
Ibarat kata, selalu ada hikmah di balik suatu kejadian. Dilanda rasa duka saat Anastasya memilih berpisah, namun diwaktu bersamaan Zara justru membawa kabar bahagia tentang kehamilannya. Sungguh di luar dugaan. Di mana tuhan senantiasa memberikan secerca kebahagian dalam rasa duka.
Arka tersenyum lembut, sementara tanganya bergerak mengusap perut sang istri yang mulai membuncit dan mengeras. Gaun malam tipis pembalut tubuh mungil itu kian membentuk lekut tubuh Zara hingga Arka begitu gemas untuk menjahilinya. Ditambah posisi sang istri yang tengah berbaring, membuatnya leluasa untuk mencium dan mengelus perut itu sepuasnya.
"Hakim sudah mengabulkan permohonan perceraian Anastasya. Itu artinya, setelah Vonis dijatuhkan, kami bukanlah sepasang suami istri lagi." Gurat kesedihan jelas tergambar di wajah pria tampan itu, dan semua tak luput dari pandangan Zara.
Jemari lentik itu berusaha menggengam tangan sang suami untuk menguatkan. Zara tahu benar, seperti apa perasaan Arka saat ini.
"Apa Rangga juga belum bisa memastikan kapan dirinya akan kembali?"
Arka pun menggeleng kemudian berucap, "Belum."
Keduanya sama-sama menghela nafas dalam.
"Lalu, apa rencana Nona Anastasya selepas ini?"
"Dia berniat untuk kembali pulang kekampung halamanya supaya bisa berkumpul dengan paman dan bibinya kembali." Arka yang tak kuasa menatap bibir mungil kemerahan milik Zara, mengusapkan jemarinya untuk menyentuh bibir ranum nan menggoda itu.
"Kampung? Apa nona juga berasal dari kampung seperti diriku?"
Pria tampan itu mengangguk sebagai jawaban.
"Dia berasal dari kampung sepertimu dan mencoba peruntungan di ibu kota."
__ADS_1
Kedua netra bulat milik Zara berbinar.
"Woahh..., pasti nona berhasil merintis karir di kota, hingga sukses sampai saat ini." Penampilan, gaya hidup, dan kehidupan sosial Anastasya, sama sekali tak mencerminkan seseorang yang berasal dari kalangan biasa. Dirinya terlihat anggun bak putri raja, seperti kaum bangsawan.
"Tapi dia sama sekali tak sombong, bukan? Anastasya sangat rendah hati dan dermawan. Seberhasil apaun hidupnya kini, dirinya tidak pernah melupakan asal usul kehidupannya dulu," puji Arka pada Anastasya.
Zara mengangkat satu tangannya untuk mengusap wajah tampan suaminya.
"Anda pasti sangat menyayanginya." Gadis mungil itu menatap wajah sang suami lekat. Ia bisa menebak jika Arka pun merasakan kesedihan atas keputusan yang diambil Anastasya.
Arka menggengam tangan mungil yang menyentuh wajahnya, kemudian menciuminya.
"Entahlah, namun saat melihatmu mengandung seperti ini, aku pun teringat pada Anastasya saat ia tengah mengandung Abigail dulu. Perutnya yang terus membuncit, sama sekali tak membuatnya mengeluh. Hingga rasa sakit yang ia tahan saat proses kelahiraan, membuat jiwa ini pun ikut bergetar."
Pria berjambang itu mengingat kembali momen saat dirinya dan Anastasya salimg menggengam satu sama lain. Dua tahun memang bukanlah waktu yang singkat. Mereka melalui banyak proses berumahtangga, meski diawali dengan tak saling cinta.
******
"Ya tuhan, aku bakan rela melakukan hal bodoh semacam ini."
Semalaman penuh Sandy mengobrak abrik gunungan kertas yang ia dapat dari hasil buruannya.
Penasaran dengan ucapan Kiara, selepas makan bersama, pria itu bergegas menuju lapak penjual surat kabar dan majalah. Tak ingin ketinggalan barang secuil pun informasi dari pria yang ia yakini sebagai kekasih gelap dari Zara, Sandy bahkan rela mencari tempat penampungan surat kabar bekas bertahun-tahun yang lalu.
__ADS_1
Setumpuk kertas yang berisikan artikel tentang pewaris Atmadja group telah ia sisihkan. Tanganya mulai membuka lembaran demi lembaran.
Dimulai dari majalah bisnis keluaran terbaru, di mana Arkana surya atmadja menjadi cover depan majalas kelas atas tersebut. Sandy membacanya dengan seksama, namun beberapa saat kemudian pria itu pun melemparnya kesegala arah mengingat tak ada masalah pribadinya yang dimuat sedikit pun.
Beralih pada surat kabar, membolak balik tanpa lelah dengan netra menatap tajam setiap tulisan yang tercetak di kertas itu. Lagi-lagi, Sandy melemparnya saat surat kapar itu pun tak sesuai ekspektasinya.
Nyaris tiga jam ia membaca tumpukan kertas, dan ia pun sudah merasa lelah.
"Sial! Kenapa semuanya tidak ada yang memuat kehidupan pribadi pria itu," geram Sandy dengan mengacak kasar surainya sendiri.
Hanya tinggal satu majalah usang yang ia dapat dari tukang loak. Majalah kumal beberapa tahun yang lalu.
"Hanya ini yang masih tersisa." Sandy meraih majalah itu dan membukanya. "Semoga kau juga tidak akan mengecewakanku seperti teman-temanmu yang lain," sambung Sandy lagi.
Lembaran kertas mulai tersibak, Sandy membukanya setiap lembarnya dengan pelan dan hati-hati. Kantuknya pun mulai menyergap, namun sebisa mungkin ia tahan. Mengingat ini langkah terakhir dari usahanya sejak beberapa jam yang lalu.
Tatapannya tertuju pada lembaran terakhir majalah di mana tertulis pernikahan mendadak pewaris Atmadja group dengan seorang model pendatang baru yang digelar secara tertutup.
Pria itu pun menyungging senyum miring.
"Waw, pria yang bersamamu itu justru sudah mempunyai istri. Lalu apa sebenarnya posisimu bagi pria itu, Zara? Apa kau simpanannya?"
Gelak tawa terdengar, menggema memenuhi ruangan.
__ADS_1
"Ini kesempatan bagus. Tidak akan aku biarkan terlewat begitu saja. Aku yakin, kau pasti hancur Zara."
Sandy mulai menyingkirkan tumpukan kertas yang sekarang tak berguna itu lalu membakarnya. Ia hanya akan menyimpan satu majalah yang akan ia gunakan sebagai senjata.