
Udara di sekitar resto seketika membeku. Jika memungkinkan, Zara sudah pasti akan memilih lari dari pada harus bertemu dengan pria yang sudah hampir menodainya. Sandy pun demikian. Pria itu terbelalak tak percaya, saat netranya menangkap sosok gadis cantik yang berhasil kabur dalam gengamannya.
"Zara perkenalkan, ini Sandy, kekasihku." Kiara tampak bangga memperkenalkan sosok sang kekasih pada sahabatnya, kemudian meminta pada keduanya untuk menjabat tangan.
Tanpa sungkan, Sandy seketika mengulurkan tangan dan berlagak jika dirinya sama sekali tak mengenal Zara.
"Perkenalkan, Aku Sandy, kekasih Kiara."
Zara mengulas senyum yang sejujurnya teramat dipaksakan dan menyambut uluran tangan Sandy.
"Aku Zara, sahabat Kiara," jawab gadis cantik bertubuh mungil itu kemudian secepat kilat menarik kembali tangannya dari gengaman Sandy.
Kiara merasa senang kemudian menarik kedua orang yang tengah bersamanya itu untuk duduk. Seorang pelayan datang menyodorkan daftar menu.
"Zara, Sandy, kalian ingin memesan yang mana." Kiara menatap kearah Zara atau pun Sandy yang sama-sama terdiam. "Hei, kenapa diam? Bukankah kita kesini untuk makan?" Sambung gadis yang masih menampilkan raut wajah bahagia itu.
"Samakan saja dengan pesananmu," pinta Zara yang sudah kehilangan selera makan selepas menatap wajah pria yang membuatnya muak. Akan tetapi semua itu berusaha Zara tutupi, dan tetap mengembangkan senyum palsu.
"Kalau aku, yang ini saja." Sandy menunjuk satu menu yang tertera kepada pelayan, dengan sigap pelayan itu mencatat seluruh pesan sebelum berbalik badan dan menghilang di antara kerumunan.
Tergambar raut wajah berbeda pada ketiga muda mudi yang duduk bersama itu. Akan tetapi, wajah Kiaralah yang jelas tampak berbinar.
"Kiara, sudah cukup lama kita tak bertemu. Aku sangat merindukanmu," goda Sandy pada Kiara sementara tangannya meranyap untuk menyentuh tangan gadis yang ia akui sebagai kekasih.
Kiara tersipu malu, namun tak menolak gengaman tangan Sandy. Ia biarkan pria itu mengusap dan meremas lembut tangannya.
"Jangan seperti itu, aku malu. Lagi pula, Zara sedang berada di antara kita." Kiara melirik kearah Zara berada dan sepertinya gadis mungil itu pun sama sekali tak tergangu.
"Tidak apa-apa, aku yakin jika sahabatmu itu pun sudah memiliki kekasih, jadi hal semacam ini sudah wajar baginya." Sandy terus berusaha memprofokasi Zara dengan merayu Kiara lewat kata-kata manisnya. Mencoba membuat gadis itu cemburu, lantas mengemis cinta darinya.
Akan tetapi semua itu hanyalah khayalan Sandy semata. Zara sama sekali tak menyukainya atau pun tergoda padanya meski hanya seujung kuku.
Banyak kata pujian semanis madu yang terlontar dari Bibir Sandy untuk Kiara dan itu semua membuat Zara muak. Namun apalah daya, demi sang sahabat ia harus rela menebar senyum palsu beberapa waktu lamanya.
Pesanan belum juga datang hingga Kiara meminta izin untuk ketoilet. Kini hanya menyisakan Zara dan Sandy di kursi meja tersebut.
__ADS_1
"Ternyata, dunia ini tak seluas yang kufikirkan, dan bahkan terlalu sempit hingga dengan mudahnya aku bisa menemukanmu tanpa diduga." Sandy menatap tajam gadis di depannya. Menyusuri setiap jengkal tubuh mungil itu dari ujung kepala hingga kaki tanpa satu pun yang terlewati.
Zara membuang pandangan, entah mengapa jika memaksakan menatap sosok pria di depannya, bayangan menyeramkan malam itu justru terbesit kembali difikirannya.
"Tapi ada perbedaan yang sangat mencolok dari penampilanmu. Kau terlihat lebih cantik dan menggoda." Tatapan nakal ditunjukan oleh Sandy yang tanpa malunya mengulurkan tangan untuk bisa menyentuh pipi Zara. Akan tetapi, gadis itu terlebih dulu menepisnya sebelum Kiara datang dan timbul kesalah fahaman.
"Maaf, Ka. Sangat tidak sopan jika seorang pria yang sudah memiliki kekasih, namun masih berusaha untuk menyentuh wanita lain," tegas Zara memperingatkan.
Sandy tersenyum sinis, di iringi rahang yang mengetat.
"Kau bahkan masih bisa memangilku Kakak, selepas menghilang dariku. Dasar gadis tidak tahu diuntung. Aku kira kau sudah mati kelaparan, atau menjadi gelandangan saat ini. Tapi lihatlah," ucap Sandy seraya memindai penampilan Zara secara keseluruhan. "Kau bahkan hidup dengan mewah sekarang."
Tidak dipungkiri, Sandy sangat kecewa. Hampir satu bulan ia mencari keberadaan Zara yang bagai menghilang ditelan bumi. Sejujurnya ia sempat menyesal dan merutuki tindakannya yang gegabah tanpa memikirkan imbasnya.
