
__ADS_1
"Apa tuan tidak mengatakan jika sedang berada di perkampungan nona?"
"Tidak. Aku sengaja tak mengatakannya. Ya hitung-hitung sebagai kado ulang tahun untuknya."
"Nona pasti sudah salah paham, dan berfikiran yang tidak-tidak pada anda." Sam menoleh kebelakang, di mana wajah cemas sang tuan jelas terlihat.
"Itulah. Sebenarnya aku tak tega. Terlebih harus membuatnya sampai menangis. Kau taukan seberharganya Zara untukku. Aku bahkan tak ingin melihatnya terluka sedikit pun, tetapi justru akulah yang kini menciptakan luka di hatinya." Pria itu mengusap wajahnya kasar. Semoga saja kekecewaan Zara padanya tak melebar kemana-mana.
"Tapi mungkin ini tak berlangsung lama tuan. Bukankah ulang tahun nona tinggal beberapa hari lagi?"
Arka mengangguk samar.
"Ya. Hanya kurang tiga hari lagi. Aku bahkan sudah meminta pada pelayan untuk mempersiapkan semuanya. Kami akan tetap merayakannya di rumah. Seperti idemu waktu itu. Aku menyukainya," ucap Arka dengan mengulas senyum tipis. Bayangan makan malam romantis dengan bertemankan kerlipan bintang di langit membuatnya tak sabar menunggu malam itu datang.
Apa? Jadi tuan setuju pada ide yang kuberikan waktu itu.
"Aku harap bukan hanya Zara yang menyukai ini, tetapi ibu mertuaku juga."
Pria itu menatap kedepan. Di mana jalanan rusak di perkampungan Zara mulai diperbaiki sejak beberapa hari lalu. Ia sendiri sadar jika tempat ini memiliki kenangan tersendiri untuk istri dan ibu mertuanya.
Meski sejak menikah Zara tak pernah mengungkit untuk bisa tinggal di tempat ini. Tetapi dari lubuk hati terdalam, tentulah ia ingin untuk sesekali bertandang atau menginap bersama anak-anaknya kelak di perkampungan yang tenang ini.
Inilah alasan yang membuatnya sungguh sibuk dan pulang nyaris menjelang pagi selama beberapa hari ini. Selepas merampungkan segala pekerjaan di kantor, ia beserta Sam bergerak cepat untuk memantau dan turun kelapangan langsung dalam proses perbaikan jalan.
__ADS_1
Bukan hanya melakukan perbaikan jalan. Seperti rencana yang pernah terbesit di benak jika pria tampan itu rupanya membeli beberapa puluh hektare tanah di sekitar perkampungan yang akan ia olah sebagai kebun buah-buahan dan taman bermain anak.
"Tentu, tuan. Pastinya bukan hanya nona yang merasa senang, tetapi nyonya Rumi pun demikian."
Arka tersenyum lembut. Angin malam serasa menyentuh kulit, memasuki jendela mobil yang tak tertutup kaca. Ia pun menatap arloji di pergelangan tangan.
Lagi-lagi aku terlambat pulang.
Arka menghela nafas dalam. Bayangan sang istri yang menunggunya dengan wajah cemas dan perut yang buncit, membuatnya tidak tahan.
"Sam, ayo kita pulang."
"Baik, tuan."
Sam mulai mengatur kemudi. Mereka bahkan harus menempuh perjalan selama berjam-jam untuk bisa kembali kerumah. Tetapi inilah sifat sang tuan. Jika menyangkut tentang Zara, maka ia pun harus memastikan jika semuanya akan terlihat sempurna tanpa cela.
Dari kaca depan terlihat jika Arka mulai terlelap di kursi penumpang dengan kepala bersandar punggung kursi.
Fikiran Sam kini tertuju kembali pada Kiara. Bukankah gadis itu juga berasal dari kampung sama seperti Zara? Senyumnya pun terulas.
Kenapa aku jadi ingin bertemu orang tuanya.
Sam menggeleng tak percaya pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa dirinya menjadi seperti ini? Selalu ada Kiara, dan Kiara. Semuanya tentang dia, dia, dan dia. Kenapa bisa?
__ADS_1
Pria itu menggengam kemudi kuat. Berusaha menetralkan fikiran. Tetapi bibirnya masih tersenyum. Seolah masih ada seseorang yang terngiang di fikiran.
Bersambung