"Maaf, Ka. Aku sudah tidak ingin membahas masalah ini lagi. Kakak juga sudah memiliki Kiara, gadis yang benar-benar mencintai Ka Sandy. Aku berharap, jangan pernah berniat untuk mengecewakannya apalagi merusaknya."
Sandy tergelak penuh ironi. Merasa tak terima dengan ucapan Zara.
"Tapi aku masih mencintaimu, kau pasti tau itu," ucap Sandy penuh penekanan.
Zara pun enggan menjawab hingga seorang pelayan dan mempersiapkan menu di meja. Selebihnya tak ada lagi pembicaraan hingga Kiara muncul dari toilet.
"Ayo kita makan, tunggu apa lagi." Kiara yang berusaha memberi aba-aba mengingat kedua orang yang tengah bersamanya lebih banyak diam.
Sandy pun mengangguk dan mulai menyantap menu yang dipesan. Begitupun Zara, dia terlebih dulu menatap piring pesanannya. Entah mengapa dari aroma yang menyeruak dari hidangannya justru membuat seisi perutnya serasa diaduk.
"Zara, ayo makan," pinta Kiara memelas saat sahabatnya itu tak kunjung melahap makanan di piringnya.
"I-iya," jawab Zara dan mulai meraih sendok dan menyuapkan makanan kedalam mulutnya. Akan tetapi, secepat kilat Zara membungkam mulutnya rapat dan mengambil langkah seribu menuju toilet.
Kiara yang tak mengerti itu hanya terbelalak sembari menatap punggung mungil Zara yang menghilang di ujung ruangan.
"Kenapa dia? Apa makanannya tidak enak?" Kiara menyuapkan makanan kedalam mulutnya. "Tapi rasanya enak, dan tidak aneh," gumam Kiara lirih.
Sementara itu di dalam toilet Zara memuntahkan isi perutnya. Keringat dingin mulai bercucuran disertai kepala yang berdenyut. Seluruh tubuhnya serasa lemah tak berdaya. Hingga terduduk di lantai untuk beberapa saat sembari menunggu keadaanya pulih.
__ADS_1
Zara pun enggan untuk menyantap makanan tersebut. Sementara Isi piring milik Sandy dan Kiara sama-sama tandas.
"Sandy, kau yang traktir ya," pinta Kiara selepas hidangan yang dipesan sudah tak tersisa.
Sandy terlihat gelagapan dan meraba kantong celana bahannya.
"Astaga, dompetku saja tertinggal," jawab Sandy seolah merasa kebingungan.
Kiara pun terkesiap. Selama berpacaran, dirinyalah yang selalu keluar uang untuk makan atau pun kencan. Dan hari ini ia segaja tak membawa dompet, berharap sang kekasih bersedia untuk membayar tagihan makan yang sudah dipesan.
"Lalu bagaimana ini? Pemilik resto bahkan tidak mungkin mengizinkan kita untuk keluar sebelum membayar semuanya."
Kiara mulai frustrasi dan memutar otak, namun sama saja. Masalah yang ada tidak akan ada solusi sebelum uang tak berada di tanganya.
Zara menarik tangan sahabatnya itu, dan memintanya untuk lebih tenang.
"Biar aku saja yang bayar."
"Jangan! Bukankah aku yang mengajakmu, tidak seharusnya kau yang membayar," tolak Kiara setengah mengotot.
"Tapi kini keadaanya berbeda. Kita akan tetap di sini sebelum bisa membayarnya, atau bahkan kita harus mencuci seluruh piring kotor diresto ini untuk ganti rugi."
Kiara hanya menghela nafas dalam dan mengusap wajahnya kasar. Sementara Sandy, bukanya mencari solusi, pria itu justru mengawasi setiap ucapan dan pergerakan Zara tanpa ada yang terlewatkan.
Zara pun memanggil seorang pelayan dan meminta daftar harga yang perlu di bayar. Gadis itu menelan ludahnya kasar menatap nominal rupiah yang tertera pada kertas tersebut.
Aku tidak punya uang kes sebanyak ini.
Zara pun meraih black kard miliknya dari dalam dompet.
"Maaf, Ka. Apa bisa melakukan pembayar dengan ini," tunjuk Zara bada debit card tanpa batas miliknya, yang mana membuat sang pelayan dan Sandy terbelalak. Berbeda dengan Kiara, ia masih tak mengerti akan arti black card milik sahabatnya itu.
"Tentu bisa, Nona. Tunggu sebentar." Pelayan itu pun tergopoh menuju meja kasir. Tangannya seketika gemetar menyentuh sebuah kartu yang mampu merubah hidup siapa pun pemiliknya itu.
Sial. Kenapa Zara memiliki kartu semacam itu. Sebenarnya siapa yang sudah menampungnya saat ini. Apakah dia bekerja sebagai penghibur atau bahkan menjadi wanita simpanan kaya raya.
__ADS_1
Sandy hanya mampu bergumam dalam hati. ia sungguh dibuat penasaran pada Zara kini. Akan tetapi, disaat sepulang dari resto gadis itu justru menolak untuk pulang dengannya dan memilih memesan jasa taksi online.
Sandy pun kian meradang dan mengucap sumpah serapah untuk bisa menemukan tempat tinggal serta seseirang yang sudah suka rela memberikan black cardnya pada gadis yang dulu pernah dicintainya.